SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 98


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya antara kamu dengan Peter?" tanya ayah Santi sambil melihat Anang.


"Bukan dengan Anang." sahut Santi.


"Aku yakin Peter membenci Anang, itu karena aku. Karena waktu itu Peter malah menawarkan kerja sama kontrak kepada Anang, tapi setelah aku menolaknya, karena Anang sudah terlanjur kerja sama dengan label lain, Peter kelihatannya tidak terima.


Apalagi setelah kami bilang kalau kami akan menikah. Sejak saat itu, Peter seolah-olah mencari-cari sela untuk menjatuhkan Anang," sambung Santi.


Ayah Santi tampak menggangguk-anggukkan kepalanya.


"Awalnya Papa sebenarnya agak curiga waktu Peter tiba-tiba datang kerumah. Tapi dia bilang kalau mau bertemu denganmu.


Katanya siapa tahu kamu sudah mau menerimanya untuk menikah denganmu," kata ayah Santi.


"Peter tidak langsung bicara tentang keburukan Anang, makanya waktu Papa bercerita tentang rencana pernikahan kalian.


Peter waktu itu seakan-akan terkejut mendengar rencanamu, dan bertanya-tanya mengenai Anang, barulah dia mengatakan kalau Anang itu penipu,


Dan caranya berbicara, benar-benar membuat Papa jadi percaya kepadanya." kata ayah Santi.


"Ternyata dia sudah bertemu dengan kalian berdua, tapi berpura-pura seolah-olah dia tidak tahu apa-apa." sambung ayah Santi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kalian tidak memberitahu Papa sebelumnya?" tanya ayah Santi heran.


"Kami tidak menduga kalau Peter akan bertindak sejauh itu, ketika kami bertemu dengannya.


Setelah teman Anang datang menemui kami, lalu menceritakan rencana Peter, baru keesokkan harinya kami pergi menemui Papa. Tapi ternyata dia sudah lebih dulu ada disitu," ujar Santi yang terdengar kesal.


"Makanya Papa bilang kalau kalian sebaiknya tinggal dekat dengan Papa, jadi paling tidak kita bisa saling bicara, dan bukan mendengarkan perkataan orang lain lebih dulu," sahut ayah Santi.


Semuanya kemudian hanya terdiam untuk beberapa waktu.


Anang yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan antara ayah Santi dengan Santi, lalu berdiri dan berniat membelikan minum untuk mereka disitu.


"Mau minum apa? Biar saya pergi belikan..." ujar Anang memecah keheningan.


"Aku saja yang pergi beli" sahut Santi lalu berdiri dan berjalan mendatangi beberapa pedagang, yang berjualan menggunakan gerobak.


"Terus terang, saya sebenarnya tidak langsung percaya denganmu, hanya dengan pertimbangan begitu saja." celetuk ayah Santi.


Anang yang memandangi Santi, lalu melihat kearah ayah Santi.


"Dalam dua hari ini, saya mencari tahu tentangmu... Saya mendatangi kost-kostan liar yang ada dibawah jembatan layang, yang kamu katakan waktu itu, dan bertanya-tanya tentangmu dan Santi disana." kata ayah Santi.


Anang terbelalak.


Apa mungkin ayah Santi tahu pekerjaan Santi sebelumnya?

__ADS_1


Anang jadi salah tingkah dan tidak bisa duduk dengan tenang.


Memang itu bukan salah Anang, tapi rasanya tetap tidak nyaman, kalau sampai ayah Santi tahu kalau Santi bekerja seperti itu.


"Ternyata penghuni disana mengenal kalian dengan baik. Mereka juga menceritakan kalau kalian sempat membawakan bantuan waktu mereka terkena banjir," ujar ayah Santi.


"Bagaimana keadaan disana sekarang, Pak?" tanya Anang berniat mengalihkan pembicaraan.


"Kelihatannya sudah membaik, airnya sudah surut. Itu menurut penghuninya... Meskipun yang saya lihat, ada sebagian wilayah itu yang masih terendam air," sahut ayah Santi.


"Karena cerita mereka disitu, makanya saya bisa percaya kalau kamu bicara yang sebenarnya," sambung ayah Santi.


"Terimakasih..." kata ayah Santi lagi.


Anang mengerutkan alisnya.


"Untuk apa?" tanya Anang.


"Karena kamu sudah membuat Santi berhenti menjadi..." kata ayah Santi.


"Tidak usah membicarakan itu, Pak!" ujar Anang memotong pembicaraan ayah Santi.


Benar dugaan Anang.


Dasar ibu-ibu tukang gosip.


Tahu-tahu saja apa yang terjadi disekitar mereka.


"Saya menyayangi Santi. Itu hanya masa lalu. Tidak ada yang perlu dibahas." sambung Anang tegas.


Kedua laki-laki itu akhirnya terdiam, sampai Santi kembali membawakan mereka minuman, dan sedikit camilan.


"Apa ada yang aku lewatkan?" tanya Santi yang mungkin merasa aneh, karena gelagat ayah Santi dan Anang disitu.


"Nggak ada apa-apa. Aku dan Papamu hanya membicarakan tentang perkerjaanku saja," sahut Anang, sambil memegang tangan Santi dan mengajaknya duduk lagi, diantara Anang ayah Santi.


"Bagaimana dengan tawaran Papa agar kalian tinggal di perumahan?" tanya ayah Santi, sambil menerima gelas minuman yang disodorkan Santi.


"Terserah Papa saja," sahut Santi.


"Kalau begitu kalian bisa datang kerumah Papa besok 'kan?" tanya ayah Santi.


"Bisa saja... Besok pagi-pagi." sahut Santi.


"Oh iya, lalu bagaimana dengan kasus plagiat yang kalian katakan tadi?" tanya ayah Santi.


"Pak Robi pemilik label yang mengontrak Anang, yang sedang mengurusnya sekarang. Entah apa hasilnya nanti..." ujar Santi.

__ADS_1


"Kalau-kalau masih butuh bantuan, hubungi Papa. Siapa tahu Papa bisa ikut membantu," ujar ayah Santi.


"Terimakasih, Pak!" sahut Anang.


"Asal Papa tahu saja, kami sudah mengurus berkas kami untuk menikah. Teman kami yang membantu menguruskannya." celetuk Santi.


"Oh begitu. Kalau begitu Papa tinggal menyiapkan acara resepsinya saja?" tanya ayah Santi.


"Mau pakai acara atau tidak. Kalau itu, aku tidak terlalu perduli." sahut Santi.


"Hmm..." ayah Santi menggumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Wina tadi meminta Papa membelikannya kue. Kalian mau Papa belikan juga?" tanya ayah Santi.


"Nggak usah!" sahut Santi ketus.


"Santi...!" tegur Anang pelan.


Anang melihat wajah ayah Santi, yang terlihat sedih, tapi tampaknya laki-laki itu tetap berusaha mengerti ketidak sukaan Santi kepada Wina.


"Nanti kita mengobrol lagi ya. Papa harus pergi sekarang. Apa kalian masih mau disini, atau mau Papa antarkan kalian pulang kekost?" tanya ayah Santi lagi.


"Kami masih mau disini, Papa pulang saja duluan," sahut Santi, sambil menyeruput minumannya.


"Kalau begitu, Papa pergi dulu ya?!" kata ayah Santi.


"Iya,"


"Iya, Pak! Hati-hati dijalan!"


Sahut Santi dan Anang hampir bersamaan.


Ayah Santi kemudian berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Anang dan Santi disitu.


Setelah ayah Santi pergi, Anang lalu menggenggam tangan Santi erat-erat.


"Lihat 'kan! Asal kita bisa bersabar saja, pasti akan tetap ketahuan yang mana yang berkata benar, dan mana yang berbohong," kata Anang dengan perasaan senang.


"Tapi, tetap saja. Aku masih merasa kalau masih ada lagi yang akan dilakukan Peter untuk menjatuhkan mu," ujar Santi.


"Laki-laki itu benar-benar brengsek!" sambung Santi ketus.


Anang menatap Santi sambil tersenyum.


"Aku tadi sempat khawatir kalau-kalau kamu sampai bercerita ke Papamu, tentang Peter dengan Wina.


Bagus saja kamu nggak memberitahu Papamu. Kasihan orang tua itu kalau dia sampai tahu," ujar Anang.

__ADS_1


"Tadi aku memang sempat berencana memberitahu Papa, tapi aku mengurungkannya," kata Santi.


"Biar dia tahu sendiri saja nanti..." sambung Santi.


__ADS_2