SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 83


__ADS_3

Mungkin saja benar apa kata Santi kalau tidak akan ada apa-apa, tapi bisa juga salah.


Dugaan demi dugaan muncul dibenak Anang.


Itu cukup mengganggu pikiran Anang, dan membuatnya merasa tidak tenang.


Kedua wanita didepannya, tampaknya sangat mengerti dengan kekhawatiran, yang sedang Anang rasakan sekarang.


Santi dan Gita, tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba membuat keributan, atau memulai pertengkaran.


Kedua wanita itu duduk dengan tenang disitu, seolah tidak ada persaingan, dan semua hanya sekedar berteman baik saja.


"Kamu nggak mau mandi dulu? Biar segar." tanya Santi kepada Anang seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Anang.


Anang kemudian berdiri dan pergi mandi, meninggalkan Santi dan Gita berdua saja disana.


Pikiran tentang ayah Santi yang kemungkinan akan salah paham dengan Anang, sangat mengacaukan pikiran Anang dan membuatnya lupa, kalau-kalau Santi dan Gita, bisa saja ribut saat Anang tidak melihat mereka.


Wajar saja Anang khawatir.


Pertama yang mengajak Santi menemui ayahnya itu Anang, setelah itu tadi mereka bisa pergi lagi kesana, masih karena Anang yang mengajak Santi.


Besok kalau sampai mereka pergi kerumah ayah Santi, itu juga karena Anang yang menyetujui permintaan ayah Santi.


Meskipun Anang mau menemui ayah Santi dengan niat untuk memperbaiki hubungan ayah dan anak, tapi kalau orang yang sempat berpikiran buruk, jelas akan menganggap kalau itu semua disengaja Anang, agar bisa mendapatkan 'sesuatu' dari ayah Santi.


Seolah-olah Anang memang sengaja mengambil kesempatan emas dari Santi dan ayahnya.


Air pancuran yang dingin, seakan tak mampu mendinginkan otak Anang, yang bekerja terlalu keras sampai kepanasan.


Entah sempat berapa kali Anang memakai dan membilas shampoo dikepalanya, karena pikiran yang tidak fokus, Anang melakukannya sampai berulang-ulang.


Acara mandi Anang jadi lama sekali, sebelum Anang tersadar kalau diluar kamar mandi, dia meninggalkan Gita berdua dengan Santi.


Bisa-bisa Gita memaki-maki Santi lagi.


Dengan tergesa-gesa, Anang menyelesaikan mandinya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi.


Anang salah menduga.


Kedua wanita itu tampak tenang dan baik-baik saja.


Anang melihat kedua wanita itu dengan rasa heran, sambil memilih pakaiannya didalam lemari, sesekali Anang melirik kedua wanita itu bergantian.


Itu adalah pemandangan yang bagus bagi Anang.


Karena kalau sampai Santi dan Gita berperang disitu, kepala Anang mungkin bisa pecah karena stress.


"Kamu hari ini tidak ada jadwal menyanyi sama sekali?" tanya Gita.

__ADS_1


"Nggak ada." sahut Anang.


"Janji hari ini dibatalkan semua, karena orang-orangnya khawatir kalau-kalau hujan deras seperti beberapa hari belakangan," sambung Santi.


"Memangnya kenapa kalau hujan?" tanya Gita.


"Rencananya orang-orang yang sempat mengundang Anang, akan membuat acara diluar ruangan," sahut Santi.


"Nggak nyangka juga kalau hari ini, sejak pagi tadi nggak ada hujan." sambung Santi.


"Memang nggak ada yang bisa mengira-ngira cuaca sekarang bakalan hujan atau nggak," kata Gita.


"Oh iya, mumpung aku ingat, minggu depan apa Anang bisa bernyanyi di acara pernikahan sepupuku?" tanya Gita.


"Tanggal berapa? Biar bisa aku cek jadwalnya," sahut Santi.


Anang memakai pakaiannya, sambil mendengarkan percakapan kedua wanita itu.


Menarik!


Kalau mereka berdua bisa begini saja terus, otak Anang juga akan ikut cerah.


Baru saja Anang selesai berpakaian, pintu kamar kost diketuk dari luar.


Anang melihat Santi dan Gita yang masih asyik mengobrol, dan seakan tidak terganggu dengan suara ketukan dipintu kamar itu.


Anang kemudian pergi membukakan pintu.


"Iya?" tanya Anang.


"Saya mengantarkan pesanannya, Mas!" kata orang itu


"Oh... oke. Terimakasih!" sahut Anang lalu mengambil bungkusan yang kelihatannya berisi makanan, dan beberapa botol air minum.


Sampai Anang kembali menghampiri Santi dan Gita, kelihatannya mereka berdua masih mengobrol santai disitu.


"Siapa yang memesan ini?" tanya Anang memecah percakapan kedua wanita itu.


Kedua wanita itu melihat kearah Anang, yang mengangkat sedikit kantong plastik ditangannya.


"Aku."


"Santi!"


Santi dan Gita menjawab pertanyaan Anang bersamaan.


"Kita makan saja dulu. Mumpung makanannya masih panas," kata Santi, yang terlihat berjalan kekamar mandi, dan tak lama Gita juga menyusul Santi ke dalam sana.


Anang hanya bisa termangu melihat kedua wanita itu, lalu meletakkan bungkusan makanan ke lantai.

__ADS_1


Setelah Gita dan Santi keluar dengan tangan basah, barulah Anang yang menggantikan mereka untuk mencuci tangan diwastafel, dikamar mandi.~


Sampai Gita pulang malam itu, sama sekali tidak ada keributan ditempat itu.


Malah kelihatannya Santi dan Gita bisa menghabiskan waktu bersama Anang, tanpa perlu ada perselisihan.


Anang melihat jadwal yang disusun Santi untuk keesokan harinya.


Tidak banyak.


Hanya satu janji yang sudah diterima Santi, itu pun hanya dimalam hari.


"Besok hanya malam saja jadwalnya ya?" tanya Anang sambil duduk dipinggir ranjang dekat jendela.


"Semestinya ada dua. Tapi yang satunya diluar kota, kalau dihitung imbalannya dengan ongkos kesana, tidak cocok. Jadi aku menolaknya," kata Santi lalu ikut duduk dipangkuan Anang.


"Lusa ada janji untukmu keluar kota, yang cocok dengan biaya pengeluaran kesana. Aku sudah menerima tawarannya, malah orangnya sudah mentransfer imbalanmu. Kita bisa sambil jalan-jalan dikota itu nanti," sambung Santi.


Anang memeluk Santi yang sudah duduk diatas pangkuannya, agar tidak terjatuh.


"Kamu terlihat kurang bersemangat. Kelihatannya kamu masih memikirkan tentang Peter tadi ya?" tanya Santi sambil bersandar dileher Anang.


"Iya. Aku masih khawatir kalau-kalau Papamu akan menaruh prasangka buruk denganku," sahut Anang.


"Sudah aku bilang, tidak usah dipikirkan! Aku yang akan mengurusnya nanti!" kata Santi tegas.


Anang hanya bisa terdiam mendengar perkataan Santi.


Mudah-mudahan ayah Santi bisa mengerti keadaan yang sebenarnya, apalagi kalau dari yang didengar dari percakapan Anang dan ayah Santi kemarin, kelihatannya Peter dipercaya ayah Santi.


Kalau Peter yang lebih dulu bicara dengan ayah Santi, kemungkinan besar ayah Santi akan lebih percaya kepadanya dari pada Anang.


Maunya besok mereka...


Hembusan nafas Santi dileher Anang, membuat Anang merasa geli, dan tidak bisa berpikir apa-apa lagi.


Anang tertawa sambil mengerutkan lehernya seperti kura-kura, yang akan menyembunyikan kepalanya kecangkangnya.


"Heh? Kamu mau menjepitku?" tanya Santi.


"Geli...!" sahut Anang masih sambil tertawa.


"Kamu geli, aku sakit! Kenapa kamu nggak mencukur cambangmu? Tadi mandinya lama-lama, tapi keluar-keluar dari sana, cambangmu masih seperti duri kaktus..." ujar Santi.


Anang meraba dagu, dan sekeliling rahangnya, memang terasa tajam seperti parutan kelapa, karena sejak pagi tadi, Anang lupa mencukurnya lagi.


"Rambutmu juga sudah mulai panjang lagi. Besok kita singgah potong rambut ya?!" ujar Santi.


"Siap bos!" sahut Anang, lalu menggoda Santi dengan berpura-pura akan menggosok cambangnya ke wajah Santi.

__ADS_1


"Maaas...! Sakit loh!" ujar Santi, dengan wajah merengut.


Anang berhenti menggoda Santi, lalu mencium bibir wanita itu.


__ADS_2