SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 79


__ADS_3

Kehadiran Gita benar-benar merusak suasana hati Anang dan Santi.


Terlebih Santi.


Anang bisa melihat rasa sedih dan ketidak nyamanannya, yang tampak jelas dari raut wajah Santi.


Lama-lama, rasanya Anang akan membawa Santi pindah lagi dari tempat itu, dari pada Gita terus saja muncul disitu sesuka hatinya.


"Ada apa? Kami buru-buru sekarang!" ujar Anang.


"Kalian memangnya mau kemana?"tanya Gita yang terlihat heran, sambil melihat Anang dan Santi, dari ujung rambut sampai kekaki.


"Katamu tadi ada yang mau kamu bicarakan. Bicara saja, taksi yang menjemput kami sudah datang!" kata Anang.


Anang lalu menunjuk kearah jalanan yang sudah terparkir sebuah mobil, yang tampak menunggu Anang dan Santi, dengan mesin yang masih menyala.


Gita kemudian berbalik, dan melihat yang ditunjukkan Anang sebentar, lalu kembali menghadap Anang dan Santi.


"Kapan kalian kembali? Rasanya kalau aku katakan sekarang, tidak akan cukup waktunya. Dan yang aku ingin bicarakan itu cukup penting untukmu," kata Gita.


"Kamu bisa kesini nanti malam!" ujar Santi buru-buru, tanpa menunggu Anang yang menjawab pertanyaan Gita, lalu berjalan menuju taksi yang sedang menunggu mereka.


"Santi!" seru Anang yang tertinggal disitu dengan Gita.


Anang lalu berjalan cepat, dengan tergesa-gesa menyusul Santi, tanpa sempat berkata apa-apa kepada Gita.


Anang hanya melihat Gita yang masih berdiri didepan bangunan kost, saat mobil yang mereka tumpangi sudah mulai berjalan, dari jendela disampingnya.


"Kenapa kamu menyuruhnya datang lagi nanti malam?" tanya Anang.


"Nggak apa-apa. Aku tidak mau menunggu sambil berdiri disitu lama-lama. Kalau kalian bicara nanti, aku bisa sambil duduk atau berbaring menunggunya," kata Santi datar.


"Untuk apa aku harus bicara dengannya lagi? Memangnya kamu tidak terganggu dengan adanya Gita disekitarku?" ujar Anang yang merasa kalau Santi terlalu menyepelekan keberadaan Gita.


Kali ini Anang agak merasa kesal dengan sikap datar Santi, atau Santi memaksakan diri untuk bertingkah berpura-pura tidak perduli.


Anang saat melihat Santi hanya bicara saja dengan laki-laki lain, Anang sudah hampir gila.


Tapi Santi, malah membiarkan Gita bicara dengan Anang seolah-olah tidak ada yang dia khawatirkan.


Apa Santi memang tidak perduli, kalau Anang berpaling darinya?


"Kamu memangnya tidak cemburu?" sambung Anang, sambil melihat Santi, yang menatap lurus kedepan.

__ADS_1


Tidak menunggu lama-lama, Santi lalu menoleh kearah Anang dengan sorot mata yang tajam, dan wajah yang sangar.


Cubitan keras mendarat dipinggang Anang.


"Kamu kira aku nggak cemburu? Mau nggak mau aku harus percaya denganmu. Nggak lucu kalau Gita sampai membuat keributan seperti malam itu." kata Santi.


"Sudah cukup memalukan waktu dia meneriaki aku malam itu." sambung Santi.


"Maafkan aku...!" kata Anang pelan, sambil mengusap-usap pinggangnya yang sakit.


Santi menghela nafas panjang.


"Bukan salahmu... Itu semua salahku sendiri. Sejak awal aku berkenalan dengannya, semestinya aku tidak perlu dengan sombongnya, mengumbar hubungan kita," kata Santi.


Anang memeluk Santi dan mengecup kepalanya.


"Nggak usah dipikirkan... Karena kebodohanku mengatakan cinta padanya, tanpa mengenalnya dengan baik, yang membuat semua kekacauan ini terjadi." ujar Anang.


"Kamu mau pindah dari kostan itu nggak?" tanya Anang yang masih memeluk Santi.


Santi melepas pelukan Anang lalu menatap Anang.


"Pindah? Kita tinggal disitu belum sampai sebulan," ujar Santi.


"Iya, biar Gita tidak bisa mengganggu kita lagi," sahut Anang.


Anang tetap memeluk Santi erat-erat, sampai mereka tiba dirumah ayah Santi.


Setibanya dirumah ayah Santi, Anang dan Santi sempat bertatap-tatapan, ketika memasuki halaman rumah ayah Santi.


Kendaraan beroda empat hampir memenuhi halaman depan rumah ayah Santi.


Ayah Santi sedang kedatangan banyak tamu?


Anang berusaha merapikan kemejanya yang kusut sebisanya.


"Nggak apa-apa sayang... Paling-paling mereka teman-teman sekantor Papa." kata Santi sambil menggandeng Anang, dan membawa Anang agar terus berjalan masuk.


Meski hanya teman sekantor atau siapa saja yang ada disitu, tetap saja Anang harus bisa berpenampilan baik, bukan seperti orang yang baru bangun tidur.


Memang benar Anang sempat berbaring lama bersama Santi, tapi tidak perlu itu ditampakkan di orang banyak 'kan?


Pintu depan rumah ayah Santi terbuka lebar, tanpa sempat Anang menekan bel, Santi menarik Anang agar langsung masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Anang kebingungan melihat banyaknya orang yang ada didalam rumah besar itu.


Pandangan orang-orang itu juga, seakan bisa menelanjangi Anang disitu dengan mata mereka.


Sedikit yang membuat Anang tetap tenang, karena Santi tidak melepas gandengannya ditangan Anang, sambil berjalan melewati keramaian.


Sesekali Anang tersenyum kepada orang-orang yang melihat mereka.


"Kalian sudah datang." kata ayah Santi sambil berjalan menghampiri Anang dan Santi.


Ayah Santi yang memakai pakaian formal dan rapi, tampak memperhatikan Anang dan Santi dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Santi yang hanya memakai kaus longgar dengan celana jeans panjang, kurang lebih sama dengan Anang yang hanya memakai kemeja, dipadankan dengan celana jeans panjang, lengkap dengan sepatu olahraga sama dengan Santi.


Anang merasa sangat canggung diantara semua orang-orang yang memakai pakaian formal, bahkan ada yang memakai jas dan dasi, lengkap dengan sepatu kulit yang mengkilat.


"Maaf, Pak! Saya tidak tahu kalau akan ada tamu yang datang," kata Anang.


"Ah, nggak apa-apa. Mereka semua kenalan dekat Papa. Mereka tidak akan ambil pusing dengan penampilan kita," celetuk Santi enteng.


"Kalian langsung saja keruang makan. Kita makan siang bersama, Papa akan mengajak teman-teman Papa untuk menyusul kalian," ujar ayah Santi.


"Baik, Pak!" sahut Anang.


Santi lalu membawa Anang terus berjalan masuk jauh kedalam rumah, sampai diruangan dengan dua meja panjang yang sudah berjejer kursi didekatnya.


"Kita duduk disini saja," kata Santi yang memilih dua kursi, yang paling dekat dengan ujung meja.


"Apa kita harus makan siang bersama teman-teman Papamu?" tanya Anang.


"Iya. Tadi Papa sudah bilang kalau dia mau kita makan siang dengan teman-temannya, aku hanya tidak menyangka kalau dia akan mengajak teman-temannya sebanyak itu," sahut Santi.


Anang memperhatikan sekelilingnya.


"Kalian biasanya makan diruangan ini?" tanya Anang yang merasa bingung.


"Nggak. Disini tempat untuk makan saat sedang ada tamu saja. Kalau cuma kami saja, biasanya diruang sebelah, diruang makan keluarga." sahut Santi.


Belum sempat Anang bicara lagi, ayah Santi dan teman-temannya sudah berjalan masuk kedalam ruangan itu, dan mengambil tempat duduk masing-masing.


Ayah Santi yang mengambil tempat duduk diujung meja tepat didekat Anang dan Santi, lalu berdiri dari duduknya.


"Perkenalkan! Ini Anang, yang akan menikah dengan anak semata wayangku minggu depan." kata Ayah Santi hampir setengah berteriak, sambil memberi tanda kepada Anang agar ikut berdiri.

__ADS_1


Begitu juga Santi, yang diminta ayahnya untuk berdiri bersama Anang.


"Mohon do'a restunya, agar semua rencana baik kami, bisa berjalan lancar!" sambung ayah Santi.


__ADS_2