
Tampaknya Santi gagal mendapatkan camilannya, karena dia masih kembali menghampiri Anang, dan mengajak Anang lanjut berjalan-jalan dengannya.
Didalam kapal, tapi seperti satu pemukiman mewah.
Ada tempat olahraga, ada bioskop, ada tempat bersantai seperti kafe, dan lain-lain.
Tapi yang terlihat paling menarik perhatian Anang dan Santi, adalah kolam renang terbuka.
Dengan pemandangan kulit putih yang sedang berenang, dan ada yang sedang berjemur diterik matahari, hanya memakai pakaian dalam.
Santi terlihat gelisah, kurang lebih dengan Anang yang sama gelisahnya.
"Aku mau balik kekamar dulu, baru kembali kesini lagi. Kamu mau ikut atau tinggal disini?" ujar Santi yang tampak tidak sabaran.
"Aku ikut," ujar Anang sambil tergesa-gesa berjalan dengan Santi kembali kekamarnya.
Anang akan mengambil gitar yang tadi dia lihat sudah ada dikamarnya.
Anang berencana bermain gitarnya disitu, agar tidak terlihat mencurigakan saat dia berdiam disitu sambil melihat pemandangan, kalau dia tidak melakukan apa-apa.
Lumayan saja biar hanya untuk dipandangi.
Siapa tahu ada wanita bule yang tertarik dengannya, saat sedang memetik gitarnya, dan mungkin mengijinkan Anang memetik tali kecil dibikininya sampai bergetar.
Benar atau benar?
Ketika mereka berdua sudah dikamar, Santi terlihat sibuk membongkar tasnya, sedangkan Anang membuka kemeja yang dia pakai, tertingal kaus yang dia pakai didalamnya.
Dikolam renang itu panas, apalagi kalau terlalu lama menatap bentuk-bentuk yang bisa membuat Anang gegar otak, Anang akan makin kepanasan.
Anang tidak sempat melihat lagi, apa yang dibuat Santi selanjutnya karena Anang sedang menyetel senar gitar agar pas nadanya.
Tahu-tahu Santi sudah berdiri didepannya sambil mengenakan jubah mandi.
"Ayo kita ke kolam renang sekarang!" ajak Santi sambil menarik tangan Anang.
Langkah Santi tidak kalah cepat dengan langkah Anang, hingga perjalanan kekolam renang tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah tiba disitu lagi.
Anang lalu melihat kesana kemari, mencari tempat yang kira-kira nyaman untuk dia duduk sambil bermain gitar, dan memandangi manekin hidup yang bertaburan ditempat itu.
Dan ketemu. Ada dua bangku bersebelahan yang bisa dipakai duduk, dan berbaring juga bisa.
Terlindung dengan payung, jadi Anang tidak perlu ikut-ikutan berjemur yang bisa menambah kenaikkan suhu tubuh, dan otaknya yang mengeras.
"Kita disitu saja!" ujar Anang sambil berjalan kebangku yang dilihatnya.
Santi juga ikut menyusul Anang ketempat duduk itu.
Baru saja Anang duduk, Santi yang masih berdiri lalu melepas jubah mandi yang dia pakai dari kamar tadi.
Apa yang dikenakan Santi, sama dengan yang dipakai wanita-wanita bule yang ada disitu.
Bikini yang minim kain, hanya menutup sedikit-sedikit area sensitifnya.
Anang menelan ludah.
__ADS_1
Santi akan terlihat mencolok diantara orang-orang disitu yang punya perawakan yang mirip-mirip.
Santi lalu mendekat kepada Anang, sambil membungkuk, sampai dadanya hampir menyentuh hidung Anang.
Rasanya Anang mau saja menggigit kain kecil, yang menutup puncak bukit Santi sampai terlepas.
"Masih kelihatan nggak?" tanya Santi.
"Masih," sahut Anang buru-buru menjawab pertanyaan Santi.
Santi tampak kebingungan dengan jawaban Anang, begitu juga Anang yang bingung dengan pertanyaan Santi.
"Masa sih?" ujar Santi seakan tidak percaya dengan jawaban Anang.
"Memangnya apa yang kamu tanyakan?" Anang balik bertanya, sambil menatap lekat-lekat dada Santi.
Santi menjitak kepala Anang, sampai Anang meringis dan melihat kewajah Santi, sambil mengelus kepalanya.
"Kalau susu ku jelas masih kelihatan. Yang aku tanya itu lebam dibadanku. Masih kelihatan nggak?" tanya Santi.
"Ooh... Coba bilang dari tadi!" ujar Anang lalu memperhatikan leher Santi lama-lama.
Hmm... Anang mau saja mencium leher mulus, dan halus itu dan menghisapnya pelan, sampai berbekas merah.
"Masih kelihatan nggak sih?" tanya Santi membuyarkan lamunan Anang.
"Eh... Nggak. Sudah mulus dan halus," sahut Anang.
Santi lalu meluruskan punggungnya.
Ah... Anang batal menampar leher Santi dengan mulutnya.
Anang sempat melihat Santi berbalik kearahnya, lalu menggigit bibirnya sendiri, dengan mata yang disipit-sipitkan sampai hampir terpejam.
Ckckck...
Sikap nakal Santi memang membuat Anang mau saja menghukumnya, agar menungging didepan Anang didalam kamar, Sekarang!
Tapi Anang tidak bisa menghukum Santi sekarang, karena Anang saat ini sama nakalnya dengan Santi.
Sambil memetik gitarnya asal-asalan, mata Anang sibuk memandangi wanita-wanita berkulit putih kemerahan, yang berbaring berjejer dibangku-bangku yang terkena sinar matahari.
Lama-lama melihat mereka semua, Anang jadi bosan.
Anang sudah salah menduga, kalau pemandangan itu akan menarik perhatiannya untuk waktu yang lama.
Apa yang menarik kalau mereka hanya terdiam begitu?
Sama saja dengan Anang melihat patung pajangan toko, yang dipasangkan pakaian dalam.
Tidak seru.
Anang akhirnya belajar lagu Mister Grand dengan serius, sambil melihat teks, earphone disebelah telinganya, dan mencari kunci nada gitar yang cocok dengan lagu itu.
Anang mencoba mengubah beberapa nada yang dirasanya perlu sedikit di modifikasi.
__ADS_1
Rasanya Anang hampir berhasil membuat lagu itu jadi indah, tapi rasa sakit diperutnya lebih berhasil mengganggu konsentrasi Anang.
Seingat Anang, tadi dia melihat sebuah pintu didalam kamar mereka.
Mungkin itu toilet dan kamar mandi.
Anang melihat kekolam renang.
Santi asyik bermain air sambil berbincang-bincang dengan beberapa laki-laki bule yang mengelilinginya.
Anang harus kembali sendiri kekamar mereka.
Perut Anang yang mules, membuat Anang mempercepat langkahnya sampai hampir berlari.
Anang berusaha mengingat nomor kamarnya, dan untungnya dia masih bisa mengingat dengan baik, meski disituasi darurat seperti itu.
Buru-buru Anang masuk kekamar, meletakkan gitar, dan barang-barang lain yang dia bawa tadi kelantai, kemudian berlari membuka pintu kecil disitu.
Untung saja itu memang toilet, dengan kamar mandi pancuran.
Anang meski biasanya hanya memakai kakus dirakit, tapi tidak asing dengan kloset duduk yang ada disitu, karena dia biasa melihat benda itu ditempatnya bekerja bangunan.
Akhirnya Anang bisa membuang ganjalan diperutnya sampai lega.
Anang lalu melihat kesana kemari.
Kenapa tidak ada keran jet shower disitu?
Hanya ada gulungan tisssue yang tergantung didekat toilet, dan banyak tombol di dinding.
Anang lalu harus membersihkannya pakai apa?
Anang memperhatikan tombol di dinding itu baik-baik.
Tampaknya itu tombol pengaturan toilet.
Satu persatu Anang mencoba menekannya.
Ada yang membuat kotorannya tenggelam.
Oke, lanjut!
Ada juga yang menyalakan musik, meski Anang bingung untuk apa ada fitur menyalakan musik ditoilet.
Memangnya mau pup saja butuh hiburan?
Anang memencet tombol lain, tapi lampu ditoilet malah jadi redup.
Yang mana yang untuk membersihkan bokong Anang?
Kalau lama-lama tidak dicuci, bisa-bisa sisa-sisanya akan mengering, dan sulit dibersihkan.
Bisa-bisa menyisakan noda dosa, disegitiga pengaman Anang.
Akhirnya setelah mencoba beberapa tombol, Anang menemukan salah satu tombol disitu yang menyemprot air dengan mode pelan, dan mode deras kebokongnya.
__ADS_1
Selamat!
Anang telah berhasil lulus ujian memakai toilet mewah.