
"Kita pergi cari makan keluar sambil mengobrol mau?" tanya Lia.
"Aku mau, tapi gimana, Mas? Mau nggak?" tanya Santi kepada Anang.
"Terserah kalian saja," jawab Anang.
"Oke! Kalau begitu ayo kita pergi dari sini sekarang! Aku malu kalau harus lama-lama di acara yang tidak mengundangku," ajak Lia sambil berjalan keluar.
Dengan menumpang mobil Lia, dan atas saran Santi, Lia membawa Anang dan Santi ke sebuah tempat makan dipinggir jalan.
"Kalian nggak mau sekalian kuuruskan pembuatan perjanjian pranikah?" tanya Lia membuka percakapan, ketika mereka sudah duduk di dalam warung makan, yang beratapkan terpal itu.
"Hmm... Kalau aku sih rasanya nggak terlalu butuh itu, tapi terserah Mas Anang. Siapa tahu dia nanti berniat menikah lagi, atau mau bercerai denganku," sahut Santi sambil melirik Anang.
"Heh? Kok jadi aku?" ujar Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku nggak ngerti yang begituan. Terserah kalian bagaimana baiknya aja" kata Anang sambil melihat Lia.
"Bukan cuma masalah nikah lagi atau bercerai, hanya saja lebih baik kalau ada perjanjian pranikah. Sekarang orang-orang menikah pasti kebanyakkannya pakai itu." kata Lia.
"Kalau begitu, sekalian saja. Kami minta tolong Lia uruskan semuanya ya?!" kata Anang.
"Siap! Nanti aku minta anak buahku dikantor yang mempersiapkan berkas-berkasnya." sahut Lia.
"Oh iya, hampir aku lupa. Nanti kirim foto kartu identitas kalian. Jangan lupa ya!" sambung Lia dengan wajah serius.
"Nggak mau ambil sekarang saja fotonya? Kami bawa KTP kok sekarang!" kata Santi.
"Oh, bisa. Mana?" tanya Lia sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya, lalu memotret kartu identitas Anang dan Santi disitu.
Aroma harum bumbu yang ditumis pemilik warung, sempat mengalihkan perhatian mereka bertiga disitu sebentar.
"Jadi lapar..." celetuk Lia sambil tersenyum, melihat Anang dan Santi yang duduk bersebelahan, diseberang mejanya.
"Kenapa kalian tampaknya mendadak mau menikah?" tanya Lia.
"Nggak apa-apa. Aku hanya mau memastikan Santi hanya untukku, dan tidak bisa diganggu kamu lagi," ujar Anang.
Spontan, perkataan Anang membuat ketiganya tertawa lepas disitu.
"Bagus. Kalau sudah menikah, kalian juga bisa saling menjaga. Nggak perlu curiga-curiga'an nggak jelas." ujar Lia pelan.
Wajah Lia tiba-tiba berubah seperti sedang bersedih.
Anang dan Santi bertatap-tatapan sebentar, sambil melihat Lia.
"Ada apa?" tanya Santi.
"Nggak apa-apa. Enak kalau seperti kalian yang normal, bisa menikah, bisa punya anak... Sedangkan aku dengan pasanganku yang sekarang... Ah sudahlah, bukan cuma itu masalahnya" kata Lia.
__ADS_1
Pelayan warung makan, lalu menyajikan makanan pesanan mereka keatas meja.
Uap panas yang mengepul keluar dari makanan yang tersaji, dan aroma harumnya memang memancing selera makan.
"Makan saja dulu!" ujar Lia lalu mengambil piring makanannya, dan mulai menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya.
Begitu juga Santi dan Anang.
"Kamu bisa cerita dengan kami apa masalahmu. Meski kami mungkin belum tentu bisa membantu, tapi paling tidak mungkin bisa mengurangi beban pikiranmu, kalau kamu mau bercerita." kata Santi.
"Hmm... Rasanya pasanganku itu hanya memanfaatkan ku. Aku pernah menangkap basah, saat dia sedang berciuman mesra, dengan seorang laki-laki dalam sebuah club.
Dia memang beralasan kalau dia sedang mabuk.
Tapi rasanya aku nggak bisa percaya begitu saja.
Karena selama ini aku juga bisa mabuk, dan nggak pernah aku melampiaskan hasratku dengan laki-laki, tetap saja sesuai dengan kebiasaanku.
Malah aku biasanya memaksakan diri, agar bisa menahan sampai bisa melakukannya bersama pasanganku itu, dan nggak memuaskan diri diluaran, dengan wanita lain.
Bukannya aku nggak bisa mendapatkan kepuasan semalam dengan wanita lain, tapi rasanya aku nggak mau mengkhianati pasanganku itu." kata Lia.
"Aku mencintainya... Tapi justru itu yang membuatku merasa sangat sakit hati saat melihatnya" sambung Lia.
Anang melirik Santi disitu.
Anang pernah merasakan hal yang sama seperti Lia, meskipun waktu itu Santi hanya berpegangan tangan, dan Anang yang terlalu banyak berimajinasi.
Anang meletakkan tangannya diatas paha Santi, dan meremasnya pelan, dan berhasil membuat Santi menoleh kearah Anang, sambil membesarkan mata.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Santi kepada Lia.
Wajah Lia benar-benar terlihat sedih, matanya berkaca-kaca, seolah sedang menahan tangisnya, agar air mata yang hampir penuh di kelopak matanya, tidak sampai terjatuh ke pipinya.
Lia terlihat menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.
"Mau nggak mau aku masih bertahan dengannya. Kalau bisa kuhapus rasa cintaku dengannya, aku mau menghapusnya sekarang" sahut Lia.
Makanan didepan mereka kini terlihat tidak terlalu menarik.
Seakan ketiganya tenggelam dalam pikiran, yang bisa menghilangkan selera mereka untuk makan.
Untuk beberapa waktu lamanya, mereka bertiga terdiam disitu.
Tanpa melakukan apa-apa, tanpa bersuara apa-apa.
Sampai ponsel Lia yang bergetar, mengejutkan mereka bertiga dari lamunannya.
"Aku balik duluan ya! Maaf aku tidak bisa mengantarkan kalian pulang! Kekasihku menungguku sekarang." ujar Lia, lalu dengan tergesa-gesa, menghampiri penjual makanan disitu.
__ADS_1
"Lia! Nggak usah, nanti kami yang bayar!" seru Santi setengah berteriak.
"Nggak apa-apa." sahut Lia.
Lia lalu kembali menghampiri Anang dan Santi.
"Nanti sering-sering periksa ponsel kalian ya?! Mungkin aku akan sering menghubungi kalian nanti," kata Lia sambil berjalan, menuju kemobilnya, dan melambaikan tangannya kearah Anang dan Santi.
Anang dan Santi hanya memandangi mobil Lia, yang berjalan pergi sampai menghilang dari pandangan.
Santi lalu lanjut memakan makanannya, meski terlihat agak terpaksa.
"Kasihan Lia." celetuk Santi lalu menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.
Anang yang ikut memakan makanannya, hanya terdiam dan tidak menyahut omongan Santi.
"Aku pernah merasakan, perasaan sakit seperti yang Lia rasakan." celetuk Santi lagi.
"Kapan?" tanya Anang yang kini jadi penasaran.
"Waktu aku pulang sendiri dari pesta, lalu kamu asyik berciuman dengan Gita" sahut Santi.
Deg.
Makanan yang ditelan Anang, tersesat masuk ke saluran pernafasannya, dan membuat Anang terbatuk-batuk.
Santi melihat Anang, sambil menepuk-nepuk pelan punggung Anang, sampai Anang bisa bernafas normal kembali.
"Kenapa? Kamu mau menertawakan ku?" tanya Santi ketus.
"Nggak kok!" sahut Anang.
"Aku justru kaget, karena kita hari itu berarti sama-sama sakit hati." sambung Anang.
"Kenapa kamu sakit hati denganku?" tanya Santi yang terlihat bingung bercampur heran.
"Kamu waktu dipesta. Tanganmu dipegang laki-laki bule, waktu aku lagi bernyanyi dipanggung. Aku sampai beberapa kali mengacau nyanyianku, tapi kamu seperti tidak perduli denganku,
Aku kekamar mandi untuk mencuci muka biar fokus lagi, tapi waktu aku kembali kamu sudah tidak ada disitu, begitu juga laki-laki bule itu.
Tahu 'kan kira-kira apa yang mungkin akan aku pikirkan, kalau kamu menghilang dengan laki-laki lain?" kata Anang.
"Aku membiarkan Gita menciumku, saking aku kesal denganmu" sambung Anang.
Santi terdiam mendengar perkataan Anang.
"Itu sebabnya, kamu mengacuhkan ku? Tapi setelah kamu tahu Tom seorang gay, baru kamu bertingkah mesra denganku?" tanya Santi seakan tidak percaya.
"Iya. Sampai-sampai aku menulis banyak lagu galau, yang aku minta kamu dengarkan" kata Anang malu-malu.
__ADS_1
Anang menatap Santi yang memasang wajah datar, sebelum akhirnya Santi tersenyum lebar dan mulai tertawa cekikikan.
"Kita berdua benar-benar bodoh!" ujar Santi yang masih tertawa disitu.