
Selama Anang duduk didepan pintu kamar kostnya, Anang dengan lancarnya menemukan lirik, dan nada yang membentuk lagu baru.
Depresi dan rasa frustrasi Anang, membuatnya berhasil menggubah tujuh lagu, dengan tema yang sama.
Kesedihan karena rasa cinta yang tak kesampaian.
Hey!
Kalau Anang bisa menggubah satu lagu lagi, Anang sudah bisa membuat satu album, dengan dua lagu kemarin yang akan jadi single.
Anang menatap balkon yang hanya tertutup pagar, kira-kira setinggi perut Anang, dan tidak jauh dari batas pagar sudah tertutup dengan dinding bangunan lain disebelahnya.
Anang berdiri dan mendekat ke pagar, lalu melihat kebawah.
Cukup tinggi untuk membuat orang yang melompat dari situ, mengalami patah tulang kaki sebagai cedera minimal.
Dengan banyaknya batu dan pecahan beton dibawah sana, yang akan menyambut kedatangan peloncat indah.
Kalau sampai kepala yang mendarat terlebih dulu, maka orang yang meloncat disitu, akan langsung menghadap yang kuasa.
Anang melihat kesana kemari disepanjang balkon, tapi dia tidak melihat ada siapa-siapa.
Agak aneh rasanya, karena Anang tidak pernah bertemu penghuni kost yang lain.
Apa memang banyak kamar yang kosong, atau penghuninya sibuk bekerja?
Kembali Anang melihat kebawah balkon, membayangkan rasanya orang yang nekat bunuh diri dengan cara seperti itu.
Sesakit dan sesulit apa hidupnya, sampai memillih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung.
Anang ingin menulis satu lagu lagi, dengan bayangan itu, sebagai lagu penutup, atau lagu awal dalam calon album galau miliknya.
Ketika sedang tenggelam dalam pikiran dan bayangannya, Anang terkejut dengan tepukkan dipunggungnya.
Hufft!
Jantung Anang rasanya mau copot.
Anang berbalik.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Gita yang terlihat heran.
"Nggak ngapa-ngapain. Hanya melihat-lihat saja," sahut Anang.
"Mana Santi?" tanya Gita.
"Nggak tahu." sahut Anang sesingkat yang dia bisa katakan.
Memikirkan Santi mungkin akan membuat Anang nekat melompati pagar.
Apalagi kalau membayangkan suara Santi, yang mungkin sekarang sedang merintih.
__ADS_1
Lebih baik Anang menjauh dari pagar sekarang, kalau tidak mau ada kabar dikoran pagi, tentang penyanyi bodoh yang bunuh diri karena cinta.
"Kita tidak bisa masuk kedalam kamar. Kunci ada dengan Santi." ujar Anang sambil berjalan mendekat kepintu kamarnya lagi.
"Hmm... Kenapa nggak minta dengan pemilik kost? Biasanya, setiap kamar ada kunci cadangannya dengan pemilik kost," kata Gita yang ikut berjalan dengan Anang.
Gita kemudian menggandeng tangan Anang, lalu membawa Anang menuruni tangga.
"Kita datangi pemilik kost saja," kata Gita.
"Kamu sudah lama pulangnya?" sambung Gita lagi.
"Hmm... Lumayan," sahut Anang.
Anang merasa bodoh sekali, kenapa tadi nggak kepikiran untuk bertanya kunci dengan pemilik kost.
Wajar saja sih, Anang terbiasa dengan kost lama yang hanya memakai gembok, yang dipasang masing-masing penghuni kost-kostan.
Gita mengetuk beberapa kali salah satu kamar yang ada papan bertanda 'Pemilik Kost'.
Tak lama kemudian wanita paruh baya membuka pintu, dan keluar dari dalam situ.
"Bu, Maaf! Apa bisa pinjam kunci cadangan untuk kamar mereka? Tadi temanku yang perempuan, masih dikondangan. Dia yang bawa kuncinya," ujar Gita.
"Ooh... Sebentar! Aku ambil kuncinya dulu," kata wanita itu lalu berjalan masuk kedalam, lalu tak lama dia kembali berdiri dipintu.
"Nomor berapa?" tanya wanita itu.
"Nomor sebelas" sahut Anang.
"Ini..." kata wanita itu lalu menyodorkan sebuah kunci kepada Anang.
"Sebentar ya Bu! Saya nanti langsung kembalikan kuncinya. Terimakasih!" kata Anang sambil mengambil kunci yang diberikan wanita itu.
Wanita paruh baya pemilik kost hanya menganggukan kepalanya, kemudian tetap berdiri dipintu ketika Anang dan Gita berjalan kembali ke tangga.
Anang lalu membuka pintu kamar.
"Aku kembalikan kuncinya dulu," kata Anang kepada Gita, lalu berjalan kembali menuruni tangga.
Untung saja ada Gita, kalau tidak, entah berapa lama Anang akan duduk seperti pengemis didepan pintu kamar.
"Terimakasih banyak ya, Bu!" kata Anang setelah mengembalikan kunci, kepada pemilik kost yang menunggunya.
"Sama-sama. Tapi kemarin kunci kamar itu ada dua. Apa dipegang temanmu semua?" tanya wanita itu.
"Iya, Bu! Karena dia yang bawa tas, jadi dimasukkan di tasnya semua," ujar Anang.
"Ooh..." wanita itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya naik dulu ya, Bu! Terimakasih!" ujar Anang, kemudian berjalan kembali menuju kamarnya.
__ADS_1
Anang melihat gitarnya sudah tidak ada didekat pintu.
Mungkin sudah dibawa Gita masuk.
Anang kemudian berjalan masuk, dan benar saja, gitarnya sudah diletakkan Gita berdiri dipinggir ranjang.
Anang lalu berbalik dan menutup pintu, meski tidak bisa dikunci.
"Kenapa nggak pulang sama-sama?" tanya Gita, yang sudah duduk di kursi.
"Hmm... Santi kayaknya sedang bersama temannya. Jadi aku pulang duluan," sahut Anang.
Anang lalu duduk dipinggir ranjang, dan memangku gitarnya, lalu memetik senarnya pelan.
"Aku tadi membuat beberapa lagu baru. Mau dengarkan? Nanti kasih tahu bagaimana menurutmu," ujar Anang sambil melihat Gita.
"Boleh. Kamu nyanyikan sekarang?" tanya Gita.
"Sudah aku rekam. Kamu dengarkan, aku mau mencoba membuat satu lagu lagi," sahut Anang.
Anang lalu berdiri, buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan mengambil earphone diatas meja, kemudian menyodorkannya kepada Gita.
"Tolong dengarkan baik-baik ya," ujar Anang.
Gita mengambil ponsel Anang, dan memasang earphone ditelinganya, sambil Anang menyalakan hasil rekamannya.
Ketika Gita mendengarkan rekaman Anang dengan lagu baru ciptaannya, Anang memetik senar gitar pelan, sambil bersenandung.
Anang masih butuh satu lagu lagi untuk melengkapi semua lagu yang sudah berhasil dia gubah.
Hanya suara petikan senar, dan senandung Anang yang terdengar disitu.
Gita juga tampaknya tenggelam dengan suara nanyian Anang ditelinganya, dan hanya duduk terdiam tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.
Anang yang agak menunduk dan fokus melihat kunci nada disenar gitar yang dia mainkan, tidak melihat reaksi Gita yang ada didepannya untuk beberapa waktu lamanya.
Sampai akhirnya Anang mendengar suara seperti ada yang menangis.
Anang berhenti memetik gitarnya, dan mengangkat wajahnya melihat kearah Gita.
Dengan earphone masih menempel ditelinganya, Gita menunduk sambil menangis terisak-isak.
"Gita! Kamu kenapa?" tanya Anang yang panik, melihat Gita yang menangis sampai hampir sesak nafas.
Melihat Gita masih saja menangis, Anang kemudian menyentuh tangan Gita, yang saling meremas antara satu dengan tangan yang lainnya.
Kedua tangan Gita yang tampak ingin saling menghancurkan, tersentak karena sentuhan tangan Anang.
Gita mengangkat kepalanya, lalu melihat Anang dengan wajahnya yang basah dengan airmata.
Anang yang kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa, hanya menarik lepas earphone dari telinga Gita.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?" tanya Anang yang penasaran.
Gita masih terisak-isak, terlihat masih berusaha mengendalikan dirinya.