
Tidak berapa lama Anang dan Santi duduk menunggu di lobi, seseorang lalu menghampiri mereka berdua, dan berbicara disitu.
"Kita kembali keruang administrasi," kata Santi.
Kali ini Santi tidak tergesa-gesa, hanya berjalan biasa sambil bergandengan tangan dengan Anang.
Begitu juga saat mereka sudah didalam ruangan itu, Santi terlihat lebih tenang dari pada yang pertama kali mereka kesitu tadi.
Mereka disodorkan beberapa lembar kertas, yang mirip-mirip dengan diberikan sebelumnya.
Santi membaca lembaran demi lembaran kertas, dengan wajah serius, sampai semua lembaran itu habis dia baca.
"Kamu bisa tandatangani kontrak ini!" kata Santi lalu menyerahkan lembaran kertas itu kepada Anang.
Anang lalu menandatangani, dimana bagian yang ditunjukkan kepadanya.
"Kontrak bertahap," ujar Santi.
"Ini hanya kontrak satu single, bukan untuk satu album. Kalau kamu tidak tahan untuk melanjutkan kontrak selanjutnya, kamu bisa berhenti sampai di kontrak ini saja," sambung Santi.
Mereka kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, dan mendatangi ruangan yang lain lagi, yang masih berdekatan dengan ruang itu.
Santi terlihat berbicara dengan orang-orang yang ada disitu, lalu Anang diberikan sebuah alat pemutar lagu mini, dan beberapa lembar kertas, yang kelihatannya berisi lirik lagu.
Setelah mereka berjalan keluar dari ruangan itu, dan hampir melewati pintu keluar gedung studio, Anang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Kamu bilang tadi, aku bisa berhenti bekerja disini kalau aku mau, setelah menyelesaikan satu single?" tanya Anang.
"Iya, asalkan Papa bisa cepat menyelesaikannya," sahut Santi.
Mendengar perkataan Santi, Anang makin bingung.
Itu bukan jawaban yang menjelaskan semuanya.
Karena seingat Anang, menurut pak Robi waktu itu, Anang minimal menandatangani kontrak satu album, barulah Anang bisa terlepas dari tuntutan label Miss Jordan.
"Maksudnya bagaimana? Hubungannya dengan Papamu apa?" tanya Anang.
Santi terdiam sambil menatap Anang.
"Nanti aku jelaskan! Kita pulang saja dulu ya. Aku mau ngopi, nanti sambil aku jelaskan denganmu di apartemen," kata Santi.
Anang menganggukkan kepalanya.
Santi kemudian menghentikan taksi, untuk mengantar mereka kembali ke apartemen.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan kembali ke apartemen, Anang sebenarnya sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan Santi, tapi mau tidak mau Anang harus menunggu.
Apalagi sekarang Santi sedang sibuk berbicara diponselnya.
Santi berbicara dengan bahasa Indonesia, tapi Anang tidak bisa memahami arah pembicaraan Santi dengan orang diponselnya itu.
Karena Anang tidak bisa konsentrasi, dengan gangguan dipikirannya yang penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, apa hubungannya dengan ayah Santi, dan lain-lain yang tidak Anang mengerti sama sekali.
Setibanya mereka di apartemen, Santi lalu membuat dua cangkir kopi, kemudian duduk bersama dengan Anang yang penasaran disofa.
"Pekerjaan yang diurus Papaku dirumahnya waktu itu, untuk melawan label Miss Jordan," kata Santi.
Mata Anang terbelalak.
Anang tidak tahu tentang itu sama sekali.
"Papaku dibantu beberapa temannya, nanti yang akan membantumu terlepas dari kelicikkan bisnis Miss Jordan. Mereka masih mengumpulkan bukti-bukti...
Kalau bukti-buktinya cukup, Papa dan teman-temannya akan menuntut balik Miss Jordan dengan tuduhan penipuan, dan eksploitasi...
Bukan hanya kamu terlepas dari tuduhan palsu, tapi bisa saja label Miss Jordan yang akan membayar ganti rugi kepadamu dan label pak Robi..." kata Santi lalu menyesap sedikit kopinya.
"Yang sulit itu mengumpulkan bukti-buktinya... Makanya tadi aku sempat mencari-cari sedikit bocoran dari orang-orang yang ada distudio Miss Jordan..." sambung Santi lagi.
Jadi itu yang sedang dipikirkan Santi sedari tadi?!
Sampai-sampai Anang sempat mengira, kalau-kalau ada kesalahan Anang yang membuat Santi merajuk.
"Lalu bagaimana dengan kontrak tadi?" tanya Anang.
"Kontraknya memang sengaja aku memintanya menjadi single saja...
Dengan menjadikan alasan kalau-kalau kamu nggak mampu menembus industri musik sesuai target, Miss Jordan bisa menghentikan kerugian perusahan rekaman miliknya," ujar Santi.
"Miss Jordan jelas tidak mau percaya begitu saja, dengan pandanganku, 'kan dia yang lebih tahu tentang pasar?!
Tapi aku meyakinkannya dengan berbohong.
Aku bilang kalau single mu berhasil mencapai target, kamu akan menandatangani kontrak album dengannya, supaya kamu bisa lebih terkenal," sambung Santi.
Berbohong memang tidak dibenarkan, tapi mau bagaimana lagi kalau berhadapan dengan orang-orang, yang seperti Miss Jordan ini.
Toh, Anang juga waktu itu berbohong dengan Miss Jordan, supaya Miss Jordan merasa senang, dan Anang bisa membawa Santi ikut dengannya.
"Begitu saja? Kenapa tadi kamu lama sekali bicara dengan Miss Jordan?" tanya Anang.
__ADS_1
"Miss Jordan kelihatannya sempat curiga kalau ada sesuatu yang sedang aku rencanakan. Dia sampai-sampai menanyakan aku lulusan sekolah apa..." sahut Santi sambil tertawa pelan.
"Waktu aku bilang aku hanya lulusan SMA, terus aku bilang tahu jadwal bernyanyimu yang nggak seberapa...
Mungkin karena itu dia jadi ragu dengan dirinya sendiri, dan jadi sedikit percaya kalau pandangan yang aku berikan bisa-bisa benar adanya," sambung Santi, sambil tersenyum lebar, lalu kembali menyesap kopinya.
"Jadi bagaimana nanti?" tanya Anang.
"Meski hanya satu single, kamu tetap harus bekerja keras, dengan royalti yang nggak seberapa...
Mau nggak mau kamu harus bersabar dengan cara kerja mereka...
Anggap saja kalau itu batu loncatanmu agar lebih dikenal luas," kata Santi sambil menggenggam tangan Anang.
"Aku tidak bisa membantu banyak, tetap kamu yang harus bekerja, sedangkan aku hanya bisa menemanimu saja, sambil mencari-cari informasi," sambung Santi.
Anang menghela nafas panjang.
"Kamu sudah banyak membantuku... Kalau kamu nggak bersamaku, mungkin sekarang keadaanku akan jauh lebih buruk," kata Anang.
"Kalau masalah aku harus bekerja keras... Ya, itu sudah jadi resiko pekerjaan... Nggak mungkin kamu yang harus bekerja lebih banyak atau lebih keras dibandingkan denganku," sambung Anang.
Terang saja, Anang 'kan laki-laki.
Laki-laki harus bekerja keras untuk menjadi tulang punggung yang baik, bukannya menjadikan wanita seperti Santi yang hanya tulang rusuk, menjadi tulang punggung.
Laki-laki wajib bertanggung jawab untuk keluarganya, dan wanita hanya membantunya saja.
Setuju?
Harus setuju.
Malu dengan otot, kalau jadi laki-laki yang sehat jiwa dan raganya, tapi tidak berguna, dan menunggu sang wanitanya yang menghidupinya.
Ehheeemm... Ehheem...
Anang memang diberikan rumah oleh ayah Santi, tanpa perlu Anang bersusah payah mengumpulkan uang untuk membelinya.
Tapi itu namanya rejeki, dan bukan Anang yang meminta-minta dengan Santi.
Jadi itu di syukuri saja. Iya 'kan?
"Kalau aku berhasil mendapat satu saja saksi dan bukti tambahan, yang bisa dipakai melawan label Miss Jordan, kemungkinan besar Papa dan teman-temannya bisa menang," kata Santi.
"Sekarang Papa sedang ditempat pak Robi, dan katanya tadi kalau tidak salah, Mister Grand juga bersama dengan mereka," sambung Santi lagi.
__ADS_1
Anang hanya terdiam mendengar perkataan Santi.
"Orang licik harus dilawan dengan kelicikan juga!" celetuk Santi.