SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 33


__ADS_3

Anang mengambil sekaleng minuman bersoda, untuk mendorong kacang goreng yang membuat tenggorokannya gatal.


Anang menikmati camilannya dengan memperhatikan gerak-gerik semua wanita yang ada disitu.


Wanita-wanita yang datang dipesta itu, rata-rata berwajah cantik, dengan bentuk tubuh yang bagus.


Dibalut dengan gaun mewah yang mini, hampir tidak bisa menutup dengan baik, semua bagian tubuh mereka yang rawan konflik.


Santi berarti mengerti dengan pesta seperti itu, makanya dia memakai pakaian yang mirip-mirip dengan wanita-wanita yang lain.


Sayangnya, hanya Santi yang mau dengan tongkat Anang.


Anang menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.


Benar-benar sia-sia keindahan, dan kecantikan wanita-wanita itu.


Coba saja kalau mereka normal, saat ini Anang yang jadi satu-satunya pangeran yang tersedia, pasti jadi rebutan putri-putri nan cantik jelita yang ada didepan Anang sekarang.


Membayangkan mereka berebutan menggerayangi Anang, membuat Anang sesak nafas.


"Ehhem... Ehheem..." Anang terbatuk-batuk.


Tenggorokan Anang terasa kering, mungkin karena kacang, atau mungkin karena...


Sudahlah!


Nggak usah sok-sok'an!


Cuma satu Santi saja, Anang sudah sakit punggung, apalagi sampai sebanyak itu?!


Ckckck... Laki-laki memang sok kuat!


Semakin lama Anang melihat mereka disitu, semakin Anang bisa memperhatikan perubahan tingkah bidadari-bidadari yang tersesat itu.


Sebagian besar tampaknya sudah mulai dikuasai alkohol, dan mulai bertingkah gila.


Mereka mulai berciuman satu sama lain berganti-gantian, sambil berpelukan erat.


Tangan mereka saling menggerayangi bokong, dan meraba-raba dada lawannya.


Memangnya rasanya berbeda?


Eh, Santi juga sama!


Lengkaplah kegila'an Santi kali ini.


Santi tampak menikmati permainan mulut lawannya dibibirnya, begitu juga tangan yang meraba-raba sampai roknya terangkat.


Anang kebingungan melihat adegan yang dilakukan wanita-wanita didepannya.


Apa Anang harus tertawa atau menangis karena tidak diajak dalam kegembiraan mereka?


Soalnya Anang juga mau... Hiks... hiks.


Tapi, Anang ingat petuah dan amanat Lia, yang sudah mewanti-wanti, kalau dia tidak mau ada keributan.

__ADS_1


Anang nonton saja kalau begitu.


Sekaleng minuman Anang sudah habis, dia lalu mengambil sekaleng lagi untuk jadi temannya menonton.


Permainan para bidadari sudah semakin ekstrim, ada yang mulai melepas pakaiannya.


Apa mereka tidak takut pakaiannya dicuri, sampai mereka tidak bisa kembali ke khayangan?


Bukan cuma mereka yang bergairah, celana Anang kini juga sudah terasa sesak.


Bagaimana tidak?


Bidadari-bidadari itu semua sudah tertinggal segitiga pengaman, sedangkan sisanya hanya kulit mulus yang halus, kalau bisa dipegang Anang, sambil beradegan mesra tanpa merasa risih dengan adanya Anang disitu.


Gerakkan mereka sudah seperti penari striptis yang menggoda, meski tidak berniat menggoda Anang.


Santi pun sudah sama seperti mereka yang lain.


Mata Anang sampai berkaca-kaca melihat adegan menyedihkan, tanpa dia ikut menjadi pemerannya.


Apa Anang pulang sendiri saja sekarang?


Tapi, rasanya nggak enak kalau Anang pergi tanpa pamitan. Sedangkan kalau Anang pamitan sekarang, mungkin hanya mengganggu konsentrasi Lia, dan teman-temannya.


Anang tidak tahan lagi, daripada ritsleting celananya rusak, Anang memilih untuk berbalik, dan sibuk dengan ponselnya.


Anang sudah mulai bisa mengontrol pikirannya, dan mulai konsentrasi membaca tampilan akun f*cebooknya.


Tidak lama, benar-benar sebentar saja Anang bisa berkonsentrasi.


Anang teringat tas Santi, mungkin disana ada earphone Santi yang bisa Anang pakai.


Anang melihat kesana kemari mencari-cari tas Santi.


Deg.


Adegan delapan belas keatas sudah bertebaran diatas karpet permadani.


Agak aneh tapi tetap menarik perhatian Anang, sampai cukup lama untuk melihatnya.


Pantas saja keluhan, mereka menggema didalam ruangan itu.


Sadar! Anang, sadar!


Anang mengedip-ngedipkan matanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Anang harus mencari tas Santi sekarang, kalau tidak, Anang memang akan membuat keributan disitu.


Anang bernafas lega, akhirnya dia menemukan tas Santi, dan untungnya didalam situ ada earphone milik Santi.


Aman dunia persilatan didalam celana Anang.


Buru-buru Anang memasang earphone ditelinganya, lalu menyalakan musik senyaring volumenya bisa dinaikkan.


Anang duduk membelakangi pasukan gerilya yang sedang tiarap, sambil mempersiapkan amunisi untuk pertempuran mereka.

__ADS_1


Anang sudah tidak bisa mendengar keributan yang bisa mengganggu konsentrasinya lagi.


Anang sudah bisa fokus membaca tampilan akun f*cebooknya dengan tenang, meski rasanya gendang telinganya mau pecah.


Anang tidak sadar berapa lama dia sibuk menatap ponselnya.


Karena dia sempat membaca hampir semua komentar dipostingan lamanya, dan banyak postingan video saat Anang bernyanyi yang diposting orang lain, lalu menandai akun Anang.


Begitu juga pesan masuk yang menumpuk.


Anang banyak mendapat tawaran bernyanyi, tapi sayangnya jadwalnya kacau. Ada beberapa yang bersamaan waktunya, dan Anang harus menolak yang dirasa tidak bisa dia datangi.


Anang harus mencatat jadwal bernyanyinya kalau begitu, karena bisa-bisa dia menerima tawaran yang berbarengan.


Sedangkan tidak mungkin dia mendatangi dua atau tiga tempat sekaligus, dan itu bisa merusak nama baik Anang nanti kalau sudah menerima tawaran, tapi akhirnya dia tidak datang.


Tawaran untuk Anang bernyanyi bahkan sudah ada yang mulai datang dari luar kota.


Memang hebat pengaruh internet dijaman sekarang.


Hanya dalam beberapa hari, postingan-postingan video Anang yang sedang bernyanyi, sudah mencapai jutaan kali yang dibagikan ulang oleh orang lain.


Anang yang tadinya hanya pengamen jalanan, kini bisa menjadi penyanyi panggilan, dengan bayaran yang lumayan besar.


Kalau begini, Anang memang tidak perlu lagi bekerja serabutan.


Anang tersentak saat ada yang menepuk bahunya.


Anang lalu melepas earphone dari telinganya, kemudian berbalik.


"Ayo kita pulang! Aku lelah. Lia akan mengantar kita," ujar Santi dengan suara lemas.


"Oh... Oke!" sahut Anang.


Anang kemudian berdiri lalu berjalan menyusul Santi yang sudah berjalan duluan.


Lia mengantarkan Anang dengan Santi yang duduk di jok belakang mobil Lia.


Santi memang terlihat lelah. Dia hampir tertidur dilengan Anang saat dia bersandar, disepanjang perjalanan pulang.


Setibanya ditempat tinggal mereka, Lia lalu mengendarai mobilnya kembali melaju dijalanan, meninggalkan Anang dan Santi disitu.


"Tidur ditempatku saja ya?! Biar aku bisa tidur dengan tenang. Aku lelah sekali, tapi masih takut kalau-kalau orang itu datang lagi," kata Santi sambil berjalan pelan dan bersandar didada Anang yang sedang merangkulnya.


Anang menyetujui permintaan Santi.


"Kita langsung tidur saja ya?! Besok pagi-pagi aku tidak mau terlambat ikut dikapal pesiar," kata Santi.


"Iya. Aku juga lelah..." kata Anang meski ada sedikit rasa kecewa.


Sudahlah.


Benar kata Santi, kalau mereka kelelahan, bisa-bisa ketinggalan kapal pesiar yang akan menjadi tempat Anang bernyanyi besok, dan Anang akan kehilangan imbalan fantastis yang ditawarkan orang asing kemarin.


Serius, mereka berdua meski membuka pakaiannya, sampai hanya tersisa pakaian dalam, tapi mereka langsung tidur tanpa ada gangguan.

__ADS_1


__ADS_2