SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 125


__ADS_3

Masih duduk disofa, Anang melihat-lihat kertas yang diberikan kepadanya, saat distudio Miss Jordan tadi.


Tulisan berbahasa Inggris, yang seperti lirik lagu.


Anang masih melihat dan mencoba membacanya, tapi Santi mengambil kertas itu dari tangan Anang.


Santi membaca tulisan disitu, dengan wajahnya yang terlihat serius.


Bukan itu saja, pemutar lagu mini yang masih diatas meja juga diambil Santi, lalu memasang earphone ketelinganya.


Kali ini wajah Santi kelihatan seperti sedang kesal, saat mendengarkan lagu yang bermain di telinganya, sambil membaca kertas ditangannya.


Ketika Santi melepas earphone dari telinganya, Santi seolah-olah akan menghancurkan benda itu.


Santi meletakkan pemutar lagu dengan kasar keatas meja, dengan melemparnya begitu saja.


"Memang brengsek!


"Wanita brengsek!"


"Cocok kalau dia bersama Peter!"


"Sama-sama Brengsek!"


Anang yang melihat Santi yang tampak sangat kesal sambil memaki-maki, hanya bisa terdiam untuk beberapa waktu, sambil menatap wanita itu.


Santi berdiri dari sofa, lalu mengambil air dan meminumnya dengan terburu-buru, sampai-sampai banyak tumpahan air yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Kenapa?" tanya Anang, yang benar-benar bingung dengan gerak-gerik Santi.


"Itu lagumu! Lagumu yang dibuat jadi berbahasa Inggris! Brengsek 'kan?!" ujar Santi dengan suara meninggi, dan terlihat gusar.


Anang terdiam, lalu melihat kertas lirik itu lagi, dan memasang earphone ketelinganya.


Anang jadi penasaran dengan apa yang dikatakan Santi.


Setelah beberapa saat Anang mendengarkan pemutar lagu, sambil membaca lirik dan mengikuti iramanya, ternyata itu memang nada lagu yang Anang gubah, meski kata-kata lirik yang ditulis dengan bahasa Inggris itu, tidak dimengerti artinya oleh Anang.


Kesal?


Pasti.


Siapa yang tidak kesal kalau hasil kerjanya dicaplok orang lain?


Tapi mau bagaimana lagi?


Anang yang tidak mengerti apa-apa tentang hak cipta, hanya jadi mangsa bagi orang-orang besar di industri musik, seperti Miss Jordan.


"Mereka mau kamu menyanyikan ulang lagu itu, tapi dibawah label mereka, lalu mengambil hak ciptanya," ujar Santi yang kelihatan sangat marah.


Wajah Santi yang putih, sampai memerah seperti kepiting rebus, dengan nafasnya yang memburu, dan alis yang mengerut.


"Miss Jordan memang mau menelanmu hidup-hidup!" seru Santi sambil berjalan mondar-mandir.


Anang menghela nafas panjang.


Sudahlah...

__ADS_1


Apa mau dikata?


Kalau Anang mau mengikuti rasa kesalnya saja, Anang nanti akan terus berburuk sangka dengan semua yang ada di industri musik, dan kemungkinan besar Anang akan berhenti bernyanyi, dan menulis lagu.


Demi kecintaannya dengan musik, Anang harus lebih banyak bersabar, Anang harus lebih ikhlas, sambil banyak-banyak belajar, agar tidak ada lagi yang bisa meraup keuntungan darinya begitu saja.


Anang lalu berdiri, dan menghentikan langkah Santi yang masih berjalan mondar-mandir, dengan memeluk wanita itu erat-erat.


"Nggak usah dipikirkan lagi...!" ujar Anang pelan.


"Biarkan saja kali ini! Nanti pasti ada kesempatan lain, yang lebih baik dari sekarang," sambung Anang.


"Tapi..." kata Santi, yang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Anang langsung memotong perkataannya.


"Nggak apa-apa. Hanya satu lagu itu saja," ujar Anang.


Santi tampaknya mulai tenang setelah Anang bicara.


Suara nafas Santi sudah terdengar lebih pelan, dan tidak lagi buru-buru seperti orang yang sedang berlari.


"Mau jalan-jalan? Mumpung aku belum mulai bekerja," kata Anang.


"Aku mau melihat-lihat kota ini, mungkin bisa sambil belajar bahasanya," sambung Anang.


Santi menganggukkan kepalanya, lalu mendongakkan kepalanya, sampai Anang bisa menciumnya disitu.~


"Mau kemana?" tanya Santi saat mereka keluar dari gedung apartemen, dan masih mencari taksi untuk mereka berdua tumpangi.


"Kemana yang bagus?" tanya Anang.


"Aku juga kurang tahu," sahut Santi.


"Kalau begitu, kita jalan kemana saja yang kira-kira kamu tahu. Tempat yang ramai, kalau ada taman, atau pasar malam," ujar Anang.


Santi tertawa pelan.


"Mungkin nggak ada pasar malam kalau disini," sahut Santi.


Setelah mendapat taksi, dengan mempercayakan Santi yang memilih destinasinya, Anang hanya duduk diam di jok belakang taksi sambil Santi yang berbicara dengan supir taksi.


Mereka turun disuatu tempat yang cukup banyak orang berlalu-lalang disitu, dengan berjalan kaki.


"Kalau masih siang, kita mestinya bisa pergi melihat patung liberty dari dekat, memakai feri," celetuk Santi.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya, karena tidak tahu akan berkomentar apa dengan Santi.


Kalau Santi saja bilangnya kurang mengenal kota itu, apalagi Anang.


"Kamu dulu tinggal dikota mana?" tanya Anang, sambil mereka berjalan-jalan disekitar situ, yang terlihat seperti taman terbuka.


"Cambridge, Massachusetts...!" sahut Santi, lalu membawa Anang duduk dibangku taman.


"Kuliah jurusan apa?" tanya Anang.


"Hukum," sahut Santi.


"Sulit nggak awal-awalnya tinggal di negara baru?" tanya Anang lagi.

__ADS_1


Santi menatap Anang lekat-lekat, lalu merapikan syal dileher Anang.


"Dibilang sulit ya sulit, tapi kalau bisa bicara dengan bahasa Inggris, nggak ada masalah. Apalagi yang kuliah disana, bukan cuma orang-orang dari negara ini saja...


Banyak juga yang mahasiswa dari negara lain, termasuk dari benua Asia seperti kita," sahut Santi.


"Kamu nggak dingin?" tanya Anang yang merasa lututnya bergetar, karena kedinginan.


"Kenapa? Sudah kedinginan?" tanya Santi lalu tersenyum.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Makanya, tadi sok-sok'an mengajakku jalan-jalan," ujar Santi.


"Mau minuman panas?" tanya Santi.


"Iya," sahut Anang dengan suara bergetar.


Santi tertawa pelan, lalu berdiri dari bangku.


"Ayo kita cari kafe!" ajak Santi.


Anang lalu ikut berdiri, sambil melipat tangannya, yang meski sudah memakai sarung tangan masih terasa dingin.


"Disitu saja!" ujar Santi setelah mereka berjalan tidak terlalu jauh dari taman.


Didalam situ tidak lagi terasa dingin seperti tadi.


Mereka berdua duduk didekat jendela, jadi Anang bisa melihat keluar dengan cukup jelas.


Meski dinginnya diluar menusuk sampai ke tulang-tulang, suasananya masih ramai, sama seperti ditaman tadi.


Orang-orang tampak santai berjalan diluar, seakan tidak terganggu dengan suhunya.


"Mau makan kue pai?" tanya Santi.


"Terserah saja," sahut Anang pelan.


Anang masih tertarik untuk melihat keluar, dimana ada sepasang laki-laki dan perempuan yang berdiri dipinggir jalan, dekat dengan kafe tempat Anang dan Santi duduk sekarang.


Dengan santainya kedua orang itu berpelukan, dan berciuman tampak penuh nafsu, tanpa merasa risih, dengan orang lain yang berlalu lalang didekat mereka.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Santi.


"Nggak apa-apa," sahut Anang enteng, meski matanya masih terpaku dengan adegan diluar.


Santi lalu terdengar sedang tertawa cekikikan diseberang meja Anang, yang membuat Anang melihat wanita itu.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Kamu yang kenapa? Untuk apa menonton orang bermesraan?" Santi balik bertanya.


Anang malu sendiri mendengar perkataan Santi.


"Apa disini sudah biasa orang-orangnya seperti itu?" tanya Anang.

__ADS_1


"Iya! Nggak seperti di negara kita. Hal begitu pasti dianggap tabu, bukan?" ujar Santi.


"Kalau disini, ciuman, pelukan seperti itu, biasa saja. Asal nggak berhubungan intim dijalan saja," sambung Santi sambil tertawa pelan.


__ADS_2