
Pak Handoko yang merintih dilantai, mengalihkan perhatian Anang dari tangisan Wina.
Anang lalu membantu pak Handoko, untuk berdiri dari lantai, dan membuat orang tua itu duduk dipinggir ranjang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, beberapa orang setengah berlari menyerbu masuk kedalam kamar hotel itu.
Ada beberapa orang yang menangkap Peter, dan ada juga yang memeriksa keadaan pak Handoko.
Saat itu, Anang juga hampir saja ikut ditangkap, tapi pak Handoko, menahan mereka, dengan mengatakan kalau Anang hanya membantunya.
Semua kejadian, demi kejadian, tetap berlangsung dengan sangat cepat.
Dan, Anang hanya bisa melihat sekilas, saat Wina yang disuruh berpakaian, lalu dibawa keluar dari kamar, sedangkan Peter sudah lebih dulu dibawa pergi dari situ.
"Bapak nggak apa-apa?" tanya Anang, yang baru menyadari, kalau mulut pak Handoko mengeluarkan darah.
Pak Handoko menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya nggak apa-a..." pak Handoko tidak melanjutkan perkataannya, dan langsung jatuh pingsan.
Untung saja, beberapa orang yang menerobos masuk tadi, masih ada disitu.
Mereka lalu membantu Anang, dengan menghubungi paramedis untuk menjemput pak Handoko.
Anang tetap menemani pak Handoko di ambulance, sampai dirumah sakit.
Pak Handoko kelihatannya shock berat, ditambah dengan bekas pukulan Peter, yang membuatnya sampai jatuh pingsan.
Sambil menunggui pak Handoko, yang dirawat disalah satu ruangan dirumah sakit, Anang sempat terpikir, untuk menghubungi Santi.
Tapi, Anang mengurungkan niatnya.
Pak Handoko sudah mewanti-wanti Anang, agar merahasiakan semuanya.
Anang kebingungan, entah dia harus menghubungi Santi, atau bagaimana?
Apalagi, untuk beberapa waktu lamanya Anang menunggu didekat ranjang pak Handoko, laki-laki itu masih belum juga sadar.
Rasanya, salah kalau Anang tidak menghubungi Santi.
Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan pak Handoko?
Anang mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan disitu.
'Apa kabarmu?' ketik Anang lalu mengirimkan pesan itu kepada Santi.
Sesingkat itu?
Iya...
Anang bingung harus mulai darimana, untuk mengatakannya kepada Santi.
Setelah mengirim pesan itu, entah kenapa Anang jadi ingin buru-buru mendapat balasan dari wanita itu.
Anang memeriksa pesan, yang sudah bercentang dua, tapi belum berubah warna jadi biru.
Dari tanda yang tertulis dibawah kontak Santi, kelihatannya, Santi tidak memeriksa pesan wh*tsapp, sejak satu jam yang lalu.
Mungkin Santi sedang kuliah sekarang.
Sesekali Anang memeriksa ponselnya, sambil menjaga pak Handoko, yang masih belum juga sadar.
__ADS_1
Ketika Anang memperhatikan wajah tua pak Handoko yang pucat pasi, dengan salah satu bagian pipinya yang membiru, Anang benar-benar merasa iba.
Brengsek!
Peter memang brengsek!
Sudah berselingkuh dengan istri pak Handoko, masih berani memukuli pak Handoko seperti itu.
Anang lalu melihat tangannya, yang juga lumayan terasa sakit.
Anang jadi ingat waktu dia memukul orang diluar negeri.
Santi yang kelihatan sangat cemas, sibuk merawat tangan Anang, sambil menangis.
Dalam hati, Anang menyadari, kalau dia masih sayang dengan wanita itu.
Meskipun Anang mencoba untuk melupakannya, tetap saja kalau teringat saat-saat kebersamaan mereka, Anang masih ingin untuk kembali bersama Santi lagi.
Kalau memang Anang memang berjodoh dengan wanita itu, Anang hanya berharap akan ada jalan, meski harus mengulang hubungan mereka dari awal.
Tapi, kalau memang tidak berjodoh, Anang juga berharap, akan ada tanda yang bisa dia lihat, agar tidak memaksakan keadaan, dan bisa lebih ikhlas agar bisa melupakannya.
Anang menghela nafas panjang, lalu melihat pak Handoko.
Rasanya, Anang tidak tega melihat orang tua itu, apalagi harus meninggalkannya sendirian di rumah sakit.
Santi tidak pernah bercerita, kalau mereka ada keluarga lain disini.
Kalau memang benar begitu, berarti yang jadi keluarga pak Handoko yang ada disini, hanya Wina.
Sedangkan wanita itu, malahan berselingkuh dengan Peter.
Mudah-mudahan, kali ini Peter akan mendapat balasan yang setimpal.
Anang berharap, Peter bisa dihukum seberat-beratnya, sesuai dengan kelakuan buruknya.
Ponsel Anang lalu bergetar, dengan dua kali suara berdenting.
Kelihatannya ada pesan yang masuk diponselnya itu.
Buru-buru Anang melihat layar ponselnya.
Benar.
Santi membalas pesan Anang.
'Aku baik-baik saja. Maaf, aku lambat balas pesannya. Tadi, aku lagi kuliah.'
'Bagaimana denganmu?'
Anang tersenyum lebar.
'Aku juga baik-baik saja. Apa aku nggak mengganggu?' Balas Anang.
'Nggak. Jadwal kuliahku hari ini, baru saja selesai.' Isi pesan balasan Santi.
'Apa kamu benar-benar baik-baik saja?' Pesan Santi kembali masuk ke ponsel Anang.
'Iya. Kenapa?' Balas Anang.
'Tadi, waktu aku masih diruang kuliah, perasaanku nggak enak.'
__ADS_1
'Aku merasa seperti ada sesuatu yang terjadi denganmu.'
'Apa kamu sungguhan baik-baik saja?'
'Kamu nggak lagi sakit 'kan?'
Pesan balasan dari Santi, beruntun masuk ke ponsel Anang.
Anang sedang membaca pesan Santi, dan masih belum terbaca semuanya, tiba-tiba tangan pak Handoko bergerak-gerak.
Anang lalu berdiri, dan memeriksa pak Handoko, yang membuka matanya perlahan-lahan.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Anang.
"Iya. Saya baik-baik saja. Nggak usah cemas..." jawab pak Handoko.
"Kenapa aku disini?" tanya pak Handoko, terlihat bingung.
"Bapak tadi jatuh pingsan," sahut Anang.
"Ooh... Tadi, rasa kepala saya, memang agak pusing," ujar pak Handoko.
Pak Handoko tampak berusaha untuk duduk, tapi Anang menahannya, lalu membuat ranjang yang terangkat, agar pak Handoko bisa duduk diranjang sambil bersandar.
"Terimakasih, Nak Anang sudah mau membantu saya...!" kata pak Handoko pelan.
"Nggak usah dipikirkan, Pak! Sebaiknya, Bapak istirahat saja dulu!" sahut Anang.
Pak Handoko terdiam, menundukkan kepalanya, dengan wajahnya yang terlihat sedih dan lemas.
"Saya sudah tahu kalau Wina selingkuh dari saya...
Saya mendapat informasi dari seseorang kenalan saya, waktu saya sibuk dengan persidanganmu...
Rasanya, saya tidak bisa percaya, kalau Peter yang jadi selingkuhan Wina...
Jadi, saya mau membuktikan perkataan kenalan saya itu... Tapi, saya ragu kalau saya harus sendirian menangkap basah kelakuan Wina...
Seperti tadi, untung saja ada Anang bersama saya. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan saya..." kata pak Handoko, pelan-pelan menjelaskan kepada Anang.
Pak Handoko lalu menatap Anang.
"Anang mungkin bingung, kenapa saya meminta Anang yang membantu saya...
Terus terang, saya malu kalau orang lain yang harus bersama saya, menangkap perselingkuhan istri saya...
Sedangkan kalau dengan Anang, saya merasa kalau Anang sudah seperti anak saya sendiri, dan rasanya, kalau cuma keluarga saya saja yang tahu kejadian memalukan itu, saya akan baik-baik saja..." kata pak Handoko lagi.
Pak Handoko terlihat menghela nafas panjang.
Anang sudah yatim piatu sejak lama, tanpa keluarga, selain paman gilanya, yang entah pergi kemana.
Kalau ada orang yang menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya, pasti bisa membuat Anang merasa senang.
Apalagi, pak Handoko tampaknya juga bersungguh-sungguh mengatakan, kalau dia menganggap Anang seperti anaknya.
Buktinya, pak Handoko tetap mengurus persidangan Anang, meski dia sedang kacau karena persoalan rumah tangganya, dengan Wina.
Menjadi keluarga, memang tidak harus sedarah.
"Maaf, saya sudah merepotkanmu, Nak Anang...!" ujar pak Handoko, sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tenang saja, Pak! Saya nggak merasa direpotkan... Nggak usah dipikirkan...!" sahut Anang, lalu mengusap-usap lengan pak Handoko pelan-pelan, berusaha menenangkan orang tua itu.