
Setelah beberapa hari Anang tidak memperdulikan ocehan ibu-ibu tetangga penghuni kost liar, atau ayam jantan yang terlambat berkokok.
Subuh ini Anang bisa melepas kerinduannya untuk dibangunkan oleh keriuhan pasar gosip, dan menikmati lantunan indah tujuh oktaf omelan tetangganya.
"Ngapain kamu disitu?"
"Bukannya kamu bilang, kamu mau menjual ayam kepasar?"
Suara omelan wanita yang mencurigai suaminya, membuat Anang dan Santi yang sudah didepan pintu kamar Santi, bertatap-tatapan sambil menghela nafas panjang.
Pertengkaran suami istri karena salah satu laki-laki tetangga Anang, kedapatan istrinya baru keluar dari rumah janda, si penjual bubur ayam, memang menjadi pemecah suasana.
Anang tidak mau menonton lama-lama, adegan tampar menampar yang seperti adegan dalam sinetron.
Buru-buru Anang berjalan menuju kekamarnya, meninggalkan laki-laki yang sudah mulai dijambak istrinya, dan jadi tontonan warga lain sambil bersorak.
Sedangkan Santi kembali masuk kedalam kamarnya.
Anang dan Santi harus cepat mempersiapkan perjalanan mereka pagi itu.
Masih lumayan gelap ketika Anang turun kepinggir sungai.
Anang melihat rakit yang biasa dia pakai untuk mencuci dan mandi, sudah menghilang.
Lenyaplah kakus kesayangan Anang, dibawa banjir arus sungai yang tampaknya meluap tadi malam saat warga sedang tertidur lelap, kecuali laki-laki tetangga Anang yang ditempat janda. Mungkin laki-laki itu sedang sibuk mencabuti bulu ayam bersama sang janda.
Anang berjalan lagi, menuju ke rakit yang pernah dilihatnya, dipakai Santi untuk mandi.
Masih selamat, meski kecil, tapi rakit itu memang terlihat lebih kokoh dibanding rakit yang biasanya Anang pakai.
Ketika Anang turun kerakit itu, Santi terlihat sudah disitu sedang mencuci pakaiannya.
"Kenapa mandi disini?" tanya Santi saat melihat Anang yang naik keatas rakit, dan membuat rakit agak bergoyang.
"Yang sebelah sana, kayaknya hanyut tadi malam," sahut Anang sambil membasahkan pakaiannya yang akan dia cuci, lalu merendamnya dalam ember berisi air sabun.
Rakit itu sempit kalau dipakai mencuci dan mandi untuk dua orang sekaligus, tapi tidak mungkin Anang mencuci didalam kakus yang masih gelap.
Bayangkan saja kalau ada orang yang membuang rudal disitu lalu meleset, pakaian Anang bukannya jadi bersih, malah bisa mendapat hiasan manik-manik berwarna kuning kecoklatan, mungkin juga akan ada sedikit kehijauan bekas sayuran yang tidak tercerna dengan baik.
"Sempit," ujar Santi karena mereka berdua berdempetan seperti orang yang berdesak-desakkan mengantri pembagian sembako gratis.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Sebentar saja. Aku nggak mau didalam situ," kata Anang sambil mengangkat wajahnya menunjuk kakus didekatnya.
Anang tidak tahu Santi merengut atau tidak, wajah Santi tidak terlalu jelas terlihat karena minimnya cahaya lampu dari pemukiman yang tembus kesitu, yang jelas Santi tidak bicara apa-apa lagi sampai dia selesai mencuci.
Selesai mereka mencuci, barulah cahaya matahari mulai kelihatan meski masih belum terlalu terang.
Santi yang duluan selesai mencuci, lalu mulai menyiram air dingin ketubuhnya.
"Santi! Pelan-pelan! Dingin!" seru Anang yang masih membilas bajunya.
"Ah... Siapa suruh datang kesini?!" ujar Santi yang terdengar tidak perduli meski Anang protes karena air siramannya ikut membasahkan Anang disampingnya.
Tidak lama Santi mulai terlihat menggigil kedinginan, sambil menggosok shampoo kerambut panjangnya, suara gemeletuk gigi-gigi Santi sampai terdengar oleh Anang.
"Dingin?" tanya Anang dengan nada suara mengejek.
"Ng-nggak!" sahut Santi sambil mengambil gayung didepannya, lalu mementung benda itu ke kepala Anang.
Anang meringis tapi masih bisa tertawa sambil mengelus kepalanya yang sakit.
Sementara Anang menggosok sabun dibadannya, dia melihat Santi yang tampak kesulitan menggosok punggungnya.
"Sini aku bantu," ujar Anang lalu mengambil busa penggosok badan dari tangan Santi, kemudian mulai menggosok punggung Santi.
"Makasih!" ujar Santi tanpa melihat Anang.
Anang hanya tersenyum.
"Lebam dibadanmu kayaknya sudah hampir nggak kelihatan ya?" ujar Anang.
"Iya," sahut Santi terdengar bersemangat, sambil tersenyum lebar.
Tanpa perlu Anang bertanya lagi, sudah bisa diduga apa yang ada dipikiran Santi sekarang.
Kapal pesiar yang berpenumpang orang luar negeri, akan jadi tempat perjamuan makan besar bagi Santi.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Keduanya menyelesaikan kegiatan mereka disitu, Ialu buru-buru pergi dari rakit itu.
"Jangan lama-lama! Nanti aku singgah kekamarmu!" ujar Anang saat mereka akan berpisah jalan.
__ADS_1
"Iya," sahut Santi.
Anang yang bingung dengan apa yang cocok dipakai ke kapal pesiar, akhirnya memilih kaus dilapis dengan kemeja, dan celana panjang tetap dipadankan dengan sepatu.
Anang memang perlu membeli sendal yang bisa dipakai untuk acara semi formal, tapi belum sempat dia pergi kepasar.
Anang tidak membawa gitar, karena orang asing yang mengundang mereka melalui Santi mengatakan kalau diatas kapal pesiar sudah ada alat musik, jadi Anang tidak perlu repot lagi membawa gitarnya.
Ketika Anang menjemput Santi, wanita itu memakai gaun lengan pendek, dengan bagian rok lebar, pendek gaun selutut, bermotif kembang-kembang. Sendalnya tidak terlalu tinggi, dengan topi lebar.
Kali ini tas tenteng Santi lebih besar dari yang biasanya dia bawa.
"Ayo kita pergi. Aku sudah memesan taksi untuk kepelabuhan," ujar Santi yang tampak tergesa-gesa.
Anang tidak sempat bicara apa-apa, Santi sudah menarik Anang, sampai hampir terseret.
Santi tampak sangat bersemangat. Sambil berjalan sesekali Anang melirik Santi yang senyum-senyum sendiri.
Begitu juga saat mereka sudah didalam mobil yang mengantar mereka ke pelabuhan, Santi sering senyum-senyum sendiri.
Setibanya mereka dipelabuhan, mata Anang terbelalak melihat kapal pesiar yang dimaksud orang asing itu.
Anang mengira kapalnya kecil seperti feri penyebrangan biasa, ternyata besarnya bukan main-main.
Tampaknya tidak akan cukup waktu meski seharian Anang berjalan berkeliling didalam situ, dia tidak akan bisa menjelajahi semua bagian kapal itu.
Ketika mereka mendekat kekapal yang berlabuh, banyak sekali orang asing terlihat menaiki kapal pesiar itu, dan tampaknya tidak ada orang lokal yang bisa dilihat Anang.
Dan memang benar, saat mereka sudah diatas kapal, kemana saja arah mata memandang, tidak ada satupun orang lokal disitu.
Bahkan orang-orang yang berseragam seperti pelayan, juga orang dengan ras yang berbeda dengan Anang dan Santi.
Sudah pasti Anang akan kesulitan berkomunikasi disana, kalau Santi sudah sibuk menyantap daging impor yang sudah didambakan Santi, dan membiarkan Anang sendirian.
Seorang pelayan menghampiri Anang dengan Santi, dan Santi kemudian tampak sibuk bicara dengan pelayan itu.
"Katanya kita disuruh ikut dengannya. Pemilik kapal pesiar ini Mister Will Grand, mau bertemu kita sekarang," kata Santi.
"Oh... Oke," sahut Anang.
Mereka berdua lalu berjalan dibelakang pelayan yang menghampiri mereka tadi.
__ADS_1
Anang dan Santi dibawa kesebuah ruangan seperti kamar yang lengkap dengan sofa, dan ranjang besar yang terlihat sangat empuk.