SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 116


__ADS_3

Sepulangnya dari kantor imigrasi, Anang dan Santi langsung singgah di salah satu pasar tradisional.


Setelah makan siang diwarung makan dibagian luar pasar, mereka berdua lalu berjalan masuk kedalam pasar, untuk membeli bahan makanan segar seperlunya.


Kondisi pasar tradisional dimana-mana, rasanya hampir sama saja.


Anang menggulung kaki celana panjangnya, sampai ke lutut, begitu juga Santi yang ikut menggulung kaki celananya.


Jalannya yang berlumpur, dengan tumpukan sampah yang beraroma menyengat, yang ada dihampir setiap sudut pasar.


Kemenangan pasar tradisional, meski hari sudah siang seperti itu, harga dan kesegaran barang dagangannya dengan pilihan yang banyak, yang hampir tidak terbatas, masih bisa memuaskan keinginan orang-orang untuk belanja disana.


Kalau bisa menawar, juga lebih bagus.


Sesekali Anang memperhatikan gerak-gerik Santi disitu.


Santi kelihatan santai berjalan berkeliling bersama Anang dipasar, meski kakinya sekarang sudah kotor dan berwarna coklat kehitaman.


Tanpa sedikitpun terlihat risih, Santi malah kelihatan senang, saat memilih bahan makanan laut yang masih segar, bahkan ada yang sudah dijual dalam keadaan masih hidup-hidup, dan hampir membuat Santi kalap untuk berbelanja lebih banyak.


"Cuma untuk malam ini, dan besok. Memangnya kamu mau membuat pesta dirumah?" ujar Anang mengingatkan Santi, yang hampir memborong kepiting segar didepannya.


Santi terdiam sebentar.


"Kita bisa mengajak Papa makan dengan kita. Papa juga suka seafood sepertiku," kata Santi enteng.


Anang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Anang dan Santi bisa membeli semua bahan makanan yang mereka inginkan, dengan harga yang terjangkau.


Setelah merasa apa yang ingin dibeli, sudah mereka dapatkan semuanya, Anang lalu mengajak Santi pulang.


Mereka masih sempat singgah sebentar dibagian depan pasar, di salah satu toko yang menjual tas ransel dan koper.


"Barang-barang kita pasti sudah nggak muat, kalau cuma dimasukkan dikoper yang ada dikost," kata Santi.


Santi membeli dua koper berukuran sedang, sebelum mereka memesan taksi, untuk mengantar mereka kembali ke kost-kostan.


Setibanya dikost-kostan, mereka mencuci kaki yang kotor terkena lumpur, dikeran air yang ada ditaman depan kost.


Setelah cukup bersih, dan mencuci ulang kakinya dengan sabun dikamar mandi, dalam kamar kost mereka, keduanya lalu sibuk mengemasi barang-barang mereka, yang masih disimpan didalam lemari.


Memang benar kata Santi, barang-barang Anang saja sudah membutuhkan tambahan koper untuk menyimpannya.

__ADS_1


"Buruan! Nanti mati semua kepitingku itu," kata Santi yang kelihatan panik, saat memasukkan barang-barangnya kedalam koper.


"Heh? Ini yang banyak, barangmu juga!" ujar Anang, yang membantu mengemasi sisa barang-barang Santi, sambil tertawa.


Santi terlihat merengut, tapi tidak berkomentar apa-apa dengan Anang.


"Tenang saja...! Bukannya kepitingnya pasti mati kalau dimasak? Memangnya kamu mau makan kepitingnya hidup-hidup?" ujar Anang masih saja tertawa.


Santi melempar Anang dengan selembar bajunya.


"Aaahh... Kamu jangan mengejekku terus," ujar Santi, dengan suara dan wajah memelas.


"Kamu nggak tahan kalau diejek, tapi kamu sering mengejekku..." ujar Anang, yang tidak bisa berhenti tertawa.


"Maass...!" ujar Santi sambil merengut.


Meski Anang masih ingin mengejek Santi, tapi dia tidak tahan melihat pipi Santi yang cemberut, seolah-olah pipinya akan jatuh kelantai.


Anang memeluk Santi erat-erat dan mengecup kepalanya.


"Kepitingnya nggak akan mati, kalau cuma sebentar... Mereka pasti mau menunggu, sampai kamu selesai menyimpan barang-barangmu," kata Anang, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Maaaass...!" suara keluhan Santi semakin menggemaskan ditelinga Anang, sampai-sampai Anang ingin memeluk Santi lebih erat lagi.


Kecuali cubitan Santi dipinggang Anang yang terasa cukup menyakitkan, dan bisa membuat Anang meringis kesakitan.


Sesekali, Anang melihat Santi yang tampak cemas, melirik kedalam kantong plastik, tempat kepitingnya disimpan.


Seakan-akan Santi ingin memastikan kalau kepitingnya masih hidup.


Anang hanya senyum-senyum sendiri melihatnya.


Setelah selesai mengemasi semua barang-barang mereka, barulah wajah Santi kelihatan kembali ceria.


"Sudah!" ujar Santi bersemangat.


"Tinggal tunggu jemputan!" sambung Santi lagi.


Santi lalu berdiri, dan berjalan kesana kemari, seakan-akan sedang memastikan barang-barang yang mereka kemas, sudah dikemas semuanya.


"Aku mau memelukmu sebentar!" celetuk Anang.


Santi terdiam sebentar, lalu menghampiri Anang yang duduk dipinggir ranjang.

__ADS_1


Anang memeluk Santi dan menciumnya disitu.


"Nggak marah lagi 'kan?" tanya Anang.


Santi menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum sambil menatap Anang.


"Masak yang enak nanti ya?!" ujar Santi.


"Siap, sayang...!" sahut Anang.


Ketika jemputannya datang, mereka berdua cukup kerepotan membawa barang-barang mereka keluar dari kost, dan sempat bolak-balik turun naik kekamar mereka, barulah semua koper dan barang yang lain bisa terambil semua.


Anang dan Santi juga menyempatkan untuk berpamitan dengan ibu pemilik kost, sambil mengembalikan kunci kamar mereka kepadanya, sebelum mereka pergi dari situ.


"Sudah beritahu Papamu kalau kita akan kesana?" tanya Anang ketika mereka sudah didalam taksi.


"Sudah! Malah aku sudah beritahu sejak malam tadi, kalau kita mungkin agak sorean datang kesana," sahut Santi, sambil mengintip kedalam kantong plastik yang diletakkannya dilantai, dekat kakinya.


Iya, Santi masih memperhatikan kepitingnya disitu, sampai mereka tiba dirumah baru yang diberikan oleh ayah Santi untuk mereka, Santi masih saja sesekali memeriksa kantong plastik berisi kepitingnya.


Saking sibuknya Santi dengan kepiting kesayangannya itu, sampai-sampai Santi seakan-akan tidak memperdulikan Anang, yang sibuk sendiri mengangkat koper-koper mereka masuk kedalam rumah.


"Untuk apa kamu membeli kepiting segar? Apa kamu sekarang sudah bisa memasak?" tanya ayah Santi kepada Santi.


"Nggak. Anang yang akan memasaknya untukku," sahut Santi enteng.


Ayah Santi terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada Anang.


"Biarkan saja barang-barang itu disitu!" kata Santi kepada Anang.


"Kita langsung masak saja!" sambung Santi, sambil menarik lengan Anang, agar ikut berjalan dengannya menuju kedapur.


"Papa bisa membantu kami, kalau Papa mau ikut makan," ujar Santi, saat melewati ayah Santi, yang berdiri didekat mereka.


Anang jelas merasa tidak enak dengan perkataan Santi kepada ayahnya, tapi Anang tidak bisa berkomentar.


Anang hanya bisa mengikuti Santi yang berjalan tergesa-gesa, sambil disusul ayah Santi dari belakang.


Santi lalu memasukkan semua kepiting kedalam bak cuci piring, sedangkan Anang membongkar bahan makanan lain, yang mereka beli dari pasar tadi.


Begitu juga ayah Santi yang berjalan menghampiri Santi, yang masih berdiri didekat bak cuci piring, seolah-olah akan membantu Santi membersihkan, atau menonton kepiting disitu.


Rasanya mungkin lebih tepat kalau dibilang menonton, karena baik ayah Santi dan Santi hanya melihat kepiting tanpa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Bagaimana cara membersihkannya?" tanya ayah Santi, setelah cukup lama berdiri dengan Santi didekat bak cuci piring.


Anang tersenyum lebar, dan hampir tertawa, melihat tingkah ayah Santi dan Santi disitu.


__ADS_2