SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 180


__ADS_3

Sesuai dengan rencana semalam, pagi-pagi setelah sarapan, Anang dan pak Handoko sudah siap untuk mengunjungi Peter di ruang tahanan di kantor polisi.


Kalau Anang melihat dari gerak-gerik pak Handoko, setelah beberapa kali datang ke kantor polisi bersamanya, tampaknya pak Handoko memang cukup dikenal di sana.


Tanpa terlihat kesulitan saat berhadapan dengan petugas kepolisian, pak Handoko selalu mendapat perhatian dan, keramahan dari para petugas berseragam itu.


Dengan dikawal seorang petugas kepolisian, pak Handoko dan Anang, diizinkan masuk ke dalam salah satu ruangan di dalam kantor polisi.


Tanpa perlu menunggu terlalu lama, bagi Anang dan pak Handoko duduk di situ, Peter sudah digiring masuk kedalam ruangan itu juga.


Anang melihat Peter dengan rasa iba.


Mengingat waktu Anang pertama kali bertemu dengan laki-laki itu, jauh sekali perbedaannya dibandingkan dengan saat ini.


Peter terlihat kacau dan tidak terawat, dengan kulit wajah pucat dan kusam, berikut dengan rambut yang tampak kusut acak-acakan, dan seolah-olah hanya dirapikan sekedar dengan jari-jari tangannya.


Bekas pukulan Anang waktu itu, tampaknya juga tidak dirawat dengan baik.


Salah satu bagian mata Peter, masih terlihat lingkaran lebam kebiruan, dengan bola mata yang masih berwarna kemerahan, meski di bagian yang memar tidak lagi bengkak.


Walaupun begitu, Peter masih memperlihatkan raut wajah, yang penuh kebencian saat melihat Anang dan pak Handoko, yang ada di ruangan itu bersamanya sekarang.


Dengan salah satu petugas yang berdiri berjaga di dekat pintu, cukup lama mereka bertiga di ruangan itu, tanpa ada yang mengeluarkan satu patah kata pun, dan hanya saling melihat, dengan tatapan menilai satu sama lain.


"Kalian mau apa?" tanya Peter dengan sinis, memecah keheningan di situ.


"Apa kamu masih mau berkeras hati?" Pak Handoko balik bertanya kepada Peter.


Peter tersenyum sinis, sambil menatap pak Handoko dan Anang bergantian, dengan sorot mata tajam, dan penuh dengan amarahnya.


"Tidak ada satupun dari kalian yang berguna! Kalian hanya laki-laki bodoh yang nggak ada arti....


... Satunya mau istri muda, tapi nggak bisa memuaskannya, yang satunya lagi, laki-laki rendahan yang bermimpi punya istri yang jauh dari jangkauannya," ujar Peter dengan nada mengejek.


Anang menghela nafas panjang, begitu juga pak Handoko, yang tampak berusaha agar tetap terlihat tenang.


"Aku hanya mengerjakan tugasmu pak tua! Tugas yang nggak bisa kamu lakukan. Jadi, salahnya aku di mana?" ujar Peter, terlihat menantang pak Handoko.


Anang bisa melihat tangan pak Handoko, yang dia letakkan di atas pahanya di bawah meja, tampak dikepal pak Handoko sekerasnya.


Peter benar-benar kelewatan, dan sepertinya memang tidak ada niat untuk berdamai, malah semakin memancing kemarahan pak Handoko.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menghela nafasnya panjang, lagi.

__ADS_1


"Apa?" tanya Peter, yang kini melotot kearah Anang.


"Kamu laki-laki miskin, tapi bergaya seperti orang kaya. Mau coba-coba sombong denganku, sekarang? Hah? Pengemis?" ujar Peter, dengan enteng mengata-ngatai Anang.


Anang tidak mau menanggapi perkataan Peter.


Dengan santai, Anang menyandarkan punggungnya ke kursi, karena Anang yang tidak mau terpancing, hanya dengan perkataan asal bicara Peter itu.


"Sudah puas?" tanya pak Handoko enteng.


"Kamu memaki-maki kami di sini. Padahal, kamu yang akan merasa sakitnya itu ... Apa kamu nggak sadar, apa yang kamu akan hadapi nanti?" sambung pak Handoko, yang tetap terdengar tenang.


Peter tertawa terbahak-bahak, seolah-olah tidak ada yang dia takuti, atau khawatirkan, dengan apa yang dikatakan pak Handoko.


"Pak tua! Kalau kamu tetap memaksa menuntutku di pengadilan, semua orang akan tahu, betapa nggak bergunanya p*n*smu itu!" ujar Peter, dengan nada mengejek.


Mata Anang terbelalak, lalu terduduk dengan tegak di kursinya.


Rasanya, Anang tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan barusan.


Peter yang berani bicara sekasar itu dengan pak Handoko, cukup untuk membuat Anang tersinggung.


Anang mengepalkan kedua tangannya.


Mungkin, Anang akan meninju wajah Peter lagi kali ini.


"Kalau begitu, nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi...." kata pak Handoko pelan, sambil melihat Peter.


Pak Handoko lalu berdiri dari tempat duduknya, diikuti Anang yang juga ikut berdiri, dan bersiap-siap untuk berjalan keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" ujar Peter.


Pak Handoko melihat Peter, begitu juga Anang.


"Kalau sampai aku dipenjara lebih lama lagi, kalian berdua pasti akan merasakan pembalasan dariku, nanti!" ujar Peter, tanpa melihat Anang ataupun pak Handoko, dan hanya menatap lurus ke depannya.


Pak Handoko lanjut berjalan keluar, disusul Anang dari belakangnya.


Sambil berjalan di koridor kantor polisi itu, Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil beberapa kali menghela nafas panjang.


Keras kepalanya Peter, benar-benar membuat Anang merasa heran.


Peter bukannya meminta maaf, malah membuat orang semakin marah kepadanya, dan ditambah lagi, Peter malah mengancam Anang dan pak Handoko.

__ADS_1


Keberaniannya patut diacungi jempol, meski sayangnya, Peter salah menempatkannya.


"Dia pikir, aku hanya akan menuntutnya untuk perselingkuhan...." celetuk pak Handoko, ketika Anang dan pak Handoko berjalan di parkiran, menuju ke mobil milik pak Handoko.


Anang melihat pak Handoko sebentar, lalu kembali melihat jalannya, dan membuka pintu mobil, kemudian masuk ke dalamnya.


"Yang penting saya sudah memberikannya kesempatan. Tapi, dia sendiri yang menolak. Kalau begitu, berarti memang itu yang dia mau," kata pak Handoko, sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Anang nggak perlu terlalu memikirkan semua omong kosongnya ... Memangnya, dia pikir dia itu siapa?!" sambung pak Handoko.


Anang hanya terdiam, mendengarkan semua perkataan pak Handoko.


Rasanya, tidak ada yang perlu Anang tanggapi, dari kesemua kata-kata pak Handoko itu.


"Masih ada cukup banyak waktu tersisa sebelum jam makan siang... Saya mau singgah di kantor sebentar. Nggak apa-apa kalau Anang ikut menunggu di sana?" tanya pak Handoko.


"Oh, nggak apa-apa, Pak!" sahut Anang.


Pak Handoko terus mengemudi mobilnya di jalan raya, sampai memasuki sebuah gedung bertingkat, dengan parkiran di bawah tanah.


Setelah pak Handoko memarkirkan mobilnya, Anang lalu diajak masuk bersama pak Handoko, ke dalam kantornya.


Setiap pegawai yang bekerja di kantor itu, selalu menunduk dan memberi salam kepada pak Handoko, saat melihatnya, atau berpapasan dengannya di dalam gedung kantor itu.


Pak Handoko membawa Anang memasuki salah satu ruangan yang cukup luas dan lega, lalu mempersilahkan Anang duduk di sofa, yang ada di dalam ruangan itu.


"Kalau Anang mau membaca atau menonton televisi, itu remote televisinya! ... Anang juga bisa memilih buku di sana!" kata pak Handoko, sambil menunjuk ke semua arah, di mana benda-benda yang dia maksud itu berada.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak!" sahut Anang.


Pak Handoko duduk di meja kerjanya, lalu terlihat seperti sedang menghubungi seseorang, menggunakan telepon yang ada di atas meja.


Anang mendekat ke rak buku, yang ditunjuk pak Handoko tadi, lalu melihat-lihat di situ, kalau-kalau ada yang menarik untuk dibaca.


Sebagian besar buku-buku yang ada bertema tentang hukum, dan bisnis yang tidak terlalu menarik bagi Anang.


Tidak berapa lama, seseorang masuk ke dalam ruangan itu, dan berbincang-bincang dengan pak Handoko.


Anang kembali duduk di sofa, lalu melihat-lihat ke dalam ponselnya, sambil menunggu pak Handoko.


Rasanya, Anang mau memeriksa pesan Santi.

__ADS_1


Tapi, Anang pasti melihat foto-foto Santi yang masih menempel, dan menggugah selera di sana.


Daripada pak Handoko melihat Anang meneteskan liurnya di situ, Anang mengurungkan niatnya untuk melihat pesan Santi, lalu hanya melihat-lihat di akun f*cebooknya saja.


__ADS_2