SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 61


__ADS_3

Anang berusaha keras demi masa depannya.


Anang berusaha keras mengerjakan semua pekerjaan yang dipercayakan kepadanya, dengan bersungguh-sungguh.


Anang berusaha keras agar mendapat kehidupan yang lebih baik.


Apa yang salah kalau berusaha sama kerasnya demi cinta?


Rasanya tidak ada yang salah.


Bukannya itu bagian dari kehidupan?


Kebutuhan lahir tercukupi, dengan batin yang lebih tenang, siapa yang tidak mau?


Meski Anang punya uang banyak, tapi tidak ada pasangan yang akan mendampinginya, bukannya itu juga sia-sia?


Anang bertekad untuk memperjuangkan mimpi untuk cintanya, sama seperti memperjuangkan mimpi untuk cita-citanya.


Anang tidak akan menyerah begitu saja.


Malah Anang akan semakin percaya diri.


Kecuali tatapan tajam, dan wajah garang Santi saat ini, didalam gendongan Anang, sambil berkata,


"Apa maksudmu?"


Seketika hilang kekuatan, dan rasa percaya diri Anang.


"Hehe... Aku hanya bercanda. Tapi kalau kamu mau digendong, nggak apa-apa. Tinggal ngomong saja," sahut Anang, sambil buru-buru membawa Santi kedalam kamar mandi.


Kacau!


Setelah menurunkan Santi disana, dengan tergesa-gesa, Anang kembali berjalan keluar dari kamar mandi.


Anang harus berusaha mendapatkan hati Santi, tapi tampaknya bukan dengan cara romantis.


Anang lalu membuka lemarinya dan memilih pakaian yang akan dia pakai.


Hari ini kalau tidak salah, tidak ada jadwal bernyanyi siang, hanya ada dimalam hari nanti.


Celana pendek dengan kaus oblong jadi pilihan Anang.


Sambil menunggu Santi mandi, Anang mengulik lagu-lagu yang dia ciptakan kemarin sore.


Masih ada satu lagu yang ingin Anang buat, agar daftar lagunya lengkap.


Dengan telinga penuh tertutupi earphone, Anang mendengarkan lagi lagu-lagu hasil rekamannya.


Tampaknya tidak terlalu buruk.


Hanya saja, Anang tidak bisa membuat lagi lagu dengan tema yang sama.


Suasana hati Anang memang jadi kunci utama, untuknya menciptakan lagu baru.

__ADS_1


Hari ini, Anang suasana hatinya sedang lumayan baik-baik saja.


Anang duduk didekat jendela, dan melihat keluar, yang sekarang sedang dibasahi hujan gerimis.


Jalanan kompleks terlihat sepi, tanpa banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang.


Hanya sesekali, Anang bisa melihat sepeda motor, dengan pemotor yang berjaket, dan helm berlambang perusahan ekspedisi yang lewat.


Pejalan kaki apalagi, tidak ada satupun bisa dilihat Anang disitu.


Pandangan mata Anang terpaku pada dua orang, yang tampaknya baru saja keluar dari minimarket didepan kost.


Sepasang laki-laki dan perempuan, yang kelihatannya sedang bertengkar.


Sang wanita berjalan kaki, tanpa mau dipayungi sang lelaki.


Terlihat yang laki-laki berusaha mendekat, untuk melindungi si wanita dengan payung, agar tidak kehujanan, sambil memegang tangan wanita itu.


Tapi, wanitanya menyentak tangan laki-laki itu, sampai terlepas pegangannya dari tangan si wanita.


Cukup lama Anang bisa melihat gerak-gerik mereka yang berulang, sampai akhirnya Anang tidak bisa melihat mereka lagi dari jendela.


Anang jadi terpikir dengan Santi, yang hampir sama dengan wanita tadi.


Anang ingin menjadi pelindungnya, tapi Santi seakan lebih suka kalau dia kehujanan.


Anang mendapat inspirasi untuk lagunya.


Buru-buru Anang mengambil gitarnya, dan mulai memetik senar gitarnya pelan, sambil bersenandung.


Anang lalu merekam suara nyanyiannya, dan petikan gitar diperekam suara diponselnya.


Entah berapa lama Santi berdiri menatap Anang, namun Anang tidak menyadarinya sama sekali, karena Anang bernyanyi sambil memejamkan matanya.


Ketika Anang membuka matanya, barulah dia tahu kalau Santi sedang memandanginya.


Tapi Santi langsung mengalihkan pandangannya dari Anang, dan terlihat sibuk memilih pakaian dari dalam lemari.


Anang mematikan perekam diponsel, dan meletakkan gitarnya, lalu menghampiri Santi.


Anang berdiri tepat dibelakang Santi yang menghadap lemari pakaian, dan tampaknya kehadiran Anang dibelakangnya, benar-benar mengejutkan Santi, ketika wanita itu berbalik.


Santi sampai beberapa kali mengusap-usap dadanya sendiri, sebelum menatap Anang dengan wajah datar.


"Kenapa?" tanya Santi.


"Aku membuat beberapa lagu baru. Kamu mau dengarkan?" kata Anang beralasan.


Anang ingin memeluk Santi, tapi khawatir membuat wanita itu marah dengannya.


"Sebentar, aku pakai baju dulu!" kata Santi, lalu menghindari Anang yang menghadangnya disitu.


Anang hanya bisa melihat Santi, yang bergeser dari depannya kesisi lain ruangan kamar, dan memakai pakaiannya disitu.

__ADS_1


Kemudian Anang terduduk dipinggir ranjang, memandangi Santi yang memakai pakaiannya, sambil membelakangi Anang.


Tidak biasanya Santi begitu.


Biasanya Santi akan memakai pakaiannya, dengan santainya didepan Anang, tanpa merasa risih meski Anang memandanginya.


Aneh, memang aneh.


Tak lama, Santi sudah selesai berpakaian, lalu ikut duduk disebelah Anang.


"Mana lagunya?" tanya Santi.


Anang lalu menyodorkan ponselnya, dan menyalakan pemutar rekaman, sambil Santi memasang earphone di kedua telinganya.


Anang memperhatikan wajah Santi baik-baik, saat lagu-lagu Anang mulai berbunyi ditelinga Santi.


Raut wajah Santi, berubah perlahan-lahan, seakan dia menahan emosinya saat mendengar lagu-lagu itu, dan tetap berusaha terlihat datar.


Pandangan mata Santi yang tadinya tampak melihat kearah lantai, kemudian melihat Anang, dan menatap Anang lekat-lekat.


Sulit sekali membaca raut wajah Santi, entah dia terbawa rasa sedih dari lagu itu, atau sedang marah, atau mencurigai sesuatu.


Apa Santi tahu kalau itu lagu kegalauan Anang kepadanya?


Dari ujung matanya, Anang melihat tangan Santi sedang dikepal-kepalnya satu sama lain.


Hampir sama seperti gerak-gerik Gita kemarin, hanya saja Santi terlihat lebih tegar dibandingkan Gita, yang langsung terisak-isak.


Rasanya lagu-lagu itu belum selesai terputar semua, Santi tiba-tiba melepas earphone dari telinganya.


"Nanti aku dengarkan lagi. Aku mau pesan makanan dulu. Aku lapar," kata Santi lalu berdiri, dan mengambil ponselnya, kemudian mengetik-ngetik sesuatu disitu.


"Kamu mau ke studio Pak Robi? Sekalian tanya pendapatnya, tentang lagu-lagumu," kata Santi, sambil melihat Anang.


Anang yang sedang termangu, agak linglung saat Santi bertanya tiba-tiba seperti itu.


"Eh, iya. Hari ini?" tanya Anang.


"Aku hubungi Pak Robi dulu. Kalau bisa hari ini. Mumpung kamu cuma punya jadwal malam," sahut Santi.


Santi yang masih berdiri, kemudian terlihat menekan layar ponsel, dan menempelkan ponselnya ketelinganya.


Anang jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Santi saat mendengar lagu-lagunya, tapi Anang tidak mau memaksa Santi untuk memberi tanggapannya.


Santi memang selalu penuh dengan misteri, sesuai dengan mata hitam pekatnya, yang tidak bisa diselami Anang.


"Kita bisa pergi ke studio Pak Robi selesai sarapan. Dia setuju untuk bertemu denganmu hari ini," kata Santi.


Santi berjalan mendekat keranjang.


Anang sempat mengira kalau Santi akan duduk disebelahnya, atau paling tidak, menghampiri Anang.


Ternyata tidak.

__ADS_1


Santi naik keatas ranjang, kemudian bertelungkup disitu sambil menatap ponselnya, tanpa menghiraukan Anang.


__ADS_2