
Bukan cuma jalanan kompleks yang ramai, pusat perbelanjaan terbesar dikota itu, juga dipadati dengan banyaknya pengunjung.
Anang yang mengikuti langkah Santi, sempat beberapa kali hampir menabrak pengunjung lain, karena terlalu sibuk melihat kesana kemari.
Hampir ke segala arah mata memandang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sibuk berlalu-lalang, dan tampak kerepotan dengan kantong belanjaan.
Terlebih khusus yang kaum laki-laki.
Mulai dari tas cangklong wanita, sampai kantong plastik, terlihat memenuhi bahu sampai ketangan-tangan, para pria-pria sejahtera.
Yang paling menarik perhatian Anang, pengunjung yang bersama pasangannya atau keluarganya, pasti yang tampak bahagia hanya yang wanitanya saja.
Sedangkan yang laki-lakinya, sebagian besar memasang tampang merengut, dan terlihat lemas.
Rasanya sudah lebih dari satu jam, Santi membawa Anang berkeliling dipusat perbelanjaan itu.
Satu persatu stand pedagang, dimasuki Santi, berjalan berkeliling sambil melihat-lihat didalam situ, tapi tidak ada yang jadi dibeli.
"Ada yang mau kamu beli?" tanya Santi.
"Nggak ada." sahut Anang, sambil melihat kesana kemari.
"Terus kamu nggak mau beli apa, gitu?" tanya Santi.
"Eh, nggak ada. Kamu mau mencari apa?" ujar Anang balik bertanya.
Ada apa dengan kaum wanita ini?
Santi yang kelihatannya mau berbelanja, tapi Anang yang ditanyain.
Anang mungkin hampir sama seperti laki-laki lain pada umumnya, yang ada disitu.
Anang sudah hampir tidak tahan, yang namanya menunggu, atau mengikuti Santi yang kelihatannya mau belanja, tapi belum ketemu yang cocok, lalu harus berputar-putar, dan berjalan mencari kesana kemari.
Yang jadi masalahnya, entah apa yang dicari.
Ckckck...
Pantas saja pengunjung versi bapak-bapaknya, berwajah masam, dan cemberut.
Memang melelahkan kalau mengikuti pasangan wanitanya, yang sedang belanja.
Mau saja Anang mengajak Santi pulang saat itu juga, tapi sayangnya, Anang belum punya nyali sebesar itu.
Santi memang belum pernah mengomeli Anang.
Hanya saja, Anang kemungkinan besar tidak akan sanggup rasanya, kalau sampai Santi mengomel kepadanya.
Lebih baik kaki Anang yang pegal, dari pada gendang telinga yang pegal, karena nada suara omelan yang tidak beraturan, dari oktaf satu, sampai oktaf ke tujuh.
Bagaimana bapak-bapak? Setuju?
Untung saja, Santi juga bisa lelah, dan mengajak Anang untuk singgah disalah satu stand, yang menjual minuman, dan camilan.
"Kita singgah minum disitu!" kata Santi, sambil menarik Anang agar ikut dengannya disebuah stand, yang berisi kursi dan meja yang berjejer rapi.
Didalam stand itu tidak kalah padat.
Hanya tersisa sedikit kursi yang masih kosong, dan bisa ditempati Anang dengan Santi, tanpa bisa terlalu memilih.
Sebagian besar sudah terisi dengan pengunjung, yang rata-rata anak abege, sampai yang tampak sebaya dengan Anang dan Santi.
__ADS_1
"Kamu masih mau kerumah Papa?" tanya Santi.
"Sebenarnya, aku nggak terlalu mau pergi kesana. Tapi karena Papamu yang minta, jadinya nggak enak saja kalau aku tidak menurutinya." jawab Anang.
"Hmm... Ya sudah, nanti kita kesana, selesai aku belanja," ujar Santi.
Belanja? Lagi?
Anang lebih suka tidur sendiri dikost, kalau begini ceritanya.
Santi memesan dua cangkir kopi, dan dua porsi kue panekuk dengan sirup diatasnya.
"Sarapan ini saja ya?! Atau kamu masih mau yang lain?" tanya Santi, ketika pesanannya datang.
"Cukup ini saja." jawab Anang.
Sambil menikmati kopi panas dan camilannya, Anang melihat-melihat kesekitarnya.
Mata Anang terpaku pada seseorang, sosok yang sangat Anang kenali.
Gita.
Gita sedang bersama seorang laki-laki, yang duduk membelakangi Anang.
Bagus saja kalau Gita sudah dapat pacar baru.
Kalau begitu 'kan, Gita tidak akan mengganggu Anang dan Santi lagi.
Anang melihat Gita dan temannya sebentar, lalu lanjut menghabiskan makanan, dan minumannya.
"Sudah?" tanya Santi, yang tampaknya sudah lebih dulu menghabiskan kuenya, meski kopinya masih tersisa lebih dari separuh.
Santi memasang wajah masam.
"Eh, lupa! Kamu masih mau belanja ya?" ujar Anang buru-buru, sebelum Santi meletus kemarahannya.
"Ayo, belanja!" ajak Anang, sambil memegang tangan Santi, dan membawanya berjalan pergi dari stand itu.
Nyaris saja!
Untung rangkulan Anang dipinggang Santi, mampu menahan kata-kata bijak dan filosofi, yang hampir keluar dari mulut Santi.
Santi sudah terlihat senang lagi, dan kali ini dia benar-benar berbelanja.
Dua kantong plastik berukuran sedang, penuh terisi dengan barang-barang keperluan sehari-hari, untuk membersihkan diri.
Sebenarnya kalau cuma mau membeli itu saja, di minimarket depan kost juga ada.
Sudahlah...
Yang penting Santi senang.
"Kita kembali ke kost dulu?" tanya Anang sambil mengangkat kantong belanjaan ditangannya.
"Iya. Nanti dari sana baru kita kerumah Papa," sahut Santi.
Seperti biasa, dengan menumpang taksi, Anang dan Santi kembali ke kostan mereka.
Santi merapikan barang belanjaan, sedangkan Anang meluruskan pinggangnya diatas ranjang.
"Bajumu kusut semua, kalau kamu berbaring begitu," celetuk Santi.
__ADS_1
Anang menoleh kearah Santi, yang kelihatannya sudah selesai menyusun barang-barang ketempatnya.
Anang memeluk Santi, lalu membawanya untuk ikut berbaring disamping Anang.
"Bajumu juga kusut sekarang!" ujar Anang.
"Oh... Benarkah?" tanya Santi lalu menjitak kepala Anang.
Anang hanya tertawa, meski dahinya terasa cukup sakit.
Tidak ada yang mau beranjak dari tempat tidur, keduanya asyik melihat-lihat layar ponsel masing-masing, untuk beberapa waktu lamanya.
"Sudah hampir jam dua belas siang. Jadi kita kerumah Papamu?" tanya Anang.
"Hmm... Aku chat papa dulu, siapa tahu dia tidak ada dirumah," sahut Santi.
Santi lalu terlihat mengetik sesuatu dilayar ponselnya.
"Jadi. Sebentar aku pesan taksi!" sahut Santi.
"Sudah. Ayo kita keluar! Sebentar lagi taksinya datang," ajak Santi, lalu beranjak turun dari ranjang, tapi Anang menahannya.
"Kalau disana nanti, jangan biarkan aku sendirian saja dengan Papamu ya! Kamu temani aku," ujar Anang.
"Oke!" sahut Santi, dan mengecup bibir Anang sekilas.
Ah, Santi...
Selalu saja memancing Anang.
Untuk apa kecupan numpang lewat seperti itu?
Anang memeluk Santi, dan menciumnya sampai puas.
Santi tersenyum lebar, setelah Anang menciumnya, dengan penuh hasrat seperti itu.
"Sudah puas?" tanya Santi.
"Belum!" sahut Anang.
Santi hanya tertawa, lalu buru-buru meninggalkan Anang yang masih terbaring di atas ranjang.
Mau tak mau, Anang harus bangun dari tempat tidur, dan menyusul Santi yang sudah menunggunya didepan pintu, yang sudah terbuka.
"Awas saja! Kalau 'Tamu'mu sudah pergi, aku akan mengganggumu, sampai kamu lemas!" ujar Anang sambil merangkul Santi.
Santi kembali tertawa, sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek Anang.
Ckckck...
Mau saja rasanya Anang menggigit Santi, saking gemasnya.
Tapi ada yang mengganggu penglihatan mereka berdua, ketika mereka sedang berjalan turun dari lantai atas, tepat berada di anak tangga terakhir.
Gita.
Kenapa wanita ini muncul lagi?
Bukannya tadi dia sedang bersama seorang laki-laki?
"Aku mau bicara denganmu!" ujar Gita.
__ADS_1