SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 107


__ADS_3

Joko, Bowo dan Sugeng datang lagi kesitu malam itu, sambil membawa buah tangan untuk Anang dan Santi.


"Kalau-kalau besok pagi kita tidak sempat bertemu!" kata Bowo.


"Terimakasih!" ujar Santi dengan senyum yang mengembang lebar diwajahnya.


Malam itu suasana sudah lebih santai, jika dibandingkan dengan waktu siang sampai sore tadi.


Mungkin karena semua sudah menyadari kalau rasa sayang Santi kepada Anang tidak tergoyahkan, meski mereka mau bertingkah hebat disitu.


Atau ada sesuatu?


Sudahlah.


Anang tidak boleh terus-terusan berprasangka buruk.


Dari gelagat Santi juga tidak ada tanda-tanda, kalau dia terpengaruh dengan teman-teman Anang disitu.


Sugeng yang datang sambil membawa gitar, lalu meminta Anang bernyanyi untuk mereka.


"Satu atau dua lagu, bisa 'kan?" ujar Sugeng.


Anang lalu menyanyikan dua lagu untuk teman-temannya, dan Santi yang tidak berhenti menatap Anang, saat Anang bernyanyi.


"Siapa saja yang suka bernyanyi dan bermain gitar?" tanya Santi.


"Sugeng dengan Tejo!" kata Joko dan Bowo bersamaan.


"Benarkah? Kalau begitu coba bernyanyi, aku mau dengar!" kata Santi bersemangat.


Sugeng dengan Tejo bertatap-tatapan.


"Ya sudah, aku duluan!" kata Sugeng.


Sugeng lalu menyanyikan lagu tembang kenangan yang sedih, dan cocok dengan suara dengan gayanya, sambil memainkan gitarnya.


Kelihatannya Suara Sugeng tidak kalah bagus bagi telinga Santi.


Karena Santi terlihat senang dengan Sugeng yang bernyanyi sepenuh hati agak-agak mirip dengan gaya Anang, meski kadang-kadang Sugeng salah memetik kunci nada gitarnya


Setelah Sugeng selesai bernyanyi, Santi menepuk tangannya.


"Suaramu bagus!" ujar Santi.


Santi lalu mengambil gitar dari Sugeng, dan menyodorkannya kepada Tejo.


"Sekarang, aku mau mendengar Tejo yang bernyanyi!" ujar Santi lagi.


Tejo terlihat malu-malu, tapi tetap mengambil gitar dari Santi dan mulai memetik-metik senarnya asal-asalan sebentar, sebelum dia mulai memainkan gitarnya.


Dengan wajah serius, sambil menatap Santi, Tejo juga tampak bersungguh-sungguh saat bernyanyi, dan bermain gitar.


Gaya Tejo bernyanyi yang paling mirip dengan Anang, meski suaranya tidak sebagus suara Anang yang memang memiliki suara khas.


Tapi tampaknya cukup untuk membuat Santi terpukau, dan tidak bisa berhenti tersenyum saat menonton Tejo disitu.

__ADS_1


"Kenapa gaya kalian bernyanyi dan bermain gitarnya, mirip-mirip dengan Anang?" tanya Santi setelah Tejo selesai bernyanyi.


"Anang yang mengajari mereka, bagaimana nggak mirip?!" celetuk Joko.


"Oh..." ujar Santi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Santi tersenyum lebar kearah Anang, lalu duduk diatas pangkuan Anang.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Kamu memang yang terbaik!" ujar Santi bersemangat, dan entah sadar atau tidak, Santi mencium bibir Anang disitu.


Alhasil mereka berdua jadi bahan sorakkan teman-teman Anang.


Pipi Santi sampai terlihat kemerahan.


"Kamu malu? Nggak apa-apa." ujar Anang lalu tersenyum, dan mengusap kepala Santi.


Anang memeluk Santi yang masih dipangkuannya, sambil berbincang-bincang santai dengan teman-temannya, tentang masa-masa mereka masih sekolah.


"Kita makan malam bersama-sama disini. Mau?" tanya Tejo disela-sela pembicaraan mereka disitu.


Mereka semua setuju, lalu berjalan masuk kedalam dapur Tejo dan memasak makanan tambahan.


Teman-teman Anang hampir semua bisa bekerja didapur, apalagi Sugeng yang setahu Anang sejak dulu pintar memasak, sampai membuat kue juga Sugeng bisa.


Rasanya makin menyenangkan saja suasananya disitu.


Mereka makan malam bersama sambil sesekali bercanda, saat teringat hal konyol yang mereka lakukan waktu mereka masih kecil.


"Santi mau tinggal dikampung?" tanya Tejo.


"Sempat kepikiran, cuma masih kami pertimbangkan lagi..." sahut Santi sambil menggenggam tangan Anang.


"Kabari saja kalau kalian mau mencari tempat disini. Siapa tahu ada yang menjual dengan harga miring," ujar Tejo.


"Oh... Oke!" sahut Santi, lalu berbagi nomor kontak dengan Tejo.


Santi beberapa kali terlihat menguap, saat mereka masih duduk ditengah rumah Tejo.


"Kalian bisa istirahat dikamar itu" ujar Tejo sambil menunjuk ke salah satu kamar dirumah itu.


"Kami tidur dulu ya, Jo! Makasih!" ujar Anang


"Santai saja!" sahut Tejo.


Anang lalu membawa Santi kekamar yang ditunjuk Tejo. ~


Masih pagi-pagi sekali Anang dan Santi sudah bersiap untuk kembali kekota, meski hanya mencuci muka, karena tidak membawa baju ganti.


Tejo membantu mencarikan ojek untuk mengantar Anang dan Santi ke terminal bus.


"Terimakasih banyak, Jo!" ujar Anang.


"Sama-sama..." sahut Tejo.

__ADS_1


"Kalau mau jalan-jalan kekota, hubungi kami ya!" ujar Santi, sebelum dia ojek motor membawa mereka berdua pergi dari rumah Tejo.


"Oke!" sahut Tejo sambil mengacungi jempol.


Anang dan Santi tiba diterminal bus tepat waktu.


Tak lama setelah Santi membeli karcis bus, lalu mereka naik kedalam bus, bus itu lalu berjalan membawa mereka kembali ke kota.


Santi terlihat senang disepanjang perjalanan pulang, beberapa kali Anang melihat Santi senyum-senyum sendiri sambil melihat keluar jendela, dan menggenggam tangan Anang erat-erat.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Nggak apa-apa." sahut Santi yang bersandar dilengan Anang.


"Kapan-kapan kita ke kampungmu lagi ya?!" sambung Santi.


"Iya," sahut Anang lalu mengecup kepala Santi.


Memang tidak ada salahnya kalau mereka nanti jalan-jalan lagi ke kampung halaman Anang.


Meski Anang sempat merasa was-was dan ragu pada awalnya, tapi keseluruhan perjalanan mereka ke kampung itu, cukup menyenangkan.


Anang juga kini sudah tidak lagi merasa sedih saat melihat rumah keluarganya dulu.


Ditambah Anang juga senang karena Santi yang terlihat tidak terpengaruh dengan siapapun, meski si Tejo lebih menarik dari Anang.


Perjalanan kembali kekota terasa singkat bagi Anang.


Kini Anang harus berhadapan dengan kehidupan barunya lagi.


Setibanya diterminal, keduanya sibuk membawa barang-barang bawaan, yang diberikan teman-teman Anang semalam.


"Kita ke kost dulu. Aku mau mandi, baru kita ke kantor Lia," ujar Santi yang tampak kerepotan dengan tangan yang penuh dengan barang.


"Iya," sahut Anang.


Tidak lama mereka menunggu diterminal, jemputan mereka sudah datang, dan dengan menumpang taksi itu, mereka berdua kembali ke kost-kostan.


"Badanku rasanya lengket semua" ujar Santi yang terus saja berjalan masuk sampai kekamar mandi.


"Mau mandi sama-sama?" tanya Santi lalu tersenyum nakal.


Anang buru-buru melepas barang-barang bawaan mereka ke lantai, dan hampir berlari menyusul Santi kekamar mandi.


"Apa saja yang diberikan teman-temanmu itu?" tanya Santi sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Anang yang sedang memakai pakaiannya, hanya melihat kardus-kardus yang tertutup rapat dilantai.


"Nggak tahu. Nanti saja kita lihat isinya," ujar Anang sambil memeluk Santi.


"Mau?" tanya Santi sambil menggigit bibirnya sendiri.


Apa Anang masih perlu ditanya lagi?


Sudahlah...

__ADS_1


__ADS_2