
Firasat buruk Anang sore ini, kelihatannya akan terjadi.
Setelah mengajari ayah Santi dan Santi caranya membersihkan kepiting, Anang lanjut mempersiapkan bahan-bahan lain, yang akan dia masak.
Sebenarnya Anang sudah melarang mereka membersihkan kepiting-kepiting itu, biar Anang saja yang mengerjakannya, tapi kedua orang, ayah dan anak itu tetap bersikeras, agar mereka saja yang melakukannya.
Mau tidak mau, Anang membiarkan ayah dan anak itu saja yang berdiri sambil membersihkan kepiting disitu, tidak mungkin Anang harus ikut berdesak-desakan didepan bak cuci piring.
Untuk beberapa waktu yang berlalu, kelihatannya semua pekerjaan didalam dapur itu masih berjalan lancar.
Anang sedang asyik mengupas bawang yang akan jadi bumbunya memasak, ketika teriakan histeris ayah Santi menggema didalam dapur.
Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Anang itu terjadi.
Salah satu jari tangan ayah Santi terjepit dicapit kepiting.
Bayangkan kehebohan yang terjadi, ketika ayah Santi mengangkat tangannya, dan seekor kepiting sebesar telapak tangan Anang, masih menggantung disalah satu jarinya.
Anang dan Santi yang panik, kebingungan mencari cara agar capit kepiting bisa lepas dari jari ayah Santi.
Santi hanya bisa berteriak, karena takut memegang kepiting yang tergantung ditangan ayah Santi.
Sedangkan Anang berusaha menarik lepas, capit kepiting yang menjepit dengan erat jari tangan ayah Santi.
Benar-benar mimpi buruk, bagi Anang yang hampir tidak tahan lagi mendengar teriakan histeris ayah Santi dan Santi disitu.
Anang tidak bisa lagi untuk berpikir dengan jernih.
Anang benar-benar kehabisan akal, dan hanya bisa berusaha memukul kepiting dengan perlahan, karena ayah Santi berteriak kesakitan saat Anang memukul kepiting terlalu kuat, dan mungkin makin mempererat capitannya dijari ayah Santi.
Setelah beberapa kali mencoba melepaskan capit kepiting itu, akhirnya jari tangan ayah Santi bisa terbebas dari jepitannya.
Mereka semua disitu, sekarang bisa bernafas lega, dan teriakan demi teriakan yang sempat mengganggu pendengaran Anang, kini sudah menghilang.
Tertinggal suara keluhan ayah Santi, yang masih meringis kesakitan.
Memang terlepas, tapi bekasnya di jari tangan ayah Santi sampai berwarna biru ke unguan.
Pasti terasa sangat sakit.
"Mau dibawa kedokter?" tanya Anang cemas.
"Nggak usah...! Nggak apa-apa, tinggal cenut-cenut saja," sahut ayah Santi.
Tak lama, suara Santi yang tertawa terbahak-bahak, memecah sisa-sisa suasana tegang didalam dapur.
Meski mata ayah Santi masih berkaca-kaca seakan-akan hendak menangis, tapi masih bisa ikut tertawa bersama anak perempuannya itu.
__ADS_1
Anang menghela nafas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Apa yang dipikirkan ayah dan anak ini?
Santi lalu terlihat kembali mendekat ke bak cuci piring.
"Kamu yang lanjut mengupas bawangnya. Biar aku saja yang membersihkan sisa kepitingnya!" ujar Anang.
Santi menggelengkan kepalanya.
"Nanti mataku pedih..." sahut Santi.
"Kalau begitu, duduk saja disana. Nggak usah membersihkan ini lagi!" kata Anang tegas.
Santi kembali menggelengkan kepalanya, sambil menyikat kepiting ditangannya.
"Santi...! Kamu mau jarimu dicapit kepiting?" tanya Anang sambil membesarkan matanya.
Meski dengan wajah merengut, Santi akhirnya menuruti perkataan Anang, lalu duduk didekat meja, sambil mengupas bawang yang belum selesai dikerjakan Anang tadi.
Entah apa yang dibicarakan ayah Santi dengan Santi, tapi sambil ayah Santi membantu Santi mengupas bawang dan membersihkan sayuran, sesekali mereka berdua terdengar sedang tertawa cekikikan.
Anang melirik mereka beberapa kali, yang kelihatan senang meski jari tangan ayah Santi baru saja dijepit kepiting sampai biru.
"Sudah?" tanya Anang yang baru saja selesai membersihkan, dan memotong-motong kepitingnya.
"Sudah!" sahut Santi sambil memperlihatkan hasil kerjanya kepada Anang.
Mata Anang terbelalak melihat hasil pekerjaan ayah Santi.
Hampir saja Anang tertawa, tapi Anang berusaha menahannya sekuatnya.
Tetap saja, Santi seakan menyadari raut wajah Anang, lalu melihat kearah sayuran yang dibersihkan ayahnya.
Santi tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai Anang tidak bisa menahan diri lagi, dan ikut tertawa.
Ayah Santi tampak bingung, lalu melihat Santi dan Anang bergantian.
"Kenapa?" tanya ayah Santi.
"Ehheem... Ehheem..." Anang terbatuk-batuk.
"Maaf, Pak! Nggak ada apa-apa..." sahut Anang lalu membesarkan matanya kearah Santi, agar Santi berhenti tertawa.
Dua ikat besar sayur kangkung, tapi yang tertinggal di baskom hanya segenggam, karena ayah Santi hanya mengambil daunnya, sedangkan bagian batang sayuran, semuanya disingkirkan ayah Santi.
Santi lalu melanjutkan pekerjaan ayahnya disitu, sambil dibantu Anang.
__ADS_1
Setelah semua bahan sudah siap, barulah Anang mulai memasak, dan Santi yang mengambilkan semua bahan yang Anang butuhkan.
Memang menyenangkan kalau memasak berdua begitu, Anang dan Santi sampai lupa kalau ayah Santi masih disitu, sementara mereka memasak sambil bermesra-mesraan.
Setelah semua sudah selesai dimasak, Anang dibantu Santi dan ayah Santi, lalu mengangkat semua makanan dan menatanya keatas meja.
"Jadi kalian berdua berangkat sama-sama besok?" tanya ayah Santi membuka percakapan, ketika mereka sedang menikmati hasil masakan Anang dan Santi.
"Iya," sahut Santi.
"Berarti kalian menunda pernikahan kalian?" tanya ayah Santi.
"Mau nggak mau, Pak! Sampai kami kembali kesini nanti," sahut Anang.
"Sudah tahu berapa lama kalian harus tinggal diluar negeri?" tanya ayah Santi lagi.
"Belum tahu. Kontraknya nanti disana. Kalau sudah melihat kontraknya, baru kamu bisa tahu butuh waktu berapa lama," sahut Anang.
"Hati-hati nanti di negeri orang! Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi papa!" kata ayah Santi.
Anang dan Santi sama-sama menganggukkan kepalanya.
Hasil masakan Anang kelihatannya cocok dengan lidah ayah Santi dan Santi, keduanya makan dengan lahap, sampai-sampai ayah Santi sempat menambah porsi nasinya.
Setelah mereka selesai makan, Santi dan Anang lalu membersihkan semua peralatan bekas makan, dan peralatan memasak yang mereka pakai.
Sedangkan ayah Santi berpamitan untuk kembali kerumahnya, karena harus mengobati jari tangannya yang dijepit kepiting tadi.
"Kalau kita sudah kembali menetap disini, baru nanti kita memakai bantuan orang untuk mengerjakan tugas rumah..." celetuk Santi, sambil mencuci sisa piring yang masih kotor.
"Terserah saja..." sahut Anang.
Selesai beres-beres didapur, Anang lalu mengambil koper, dan mulai membawanya satu persatu kekamar dilantai atas.
Sedangkan Santi membuka koper yang sudah dibawa Anang, dan menyusun pakaian mereka kedalam lemari.
Santi berbaring terlentang diatas ranjang sambil tersenyum, setelah semua pekerjaan mereka sudah selesai.
"Kenapa?" tanya Anang yang membuka bajunya, dan berniat pergi mandi.
"Nggak apa-apa," sahut Santi lalu ikut berdiri dan membuka pakaiannya.
"Mau mandi?"
"Iya, aku mau mandi juga, rasanya badanku lengket dengan keringat," celetuk Santi.
Kamar mandi disitu lebih mendukung untuk mereka berdua 'bersenang-senang', dengan bath tub yang bisa dipakai berendam berdua.
__ADS_1
Tidak perlu dibahas lamanya mereka 'mandi' didalam sana...
Tahu saja 'kan?