SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 49


__ADS_3

Ketika Anang tiba distudio rekaman bersama Santi, Mister Grand sudah menunggu mereka didalam.


Anang yang menenteng gitar barunya, kemudian berjabat tangan dengan Mister Grand disitu.


Santi juga terlihat berjabat tangan dengan Mister Grand, sambil berbicara bersahut-sahutan diantara keduanya.


Anang, Santi dan Mister Grand, kemudian duduk disofa yang ada disitu.


Tak lama, seorang laki-laki paruh baya ikut bergabung dengan mereka bertiga, dan menjulurkan tangannya kepada Anang dan Santi bergantian, mereka berjabat tangan.


"Anang, ya?" kata laki-laki itu saat berjabat tangan dengan Anang.


"Iya, Pak!" sahut Anang.


"Silahkan duduk!" kata laki-laki itu, mempersilahkan Anang dan Santi untuk duduk kembali.


"Nama saya Robert. Tapi, kalian bisa panggil Robi saja. Saya pemilik studio ini,


Maksudku, saya pemilik sebagian tempat ini. Karena sebagian lagi milik temanku ini, Mister Will Grand," kata laki-laki paruh baya yang ternyata bernama Pak Robi.


"Kata Will, Anang punya suara yang khas. Saya jadi tidak sabar ingin mendengar langsung, Anang bernyanyi," Kata pak Robi lagi.


"Oh iya, kalau menurut perkataan Will, Santi berarti manajer Anang ya?" tanya pak Robi.


Anang dan Santi bertatap-tatapan.


"Kurang lebih begitu, pak. Saya berteman dengan Anang, jadi sekalian saya membantu mengurus jadwal Anang," sahut Santi.


'Teman'.


Anang merasa kecewa mendengarnya, tapi tidak bisa protes atau berkomentar banyak.


"Oke. Kalau begitu, kita coba dengar suara Anang sekarang," kata Pak Robi sambil berdiri dari tempat duduknya.


Pak Robi lalu terlihat berbicara dengan Mister Grand sebentar, sebelum Mister Grand ikut berdiri dan berjalan menyusul Pak Robi, yang sudah berjalan terlebih dulu.


Begitu juga Anang dan Santi, yang ikut berjalan menyusul Pak Robi.


Anang dibawa ditempat tertutup, dengan satu set alat musik lengkap didalamnya.


Sedangkan Pak Robi duduk bersebelahan dengan seseorang yang memakai headset ditelinganya, diseberang ruangan dengan tempat Anang sekarang, yang berbatas kaca besar.


Santi dan Mister Grand terlihat berdiri dibelakang tempat duduk pak Robi.

__ADS_1


Seorang laki-laki disebelah Pak Robi lalu menyuruh Anang duduk mendekat ke mikrofon, dan memberi aba-aba kepada Anang untuk mulai bernyanyi, ketika Anang sudah duduk dibangku didalam ruangan itu sambil memangku gitarnya.


Anang kemudian mulai memetik gitarnya, memainkan, dan menyanyikan lagu milik Mister Grand yang masih dia ingat dengan baik.


Anang teringat kata-kata Santi, saat mereka dikapal pesiar waktu itu, kalau menyanyikan lagu Mister Grand, Anang lebih baik memejamkan matanya.


Karena itu, Anang bernyanyi dengan mata terpejam, dan hanya fokus mengingat nada dan liriknya saja, jadinya Anang tidak tahu apa reaksi Pak Robi saat mendengar Anang bernyanyi.


Ketika lagu itu usai, Anang masih duduk didalam ruangan itu sendiri.


Anang melihat kalau orang-orang yang ada diruangan sebelah, sedang berbincang-bincang, tampak bersahut-sahutan.


"Anang sudah bisa keluar sekarang,, Kita bicara diluar," kata Pak Robi yang terdengar dari pengeras suara, didalam ruangan tempat Anang duduk.


Anang kemudian berjalan melewati pintu untuk bergabung dengan Santi, dan dua laki-laki paruh baya itu, diruangan sebelah.


"Anang, punya lagu lain?" tanya Pak Robi dengan wajah serius.


"Lagu apa, Pak?" Anang balik bertanya.


"Lagu yang mungkin diciptakan Anang sendiri. Ada?" tanya Pak Robi sambil menjelaskan maksudnya.


"Hmm... Belum ada, Pak!" sahut Anang.


Pak Robi lalu berbicara dengan bahasa asing kepada Santi dan Mister Grand.


Anang lalu mencoba merangkul pinggang Santi.


Santi tampaknya tidak terganggu dengan Anang, tanpa berkomentar, Santi malah menggenggam tangan Anang yang ada dipinggangnya, sambil menyimak pembicaraan Pak Robi dan Mister Grand dengannya.


Sesekali Santi seakan menjawab perkataan Pak Robi, dan Mister Grand bergantian.


"Kamu percaya, kalau aku yang uruskan semua pekerjaanmu?" tanya Santi dengan suara berbisik, dan tetap melihat kearah Pak Robi dan Mister Grand.


"Iya," sahut Anang.


Santi sibuk berbicara dengan dua laki-laki didepannya, Anang malah sibuk memandangi wajah Santi dari sampingnya, dan menikmati genggaman tangan Santi, ditangannya.


Anang benar-benar menaruh perhatiannya kepada Santi, apalagi dia juga tidak mengerti apa yang dibicarakan orang-orang itu.


Kalau Santi mau menjualnya, maka Anang akan jadi korban human trafficking saat itu juga.


"Oke! Kalau begitu, Anang akan menyanyikan lagu-lagu yang ditulis Will," kata Pak Robi, yang tiba-tiba melihat kearah Anang.

__ADS_1


"Eh, Iya," jawab Anang gelagapan.


Tampaknya Pak Robi mungkin menangkap basah Anang yang sedang memandangi Santi, karena saat Anang melihat Pak Robi, laki-laki paruh baya itu tersenyum melihat Anang dan Santi berganti-gantian.~


"Kamu nanti pelajari lagu-lagu ciptaan Mister Grand,


Nanti mereka akan dengarkan ulang hasilnya. Kalau kamu jadi dikontrak, aku tadi minta kontrak satu album saja, jadi kamu nanti nggak terikat,


Kalau-kalau kamu mau kontrak rekaman baru dengan label lain, atau mau buat rekaman sendiri," kata Santi sambil mereka berjalan keluar dari ruangan tertutup itu.


Ketika mereka sudah duduk lagi disofa, Santi kembali berbicara dengan Mister Grand dan Pak Robi sebentar.


Kemudian Santi berdiri begitu juga dua laki-laki paruh baya didepannya itu.


Anang hanya bisa mengikuti semua gerak-gerik orang-orang disekitarnya, kemudian berdiri dari duduknya.


Santi lalu terlihat berjabat tangan dengan kedua laki-laki itu, lalu berjalan pelan untuk keluar dari gedung itu, sambil menunggu Anang yang masih berjabat tangan dengan Mister grand dan Pak Robi.


"Kalian tampak serasi. Dia wanita cantik dan pintar, Anang harus lebih semangat mengejarnya!" kata Pak Robi berbisik, saat berjabat tangan dengan Anang.


Mata Anang terbelalak saat mendengar perkataan Pak Robi, apalagi sekarang Pak Robi tersenyum lebar kepada Anang.


Anang yakin sekarang wajahnya pasti berwarna merah, karena malu.


Anang tidak tahu harus berkata apa, jadi Anang hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Anang lalu menyusul Santi yang masih menunggunya, kemudian berjalan bersama, keluar dari tempat itu.


Memang benar.


Pak Robi memang sempat melihat Anang yang sedang memandangi Santi.


Anang malunya minta ampun.


Mudah-mudahan Santi tidak mendengar apa yang dikatakan Pak Robi tadi. 'Kan tadi Santi agak jauh dari mereka.


Kalau sampai Santi tahu, Anang akan habis ditertawakan wanita itu.


Santi mungkin merasa, kalau Anang sedang berpikir sesuatu. Atau mungkin memang jelas kelihatan diwajah Anang, saat mereka sedang menunggu jemputan.


"Kamu lagi mikir apa?" tanya Santi tiba-tiba.


"Eh. Nggak ada," sahut Anang sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang kamu pikirkan," kata Santi lagi.


"Aku mau juga bisa berbahasa Inggris," kata Anang beralasan, dan berharap Santi percaya saja.


__ADS_2