SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 191


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Anang yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


Santi menghela nafas panjang.


"Nggak ada yang tiba-tiba... Selama aku diluar negeri, semua gerak-gerikmu dikampung ini, aku memantaunya lewat Tejo," ujar Santi.


"Waktu kamu dikota, Papa dan Lia yang menceritakan kepadaku, apa saja yang kamu lakukan...


Aku merasa jadi orang paling bodoh didunia ini, kalau aku membiarkan kamu, sampai benar-benar berpisah dariku," sambung Santi.


"Jadi selama ini, kamu sering berhubungan dengan Tejo?" tanya Anang.


"Bagaimana dengan katamu, kalau dia pernah melamarmu?" tanya Anang lagi.


Santi melepaskan pelukannya dari Anang, lalu berjalan kembali ke dapur.


Dengan duduk berpangku di atas paha Anang dikursi dapur, Santi lalu bercerita.


"Dia memang sempat bertanya, kalau-kalau aku memang nggak akan menikah denganmu, lalu memintaku agar menikah dengannya saja...


Atau paling nggak, dia meminta aku memberikan dia kesempatan, untuk mencoba lebih dekat denganku. Kalau nggak salah, dia mengatakan itu, waktu Gita datang kesini..." ujar Santi.


"Nggak mungkin aku mengiyakan hal yang nggak pasti. Sudah cukup aku melukaimu..." sambung Santi.


"Tapi, hubungan kalian masih biasa-biasa saja?" tanya Anang.


"Iya... Aku memberitahunya, kalau aku hanya bisa berteman saja dengannya, karena aku masih sayang denganmu," sahut Santi.


"Hmmm... Tampaknya dia mau mengerti...


Karena, selama waktu yang berjalan, saat kami saling menghubungi, dia nggak pernah menyinggung masalah itu lagi.." sambung Santi.


"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Anang


"Selain menanyakan kabarmu?" Santi balik bertanya.


"Banyak!" sambung Santi.


"Apa?" tanya Anang penasaran.


"Hmmm... Kamu lihat saja besok, sebelum kita pergi ke kota. Kamu nanti tahu sendiri," sahut Santi.


Anang terdiam, sambil menduga-duga, apa yang akan dia lihat besok.


Tiba-tiba, Santi tertawa pelan sendiri.


"Ada apa?" tanya Anang.


"Kamu ingat waktu Gita kesini? Kata Gita, dia membawa temannya, kalau nggak salah namanya Ayu," sahut Santi.


"Hmmm... Iya... Ayunda," ujar Anang.


"Nah! Itu namanya!" kata Santi bersemangat.


"Gita berencana mencoba mendekatkanmu dengan temannya itu. Tapi, kelihatannya nggak berhasil, ya?" tanya Santi.

__ADS_1


"Heh? Kalian mempermainkanku?" tanya Anang ketus.


"Bukan begitu... Gita hanya mencoba saja. Karena aku bilang, kalau kamu nggak pernah menghubungiku. Jadi, kemungkinan besar kamu memang benar-benar mau melupakanku," sahut Santi.


"Kata Gita, dia tahu, kalau dia sudah pasti nggak akan ada kesempatan, untuk kembali dekat denganmu. Gita juga sudah tertarik dengan Tejo...


Jadinya, dia membawa Ayunda, untuk melihat kalau-kalau kamu akan tertarik dengan wanita itu, lalu aku mendukung rencana Gita," sambung Santi.


"Keterlaluan...! Kalian membuatku seperti kelinci percobaan," ujar Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maafkan aku...! Tapi, karena itu, aku juga jadi yakin kalau kamu masih sayang denganku," sahut Santi.


"Meskipun kamu hanya mau menghubungi aku, saat Papa sedang dalam masalah," sambung Santi.


"Kamu sudah tahu?" tanya Anang.


"Sudah...! Semuanya...! Papa sudah menceritakannya," sahut Santi.


"Kamu belum meminta maaf kepadaku, karena membohongiku waktu itu!" sambung Santi, sambil mencubit pipi Anang.


"Eh! Bukannya aku berniat membohongimu. Tapi, aku mau Papamu saja yang memberitahumu," ujar Anang.


"Sama saja!" kata Santi ketus.


Anang bertatap-tatapan dengan Santi, dan entah siapa yang mendekati siapa, tahu-tahu bibir mereka berdua sudah bertautan dengan lembut disitu.


Ketika Anang mengintip untuk melihat Santi, Santi tampak menikmati ciumannya dengan memejamkan matanya.


Melihat itu, Anang makin bernafsu untuk mencium Santi, bahkan memegang dada wanita itu dan meremasnya pelan, dengan sebelah tangannya.


Tangan Santi juga meremas belakang leher Anang, dan keduanya seakan lupa dengan apa-apa lagi.


Anang sempat melihat Tejo, tapi berpura-pura seolah-olah tidak menyadari kedatangan Tejo, sampai akhirnya Tejo berbalik, dan meninggalkan mereka berdua disitu.


Ketika Anang merasa cukup puas mencium Santi, sambil tetap memeluk Santi erat-erat, Anang lalu berbisik,


"Aku mencintaimu...! Kamu tahu itu 'kan?"


"Iya... Aku tahu," sahut Santi.


Santi lalu beranjak turun dari pangkuan Anang.


"Tejo, pasti bingung kenapa kita lama sekali didalam sini," celetuk Santi.


Anang ikut berdiri, lalu mengangkat nampan berisi gelas, dan hanya bisa berpura-pura seperti dia tidak tahu apa-apa.


Santi berjalan kedepan terlebih dahulu, dan Anang menyusul tepat dibelakangnya, sambil membawa teh untuk mereka minum.


Ketika mereka sudah diteras, Tejo belum terlihat lagi disitu.


Santi menatap Anang, dengan raut wajah seperti orang kebingungan.


"Tejo belum kembali?" tanya Santi heran.


Anang yang meletakkan nampan keatas meja, menaik-turunkan kedua bahunya bersamaan.

__ADS_1


"Nggak tahu!" sahut Anang.


Santi lalu duduk dikursi, begitu juga Anang yang ikut duduk disitu.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Anang.


"Aku sudah mengurusnya... Makanya, beberapa hari kemarin aku benar-benar sibuk. Aku nanti berkuliah daring. Jadi, aku nggak perlu kembali keluar negeri," sahut Santi.


Tak lama, Tejo terlihat berjalan memasuki halaman rumahnya.


"Kamu pergi beli apa?" tanya Santi.


"Aku tadi pergi membeli ini!" sahut Tejo, sambil meletakkan sebungkus kantong plastik, berisi butiran telur dan beberapa bungkus mie instan, keatas meja.


"Bukannya masih ada makanan didapur?" tanya Anang.


"Bosan... Lagi mau makan ini saja," sahut Tejo.


Tejo lalu menyesap teh yang sudah mulai dingin.


"Bagaimana?" tanya Tejo.


"Apanya?" Anang balik bertanya.


"Kelihatannya kalian berdua kembali bersama lagi," ujar Tejo.


"Iya... Kami melanjutkan rencana kami untuk menikah," sahut Santi.


"Hmmm... Baguslah, kalau begitu," kata Tejo.


"Besok siang kami ke kota. Kamu mau ikut? Lusa, kami menikah," ujar Santi.


Tejo terlihat menghela nafas panjang, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, aku ikut! Nggak mungkin aku nggak hadir, sedangkan aku tahu kalau teman-temanku akan menikah," ujar Tejo, lalu tersenyum.


Anang bisa melihat kalau Tejo, tampak memaksakan diri agar kelihatan tegar.


Tapi, tidak menjadi masalah bagi Anang.


Toh, Tejo tidak memaksakan kehendaknya, dan masih mampu menahan diri.


Tejo tetap teman yang baik bagi Anang.


Meskipun Tejo jatuh hati dengan wanita yang juga dicintai Anang, itu masih hal yang wajar.


Apalagi, kalau yang Anang tangkap dari cerita Santi, berarti Tejo masih mengatakan hal yang baik tentang Anang, dan tidak menjelek-jelekkan Anang.


Bukan awal, ataupun pertengahan, melainkan bagian akhirlah penentuannya.


"Setelah menikah nanti, kalian menetap dikota atau kembali kesini?" tanya Tejo.


"Belum tahu pastinya. Nanti, kami lihat keadaannya dulu," sahut Anang.


Tejo lalu mengajak mereka masuk kedalam rumah, untuk makan malam bersama.

__ADS_1


Sambil Anang menyiapkan peralatan makan, Tejo merebus air untuk mie instan, karena mereka semua memilih untuk makan mie instan saja.


"Kelihatannya, kamu masih akan mendapatkan kejutan lain lagi dari Santi," celetuk Tejo, berbisik kepada Anang.


__ADS_2