SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 118


__ADS_3

Mungkin karena tembakan peringatan pertama yang masih terlalu awal, pertempuran Anang dan Santi malam itu, tidak perlu berlangsung sampai subuh.


Keduanya sudah kelelahan, setelah saling menggempur wilayah pertahanan lawan sampai puas, dan memilih untuk langsung beristirahat setelahnya.


Masih pagi-pagi sekali mereka sudah segar, dan kembali melanjutkan pertempuran di wilayah perbatasan yang rawan konflik.


Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah.


Keduanya masih mampu menguasai wilayahnya masing-masing.


Anang kemudian berjalan-jalan di halaman rumah, sambil melihat-lihat ke jalanan, dimana beberapa orang penghuni kompleks, sedang berolahraga pagi.


Jangan menunggu Anang untuk ikut lari pagi!


Olahraga Anang tadi sudah cukup menguras tenaga, sampai-sampai bisa menyalakan lampu untuk satu kompleks, kalau diubah energinya menjadi listrik.


Anang jalan-jalan santai saja, bolak-balik mondar-mandir, ke pagar lalu kembali ke pintu depan rumah.


Anggap saja Anang sedang meluruskan lututnya, yang sempat tertekuk terlalu lama menahan beban tubuh Anang, agar lebih rileks dan aliran darahnya lancar lagi.


Tidak perlu ditanya Santi dimana!


Santi adalah bulan yang tidak bisa berhenti mengelilingi bumi Anang.


Atau sebaliknya?


Pokoknya, Santi pasti ada disekitar Anang.


Hanya saja, Santi lebih suka duduk-duduk diteras depan rumah, sambil meminum kopi panas, dan menonton Anang yang berjalan-jalan didepannya.


"Nggak capek?" tanya Santi, lalu tersenyum lebar.


Wah! Pertanyaan Santi itu, tampaknya seperti pertanyaan jebakan, jangan sampai Anang salah menjawab.


"Capek...!" sahut Anang, lalu duduk didekat Santi.


Anang memandangi Santi yang hanya memakai kaus longgar dengan celana pendek, sambil memangku kaki, menikmati kopinya.


"Kenapa?" tanya Santi.


"Nggak apa-apa," sahut Anang.


Kalau sampai Anang bilang Santi kelihatan cantik, meski tanpa riasan wajah seperti itu, bisa-bisa akan terjadi pertempuran susulan.


Bukan berarti Anang nggak mau.


Hanya saja, sekarang Anang masih perlu mengisi ulang tenaganya, lumayan lah, dengan secangkir kopi panas buatan Santi, dan beberapa potong biskuit.

__ADS_1


"Nanti abis ngopi, kita mengemas pakaian yang perlu dibawa..." ujar Santi, sambil menyesap sedikit kopinya.


Anang menganggukkan kepalanya, lalu ikut menyesap kopi dari cangkirnya.


"Sini!" kata Anang, setelah meletakkan cangkir kopinya keatas meja.


Santi berdiri sambil tersenyum dan menghampiri Anang.


Anang memangku Santi sambil bersantai melihat keluar pagar.


Kelihatannya ada seseorang diluar pagar yang cukup dikenali Anang, meski wajahnya tidak bisa terlihat dengan jelas, karena posisinya berdiri menyamping.


Dengan santainya melakukan peregangan tepat diluar pagar rumah baru Anang dan Santi, Wina seakan-akan sedang memamerkan tubuhnya disitu.


Iya, benar!


Itu Wina, setelah dia bergeser dan menghadap kerumah, tempat Anang dan Santi sekarang sedang duduk bersantai.


Hanya mengenakan br* sport yang memperlihatkan kulit perutnya, begitu juga celana pendek yang memamerkan kulit kakinya, sampai hampir kepangkal paha.


Kelihatannya Wina sedang berolahraga pagi, atau mau memancing keributan pagi-pagi, karena sekarang, Santi sudah gelisah diatas pangkuan Anang.


"Biarkan saja!" kata Anang sambil memeluk Santi erat-erat, agar tetap bertahan diatas pangkuannya.


Merasa kalau Santi masih gelisah, Anang lalu mengangkat Santi, dan menggendongnya, kemudian membawanya masuk kedalam rumah.


"Lebih baik kita bereskan bawaan kita saja!" kata Anang.


Santi tersenyum puas, dan mungkin lupa dengan kekesalannya dengan Wina saat itu juga.


Ketika Anang menurunkan Santi, Anang lalu mengambil koper, dan Santi yang memilihkan pakaian, yang akan mereka bawa.


Santi tiba-tiba berhenti memeriksa lemari, dan tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Anang.


"Aku hampir lupa. Kalau nggak salah, sekarang disana masih musim dingin... Sedangkan kamu tidak ada mantel yang cukup tebal, untuk kamu pakai," ujar Santi.


"Memangnya bisa sedingin apa disana?" tanya Anang penasaran.


"Seperti kamu lagi dikunci didalam lemari es," sahut Santi lalu tersenyum.


"Sedingin itu?" tanya Anang, yang rasanya tidak bisa percaya dengan perkataan Santi.


"Iya. Nggak percaya? Kamu nanti bisa rasakan sendiri," sahut Santi.


"Kalau begitu, aku harus beli jaket?" tanya Anang.

__ADS_1


"Iya, sayang...! Memangnya kamu mau menghangatkan dirimu pakai koran?" ujar Santi lalu tertawa cekikikan.


Anang memeluk Santi erat-erat.


"Mulai lagi kamu menertawakanku... Sedangkan kalau aku balas mengejekmu, pasti kamu langsung merajuk," ujar Anang.


Santi mendongakkan kepalanya, seolah-olah meminta Anang untuk menciumnya disitu, dan Anang memang menciumnya sampai Santi merasa puas.


"Aku mandi dulu... Ada satu, tempat aku pernah belanja, yang menjual jaket, juga perlengkapan lain, yang kita butuhkan disana," kata Santi, lalu berjalan kekamar mandi, sambil disusul Anang.


Anang dan Santi mendatangi tempat yang Santi maksud, dan memang disitu banyak jaket yang cukup tebal, jika dibandingkan dengan jaket yang dijual di toko pakaian kebanyakan.


Toko itu tampak lengang, dan hampir tidak ada pengunjung.


"Hanya toko ini, yang aku tahu menjual pakaian winter...Rasanya wajar saja sih, kalau jarang ada yang mau menjual pakaian begini...


Musim hujan kita disini tidak sampai sedingin musim salju diluar negeri. Jadi paling-paling yang belanja, hanya orang-orang tertentu saja," kata Santi, seolah-olah mengerti, apa yang dipikirkan Anang sekarang.


Santi memilihkan beberapa jaket yang cukup tebal untuk Anang, syal, lengkap dengan sarung tangan, sepatu boots berbahan kulit, dan topi kupluk berbahan wol.


"Kamu nggak beli untukmu?" tanya Anang, heran.


"Nggak usah...! Ada punyaku dirumah papa, nanti aku ambil kesitu saja," sahut Santi.


Santi lalu membayar semua belanjaan mereka, sebelum dia memesan taksi untuk mengantar mereka kembali ke perumahan.


Anang dan Santi, singgah dirumah ayah Santi, untuk mengambil pakaian milik Santi, sebentar.


Santi bahkan langsung mengemasi pakaiannya disitu kedalam koper lama miliknya, yang masih tersimpan dikamarnya, yang ada dirumah ayahnya itu.


"Sudah beres! Tinggal pakaianmu saja yang harus dikemas," kata Santi.


Ayah Santi yang kelihatannya sedang sibuk melakukan sesuatu diruang kerjanya, hanya sempat menyapa Anang dan Santi sekedarnya, sebelum dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ayah Santi tampak memberikan Santi sebuah kartu, lalu berbicara berbisik-bisik dengan Santi didalam ruang kerja ayahnya itu.


"Ingat kata Papa ya! Hati-hati disana!" kata ayah Santi.


"Tolong jaga Santi baik-baik! Papa tidak bisa mengantar kalian, nanti ke bandara. Itu harus Papa selesaikan..." kata ayah Santi lagi, kepada Anang, sambil menunjuk kertas-kertas, yang menumpuk diatas meja kerjanya.


"Iya! Nggak apa-apa, Pak! Do'akan saja kami agar bisa baik-baik saja diperjalanan, sampai kami disana nanti," sahut Anang.


Papa Santi lalu memeluk Anang dan Santi bergantian, sebelum Anang dan Santi berjalan keluar dari rumah ayah Santi itu, dan pergi kerumah mereka lagi.


"Apa yang diberikan Papamu tadi?" tanya Anang ketika mereka sudah dirumah, dan Santi sudah mulai mengemas barang bawaan Anang, kedalam koper.


Santi tidak menjawab pertanyaan Anang, dan hanya tersenyum.

__ADS_1


Kalau Santi tidak mau menjawab, mau tidak mau, Anang hanya bisa terdiam dengan rasa penasarannya.


"Aku selesaikan mengemas pakaianmu, tapi kamu memasak sekarang ya?! Nanti aku menyusul untuk membantumu! Aku mulai merasa lapar...!" ujar Santi.


__ADS_2