
Meskipun hanya makan siang dengan menu lauk sederhana, pak Handoko terlihat senang dan dengan lahap memakan makanannya, bersama Tejo dan Anang.
Setelah makan siang mereka sudah selesai, Anang yang berniat memeriksa kebunnya, sudah bersiap-siap untuk pergi kesana.
Anang memang merasa tidak sabaran lagi untuk melihat kebun, yang dia tinggal lebih dari sebulan itu.
Pak Handoko yang melihat Anang yang agak gelisah, dan sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, tampak penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Anang sekarang.
"Anang mau kemana?" tanya pak Handoko, ketika mereka masih duduk-duduk diteras.
"Maaf, Pak! Saya mau memeriksa kebunku!" sahut Anang.
"Ooh... Kalau begitu, apa saya bisa ikut dengan Anang?" tanya pak Handoko.
Anang terdiam sebentar.
"Bisa saja, Pak! Kalau bapak mau ikut," sahut Anang, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Tejo, saya pergi dengan Anang dulu. Nanti, sekembalinya saya nanti, baru kita mengobrol lagi," kata pak Handoko, yang juga sudah berdiri.
"Kita sama-sama saja kesana! Saya juga dari pagi tadi, belum sempat ke sawah," sahut Tejo.
"Apa kedatangan saya merepotkan Tejo?" tanya pak handoko.
"Nggak, Pak! Bukan karena Bapak. Saya tadi juga ada yang harus saya lakukan dirumah. Makanya, belum sempat pergi kesana," sahut Tejo.
Dengan berjalan kaki, mereka bertiga menyusuri jalan perkampungan, menuju ke area perkebunan dan persawahan.
Ketika tiba disana, Anang dan pak Handoko pergi ke kebun Anang, sedangkan Tejo, singgah dipondok disawahnya.
Anang kebingungan melihat lahannya yang jauh dari dugaan Anang.
Anang yang mengira kalau rumput akan memenuhi setiap sela areal kebunnya, memandangi kesegala arah dengan terheran-heran.
Kebunnya terlihat bersih dari rerumputan liar, dan hanya tanaman padi yang sudah mulai meninggi saja, yang bisa dilihat Anang.
Begitu juga singkong yang ditanam Anang dan Tejo waktu itu, yang sudah bertunas dan terlihat segar.
Ada bekas orang yang membersihkan, dan merawat lahannya itu.
Tapi, siapa?
"Kenapa?" tanya pak Handoko, yang berdiri didekat Anang.
"Nggak apa-apa, Pak! Saya cuma bingung melihat kebun ini tetap bersih. Mungkin Tejo yang membersihkannya selama ini," sahut Anang.
Pak Handoko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berjalan pelan melihat-lihat semua tanaman dikebun milik Anang.
__ADS_1
Sesekali pak Handoko bertanya kepada Anang tentang tanaman-tanaman yang ada disitu, dan Anang menjawab sebisanya.
"Pekerja dilahan sebelah yang banyak mengajari saya..." ujar Anang.
Setelah cukup lama berjalan-jalan didalam kebun Anang, pak Handoko terlihat lelah dan berkeringat cukup banyak.
"Kita pergi ke pondok Tejo saja, Pak!" ajak Anang, kepada pak Handoko.
"Oh... Oke!" sahut pak Handoko.
Anang dan pak Handoko, lalu mendatangi Tejo yang duduk bersantai, sambil memandangi sawahnya dari atas pondoknya.
"Jo! Kamu yang membersihkan kebunku?" tanya Anang, setelah mereka sudah dipondok Tejo, dan pak Handoko naik keatas situ dan ikut duduk didekat Tejo.
"Bukan aku... Tuh! Pekerja-pekerja dari lahan sana!" sahut Tejo, sambil menunjuk dengan wajahnya kearah lahan tetangga.
"Iyakah?" tanya Anang heran.
"Iya! Waktu aku pergi memeriksa kebunmu, mereka sudah disitu, lagi bersih-bersihkan rumput. Bahkan mereka juga yang menyiramkan tanamannya," sahut Tejo.
Anang yang masih berdiri didekat pondok, lalu terpikir untuk mendatangi pekerja-pekerja dilahan tetangga untuk berterima kasih.
"Pak! Saya kesana dulu, ya?! Bapak bisa beristirahat disini saja dengan Tejo," ujar Anang kepada pak Handoko.
"Oh.. Iya!" sahut pak Handoko santai.
Anang baru tahu, kalau ternyata, mereka juga suka bermusik.
Semakin Anang mendekat, Anang semakin bisa mendengar dengan jelas suara mereka disitu.
Suara mereka terdengar merdu, meski lagu yang mereka nyanyikan, memakai bahasa yang belum pernah didengar Anang sebelumnya.
Mungkin saja itu bahasa daerah mereka.
"Terimakasih, sudah membantu merawat kebunku, selama aku nggak ada!" ujar Anang, kepada mereka yang berhenti bernyanyi, ketika Anang menghampiri mereka disitu.
"Nggak perlu berterima kasih, Mas...! Bos yang..." salah satu pekerja yang menyahut perkataan Anang, tidak melanjutkan kalimatnya, karena salah satu temannya menyenggol tangannya, seolah-olah memang sengaja menghentikan perkataannya.
Anang sempat merasa heran dengan gerak-gerik mereka, tapi, belum sempat Anang bertanya sesuatu, salah satu pekerja lalu berkata,
"Nggak apa-apa, Mas! Kami juga nggak terlalu banyak pekerjaan lagi."
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil memandangi sekelilingnya.
Kearah mana saja mata Anang mampu memandang, kebun tetangga itu memang sudah terlihat bersih, dan rapi terawat.
"Kenapa kalian berhenti bernyanyi?" tanya Anang.
__ADS_1
"Lanjut saja! Aku juga suka musik!" sambung Anang.
"Duduk, Mas!" ajak mereka, mempersilahkan Anang untuk duduk bersama-sama mereka disitu.
"Kami cuma banyak tahu lagu-lagu daerah..." ujar salah satu pekerja, yang sedang memegang ukulele ditangannya.
"Nggak masalah..." sahut Anang santai, lalu ikut duduk dengan mereka.
Para pekerja itu lalu lanjut bernyanyi, masih dengan lagu-lagu daerah yang menurut Anang tetap menarik, meski Anang tidak mengerti arti dari liriknya.
Nada dan irama yang cukup bersemangat, dipadu dengan suara khas pekerja-pekerja itu, benar-benar menarik perhatian Anang.
Suara mereka semua, terdengar seperti grup penyanyi koor, yang memiliki nada suara yang saling melengkapi.
Sesekali, Anang melihat kearah pondok Tejo, dan tampaknya pak Handoko juga sedang berbincang-bincang dengan Tejo disana.
Setelah cukup lama Anang disitu, dan Anang hampir ditawarkan untuk dibuatkan minum, Anang menolak dengan halus, lalu berpamitan untuk kembali ke pondok Tejo.
"Aku datang bersama keluarga dari kota. Nggak enak kalau aku meninggalkannya terlalu lama," ujar Anang beralasan.
Sebelum Anang berjalan pergi dari situ, Anang sempat menawarkan para pekerja itu, kalau mau meminjam gitarnya, tinggal beritahu saja, nanti akan Anang bawakan kesitu.
"Terimakasih banyak bantuannya, ya?!" ujar Anang.
"Sama-sama, Mas!" sahut pekerja-pekerja itu hampir bersamaan.
Anang lalu berjalan pergi, menuju ke pondok Tejo.
Dari kejauhan, Anang melihat Pak Handoko tampak akrab berbicara dengan Tejo, dan seolah-olah ada yang menarik yang mereka berdua bicarakan, dengan raut wajah santai.
Yang agak terasa aneh bagi Anang, saat Anang sudah semakin mendekat, kedua orang itu seakan-akan sengaja menghentikan pembicaraan mereka, dan hanya memandangi Anang yang berjalan menghampiri mereka disitu.
Tapi, Anang tidak mau berburuk sangka.
Memangnya, pembahasan apa yang bisa mengganggu Anang.
Rasanya, tidak mungkin kalau pak Handoko membicarakan sesuatu yang buruk tentang Anang, dibelakang Anang.
Meskipun begitu, ada sedikit rasa yang mengganjal dihati Anang.
Mengingat gelagat pekerja-pekerja tadi, yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu dari kalimatnya yang tidak selesai diucapkan, begitu juga Tejo dan pak Handoko yang tampak bertingkah sama.
Sudahlah...
Mungkin semua hanya kebetulan, dan hanya perasaan Anang saja yang terlalu sensitif.
Anang lalu ikut duduk diatas pondok, bersama pak Handoko dengan Tejo.
__ADS_1