SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 119


__ADS_3

Anang meninggalkan Santi sendiri dikamar, lalu mulai mempersiapkan bahan makanan, yang baru saja dia keluarkan dari dalam lemari es.


Masak-masak hari ini sederhana saja, karena cuma untuk dimakan sekali siang ini, dan cuma untuk mereka berdua.


Sore nanti mereka sudah harus bersiap-siap untuk pergi ke bandara.


Sambil membersihkan bahan untuk masakannya, Anang terpikir tentang bagaimana rasanya naik pesawat.


Wajar saja.


Anang belum pernah naik pesawat, apalagi nanti menurut perkataan Santi, perjalanan mereka butuh waktu berjam-jam, bahkan bisa dibilang sehari semalam penuh, baru tiba di negara tujuan.


Jangankan perjalanan dengan pesawat sampai selama itu, perjalanan Anang terlama, hanya perjalanan menggunakan bus, menuju kota tempat tinggal Setyo waktu itu.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Apa Anang bisa tahan di perjalanan sejauh dan selama itu?


Belum lagi, kata Santi disana nanti dinginnya minta ampun.


Meski sedikit, tetap ada rasa khawatir yang timbul dihati Anang.


Anang baru selesai mempersiapkan bahan makanan, dan hendak memasak semuanya itu, Santi sudah menyusulnya didapur.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Santi, sambil memeluk Anang dari belakang.


"Kamu bisa membantu mengambil bahan saja, kalau aku sudah perlu," sahut Anang sambil menyalakan kompor dan memanaskan panci.


"Nggak usah mendekat! Diam saja dulu dibelakangku! Aku mau menggoreng ikan, takutnya kamu nanti kena cipratan minyak panas," kata Anang.


Santi terdengar sedang tertawa dibelakang Anang, dan tetap memeluk Anang disitu.


Anang dengan cekatan memasak semua yang mau dia masak, untuk mereka makan, sambil ditemani Santi.


Dan tidak butuh waktu terlalu lama, semua masakan sudah selesai Anang buat.


"Kamu sudah memesan tiket untukmu?" tanya Anang, lalu menyuapkan makanannya ke mulutnya.


"Sudah. Kata Miss Jordan malam itu, kamu dikasih tiket untuk kelas bisnis, jadi aku memesan kelas bisnis juga untukku, jadi kita bisa tetap bersama-sama," sahut Santi yang juga ikut memakan makanannya.


Anang bisa sedikit merasa lega, kalau mengingat Santi akan menemaninya di sepanjang perjalanannya.


"Kenapa?" tanya Santi.


"Kamu khawatir tentang perjalanan itu ya?" sambung Santi lagi.


Anang terdiam sambil melihat Santi sebentar, sebelum lanjut memakan makanannya.


Selalu saja, Santi seakan-akan bisa membaca pikiran Anang.

__ADS_1


"Iya. Bukan cuma perjalanannya saja, tapi bagaimana nanti, saat aku harus tinggal dan bekerja disana," sahut Anang.


"Kamu nggak usah terlalu khawatir. Aku akan tetap bersamamu, meskipun kamu sedang bekerja. Sama seperti waktu kamu disini, aku akan selalu menemanimu..." ujar Santi.


"Kalau-kalau ada yang membuatmu merasa kurang nyaman, kamu beritahu aku. Siapa tahu aku bisa membantumu...


Mudah-mudahan saja kontrakmu tidak terlalu lama disana. Jadi kita bisa cepat pulang kesini lagi," sambung Santi.


Semua perkataan Santi, bagaikan angin segar yang bisa membuat Anang merasa tenang, dan tetap bersemangat.


Anang akan berusaha semaksimal mungkin agar perjalanan mereka sejauh itu tidak sia-sia.


Bukan hanya untuk menguntungkan label Miss Jordan, tapi Anang berharap itu juga bisa menguntungkan baginya dan Santi, seperti omongan pak Robi.


Sama seperti kemarin, setelah mereka menghabiskan makan siangnya, Anang dan Santi merapikan semua barang perlengkapan makan dan memasak lalu membersihkannya.


Entah kapan baru mereka berdua bisa kembali kerumah itu, jadi mereka pastikan tidak ada yang akan busuk, atau berantakan saat mereka kembali.


"Sisa bahan makanan dalam lemari es, dibiarkan saja. Nanti aku beritahu Papa, biar mereka mengambilnya kesini. Tadi aku sudah memberikan kunci cadangan rumah ini kepada Papa," kata Santi, sambil membantu Anang menyusun barang-barang didalam dapur.


Setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu mereka rapikan didalam dapur itu, Santi mengajak Anang untuk bersantai sebentar diteras samping rumah.


"Kalau kita kembali kesini nanti, aku mau kamu menanam buah, juga bunga disini," ujar Santi sambil bersandar didada Anang yang memangkunya.


Anang mengecup kepala Santi dengan lembut.


Padahal area itu cukup luas, bahkan bisa dipakai mereka untuk bermain bulutangkis.


Kalau ditanami pohon buah dan bunga, seperti yang dibilang Santi, halaman samping itu bukan hanya asri tapi bisa jadi sejuk, dan menjadi tempat istirahat yang menenangkan.


Dalam hati, Anang benar-benar berharap kalau mereka tidak perlu berlama-lama di negeri orang.


"Nanti kita buat kolam ikan disebelah sana... Terus disebelah situ kita buat kolam renang kecil, untuk anak-anak bermain..." kata Santi sambil menunjuk kesana kemari, dan tertawa pelan.


"Heh? Mulai lagi!" sahut Anang, sambil meremas tangan Santi dengan gemas.


Santi tertawa terbahak-bahak.


"Benar saja 'kan? Rumah ini nanti sepi, kalau kita cuma berdua," celetuk Santi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Santi lalu melihat layar ponselnya sebentar.


"Masih ada waktu sedikit. Aku mau itu!" kata Santi, lalu menggigit bibirnya sendiri.


"Mau apa?" tanya Anang pura-pura tidak mengerti.


"Maaass...!" ujar Santi dengan suara memelas.

__ADS_1


Anang tetap berpura-pura, seolah-olah dia tidak mengerti apa maksud Santi.


Tapi Anang tidak bisa berlama-lama untuk berpura-pura, kecuali dia mau adegan mereka disitu jadi tontonan tetangga sebelah rumah, karena sekarang tangan Santi, sudah mulai membuka kancing kemeja Anang satu persatu.


Ya sudah, Anang beri Santi makan sampai kenyang dulu.


Paham saja, Santi nanti harus puasa sampai besok malam, atau mungkin sampai lusa.


Anang mengangkat Santi, menggendongnya, dan membawanya masuk kedalam rumah.


Padahal baru tadi pagi, Anang sudah membuat jantungnya berdegup kencang, sekarang Santi sudah mengajaknya untuk berlatih kardio lagi.


Pegal kalau mau pegal pinggang Anang, yang penting kemauan Santi dituruti.


Toh, Anang juga mau, kok!


Sudahlah... ~


"Rasanya semua sudah siap..." ujar Santi setelah dia sudah selesai mandi.


"Kamu belum mau mandi?" tanya Santi, sambil menghampiri Anang.


"Bentar!" sahut Anang.


Anang masih terlentang diatas ranjang.


Wajar saja 'kan kalau Anang lelah?


"Pergi mandi sana! Sebentar lagi kita harus ke bandara...! Belum lagi kita harus mencari Miss Jordan disana," ujar Santi lalu mengecup bibir Anang sekejap.


Meski masih dengan rasa enggan, Anang kemudian beranjak pergi kekamar mandi.


Setelah Anang selesai mandi, Santi sudah selesai berpakaian dan berdandan, dengan riasan tipis diwajahnya.


"Itu pakaianmu...!" kata Santi, sambil menunjuk pakaian Anang, yang sudah disiapkannya diatas ranjang.


Sambil berpakaian, sesekali Anang melirik Santi, yang memandanginya disitu.


"Kenapa?" tanya Santi.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada apa-apa," sahut Anang.


Semakin dekat waktunya bagi mereka untuk berangkat keluar negeri, Anang merasa semakin cemas.


Dan mungkin Santi menyadari kecemasan diwajah Anang, karena setelah Anang selesai berpakaian, Santi lalu memeluknya erat-erat.


"Aku sudah memesan taksi. Kita turun sekarang ya?!" ujar Santi pelan.

__ADS_1


__ADS_2