SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 28


__ADS_3

"Sebenarnya aku mau meminta maaf kepada mas Anang. Makanya aku menawarkan diri untuk mengantarkan mas Anang pulang," kata wanita yang ternyata bernama Lia, ketika sedang diperjalanan ke tempat tinggal Anang.


"Aku tadi hanya mencoba mas Anang saja. Soalnya nanti dipesta ku, tidak akan ada satupun laki-laki. Aku tak mau ada kekacauan nanti," kata Lia.


Tidak ada laki-laki?


Kenapa?


Apa Lia khawatir kalau Anang nanti akan jadi rebutan?


"Jadi pestanya khusus untuk perempuan?" tanya Anang penasaran.


"Iya. Pesta para lesbian. Itu bukan pesta ulang tahun. Aku berbohong, karena aku malu kalau sampai teman-teman ku tadi sampai tahu, kalau aku penyuka sesama jenis," kata Lia menjelaskan.


Lesbian?


Ya sudah. Berarti tidak akan ada yang tertarik dengan Anang disana.


"Oh... Saya sempat mengira kalau Lia tadi sedang mabuk," ujar Anang.


Lia tertawa, sambil mengganti persneling mobilnya. Mereka sudah tiba didepan jalan pemukiman Anang.


"Nanti aku jemput mas Anang ya?! Jangan pergi di alamat yang aku kirim tadi. Itu alamat palsu," kata Lia saat Anang keluar dari mobilnya.


Lia masih sempat melambaikan tangan kearah Anang, sebelum mobilnya kembali melaju dijalanan.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ada yang sama gilanya dengan Santi.


Heran, kok yang cantik-cantik pada sakit semua?


Anang berjalan pelan menuju kekamarnya.


Dijalanan yang sempit diantara bangunan liar, Anang sempat melihat ada seseorang yang tampak buru-buru berlari keluar dari dalam perumahan kumuh itu.


Laki-laki itu hampir saja menabrak Anang karena berlari sambil sesekali menoleh kebelakang.


Wajah laki-laki itu tidak dikenal Anang.


Anang merasa curiga, tapi karena tidak ada yang berteriak minta tolong, jadinya Anang tidak terlalu memperdulikannya.


Berarti orang itu bukan penjahat, mungkin hanya tersesat sampai bisa tiba dipemukiman itu.


Sesampainya Anang dikamarnya, dia melihat jam diponselnya, hampir jam dua malam.


Anang mengganti pakaiannya, lalu berbaring dikasurnya.


Sesekali Anang menggeser-geser layar ponselnya.


Hampir semua aplikasi diponselnya, sudah bisa dipakai.


Mungkin Santi yang membuatkannya tadi, waktu Anang sedang sibuk dengan Gita.

__ADS_1


Belum terlalu lama, Anang melihat-lihat layar ponselnya, Anang sudah mengantuk. Setelah mematikan ponselnya, Anang langsung tertidur.


Keesokkan paginya, Anang buru-buru mandi karena dia ingat untuk bernyanyi diundangan pernikahan pagi itu.


Menurut perjanjian waktu itu Anang harus tiba disana sebelum pukul sepuluh, dan melihat alamat tempat acara berlangsung cukup jauh dari tempat tinggal Anang, mau tidak mau dia harus pergi sebelum jam sembilan pagi.


Setelah mandi dan selesai berpakaian rapi, dengan jas, meski tetap tanpa memakai dasi, Anang berjalan keluar dari pemukiman tempat tinggalnya, dan langsung menuju alamat yang diberikan kepadanya di selembar kertas undangan.


Acara yang diselenggarakan di sebuah gedung yang cukup besar, dengan tamu undangan yang cukup banyak sampai hampir memenuhi gedung itu.


Mewah dan megah, itu gambaran yang bisa dilihat Anang.


Anang menghibur para tamu undangan, sambil bergantian dengan penyanyi lain yang juga diminta bernyanyi diacara itu.


Tidak ada yang terlalu istimewa.


Seperti biasa Anang bernyanyi sambil bermain gitar, dengan menampilkan kemampuan terbaiknya.


Terkadang ada yang meminta lagu khusus, tapi tidak menyulitkan Anang, karena rata-rata hanya lagu-lagu tembang kenangan yang Anang sudah tahu, dan hampir menghapalnya diluar kepala.


Disana Anang diberi makan siang, disela-sela pergantian penyanyi.


Anang juga diminta nomor kontaknya dari beberapa tamu yang menyukai penampilannya.


"Nanti kalau kami ada acara, kami akan mengundangmu untuk tampil,"


Kurang lebih begitu, perkataan orang-orang yang menghargai Anang yang bersungguh-sungguh menghibur mereka.


Sampai acara itu usai, dan Anang menerima imbalan yang dimasukkan didalam amplop. Masih ada-ada saja yang meminta nomor telepon Anang.


Anang buru-buru pulang kembali ketempat tinggalnya lagi, karena selepas maghrib dia sudah ada janji lagi untuk bernyanyi ditempat lain.


Setibanya Anang dikamarnya, dia melihat ada bungkusan makanan yang digantung didepan pintunya.


Pasti Santi yang membawakan Anang makanan.


Anang menghela nafas panjang. Dia benar-benar merasa iba dengan wanita itu. Ditengah ekonominya yang juga sulit, Santi masih saja mengingat untuk membelikan Anang makan.


Setelah melepas gitar, membuka jas, dan sepatunya ditukar dengan sendal, Anang kemudian berjalan menuju ketempat Santi.


Baru satu ketukan dipintu kamar Santi, pintunya sudah terbuka.


"Santi!" ujar Anang, sambil berjalan masuk kedalam kamar Santi.


Anang melihat Santi sedang bertelungkup diatas ranjang, dan tampak tidak seperti biasanya.


Ketika Anang mendekat, Santi memalingkan wajahnya menghadap ke dinding.


"Kamu yang membawa makanan ketempatku?" tanya Anang.


Santi hanya terlihat mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara apa-apa.


Anang merasa ada yang aneh, kemudian berjalan menghampiri Santi, lalu duduk diranjang bersampingan dengan Santi yang masih bertelungkup.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Anang.


Santi hanya terdiam.


Memang aneh.


Tampaknya memang ada yang tidak beres dengan wanita ini.


Anang menyentuh punggung Santi.


Pelan, saat tangan Anang memegang punggung Santi, tapi membuat Santi seakan tersentak.


Anang bisa merasa kalau badan Santi gemetar.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anang.


Tubuh Santi masih gemetar, sampai tangan Anang ikut bergetar.


Anang menarik Santi yang bertelungkup, agar berbalik.


Kulit leher Santi yang putih, terlihat membiru, seperti bekas cekikkan yang cukup kuat. Begitu juga dibawah leher hampir kedada Santi ada beberapa luka lebam berwarna biru keunguan.


Ada beberapa titik ditubuh Santi yang berbekas seperti habis dipukuli.


Santi kemudian duduk lalu memeluk Anang, sambil menangis terisak-isak.


"Apa yang terjadi?" tanya Anang sambil mengusap-usap punggung Santi untuk menenangkannya.


Santi masih saja menangis, seakan sedih hatinya tidak mampu dia menahannya lagi.


Santi yang biasanya nakal, dan ceria saat bertemu Anang, kali ini terlihat sangat rapuh.


"Siapa yang melakukan ini padamu? Apa kamu mau cerita?" tanya Anang sambil memeluk Santi erat-erat, dan masih mengusap-usap punggung wanita itu.


"Tadi malam, ternyata ada orang yang mengikutiku pulang. Tapi aku nggak tahu. Aku juga nggak kenal dengan orang itu. Dia memaksaku untuk melayaninya. Tapi karena aku menolak, dia memukulku," kata Santi masih terisak-isak, sambil tetap memeluk Anang.


Berarti orang yang berlari tadi malam, dan dilihat Anang, mungkin itu pelakunya yang memukuli Santi.


"Orang itu memperk*s* kamu?" tanya Anang.


"Nggak sempat. Aku memukul p*nisnya dengan lututku," kata Santi yang kini tangisannya sudah mulai reda.


Anang menghela nafas panjang.


Entah kenapa, Anang merasa lega setelah mendengar perkataan Santi, kalau dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


"Kamu sudah makan?" tanya Santi.


Anang terkejut dengan pertanyaan Santi.


Kenapa Santi seperti ini?


Santi sekarang sedang terluka, tapi masih sempat memikirkan Anang, kalau sudah makan atau belum.

__ADS_1


Kalau Santi begini terus, Anang mungkin akan menyayangi Santi, dan bukan hanya untuk urusan ranjang dan bersenang-senang.


"Sudah! Aku tadi disuruh menyanyi dipesta pernikahan. Aku sudah makan disana tadi," sahut Anang, lalu mengecup pipi Santi sekejap, kemudian mengelus rambut Santi pelan-pelan.


__ADS_2