
Perjalanan kembali ke apartemen ternyata cukup memakan waktu lama.
Atau karena Anang sudah tidak sabaran saja makanya terasa sangat lama?
Jarak tempuh untuk pergi dan kembali pasti sama saja 'kan?
Anang yang sesekali melihat keluar jendela, memang tidak sabar lagi untuk melihat trotoar yang ada tenda berkemahnya.
"Kenapa kita belum juga sampai di apartemen?" tanya Anang ketika Santi yang tidur dipangkuannya, terbangun dan mengangkat kepalanya.
"Hmm..." Santi menggumam, tampaknya Santi masih mengumpulkan kesadarannya.
Santi lalu menggapai ponselnya lalu menyalakan layarnya, melihat-lihat disitu, sambil menggeser-geser layarnya dengan jari jempolnya.
"Sebentar lagi kita sampai, kok!" ujar Santi, lalu kembali bersandar didada Anang.
"Dari tadi, kamu nggak tidur?" tanya Santi.
"Aku nggak bisa tidur. Nggak ngantuk..." sahut Anang.
"Dari mana kamu tahu kalau nggak lama lagi kita sampai?" tanya Anang memastikan.
"Dari Google map...!" sahut Santi.
"Kalau nggak salah sekitar satu jam lagi kalau nggak ada kendala, kita semestinya sudah tiba," sambung Santi lagi.
Dan benar saja, rasanya belum sampai satu jam, kendaraan yang mereka pakai sudah berhenti berjalan.
Anang dan Santi buru-buru turun dari van itu, lalu masuk kedalam apartemen.
"Bantu aku mengemasi barang-barang kita! Waktunya mepet dengan jam keberangkatan pesawat kita nanti," kata Santi, yang sudah mulai sibuk mengeluarkan pakaian, dari dalam lemari.
Anang membantu Santi dengan memasukkan, dan menyusun pakaian kedalam koper.
"Apa memang nggak apa-apa kalau kita pergi begitu saja, tanpa memberitahu Miss Jordan?" tanya Anang disela-sela kegiatan mereka, mengemasi barang-barangnya.
"Nggak apa-apa. Papa yang menghubungiku tadi. Urusan hukum dengan Miss Jordan, Papa yang akan mengurus semuanya," sahut Santi.
Anang masih ada sedikit kekhawatiran, karena rasanya nggak etis saja kalau pergi begitu saja, tanpa berpamitan dengan Miss Jordan.
Tapi, Anang memang mau pulang secepatnya.
Bagaimana kalau pergi berpamitan, lalu malah mereka tidak bisa pulang?
Ah, sudahlah.
Nanti kalau ada kesempatan yang baik, ada waktunya Anang akan meminta maaf dengan Miss Jordan, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka.
Setelah semua barang bawaan selesai dikemas kedalam koper-koper, Anang melihat didapur yang masih ada barang-barang yang sempat mereka beli, dan kemungkinan besar hanya akan terbiar begitu saja.
"Barang-barang dapur itu dibiarkan begitu saja 'kah?" tanya Anang.
Santi melihat kearah dapur mini sebentar.
"Iya. Bahan makanan sisa saja yang kita keluarkan dari dalam lemari es. Bisa kita berikan untuk orang-orang didepan," sahut Santi.
__ADS_1
"Sudah semua?" tanya Santi yang tampaknya hanya sekedar saja, tanpa meminta jawaban Anang, karena Santi malah memeriksa semua bagian kamar, sampai ke kamar mandi, sendiri.
"Rasanya sudah semua," celetuk Santi.
"Mas! Kamu keluarkan bahan makanan dari lemari es. Masukkan kekantong plastik. Kita turun sekarang!" ujar Santi lalu menarik koper yang berukuran kecil, keluar dari kamar.
Anang menganggukkan kepalanya, lalu mengerjakan yang diminta Santi, kemudian menarik keluar semua sisa koper yang masih ada didalam kamar.
Diluar gedung, sambil Anang menjaga koper ditrotoar didepan gedung, Santi menyeberang jalan, lalu memberikan kantong plastik berisi makanan kepada tuna wisma yang berkemah ditrotoar itu.
Tak lama, Santi kembali menyeberang jalan, lalu sibuk mengacungi jempol kearah jalan, untuk mencegat taksi.
Santi terlihat menghela nafas panjang, ketika mereka sudah didalam taksi, yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Santi lalu melihat Anang dan tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Santi.
"Kita masih harus menghabiskan berjam-jam penerbangan lagi, baru tiba dirumah," sambung Santi.
"Nggak masalah. Yang penting kita bisa pulang," ujar Anang.
Santi tersenyum lebar, lalu mencium Anang.
"Aku nggak sabar untuk menggendong bayi," bisik Santi.
"Santi...!" ujar Anang.
Santi tertawa cekikikan.
Setibanya di bandara, Santi kembali mengurus semuanya, sama seperti saat mereka akan berangkat ke negara itu dulu.
Anang hanya mengikuti apa yang dikatakan Santi, kemana Santi melangkah, dan apa saja yang Santi lakukan.
Saat Santi sedang pergi membeli sesuatu, di stand pedagang yang ada diruang tunggu, Anang melihat semua yang bisa dia lihat disekelilingnya.
Kalau cuma untuk jalan-jalan, mungkin Anang masih mau datang ke negara itu lagi nanti.
Untuk sekarang, Anang lebih suka bisa secepatnya tiba di negara asalnya.
"Ayo! Penerbangan kita sudah dipanggil!" kata Santi, sambil memegang tangan Anang.
Anang menghela nafas panjang.
Perjalanan berjam-jam dengan pesawat itu, benar-benar akan membuat bokong Anang panas.
Sejak keberangkatan mereka datang ke negara itu, sampai sekarang mereka akan kembali ke negaranya, mungkin jadi pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi Anang.
Yang akan Anang ingat, bukan pengalaman yang menyenangkan, melainkan rasa lelahnya saat menghabiskan waktunya diperjalanan panjang.
"Kalau persidangan mulai berjalan, mungkin ada waktunya kamu dipanggil untuk memberikan kesaksian," celetuk Santi.
Anang melihat kesampingnya, dimana Santi sedang bersandar dilengannya.
"Lalu, bagaimana dengan orang Filipina waktu itu? Apa dia juga harus mendatangi persidangan?" tanya Anang.
__ADS_1
"Iya. Tapi dia tidak perlu datang langsung keruang sidang. 'Kan bisa lewat live streaming saja?!" sahut Santi.
"Kamu nggak perlu memikirkan apa-apa. Kalau kita sudah tiba, kamu bisa melakukan apa yang kamu seperti biasa...
Semua urusan tentang tuntutan hukum juga tet*k bengeknya, nggak akan jadi bebanmu lagi...
Paling-paling diwaktu-waktu tertentu kamu dipanggil ke persidangan, tapi cuma itu saja," sambung Santi.
Didalam kabin pesawat kini terasa bergetar, pesawatnya sudah mulai bergerak dan bersiap untuk terbang.
Anang melihat keluar dari jendela yang ada didekat Santi.
Selamat tinggal negeri Paman Sam...
Anang mungkin tidak akan merasa rindu dengan negara itu.
Tapi, semua kemegahan kota, keunikan cara berpikir, dan kebiasaan orang-orangnya, akan melekat jadi kenangan di ingatan Anang.
Sekarang Anang harus mempersiapkan bokong, pinggang, dan punggung Anang untuk duduk dalam perjalanan puluhan jam.
"Kamu mau makan kacang?" tanya Santi.
Anang yang sejak tadi menatap lubang hitam di jendela pesawat, lalu melihat Santi.
"Aku kira kamu sudah tidur," ujar Anang.
Santi tertawa kecil.
"Mau makan kacang nggak?" tanya Santi lagi.
"Mau! Kamu beli itu saja tadi?" tanya Anang heran.
"Hmm... Ada juga yang lain, tapi untuk dipakai disaat keadaan darurat," sahut Santi lalu tersenyum lebar.
"Keadaan darurat apa?" tanya Anang panik.
Santi yang sedang merogoh kedalam kantong plastik, hanya tertawa lagi.
"Santi!" seru Anang.
Wajar saja kalau Anang panik 'kan?
Mereka sedang berada didalam pesawat sekarang, kira-kira keadaan darurat apa yang akan terjadi?
Santi tetap tidak menjawab Anang, malah sambil tertawa, Santi menyuapkan beberapa butir kacang ke mulut Anang.
"Santi...!" kata Anang dengan suara memelas.
"Ah, kamu ini! Tissue basah, untuk 'keadaan darurat'. Atau kamu lebih suka pakai tissue kering?" ujar Santi yang masih tertawa.
Oh...
Barulah Anang paham maksud Santi.
Anang lalu ikut tertawa sebentar, lalu mencium Santi saking gemasnya.
__ADS_1