SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 115


__ADS_3

Mungkin karena Anang terlalu memikirkan bagaimana pengaruhnya, tentang perubahan tempat tinggalnya, yang harus keluar negeri dan tinggal disana, sedangkan Anang masih belum bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asing.


Atau mungkin karena terlalu memikirkan Tejo?


Iya, selama Gita masih dikost-kostan Anang dan Santi semalam, Santi dan Gita memang terlihat sangat bersemangat, saat membicarakan otot perut sixpack Tejo yang basah-basahan dipinggir sumur.


Ah, capek.


Yang jelas pindah keluar negeri dengan bahasa asingnya, atau sang 'duren' Tejo dengan gigi gingsulnya, memikirkan dua hal itu memang bisa membuat Anang bermimpi buruk.


Meskipun Anang sudah membalas ejekkan Santi, dengan menghukumnya sampai puas, atau Anang yang dihukum Santi, sampai Santi merasa puas?


Sudahlah... Dua-duanya puas.


Tidak perlu dibahas. Oke?!


Sepanjang sisa malam, atau dari subuh ke pagi, Anang terlalu sibuk, jadi tidak sempat melihat jam.


Pokoknya, Anang tidak bisa tidur dengan nyenyak, disepanjang sisa waktu tidurnya.


Beberapa kali Anang terbangun, dan harus memastikan kalau yang dia tindih itu memang Santi, dan bukan cuma bantal.


Kenapa harus ada laki-laki lain didunia ini, yang harus lebih menarik dari Anang?


Apa Anang harus membuat planet sendiri, biar Anang bisa tidur dengan tenang?


Hmm... Berarti memikirkan Tejo, yang lebih berpengaruh di mimpi buruk Anang.


"Mas...!"


"Bangun!"


Suara Santi dan kecupan lembutnya dileher Anang, bisa menyadarkan Anang, meski kedua mata Anang masih terpejam.


"Kenapa...? Aku masih ngantuk..." sahut Anang sebisanya.


"Kita nggak bisa bangun siang... Masih banyak yang harus kamu urus untuk keberangkatanmu besok," kata Santi pelan.


Perkataan Santi agak terbata-bata, mungkin nafasnya yang sesak, karena Anang menekan paru-parunya.


Bodo amat.


Kalau begitu 'kan, Anang bisa yakin kalau memang Santi yang dipeluknya sekarang.


"Nanti saja...! Aku masih ngantuk..." sahut Anang.


Anang bisa merasakan kedua tangan Santi, yang memegang wajahnya lalu menggesernya pelan.


Sesuatu yang lembut dan agak basah, yang menyentuh bibir Anang, mau tidak mau membuat Anang harus membuka matanya yang masih terasa kering, untuk memastikan indra perasanya tidak melakukan kesalahan deteksi.


"Nah! Gitu...! Bangun sekarang, jangan tidur terus! Nanti kita terlambat mengurus semuanya hari ini!" ujar Santi.


Ah, Anang terlalu buru-buru membuka mata.


Mestinya Anang menunggu sebentar lagi, biar bisa lama-lama...


Anang memejamkan matanya lagi, berharap...

__ADS_1


"Mas!" seru Santi, yang terdengar kesal.


Anang tetap saja memejamkan matanya.


Kalau Santi tidak mau memberikan lagi sentuhan lembut penuh kasih sayangnya, Anang tidak mau bangun. Titik!


"Mas!" seru Santi, yang terdengar makin kesal.


Apa Santi tidak mengerti maunya Anang?


Anang mendekatkan wajahnya, sampai kulitnya bisa merasakan hangatnya kulit wajah Santi.


Berhasil!


Kali ini, Anang berencana akan menunda-nunda untuk membuka matanya, sebelum akhirnya Santi menggigitnya, dan Anang harus membuka paksa kelopak matanya.


"Sakit!" keluh Anang.


"Makanya...! Ayo mandi, biar nggak ngantuk lagi!" kata Santi ketus.


Dengan rasa enggan, Anang beranjak turun dari tempat tidur.


Kepalanya masih agak pusing, jadi Anang memilih untuk duduk sebentar dipinggir ranjang, sebelum berjalan ke kamar mandi.


"Maass...!" seru Santi dengan suara manja.


Ketika Anang melihat pemandangan menggoda Santi, yang berdiri di depan pintu kamar mandi, rasa pusingnya tiba-tiba menghilang, lalu buru-buru menyusul Santi.


Cuma begitu saja?


Semudah itu Santi bisa mengendalikan Anang?


"Cuma paspor ku saja yang dibuat? Terus untukmu, gimana?" tanya Anang, sambil memakai pakaiannya.


"Pasporku sudah ada, tinggal diperpanjang saja," sahut Santi, sambil menggosok-gosok rambutnya, yang basah dengan handuk.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya, karena dia baru ingat kalau Santi sudah pernah keluar negeri, pasti punya benda itu.


"Nanti pulang dari kantor imigrasi, kita bereskan barang-barang kita. Nanti malam kita tidur dirumah baru. Kamu harus memasak untukku..." celetuk Santi.


"Masa Tejo bisa memasak untukku, terus kamu nggak bisa?!" sambung Santi.


Apa Anang tidak salah dengar?


"Kamu memang mau membuatku cemburu?" tanya Anang dengan suara tinggi.


Santi hanya tertawa cekikikan, lalu menghampiri Anang, dan memeluknya erat-erat.


"Aku hanya bercanda... Tapi kamu memang harus memasak untukku, sekali-kali aku mau mencobanya..." kata Santi pelan, sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat Anang, lalu tersenyum manis.


Padahal Santi masih ada maunya, tapi cara Santi membujuk Anang, membuat Anang tidak bisa marah dengannya.


"Ya?" tanya Santi dengan suara manja.


"Iya," sahut Anang.


Santi tersenyum puas, lalu lanjut memakai pakaiannya.

__ADS_1


Sambil menunggu Santi berpakaian, dan berdandan, Anang melihat-lihat keluar jendela.


Perubahan demi perubahan belakangan ini terasa terlalu cepat bagi Anang.


Dari kost-kostan liar dibawah jembatan layang, lalu pindah kekost ini, nanti malam pindah kerumah baru, besok akan pindah lagi ke tanah asing yang tidak pernah terbayangkan oleh Anang.


Bukannya Anang tidak mau ada yang berubah, tapi Anang seakan-akan tidak bisa mengikuti iramanya.


Diluar jendela sudah terang, dan Anang bisa melihat semua yang ada dijalanan dengan jelas.


Tidak ada yang menarik dibawah sana, tapi Anang masih saja menatap keluar.


"Aku sudah siap!" celetuk Santi.


Anang yang sempat melamun, terkejut mendengar suara Santi, yang sekarang sudah memeluknya dari belakang.


Anang lalu berbalik, dan memeluk Santi.


"Semua data-data yang perlu dibawa, juga sudah aku siapkan...


Kita turun saja sekarang. Nggak lama lagi pasti taksinya datang. Aku sudah memesannya sejak tadi," kata Santi.


Benar saja.


Anang dan Santi baru saja keluar dari bangunan kost, taksi pesanan Santi sudah terparkir dipinggir jalan.


"Kamu banyak melamun," celetuk Santi ketika mereka dalam perjalanan kekantor imigrasi.


"Hmmm... Aku masih agak mengantuk," ujar Anang beralasan.


"Nanti selesai mengurus semuanya, kamu bisa tidur sepuasnya," sahut Santi sambil menggenggam tangan Anang.


Setibanya dikantor imigrasi, suasana disana tidak terlalu ramai orang yang berlalu-lalang.


Beberapa orang dengan ras kulit putih, dan lokalan tampak berjalan santai didalam ruangan.


Anang yang tidak mengerti apa-apa, hanya menyerahkan semua kepada Santi yang mengurusnya, dan hanya mengikuti langkah Santi kemana saja Santi pergi.


Santi seperti sedang menuntun orang buta, ketika bersama Anang saat itu, meski Anang mengerti semua yang dikatakan pegawai disitu.


Diminta data-datanya, Santi yang memberikannya.


Disuruh mengisi data, Santi yang menuliskannya untuk Anang.


Kecuali waktu disuruh berfoto saja, barulah Santi tidak bisa menggantikan Anang.


Bisa bayangkan bagaimana nanti, kalau mereka sudah diluar negeri, yang sama sekali Anang tidak mengerti apa yang orang bicarakan, akan sekacau apa Anang disana kalau Santi tidak mau membantunya.


Tapi Santi kelihatannya tidak mengeluh, saat melakukan semuanya untuk Anang.


Kalau begitu, Anang akan memasakkan sesuatu yang spesial untuk Santi nanti.


"Paspornya bisa langsung jadi hari ini?" tanya Anang.


"Bisa. Hanya ada tambahan biayanya saja," sahut Santi.


"Kamu mau aku masakkan apa nanti?" tanya Anang.

__ADS_1


Santi tersenyum lebar.


"Terserah kamu saja..." sahut Santi.


__ADS_2