
Pestanya dilangsungkan dibagian belakang rumah, pantas saja didepan tadi tampak sepi.
Banyaknya tamu yang datang, hampir memenuhi halaman belakang rumah yang sebesar lapangan olahraga.
Tamu yang hadir disitu terlihat beragam. Mulai dari anak kecil, remaja, orang dewasa, sampai yang tampak sudah mulai lanjut usia.
Anang melihat kesekelilingnya, ada semacam panggung kecil yang tidak terlalu tinggi, yang dibuat khusus untuk acara hiburan, dan sudah ada sekelompok orang yang bernyanyi dan bermain satu set alat musik disana.
"Setelah mereka selesai bernyanyi, kamu yang menggantikan mereka. Untuk sementara, sambil menunggu, nak Anang makan malam saja disana dulu. Saya mau menemui rekan-rekan saya dulu," kata pemilik rumah, sambil menunjuk meja panjang disalah satu sisi halaman, kemudian dia berjalan pergi menjauh dari Anang.
Anang berjalan kearah meja yang ditunjuk pemilik rumah tadi.
Diatas meja tersedia banyak sekali makanan, dengan berbagai macam menu.
Anang berdiri terdiam didepan meja. Dia termangu melihat makanan sebanyak itu, dan semuanya tampak enak dimakan.
"Silahkan, Pak!" kata seorang pelayan yang berdiri berjaga didekat meja, sambil menyodorkan piring, lengkap dengan sendoknya.
Anang menerima piring itu, kemudian mengambil makanan secukupnya kedalam piringnya.
"Anda mau minum apa?" tanya pelayan itu lagi.
"Air putih saja," sahut Anang.
Anang lalu melihat kesana kemari.
"Kesini, Pak!" kata pelayan itu seakan mengerti kalau Anang sedang mencari tempat untuk dia duduk dan makan.
Pelayan itu membawa Anang kesalah satu meja-meja terpisah yang masih kosong, dan mempersilahkan Anang duduk disitu.
Anang kemudian duduk, dan mulai memakan makanannya disitu.
Tidak menunggu lama, pelayan tadi mengantarkan sebotol air mineral, dan sebotol minuman manis bersoda, kemudian meletakkannya diatas meja Anang.
"Silahkan, Pak!" kata pelayan itu.
"Terimakasih!" sahut Anang.
Pelayan itu kemudian berjalan pergi.
Anang rasanya tidak mempercayai kalau semua yang terjadi saat ini adalah kenyataan.
Anang belum pernah dilayani dengan begitu baik.
Apalagi makanannya enak. Entah kapan dia pernah makan makanan seperti itu, seingatnya kondangan yang pernah dia datangi tidak ada yang menyajikan makanan sampai sebanyak, dan seenak itu.
__ADS_1
Anang menghabiskan makanannya, tanpa mau terlalu banyak memikirkan ini itu lagi. Nanti sewaktu-waktu akan jadi gilirannya untuk bernyanyi.
Sampai makanan Anang habis, ternyata panggung masih terisi.
Tapi tidak begitu lama Anang menunggu, dia didatangi seorang pelayan yang menyuruhnya untuk naik ke panggung dan mulai bernyanyi menggantikan mereka yang tadi bernyanyi disitu.
Anang menaiki panggung lalu duduk dikursi yang ada disitu, dengan mikrofon didepan wajahnya.
Ritual Anang dimulai, sebelum akhirnya dia mulai memetik gitarnya dan mulai mengeluarkan suara nyanyiannya didepan mikrofon.
Saat Anang bernyanyi, pandangan mata para tamu, tampak tertarik untuk melihatnya.
Suara Anang seakan bisa menghipnotis para tamu undangan. Mereka berhenti melakukan apa yang mereka sedang lakukan, lalu memandangi Anang diatas panggung.
Beberapa remaja, bahkan berdiri mendekat kepanggung. Mereka lalu melambai-lambaikan tangan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Anang.
Ada juga beberapa remaja yang merekam Anang bernyanyi, atau sekedar memotret Anang dengan ponselnya.
Anang jadi artis dadakkan, apalagi saat remaja yang berulang tahun ikut naik dipanggung lalu duduk didekat Anang yang sedang bernyanyi.
Teman-teman gadis remaja itu terlihat sibuk dengan kamera ponsel mereka, yang diarahkan kepada Anang dan gadis itu.
Lampu blitz kamera ponsel dan kamera yang dipegang fotografer rentalan, sampai membuat mata Anang silau.
"Bang lagu selanjutnya, Abang nyanyi sambil menghadap kearah aku ya, Bang!" kata gadis remaja yang empunya pesta.
Lagu cinta dengan lirik yang indah kemudian dinyanyikan Anang, sambil duduk menyamping agar berhadap-hadapan dengan gadis itu.
Gadis remaja itu tidak berhenti memasang senyum diwajahnya, seolah-olah dia adalah orang tercinta yang ada didalam lagu cinta yang dinyanyikan Anang.
Disela melodi lagu, Anang lalu tersenyum gemas melihat gadis remaja itu yang tampak senang dan seperti orang kesengsem menatapnya, lalu disambut dengan sorakan meriah teman-teman gadis itu, seolah-olah merasa iri dengan teman mereka yang berulang tahun itu.
Anang melanjutkan nyanyiannya, sambil sesekali tersenyum kearah gadis remaja itu.
"Terimakasih, Bang!" ujar gadis remaja itu saat satu lagu itu usai.
"Sama-sama, Dek!" sahut Anang.
Anang kemudian kembali menghadap kedepan, dan bernyanyi melanjutkan lagu-lagu pesanan gadis remaja itu.
Setelah selesai menyanyikan semua lagu yang jadi permintaan gadis yang berulang tahun itu, Anang kemudian berdiri dan berjalan turun dari panggung.
"Tunggu sebentar ya, Bang!" kata gadis itu, sambil terlihat berjalan masuk kedalam rumah.
Anang kemudian menerima permintaan teman-teman gadis remaja untuk berfoto dengan mereka berganti-gantian, sambil menunggu gadis yang berulang tahun itu kembali.
__ADS_1
"Om pinjam Abangnya dulu ya!" celetuk laki-laki pemilik rumah yang juga ayah dari gadis yang berulang tahun.
Anak-anak remaja itu tampak kecewa, tapi tetap bergeser memberi kesempatan laki-laki itu bicara dengan Anang.
"Besok lusa, nak Anang, ada kesibukkan?" tanya pemilik rumah itu.
"Nggak tahu, Pak. Bangunan tempat saya bekerja, untuk sementara sedang dihentikan pengerjaannya, jadi saya masih harus mencari pekerjaan baru," sahut Anang.
Raut wajah laki-laki itu tampak memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya dia berkata,
"Jadi biasanya kerja tukang bangunan?" tanya laki-laki itu.
"Saya hanya jadi pembantu saja, Pak," sahut Anang.
"Hmm... Ada saudara saya mau bertemu denganmu. Ayo ikut dengan saya!" kata laki-laki itu.
Anang kemudian mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah si pemilik rumah.
"Anang?" tanya salah satu teman si pemilik rumah, ketika Anang dan pemilik rumah sudah berdiri didekat beberapa orang yang berkumpul.
"Iya, Pak!" jawab Anang.
"Besok lusa, apa bisa bernyanyi dipernikahan anakku?" tanya laki-laki itu.
"Tapi saya maunya semua lagu-lagu lawas," sambungnya lagi.
Dapat pekerjaan baru lagi, Anang rasanya memang tidak percaya, mimpi ini terlalu bagus.
"Kapan, Pak?" tanya Anang.
"Besok lusa, siang jam sepuluh," sahut laki-laki itu.
"Hmm... Apa ada permintaan lain selain lagu lama? Mungkin lokal atau lagu barat? Jadi saya bisa bersiap-siap," kata Anang.
"Kayaknya nggak ada. Tapi nanti kalau tamu saya ada yang minta lagu, itu saja yang saya tidak bisa pastikan," sahut laki-laki itu.
"Oh, iya. Kalau dari jam sepuluh sampai jam dua siang, berganti-gantian dengan penyanyi lain, berapa bayarannya?" sambung laki-laki itu lagi.
"Terserah bapak saja. Saya nggak masalah. Sudah dapat penghasilan saja sudah cukup, sementara saya masih menganggur," sahut Anang.
"Oke! Kalau begitu, nanti kamu datang kesini besok lusa. Kalau bisa datangnya sebelum jam sepuluh," kata laki-laki itu sambil menyodorkan selembar undangan pernikahan kepada Anang.
"Baik, Pak! Terimakasih!" kata Anang.
Baru saja Anang menghabiskan kalimatnya, terdengar suara gadis yang berulang tahun memanggilnya.
__ADS_1
"Bang! Bang, Anang!"