SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 58


__ADS_3

Setelah disepanjang perjalanan, Anang melihat gelagat aneh supir yang mengantarnya, begitu juga ketika tiba di alamat yang diberikan pada Anang, benar-benar membuat Anang merasa was-was.


Tampaknya memang ada yang tidak beres.


Anang menyalakan layar ponselnya.


Santi belum menghubunginya.


Rasanya Anang mau saja menghubungi Santi lebih dulu, dan menanyakan tentang undangan itu.


Tapi Anang tidak bisa melakukannya.


Santi sudah berkali-kali berpesan kepada Anang, kalau Anang tidak boleh menghubungi Santi, dan Anang harus menunggu sampai Santi yang menghubunginya terlebih dulu.


Apalagi kalau hanya untuk urusan pribadi.


Maklum, mungkin Santi tidak mau kalau dia sedang asyik menari, lalu ponselnya berbunyi, dan mengganggu konsentrasinya.


Wajar saja.


Semua orang pasti butuh privasi.


Anang merasa ragu untuk memasuki gedung dengan lampu hias berwarna-warni, yang berkelap-kelip menutupi pintu masuknya, dan dengan sedikit cahaya itu saja yang menerangi tempat itu.


Tanpa ada tanda, atau papan nama gedung yang tertera disitu.


Anang masih berdiri diluar menatap gedung, yang berdiri terpisah agak jauh dari gedung-gedung yang lain.


Disekitar gedung yang gelap, Anang tidak tahu ada apa disana. Meski banyak mobil yang terparkir dihalaman depan, tapi suasananya tetap sunyi, dan agak mencekam.


Sebenarnya ini tempat apa?


Baru saja Anang berbalik, hendak membatalkan saja janjinya itu, sebuah mobil berhenti tepat diluar pintu pagar kawat gedung itu.


Santi keluar dari dalam mobil itu, dan berjalan menghampiri Anang.


Tanpa banyak bersuara, Santi menggandeng Anang lalu berjalan memasuki gedung itu.


Penampilan Santi sangat kasual, hanya dengan kaus ketat, dan celana jeans panjang, dan sepatu olah raga.


Anang hanya mengikuti Santi tanpa mau bertanya, atau pun berkomentar banyak.


Ruangan didalam gedung itu lebih aneh lagi, lampu temaram berwarna merah menjadi penerangnya.


Banyak sekali laki-laki yang tampaknya bukan orang lokal, semuanya orang asing, hanya memakai celana panjang, atau celana pendek, dan bertelanjang dada.


"Nggak usah takut. Aku menemanimu," ujar Santi setengah berbisik.


Melalui Santi, Anang dipersilahkan duduk ditempat duduk terpisah, oleh salah satu laki-laki disitu, yang penampilannya sama dengan laki-laki yang lain.


Bertelanjang dada.


Sedangkan Santi lalu terlihat berbicara dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Setelah Anang memperhatikan laki-laki itu baik-baik, kelihatannya laki-laki itu yang berbicara dengan Santi diacara pernikahan tadi siang.


Benar.


Dengan gayanya, dan santainya memegang tangan Santi.


Hanya karena laki-laki itu tidak memakai baju dibagian atas tubuhnya, makanya Anang agak kesulitan mengenalinya.


Apalagi dengan lampu diruangan itu, yang hampir tidak ada gunanya sama sekali.


Acara apa, dan kenapa orang-orang disitu berpenampilan aneh begitu?


Terlihat ada beberapa pasang mata, yang menatap Anang dengan tatapan yang aneh, sambil senyum-senyum sendiri.


Anang bergidik ngeri.


Anang melihat Santi masih berbicara dengan laki-laki itu sebentar, lalu berjalan menghampiri Anang, kemudian duduk disamping Anang, dan menggenggam tangan Anang.


Ketika Santi sudah duduk, Anang melihat mata-mata yang melihatnya tadi, dan tampaknya mereka sudah tidak memandangi Anang.


Benar-benar aneh. Apa mungkin...


"Tunggu sebentar lagi. Ada yang masih belum datang. Kamu hanya perlu menyanyikan lagu Mister Grand untuk istrinya waktu itu,


Lalu kita bisa langsung pulang. Atau kalau kamu mau menonton sebentar juga bisa. Terserah kamu saja nanti," kata Santi enteng.


Tak lama, laki-laki yang tampak akrab dengan Santi tadi, menghampiri Anang dan Santi, lalu berbicara dengan Santi sebentar.


"Kamu bisa bernyanyi sekarang," kata Santi, sambil melepas genggamannya dari tangan Anang, kemudian meletakkan tangannya diatas paha Anang.


Santi terlihat seperti singa yang sedang menandai wilayah teritorialnya.


Tapi Anang tidak terlalu mau memikirkannya.


"Aku bernyanyi disini?" tanya Anang.


"Iya. Sambil duduk begitu saja," sahut Santi, yang masih memegang paha Anang.


Anang kemudian memainkan gitarnya sambil bernyanyi, dengan tangan Santi diatas pahanya, Anang merasa tenang, dan bisa bernyanyi dengan baik.


Kali ini Anang tidak memejamkan matanya, untuk menghindari gangguan didepannya yang bisa merusak konsentrasinya.


Mata Anang sibuk melirik tangan Santi yang tetap memegangnya.


Anang memang bodoh, dan dibutakan dengan cintanya kepada Santi.


Untuk apa dia merasa bahagia hanya karena Santi menyentuhnya?


Padahal tadi siang sampai ke sore, Anang hampir gila dibuat Santi, atau bayang-bayang prasangkanya tentang Santi.


Sampai Anang selesai bernyanyi, Anang masih memandangi tangan Santi.


Hadeh!

__ADS_1


Tampaknya, Anang memang perlu disiram dengan air se'ember, sama-sama dengan ember-embernya, biar benjol sekalian.


Jatuh cinta, taik kucing pun rasa cokelat.


Anang masih tidak mau sadar dari mimpinya.


Meski orang-orang dihadapannya, mengeluarkan suara aneh, Anang masih menatap tangan Santi.


Sampai akhirnya Santi menarik tangannya, barulah Anang tersadar, dan melihat kearah orang-orang yang menontonnya bernyanyi tadi.


Pemandangan di pesta Lia waktu itu, sudah aneh?


Didepan Anang kali ini lebih aneh lagi.


Mata Anang terbelalak.


Anang melihat laki-laki yang bersama Santi dipesta tadi siang, tampak menikmati permainan lawannya, yang juga sama-sama memiliki 'pedang'.


Anang mendengar suara Santi yang cekikikan, disampingnya.


Anang menoleh dan melihat Santi yang menutup mulutnya, menahan tawanya, mungkin agar tidak mengganggu konsentrasi pemeran adegan didepan mereka.


Berarti Anang hanya buang-buang energi, dengan merasa cemburu kepada Santi dengan laki-laki penyuka 'Anggar' itu.


Anang kembali melihat laki-laki asing tadi, untuk meyakinkan kalau Anang hanya berburuk sangka dengan Santi.


Dan memang benar.


Anang memang hanya cemburu buta, kecuali Santi sekarang sudah ada 'pedang' didalam celananya.


Tidak menarik sama sekali tontonan itu.


Anang merasa mual, dan seakan mau mengeluarkan semua isi perutnya, saat itu juga.


Meski Anang belum pernah makan sosis, tapi Anang mungkin akan membenci, dan merasa jijik dengan sosis selamanya.


Anang melihat Santi lagi, dan berniat mengajaknya pulang.


Tapi Santi terlihat menikmati tontonan didepannya, seperti film komedi romantis, dan hampir tidak berhenti cekikikan, sampai badan Santi berguncang.


Memandangi Santi lama-lama seperti itu, memang membuat Anang lupa daratan, tenggelam dalam lautan mimpi indah.


Mungkin Santi merasa kalau Anang sedang menatapnya sampai mata Anang kering, karena lupa berkedip.


Santi menoleh kearah Anang disampingnya, lalu mendorong wajah Anang agar menghadap kedepan, seolah-olah sedang menyuruh Anang berhenti menatapnya.


Anang menangkap tangan Santi yang menyentuh wajahnya, dan menggenggamnya erat-erat.


Santi kemudian berdiri dari duduknya.


"Imbalanmu sudah ada denganku. Kita tidak perlu mengganggu mereka. Ayo kita pergi makan! Aku lapar," kata Santi, lalu mulai berjalan.


Anang yang masih tidak mau melepaskan tangan Santi, kemudian mengikuti langkah Santi, yang berjalan keluar dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2