SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 171


__ADS_3

"Maaf, Pak! Kira-kira apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya?" tanya Anang hati-hati.


Pak Handoko lalu menatap Anang, kemudian menghela nafas panjang.


"Maksudmu, tentang kejadian tadi? Peter dengan Wina?" tanya pak Handoko.


"Hmm... Iya..." sahut Anang.


Pak Handoko mengalihkan pandangannya dari Anang, lalu melihat keluar dari jendela, yang ada didalam ruangan itu.


Pak Handoko sempat terdiam sebentar, sebelum dia kembali melihat Anang.


"Mereka berdua akan saya tuntut untuk perbuatannya... Selain itu, Peter akan saya tambahkan tuntutannya, dengan pasal tindak kekerasan dan penipuan...


Sedangkan Wina...


Saya pasti akan menceraikannya..." kata pak Handoko pelan.


Pak Handoko lalu tersenyum aneh, saat masih melihat Anang.


"Nak Anang, mungkin akan menertawakan saya..." celetuk pak Handoko.


"Eh! Nggak, Pak! Saya hanya mau tahu saja. Soalnya, saya hanya menduga, kalau yang datang kekamar tadi, petugas kepolisian..." ujar Anang.


"Iya...! Mereka memang polisi! Saya, sudah menghubungi mereka sebelumnya. Tapi, saya harus memastikan dulu, kalau saya tidak salah orang, barulah saya bisa meminta mereka menyergap kedalam kamar," kata pak Handoko.


Pak Handoko lalu kembali melihat kearah jendela, seakan-akan ada yang sedang dipikirkannya.


"Dari awal, Santi jadi membenci saya, karena menikah dengan Wina...


Wina dulu bekerja jadi perawat istriku, Mamanya Santi, waktu beliau masih hidup dan sudah sakit-sakitan..." kata pak Handoko.


"Mungkin, karena kami sering bersama-sama, saat merawat Mamanya Santi. Saya merasa, kalau saya tertarik dengan wanita itu. Begitu juga sebaliknya. Wina menampakkan ketertarikannya dengan saya...


Setelah Mama Santi meninggal, hubungan saya dengan Wina berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Sampai akhirnya, saya memintanya jadi istriku, dan dia menerimanya," kata pak Handoko.


Pak Handoko terlihat menghela nafas panjang, dan masih saja menatap kearah jendela.


"Kalau Anang mau menertawakan saya, silahkan saja...! Saya nggak akan marah...


Saya memang lupa daratan, karena dibodohi dengan cinta, seperti yang dibilang Santi..." kata pak Handoko, dan kali ini, dia sudah kembali melihat Anang.


Rasanya, Anang jadi salah tingkah, saat ditatap pak Handoko seperti itu.


"Maafkan saya...! Saya mungkin membuat Nak Anang jadi nggak nyaman..." celetuk pak Handoko.


"Nggak apa-apa, Pak!" sahut Anang.


Baik Anang maupun pak Handoko, akhirnya hanya terdiam disitu.


Kelihatannya, mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Anang sebenarnya mengerti perasaan pak Handoko.


Meskipun pak Handoko, tampak sangat malu mengakuinya, saat dia jatuh cinta dengan wanita, yang jauh lebih muda darinya.


Yang namanya jatuh cinta, tidak ada yang tahu, kapan, dimana, dan dengan siapa.


Kalau ada yang bisa mengatur semuanya itu, pasti tidak ada yang namanya patah hati, karena cintanya yang ditolak, atau karena cintanya yang dikhianati.


Anang menghela nafas panjang.


"Oh iya! Saya lupa memberi tahu Anang, kalau kemarin sore, ada Pak Robi menghubungi saya.


Dia menanyakan kabar Anang. Katanya, kalau Anang merasa sudah siap, ada yang mau pak Robi bicarakan dengan Anang," kata pak Handoko.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Anang belum mau menghubunginya?" tanya pak Handoko.


"Hmmm... Bukan begitu, Pak! Tapi, kalau untuk bernyanyi seperti dulu, saya masih mau menundanya," sahut Anang.


"Kenapa?" tanya pak Handoko.


"Anu... Saya menanam padi dikebun. Sekarang, sudah mulai bertunas. Sayang kalau cuma dibiarkan begitu saja..." sahut Anang.


Pak Handoko tersenyum lebar.


"Jadi, Anang sekarang sudah fokus berkebun?" tanya pak Handoko santai.


"Kalau urusan saya disini sudah selesai, sekali-sekali, mungkin saya akan jalan-jalan kekampung Anang," kata pak Handoko.


"Ngomong-ngomong, mungkin Anang mau memberitahu kabar Anang dengan Pak Robi. Jadi, dia nggak menduga-duga, kalau saya nggak menyampaikan pesannya," kata pak Handoko lagi.


Anang terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, saya tinggal keluar sebentar ya, Pak?!" ujar Anang.


Pak Handoko menganggukkan kepalanya.


Anang lalu berdiri, dan berjalan keluar dari ruang perawatan pak Handoko.


Ketika Anang berada dikoridor rumah sakit, Anang kemudian menghubungi pak Robi.


Anang berbincang-bincang dengan pak Robi cukup lama, karena pak Robi menjelaskan banyak hal kepada Anang.


Mulai dari masalah kontrak, dua single Anang yang sempat direkam dan siap rilis, sampai ke persoalan tentang royalti.


Pak Robi tidak memaksa Anang untuk bernyanyi, ataupun promosi, melainkan hanya meminta persetujuan Anang, agar kedua singlenya itu bisa dirilis.


Kalau Anang setuju, maka Anang diminta datang ke studio pak Robi, untuk melakukan pemotretan, karena foto Anang akan dipakai sebagai cover singlenya.


Anang juga dijanjikan royalti, sesuai dengan kontrak yang pernah disetujui Anang waktu itu.

__ADS_1


Jadi, meskipun Anang tidak bernyanyi untuk sementara waktu, selama kedua singlenya masih ada di bursa musik, maka Anang akan tetap mendapat bayaran, yang akan dikirim ke rekening Anang setiap bulannya.


Kelihatannya, itu perjanjian yang cukup menarik bagi Anang.


Anang masih bisa mengurus kebunnya dikampung, dan masih bisa mendapatkan hasil dari lagu-lagunya.


Kurang apa lagi?


Anang menyetujui permintaan pak Robi, dan berjanji, kalau tidak ada halangan, besok pagi, dia akan pergi ke studio pak Robi.


Setelah merasa kalau pembicaraan mereka sudah cukup, Anang lalu memutus panggilan telepon setelah saling mengucapkan terimakasih.


Anang lalu berjalan kembali kedalam ruangan pak Handoko.


Didalam situ, terlihat ada seorang dokter, dan beberapa orang perawat yang menemui pak Handoko.


Pak Handoko terlihat sudah tidak memakai pakaian rumah sakit lagi, dan sudah berganti dengan pakaiannya sendiri.


Mereka tetap berbincang-bincang disitu, meskipun Anang dengan pelan, berjalan menghampiri pak Handoko.


"Ini anaknya?" tanya dokter itu tiba-tiba.


Anang terkejut mendengarnya, dan sempat kebingungan.


Tapi, pak Handoko tersenyum kepada Anang, lalu kembali melihat kearah dokter itu, dan berkata,


"Iya! Dia yang akan menemani saya pulang,"


Anang hanya bisa tersenyum, meski ada sedikit rasa canggung, ketika pandangan orang-orang disitu mengarah kepadanya.


"Baiklah, kalau begitu! Tunggu sebentar, Pak!" ujar dokter itu, lalu berjalan keluar dari ruangan, bersama beberapa orang perawat yang lain.


"Ada apa, Pak?" tanya Anang ketika semua petugas medis itu sudah tidak terlihat lagi.


"Jangan marah yaa...! Saya mau pulang... Saya nggak mau tidur dirumah sakit. Jadi, saya beralasan kalau Anang yang akan memantau saya dirumah," sahut pak Handoko.


"Eh! Nggak apa-apa, Pak!" sahut Anang.


"Anang sudah ada tempat menginap malam ini? Menginap dirumah saya saja! Koper pakaian Anang, masih dimobil saya 'kan?" ujar pak Handoko.


Anang tidak tahu harus bicara apa, karena rasanya, perkataan pak Handoko bukanlah pertanyaan untuk dijawab Anang.


Sudahlah...


Malam ini, Anang akan menginap dirumah pak Handoko saja.


Tak lama, seorang perawat masuk kedalam ruangan, lalu menyodorkan kertas beralaskan papan plastik kepada pak Handoko.


Setelah pak Handoko menandatanganinya, perawat itu lalu memberikan sebuah amplop, berikut juga dengan sekantong plastik kecil, yang mungkin berisi obat-obatan.


"Ayo kita pergi! Saya masih harus mengambil mobil saya," ajak pak Handoko, lalu beranjak turun dari ranjang, dan berjalan keluar sambil disusul Anang.

__ADS_1


__ADS_2