SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 71


__ADS_3

Jadwal menyanyi Anang malam ini tidak ada yang terlalu istimewa.


Seperti biasa Anang menampilkan kemampuan terbaiknya, dalam bernyanyi dan bermain gitar.


Hanya satu hal yang agak berbeda dari biasanya, kali ini, Anang sempat diminta bernyanyi lagu ciptaan Anang, yang pernah Anang unggah di akun f*cebooknya waktu itu.


"Apa nanti tidak akan jadi masalah kalau aku menyanyi lagu itu?" tanya Anang.


Lagu ciptaan Anang itu, adalah lagu yang direkam untuk single perdana Anang.


"Sebentar. Aku coba tanyakan dengan Pak Robi," jawab Santi.


Santi terlihat sibuk berbicara dengan ponsel yang menempel di telinganya, untuk beberapa waktu lamanya.


"Kata Pak Robi, itu bukan masalah, malah itu membantu pengenalan lagumu," kata Santi kemudian, setelah selesai berbicara diponselnya.


"Hmm... Kalau begitu, aku beritahu mereka dulu," ujar Anang sambil berjalan menjauh dari Santi, dan menghampiri orang yang mengundang Anang.


Anang menyetujui permintaan orang yang mengundangnya itu, lalu mulai bernyanyi diatas panggung.


Setelah usai bernyanyi, sambil menikmati hidangan yang disajikan disitu, Anang lalu duduk disamping Santi.


"Kamu pernah mengunggah video waktu kamu bernyanyi lagu orang lain?" tanya Santi tiba-tiba.


"Iya," jawab Anang.


"Kenapa?" sambung Anang lagi.


"Kamu mengunggahnya di akun f*cebook saja, atau ada ditempat lain?" tanya Santi.


"Hanya di f*cebook," sahut Anang.


"Hapus saja unggahan itu, karena kalau yang aku dengar dari omongan Pak Robi tadi, itu mungkin akan jadi masalah, karena itu peng-cover-an lagu tanpa ijin," kata Santi.


"Apalagi kemungkinan besar kamu akan dikenali banyak orang, karena single pertamamu, sudah mulai di rilis label Pak Robi," sambung Santi.


Anang melihat raut wajah Santi yang tampak cemas.


Anang lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan menyodorkan benda itu kepada Santi.


"Tolong, kamu saja yang hapuskan! Tolong, sekalian periksakan pesan yang masuk!" ujar Anang, sambil menunjuk dengan matanya, piring makannya yang masih berisi lebih dari separuh.


Anang kemudian lanjut memakan makanannya, setelah Santi mengambil ponselnya.


Sesekali Anang, melirik Santi yang memeriksa ponsel milik Anang, sambil menekan-nekan sesuatu dilayar ponselnya itu.


"Sudah!" ujar Santi ketus, dan dengan wajah merengut, mengembalikan ponsel Anang keatas meja.


Heh?


Kenapa?


Apa Santi marah karena disuruh Anang tadi?


Anang berhenti memakan makanannya, lalu menatap Santi, yang memalingkan wajahnya dari Anang.

__ADS_1


"Maaf... Aku bukannya mau menyuruh-nyuruhmu seenaknya saja. Aku pikir kamu bisa membantuku, karena aku masih makan," kata Anang pelan, sambil menggenggam tangan Santi.


Santi terlihat sedang melirik Anang, dengan ujung matanya, tapi tetap dengan memasang wajah garangnya disitu.


"Ada beberapa pesan yang mengajakmu bertemu. Nggak harus aku juga yang menjawab itu 'kan?!" ujar Santi, yang tetap tidak mau menoleh kearah Anang.


Anang kemudian melihat pesan-pesan yang masuk diponselnya.


Ada beberapa pesan yang berisi foto 'nakal', yang dikirim kepada Anang.


Tapi, Santi sudah beberapa kali melihat pesan seperti itu, yang dikirim wanita-wanita nggak jelas, kepada Anang, dan Santi biasanya tampak tidak perduli.


Anang lanjut menggeser-geser layar ponselnya.


Anang lalu melihat ada satu pesan dari Gita, dengan kata-kata mesra, seakan sedang mengungkit ciuman Anang dengannya waktu itu.


Ooh... mungkin itu penyebabnya, tampaknya Santi mungkin cemburu.


Tumben!


Anang jadi berpikir, kalau mungkin saja Santi jadi begitu, karena lagi datang bulan, jadi moodnya lagi kurang baik.


Mungkin Santi khawatir, kalau Anang mencelup teh dicangkir wanita lain.


Anang tersenyum, dan mengelus-elus dengan jempolnya, tangan Santi yang sejak tadi Anang genggam.


"Blokir saja! Semuanya, juga nggak masalah," ujar Anang, lalu lanjut makan lagi, sambil mencuri-curi pandang kepada Santi.


"Kenapa?" tanya Santi.


Santi tidak menjawab pertanyaan Anang, tapi malah tampak gelagapan, dan seperti orang yang salah tingkah.


Menyenangkan!


Anang malah lebih senang kalau Santi bisa cemburu dengannya.


"Enggak kok!" ujar Santi.


"Cuma aneh saja, kalau aku yang membalas pesan-pesan yang 'mengajak' seperti itu," sambung Santi.


Tanpa perlu banyak berkomentar lagi, Anang hanya melirik Santi sambil menghela nafas panjang.


Santi memang bukan wanita yang mudah mengakui perasaannya.


Sudahlah.


"Aku sudah selesai makan. Mau langsung pulang?" tanya Anang.


"Iya. Perutku juga mulai sakit lagi," sahut Santi.


Anang lalu berpamitan dengan orang yang mengundangnya, lalu membawa Santi pulang.~


Setibanya mereka di kost-kostan, ada tamu tidak diundang lain yang mengganggu Santi.


Anang menyadari ketidak nyamanan Santi saat melihat Gita, yang sedang menunggu mereka sambil bersandar dipagar, didepan kamar kost Anang dan Santi.

__ADS_1


"Kalian baru pulang? Kenapa pesanku tadi tidak dibalas?" tanya Gita sambil menghampiri Anang yang masih merangkul pinggang Santi.


Gita hampir saja mencium bibir Anang, tapi Anang memalingkan wajahnya, jadi Gita hanya bisa mengecup pipi Anang saja.


Santi masih terlihat biasa dan datar, atau mungkin dia sengaja agar terlihat begitu.


Gita pun sama.


Anang benar-benar bingung dengan Gita, yang terlihat tidak terganggu, meski Anang sekarang sedang merangkul Santi.


Ah, capek.


Anang memang harus memberitahu Gita, untuk menjaga jarak sekarang.


Santi membuka pintu, lalu berjalan masuk, tapi Anang menahannya.


"Ada apa? Aku mau cepat minum obat. 'Kan aku sudah bilang kalau perutku sakit!" kata Santi dengan raut wajah tidak senang.


"Sebentar! Aku mau bicara dengan Gita, tapi kamu harus bersama denganku," sahut Anang kepada Santi.


Anang lalu merangkul Santi lagi.


"Gita...! Aku sudah melamar Santi, dan dia juga sudah setuju," kata Anang sambil menatap Gita.


Gita tampak sangat terkejut dengan pernyataan Anang.


Kira-kira Gita menyerah?


Kelihatannya tidak.


Wajah Gita memerah, terlihat jelas kalau dia sedang marah, tapi kemarahannya bukan ditujukan kepada Anang.


Gita menatap Santi dengan sorot mata tajam.


"Maafkan aku, tapi kamu tidak bisa lagi datang kesini sesukamu. Rasanya tidak cocok kalau kamu masih kesini, tanpa persetujuan Santi," sambung Anang.


Gita hanya melihat Anang sebentar, lalu kembali menatap Santi.


"Brengsek! Dasar pel*cur!" kata Gita dengan suara tinggi dan bergetar.


"Gita! Hentikan!" seru Anang.


"Dia memang pel*cur. Dia membuatmu tertarik dengannya karena s*x. Benar 'kan?" sambung Gita masih meninggikan suaranya.


Santi tampaknya tidak mau berdebat, dengan cepat Santi berjalan menjauhi Anang dan masuk kedalam kamar, tanpa sempat Anang menahannya lagi.


"Cukup! Sebaiknya kamu pergi sekarang!" kata Anang membentak Gita.


Tapi Gita seakan tidak tahu kata mundur dan menyerah, dengan cepat Gita mendekat, dan memeluk Anang.


Anang melepas pelukan Gita dibadannya, tapi Gita masih bersikeras dan tetap menahan Anang.


Anang yang merasa tidak tega kalau harus mengasari wanita itu, mau tidak mau hanya membiarkan Gita memeluknya, sambil Anang memutar otak.


Anang harus memikirkan sesuatu agar bisa membuat Gita mengerti keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2