SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 145


__ADS_3

Kelihatannya, perjalanan Anang kembali ke Indonesia tidak ada yang istimewa.


Masih sama saja seperti perjalanan yang sudah pernah Anang lalui, saat berangkat keluar negeri waktu itu.


Bokong panas, pinggang dan punggung yang pegal, bahkan kakinya yang agak bengkak, sampai-sampai sepatunya hampir tidak bisa Anang pakai lagi.


Menginjak tanah air, memberi semangat baru bagi Anang.


Pesawat sudah mendarat sejak tadi, tapi Anang dan Santi masih di bandara, menunggu barang mereka dari bagasi.


"Tinggal satu koper lagi!" celetuk Anang.


Santi yang duduk diatas salah satu koper, sambil menemani Anang menunggu barang-barang mereka bisa terambil semua, hanya melirik Anang sebentar, lalu kembali menatap rel berjalan didepannya.


Ketika koper terakhir sudah terlihat, barulah keduanya bisa bernafas lega.


Anang lalu menarik benda itu, dan membawanya pergi.


"Sudah semua! Ayo kita pulang...!" ajak Anang, sambil menjulurkan tangannya kepada Santi, yang masih terlihat lemas.


Santi menyambut tangan Anang, lalu berjalan keluar dari bandara bersama-sama dengannya.


"Masih capek?" tanya Anang.


Santi yang bergelayut dilengan Anang, hanya menganggukkan kepalanya.


Dengan menumpang taksi, mereka berdua diantar kerumah, yang terlihat masih terawat dengan baik, meski mereka tidak ada disitu dalam waktu cukup lama.


Ternyata ayah Santi sudah menyewa seorang asisten rumah tangga, yang merawat rumah itu.


Ketika mereka tiba, asisten rumah tangga, yang tampak lebih muda dari Anang dan Santi, membukakan mereka pintu, dan membantu membawakan barang-barang mereka, masuk kedalam rumah.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bukannya Anang tidak senang dengan bantuan ayah Santi, tapi rasanya semuanya itu sudah mulai berlebihan.


"Kenapa melamun? Lagi mikirin apa?" tanya Santi.


Santi yang duduk dipinggir ranjang, lalu membuka lebar-lebar kedua tangannya, seolah-olah meminta Anang memeluknya.


Anang mendekat lalu memeluk Santi.


"Meski Papamu nggak menyewa orang untuk bekerja di rumah ini, rasanya, aku masih bisa membersihkan rumah ini sendiri," ujar Anang pelan.


"Nggak apa-apa..." sahut Santi, lalu menarik Anang sampai terbaring menindihnya.


"Mau?" tanya Anang.


"Nggak! Aku cuma mau dipeluk sebentar," sahut Santi.


Tumben.


Anang menggeser Santi, sampai kaki Santi tidak tergantung lagi dipinggir ranjang, kemudian Anang bertelungkup diatasnya, menindih Santi sambil memeluknya.


"Ngantuk?" tanya Anang.


"Nggak!" sahut Santi.


Anang mengangkat kepalanya, lalu menatap Santi lekat-lekat.


Ada apa lagi dengan Santi kali ini?


"Berkas kita sudah selesai. Papa sudah mengatur agar kita bisa menikah secepatnya. Tapi..." Santi tidak melanjutkan kalimatnya, dan membuat Anang penasaran.


"Tapi, apa?" tanya Anang heran.


Anang lalu mengangkat dadanya, dan menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya, yang diletakkan di sisi-sisi disamping Santi.


Anang menatap mata Santi, dengan rasa sangat penasaran.

__ADS_1


"Hmm... Apa nggak terlalu terburu-buru? Rasanya aku mau melanjutkan kuliahku saja dulu," sahut Santi.


Hah?


Apa Anang tidak salah dengar?


"Kamu mau menundanya?" tanya Anang dengan suara tinggi.


"Mungkin... Aku mungkin melanjutkan kuliahku dikampus ku yang dulu," sahut Santi.


"Di luar negeri? Di negara yang baru saja kita tinggalkan? Kenapa tiba-tiba?" tanya Anang buru-buru.


"Hmm... Aku memikirkan kasusmu... Kalau tidak ada Papa dan teman-temannya, aku mungkin tidak bisa membantumu," sahut Santi.


"Jadi, kamu mau meninggalkanku disini?" tanya Anang gusar.


"Kelihatannya begitu," sahut Santi.


Mata Anang terbelalak.


Anang beranjak turun dari atas ranjang, lalu berjalan keluar dari kamar.


Apa Santi sedang bercanda?


Tapi, tampaknya Santi serius mengatakannya.


Ah, Anang memang akan gila, kalau begini terus.


Masalah yang satu belum selesai, malah timbul masalah baru.


Santi mau meninggalkan Anang?


Anang terburu-buru menuruni tangga, lalu pergi ke teras disamping rumah, kemudian duduk disitu.


Anang tidak bisa berpikir apa-apa.


Berarti Santi serius akan meninggalkan Anang.


Berapa tahun?


Siapa yang bisa menjamin, kalau Santi nanti tidak akan berubah perasaannya untuk Anang?


Anang mau Santi, jadi seperti yang Santi mau, tapi kalau Santi harus kuliah diluar negeri, kapan Anang bisa bertemu dengannya lagi?


Anang menghela nafas panjang, yang terasa sangat berat.


Tidak mungkin kalau Santi hanya mau kuliah saja, hanya karena kasus yang menimpa Anang.


Pasti ada yang lain, yang membuat Santi jadi tidak mau menikah dengan Anang sekarang.


Apa karena Anang sering menyakitinya selama diluar negeri?


Bisa jadi.


Mungkin Santi hanya berpura-pura, kalau dia tahan dengan perlakuan kasar Anang padanya, yang berulang-ulang kali waktu itu.


Anang melihat ke pintu.


Santi tetap tidak menyusul Anang.


Wajar saja, kalau Santi tidak tahan dengan sikap Anang waktu itu.


Wanita mana yang mau dikasari, seperti Anang mengasari Santi?


Aaarrrghhhhh...!


Rasanya, Anang mau berteriak sekerasnya suara, yang bisa dia keluarkan dari mulutnya.


Anang berdiri, lalu berjalan masuk, menaiki tangga ke lantai atas, berniat mendatangi Santi dikamar.

__ADS_1


Ketika Anang melihat kedalam kamar yang pintunya masih terbuka, Santi tidak terlihat diatas ranjang.


Hanya ada ponsel Santi, yang digeletakkan begitu saja disana.


Anang mencari Santi, kalau-kalau ada didalam kamar mandi.


Tapi, Santi tidak ada didalam situ.


Kemana wanita itu pergi?


Anang memeriksa beberapa kamar, yang ada dilantai atas itu.


Tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Santi.


Setengah berlari, Anang kembali menuruni tangga, mencoba mencari Santi disana.


Sambil memanggil nama Santi, Anang memeriksa sampai ke belakang rumah.


Santi tidak kelihatan.


Ketika Anang didapur, asisten rumah tangga baru, kelihatan sedang sibuk memasak.


"Dimana Santi?" tanya Anang.


Wanita muda itu tampak terkejut, lalu berbalik melihat Anang.


"Nggak tahu, Pak! Saya nggak melihat Non Santi kesini," sahut asisten rumah tangga itu.


"Oh... Makasih!" ujar Anang.


Anang lalu berjalan kebagian depan rumah, sambil memanggil-manggil nama Santi.


Tidak ada sahutan Santi, dan hanya suara Anang yang menggema didalam rumah itu.


Rumah sebesar itu, mulai menjengkelkan bagi Anang yang kesulitan mencari Santi.


Tempat itu memang cocok, kalau jadi tempat bermain petak umpet.


Sampai kelelahan mencari lawan main, belum tentu bisa ketemu, kalau seperti itu bentukannya.


Belum lagi kamar-kamar yang dilantai bawah, yang Anang tidak tahu gunanya untuk apa nanti, kalau cuma tinggal berdua disitu.


Satu persatu, pintu kamar dibuka Anang, dan memeriksa didalamnya.


Aaarrrghhhhh...!


Anang hampir saja membanting pintu-pintu itu, saking kesalnya.


Masih memanggil-manggil nama Santi, Anang berjalan sampai ke teras depan.


Santi terlihat sedang memetik-metik sesuatu, di rumput dihalaman depan.


"Santi!" seru Anang.


Santi yang sedang berjongkok membelakangi Anang, lalu berbalik melihat Anang sebentar, kemudian kembali membelakangi Anang.


Anang berjalan menghampiri Santi, dengan perasaan kesal.


Anang lalu menghela nafas panjang, untuk menahan kekesalannya, sebelum mengeluarkan suaranya untuk bicara dengan Santi.


Tidak lucu kalau Anang membentak Santi lagi.


Bisa-bisa, Santi pergi saat itu juga.


"Santi...! Sayang...! Aku mau bicara denganmu sebentar..." ujar Anang pelan.


Santi lalu berdiri, dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke celana jeans panjang, yang dia pakai.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Santi datar.

__ADS_1


__ADS_2