
Nampaknya Anang harus menarik perkataannya.
Berani itu bagus, tapi jangan kelewatan beraninya.
Santi memang membalas ciuman Anang dibibirnya, begitu juga rangkulan Santi seakan sedang bertingkah mesra dengan Anang.
Hanya saja, ekspektasi Anang mungkin terlalu tinggi.
Sepertinya Anang sudah salah menduga, kalau Santi sungguhan menerima cinta Anang.
Santi menggigit bibir Anang.
Sebenarnya nggak kuat-kuat amat, tapi, berhubung itu adalah bagian yang lembut diwajah Anang, rasa sakitnya jangan ditanya.
Kalau nggak percaya, coba saja sendiri!
Anang meringis, dan menghentikan ciumannya saat itu juga.
"Jangan bermain-main denganku! Kamu pikir, semudah itu aku bisa percaya?!" ujar Santi sambil tersenyum sinis.
Santi seolah-olah sedang mengejek Anang.
Tidak bisa dibiarkan!
Anang sudah serius setengah nafas, malah dikira main-main.
Apa mau Anang buktikan, dengan melamar Santi sekarang?
Bagaimana kalau Anang belum punya cincinnya?
Masa Anang pakai k*nd*m yang dibolongin?
Ehhem. Ehhem...
Jangan kejauhan mikirnya,
Nanti bukan cuma menikah, bisa-bisa, Anang nanti akan langsung dapat gelar 'ayah'.
Sabar... Masih belum waktunya. Ayah masih mau berbulan madu dengan calon ibumu, Nak!
Heh!
Tambah aneh saja isi pikiran Anang sekarang, ckckck.
Maksudnya, k*nd*mnya dipotong sampai tertinggal ring-nya saja.
Tapi, pasti akan longgar dijari kecil Santi, 'kan?
Ada saran?
"Aku nggak main-main! Kamu mau aku buktikan dengan apa?" tanya Anang.
Santi tertawa terbahak-bahak.
Santi lalu memegang dagu Anang, lalu berbisik ditelinga Anang,
"Sayang! Apa kamu yakin sudah siap memberiku bukti?"
Mulut Santi yang seperti penyedot debu di jakun Anang, memang membuat Anang percaya diri, dan tidak bisa berpikir jernih.
"Iya!" sahut Anang mantap.
Apa perlu menunggu?
Tentu saja tidak.
__ADS_1
Anang tidak perlu menceritakan kejadian selanjutnya 'kan?
Masih seperti biasa, yang berbeda kali ini, hanyalah bibir Anang yang bebas berkeliaran, dari ujung rambut sampai ujung kaki Santi.
Anang makin terobsesi dengan Santi.
Cocok?
Iya. Keduanya harus mengunjungi psikiater secepatnya.
Kalau tidak, obsesi Anang yang mulai berlebihan dengan Santi, akan membuat Anang tidak bisa bekerja.
Masih ingat pesta pernikahan, yang hampir membuat Anang memecahkan cermin? Itu contohnya.
Kekurangan Anang, Santi, dan Gita, membuktikan kalau setiap manusia pasti punya dua sisi mata uang.
Kelebihan, dan kekurangannya masing-masing, tidak bisa dipisahkan.
No body's perfect. Deal?
Rasa cinta Anang kepada Santi yang perlahan-lahan seakan berubah jadi obsesi, kemungkinan besar akan membuahkan hubungan yang tidak sehat.
Tapi, Anang tidak terpikir sejauh itu.
Anang hanya berpikir kalau segala sesuatu, baik kekurangan atau kelebihan, tetap akan ada manfaatnya nanti.
Yang buta peniup lesung, yang peka pelepas bedil.
Mudah-mudahan saja pikiran Anang itu benar adanya. ~
"Aku menyayangimu. Tapi, justru itu yang membuatku cemas, kalau-kalau aku hanya akan menyakitimu," celetuk Santi sambil menatap Anang.
Perkataan dan tatapan lembut Santi, mengguncang jantung Anang, sampai berdegup sangat kencang.
Anang mempererat pelukannya, sampai Santi benar-benar tenggelam didada Anang.
Jangan kamu berdiam diri, sampai membuatku menduga-duga yang aneh-aneh!" ujar Anang.
"Aku sempat khawatir, kalau kamu akan meninggalkan aku," sambung Anang, sambil mengecup kepala Santi.
Keduanya tertidur pulas ditengah keributan suara hujan, yang semakin lebat mengguyur daerah itu.~
Setelah selesai berolahraga pagi, Anang yang sudah lebih dulu mandi, melihat Santi yang masih berbaring menyamping, sambil memandangi Anang, yang memilih pakaian dari dalam lemari.
Santi tampaknya tidak bahagia dengan keputusannya menerima Anang.
Raut wajah Santi terlihat sedih.
Jangan bilang dia tidak puas dengan Anang,!
Hanya dengan berlilitkan handuk, Anang berjongkok disamping ranjang.
"Ada apa?" tanya Anang sambil mengelus pelan rambut Santi.
"Nggak ada apa-apa," sahut Santi dengan senyum yang terlihat hanya dipaksakan diwajahnya.
Santi lalu beranjak turun dari ranjang, dan berjalan melewati Anang yang masih berjongkok disitu, kemudian menuju kamar mandi.
Daripada masih pagi, lalu kepala Anang sudah penuh dengan pertanyaan, lebih baik Anang menyusul Santi.
Air pancuran sudah mulai membasahi Santi, saat Anang menyusul masuk kedalam situ.
Anang melepas handuknya, lalu ikut basah-basahan dengan Santi, dan cukup membuat Santi terkejut saat Anang tiba-tiba sudah memeluknya.
"Aku sudah bilang kalau kamu harus bicara denganku, kalau ada yang mengganggu pikiranmu," ujar Anang pelan.
__ADS_1
"Hmm... Kita nggak usah pacaran dulu ya? Kita jalani saja dulu!" kata Santi yang terdengar berhati-hati.
Ah, ini nih.
Benar dugaan Anang, kalau Santi tetap tidak mau hubungan mereka lebih dari yang ada sekarang.
Bagaimana caranya agar Santi benar-benar bisa menerima Anang?
"Terserah kamu saja. Asal kamu nggak tiba-tiba menghilang dariku," sahut Anang.
"Tapi, apa aku bisa menyentuhmu didepan orang banyak? Aku ingin sekali menciummu, tapi aku takut kamu marah," sambung Anang penuh harap.
Santi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Oke, kalau begini, nggak apa-apa.
Berarti Anang bisa mencium, dan memeluk Santi kapan pun Anang mau.
"Sudah? Aku mau mandi," ujar Santi.
Anang mencium bibir Santi sekejap, lalu berkata,
"Sudah!"
Meskipun nggak pacaran, tapi kalau rasanya seperti orang pacaran, apa ruginya?
Anang memakai handuknya lagi.
Hari ini cukup sibuk, ada jadwal siang, sore, juga malam hari.
Anang harus bersiap-siap dengan janji-janjinya.
Untung saja, sekarang Anang tidak perlu sibuk mencuci pakaiannya, Santi sudah mengurus pakaian mereka dijasa tukang cuci.
Santi mengurus ini, Santi mengurus itu, kalau sampai Santi menghilang, Anang memang akan ikut kehilangan arah.
Anang sekarang harus bekerja lebih keras, agar pekerjaannya berjalan lancar, dan berusaha menjaga Santi agar tetap bertahan dengannya.
Diluar, hujan masih saja mengguyur dengan derasnya.
Sejak malam tadi, air hujan tetap berjatuhan terus-menerus tanpa henti, seolah-olah awan yang bermuatan air tidak ada habisnya.
Anang melihat jam di ponselnya.
Masih ada banyak waktu, kurang lebih satu setengah jam lagi, sebelum mereka harus pergi ditempat undangan pertama siang itu.
Anang memakai kaus dan celana pendek, lalu duduk dipinggir ranjang didekat jendela.
Anang jadi teringat tempat kost lamanya yang dibawah jembatan layang, mungkin sekarang banjirnya semakin meluas.
Tempat kumuh, tapi tempat itu yang membuat Anang bisa menemukan jalannya untuk pekerjaannya sekarang.
Begitu juga karena Anang tinggal ditempat itulah, sampai Anang bisa menemukan Santi.
"Lagi melamun apa?" tanya Santi.
Anang menoleh, dan melihat kearah Santi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Nggak ada. Cuma teringat kost-kostan kita yang lama. Mungkin sekarang sudah lebih besar daerahnya yang tenggelam dalam banjir," sahut Anang.
Santi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Kamu mau mengunjungi tempat itu nanti sore?" tanya Santi sambil memakai pakaiannya.
"Bukannya sore ada jadwal?" Anang balik bertanya.
__ADS_1
"Nggak jadi. Acaranya 'kan diluar ruangan. Kalau hujan begini, mana bisa dilanjutkan," sahut Santi.