SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 184


__ADS_3

Sesuai perkiraan pak Robi, dalam waktu kurang lebih satu bulan, proses rekaman Anang untuk satu album lagu-lagunya, sudah selesai dilakukan.


Disela-sela waktu-waktu itu, hampir setiap hari disaat ada kesempatan, Anang bergantian saling menghubungi dengan Santi.


Selain itu, Anang juga beberapa kali jalan-jalan bersama Lia, dan menghabiskan waktu bersama wanita itu, yang menjemput Anang dirumah pak Handoko.


Anang hanya sempat sekali saja, datang ke kantor pengadilan untuk persidangan Peter, yang sudah berjalan.


Undangan agar Anang hadir disana, untuk memberikan kesaksiannya, membuat Anang bisa melihat sosok Peter yang semakin buruk keadaannya, dari jarak yang cukup dekat.


Anang sempat bertanya kepada pak Handoko, tentang apa yang terjadi dengan Peter.


Peter yang tampak babak belur, bertambah banyak bekas memar lebam diwajahnya, dan pasti saja bukan karena bekas pukulan Anang waktu itu.


Menurut pak Handoko, Peter berkelahi dengan sesama tahanan.


Meskipun, rasanya agak kurang bisa dipercaya oleh Anang, tapi Anang tidak berani berkomentar banyak kepada pak Handoko.


Peter yang menatap Anang dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah, lebih menarik perhatian Anang.


Apalagi, Anang melihat Peter sempat mengucapkan 'Tunggu pembalasanku', dengan gerakan mulutnya, tanpa mengeluarkan suaranya saat dipersidangan, cukup mengganggu Anang.


Walaupun begitu, setelah Anang mengatakan apa yang dia lihat itu kepada pak Handoko, orang tua itu tetap terlihat tenang, dan tampak tidak terganggu sama sekali.


Seolah-olah, Peter bukan apa-apa bagi pak handoko, dan ancaman Peter hanyalah sekedar omong kosong yang tidak berarti.


Karena melihat reaksi pak Handoko, Anang tidak terlalu memikirkan omongan Peter kepadanya.


Hari ini, Anang sudah bersiap-siap untuk kembali ke kampung.


Pak Handoko juga begitu.


Anang sudah mendapat persetujuan dari Tejo, agar pak Handoko bisa ikut menginap dirumahnya.


"Bagaimana dengan persidangan Peter, Pak?" tanya Anang, sambil memakan sarapannya.


"Ada rekanku yang mengurusnya... Saya hanya tinggal menunggu hasilnya saja," sahut pak Handoko.


"Hukuman Peter kali ini, tidak akan berlangsung terlalu lama... Tapi paling tidak, cukup untuk memberikannya sedikit pelajaran," celetuk pak Handoko.


"Bisa berapa lama Peter ditahan?" tanya Anang.


"Hmmm... Kurang lebih setahun setengah, paling lama..." sahut pak Handoko.


Sesudah pak Handoko dan Anang selesai menghabiskan sarapannya, Anang kemudian mengangkat, dan memasukkan barang-barang bawaan mereka berdua, kedalam bagasi mobil.


Sebenarnya, Anang berniat memakai bus saja, tapi, Pak Handoko mengajak Anang, pergi ke kampung Anang menggunakan mobil yang biasanya dipakai Wina.


'Biar nggak terlalu capek nyetirnya' kata pak Handoko semalam.


Kendaraan itu kemudian dikemudikan pak Handoko, melaju santai di jalan raya.


"Nanti kalau ada daerah yang sepi, Anang bisa menggantikan saya menyetir?" tanya pak Handoko.

__ADS_1


Anang menggaruk-garuk kepalanya.


"Waduh, Pak! Rasanya, saya masih takut," sahut Anang.


Pak Handoko hanya tersenyum, sambil tetap fokus menatap jalanan.


Disepanjang perjalanan, sesekali pak Handoko berbincang-bincang dengan Anang, sekedar menghilangkan kebosanan, yang terasa saat melakukan perjalanan, yang cukup memakan waktu didalam mobil.


Setibanya diperkampungan Anang, pak Handoko tidak berhenti tersenyum sambil melihat kesana kemari, dengan mobilnya yang hanya berjalan pelan, sampai tiba di depan rumah Tejo.


Tejo terlihat duduk menunggu kedatangan Anang dengan pak Handoko, diteras depan rumahnya, lalu menyambut pak Handoko, dengan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Terimakasih!" ujar pak Handoko, sambil menjabat tangan Tejo.


"Sama-sama, Pak! Asal Bapak nggak merasa risih saja, dengan rumah saya yang sederhana ini," sahut Tejo.


"Jangan merendah... Sudah syukur kalau saya diijinkan menumpang disini," kata pak Handoko.


"Silahkan duduk dulu, Pak! Mau duduk didalam atau mau diteras ini saja?" tanya Tejo.


"Diluar sini saja..." sahut pak Handoko, lalu duduk diteras rumah Tejo.


"Hmmm... Memang menyenangkan dikampung begini... Udaranya masih terasa sangat segar," celetuk pak Handoko.


Anang lalu mengeluarkan barang-barang bawaan dari dalam bagasi mobil, dengan dibantu Tejo, kemudian membawa barang-barang itu masuk kedalam rumah.


Tanpa kembali ke teras depan, Anang kemudian terus berjalan ke dapur, dan merebus air untuk membuat teh untuk mereka bertiga minum.


Begitu juga dengan Tejo yang menyusul Anang ke dapur.


"Namanya juga anaknya...!" sahut Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana dengan album lagumu?" tanya Tejo.


"Pihak label yang nanti mengurusnya," sahut Anang.


"Ada yang aku belikan untukmu. Tolong lihat airnya, aku ambil barangnya dulu!" sambung Anang.


"Apa?" tanya Tejo.


"Ada saja, yang jelas bukan barang mahal," sahut Anang, sambil berjalan kedepan.


Anang lalu mengeluarkan sepasang pakaian yang masih terbungkus plastik, lengkap dengan sendal kulit, yang sempat dia beli dikota untuk Tejo, dari dalam kopernya.


Anang kemudian kembali berjalan kedapur, dan menyodorkan barang-barang itu kepada Tejo.


"Aku cuma mengira-ngira ukuranmu," ujar Anang, lalu menuangkan air yang sudah mendidih, kedalam gelas-gelas berisi teh.


Tejo mencoba sendalnya lebih dulu, sambil membuka kantong pembungkus pakaiannya.


"Pas saja! Nggak tahu kalau bajunya," celetuk Tejo.


"Makasih, Nang!" sambung Tejo, sambil menepuk-nepuk punggung Anang.

__ADS_1


"Sama-sama..." sahut Anang, lalu mengangkat nampan berisi gelas-gelas teh juga piring kue, dan berjalan ke teras depan.


Anang lalu menyajikannya keatas meja teras.


"Silahkan, Pak!" ujar Anang, sambil ikut duduk diteras bersama pak Handoko.


"Terimakasih!" kata pak Handoko, lalu menyesap sedikit teh panasnya.


"Dimana teman Anang tadi?" tanya pak Handoko.


"Mungkin ada yang masih dia lakukan didalam. Sebentar!" sahut Anang, lalu berdiri menyusul Tejo kedalam rumah.


Tejo tampak sedang mencoba pakaian, yang dibelikan Anang untuknya.


Kelihatannya perkiraan Anang memang cocok.


Tejo memang lebih kecil, satu ukuran dari Anang.


"Pas ukurannya, dan bagus!" ujar Tejo sambil tersenyum lebar.


"Eeh, kamu ini...! Coba bajunya nanti saja! Itu pak Handoko mencarimu," ujar Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ikut tersenyum.


Tejo lalu buru-buru mengganti pakaiannya lagi, dan bersama-sama Anang, berjalan ke teras depan menemui pak Handoko.


"Maaf, Pak! Tadi saya lagi mencoba pakaian yang dibelikan Anang untukku," ujar Tejo jujur.


Anang menepuk jidat.


Pak Handoko hanya tertawa, begitu juga mereka semua, yang akhirnya ikut tertawa disitu.


"Saya juga membawa sesuatu untuk Tejo. Nggak tahu, apa Tejo suka atau tidak," ujar pak Handoko, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan melihat Anang.


"Koper saya tadi dimana?" tanya pak Handoko.


"Didalam, Pak!" sahut Anang, lalu berdiri dan berjalan masuk, disusul pak Handoko.


Pak Handoko lalu membuka kopernya, dan mengeluarkan dua buah kotak kecil dari dalam situ, dan kembali berjalan keluar bersama Anang.


"Ini, untuk Nak Anang! Yang ini, untuk Tejo," kata pak Handoko, sambil menyodorkan kotak-kotak itu kepada Anang dan Tejo.


Ketika Anang membuka kotak itu dan melihat isinya, sebuah arloji yang kelihatannya cukup mahal, terpampang didalam situ.


"Bagaimana? Apa kalian suka?" tanya pak Handoko.


"Terimakasih, Pak!" ujar Anang yang hampir bersamaan dengan Tejo.


"Dicoba! Saya mau lihat!" ujar pak Handoko.


Anang lalu saling bertatap-tatapan dengan Tejo sebentar, kemudian mereka memakai jam tangan pemberian pak Handoko kepada mereka itu.


"Saya sudah lama mau memberikan itu kepada Nak Anang. Tapi gara-gara selalu sibuk, jadinya saya selalu lupa. Kebetulan mau kesini, saya membeli satu lagi untuk Tejo," celetuk pak Handoko.


"Bagus, Pak! Terimakasih!" ujar Anang.

__ADS_1


"Iya, ini benar-benar bagus!" kata Tejo, yang tampak menyukai benda itu juga, sambil tersenyum lebar.


__ADS_2