
Anang kali ini benar-benar bingung, dibuat Gita.
Anang tidak tahu lagi bagaimana caranya bicara dengan Gita, agar dia mau mengerti.
Entah apa maunya Gita sekarang.
Hampir semua alasan yang Anang katakan, tidak ada yang mau didengarkan Gita.
"Kenapa tiba-tiba dia mau menerima mu?"
"Bukannya waktu itu kamu bilang dia hanya mau berteman?"
"Apa dia sekarang khawatir kalau-kalau kamu tidak bisa melayaninya lagi?"
"Kamu hanya dibodohi Santi!"
"Mas! Dia tidak mencintaimu. Kenapa kamu masih mau melamarnya?"
"Aku yang mencintaimu!"
Meski bertubuh kecil, tapi suara yang dikeluarkan untuk pertanyaan dan perkataan Gita, mampu menenggelamkan suara Anang.
Astaga!
Sekian lama tetangga-tetangga Anang yang tidak pernah Anang lihat, kali ini hampir semua pintu terbuka, dan memperlihatkan penghuninya, yang tertarik, atau mungkin terganggu dengan suara teriakan Gita.
"Gita! Tolong mengerti! Kamu sekarang hanya mempermalukanku dan dirimu sendiri!" kata Anang.
Tapi Gita seakan tidak perduli, malah seolah-olah berancang untuk berteriak lagi.
"Berhenti berteriak!" seru Anang yang merasa sangat malu, saat menjadi tontonan orang-orang seperti itu.
Anang membekap mulut Gita, lalu membawanya pergi dari situ.
"Aku akan melepasmu asal kamu berjanji untuk tidak berteriak lagi," kata Anang, ketika Anang dan Gita sudah diluar bangunan kost.
Gita menganggukkan kepalanya.
Anang kemudian melepas bekapan tangannya dari mulut Gita.
"Kamu 'kan sudah tahu kalau aku memang mencintai Santi. Kenapa sekarang kamu seperti ini?" ujar Anang sambil memijat-mijat dahinya.
"Aku cuma mau kamu beri aku kesempatan, sebelum kamu buru-buru menikahinya," kata Gita.
Gita kini terlihat menangis sampai terisak-isak.
"Aku dulu sudah pernah memberimu kesempatan, bahkan sampai dua kali. Apa kamu lupa?" ujar Anang.
Meski Anang tidak tega melihat Gita menangis, tapi Anang harus menyadarkan wanita itu.
Anang juga tidak mau menenangkan Gita lagi, sudah cukup, karena Anang khawatir akan membuat Gita salah paham lagi.
Jangan sampai kalau Anang mencoba menenangkan Gita, lalu Gita mengira kalau Anang memberinya harapan.
__ADS_1
Gita harus sadar dan harus mengerti, kalau Anang bukan orang yang suka bermain-main.
Tangisan Gita seakan tidak bisa reda, dan membuat Anang pusing, dan kepalanya mulai sakit.
"Gita... Sebaiknya kamu pulang saja dulu. Mungkin kamu bisa berpikir jernih, kalau kamu sedang sendiri," kata Anang pelan.
Anang lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam bangunan kost, meninggalkan Gita disitu, tanpa mau berbalik lagi untuk melihat wanita itu.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mimpi apa Anang sampai bisa seperti sekarang?
Dulu, mungkin ada wanita yang menangis didepannya, bukan karena cintanya ditolak Anang, tapi saking takutnya melihat Anang.
Ketika Anang masuk kedalam kamar, Santi terlihat sudah bertelungkup diatas ranjang dengan wajahnya yang melihat kesisi lain tempat tidur.
Anang menghampiri Santi, lalu duduk diatas ranjang, tepat disamping Santi.
"Santi! Kamu marah denganku?" tanya Anang pelan sambil mengusap-usap punggung Santi.
Santi hanya terdiam, tanpa mau menanggapi pertanyaan Anang.
Anang memaksa Santi untuk berbalik.
Santi memang berbalik, tapi dia tidak mau melihat Anang.
Santi memalingkan wajahnya dari Anang.
Anang mengangkat Santi sampai terduduk, dan memeluknya erat-erat.
"Nggak. Omongan Gita itu memang benar. Aku mungkin hanya akan mempermalukanmu nanti. Kalau orang-orang sampai tahu siapa aku," sahut Santi.
"Kamu percaya denganku?" tanya Anang pelan.
"Aku tidak perduli, itu semua cuma masa lalu. Sekarang aku menyayangimu. Itu tidak akan berpengaruh untukku," sambung Anang.
Merasa kalau Santi hanya terdiam, Anang kemudian mengendurkan pelukannya, lalu memegang kedua lengan Santi, agar Santi bisa melihat wajahnya.
"Nggak usah terlalu dipikirkan. Kalau perlu, besok kita kekantor agama, agar kamu percaya kalau aku benar-benar tidak perduli dengan semua omongan Gita, atau siapapun nanti," kata Anang, bersungguh-sungguh.
Santi menatap Anang lekat-lekat, lalu tersenyum dan tampaknya hampir tertawa.
"Aku serius!" kata Anang lagi.
"Apa kamu mau kita langsung ke kantor urusan agama, atau kita temui papamu dulu?" sambung Anang.
Senyuman diwajah Santi menghilang, diganti dengan raut serius seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa? Apa kamu belum mau disahkan, atau kamu masih nggak mau bicara dengan papamu?" tanya Anang.
Anang memang berniat baik. Dan akan jadi lebih baik lagi, kalau hubungan Santi dan orangtuanya bisa kembali membaik.
Santi menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Terserah kamu saja," sahut Santi pelan.
Anang tersenyum puas.
Kalau tidak salah, besok sore, Anang tidak ada jadwal bernyanyi. Itu bisa jadi waktu yang tepat menemui ayahnya Santi.~
Jadwal bernyanyi siang itu biasa saja, hanya karena Anang yang memikirkan, bagaimana dia akan mengawali pembicaraan dengan ayah Santi, yang agak mengacaukan pikirannya.
Begitu juga bayangan-bayangan bagaimana tanggapan ayah Santi nanti, cukup untuk membuat Anang merasa sangat gugup.
Anang tidak bisa melihat kearah lain, selain melihat Santi yang memakai gaun selutut, dan sering tersenyum kearah Anang.
Santi jadi pusat perhatian Anang, sebagai kekuatan untuk meyakinkan dirinya sendiri, kalau tidak akan terjadi apa-apa nanti.
Semua akan baik-baik saja, Anang berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.
Tangan Anang yang dingin dan gemetar, bisa membuat Santi yang memegangnya, menegur Anang ketika mereka sedang duduk.
"Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu sakit?" tanya Santi yang tampak cemas.
"Nggak. Aku nggak merasa sakit," sahut Anang bingung dengan pertanyaan Santi.
"Muka mu pucat, terus berkeringat banyak dikeningmu, tanganmu juga dingin," ujar Santi masih terlihat cemas, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Anang.
"Nggak apa-apa. Mungkin hanya lelah," sahut Anang.
Santi mengerutkan alisnya sambil menatap Anang, seakan tidak percaya dengan apa yang Anang katakan.
"Nggak apa-apa..." kata Anang lagi, untuk meyakinkan Santi, lalu mempererat genggamannya ditangan Santi.
Anang tidak mungkin memberitahu Santi kalau dia takut untuk bertemu ayah Santi, sepulang mereka dari acara ditempat itu.
Bisa-bisa Santi mengira, kalau Anang tidak sungguh-sungguh, dengan perkataannya malam tadi.
Ketika mereka bersiap untuk pergi dari tempat itu, Anang lalu mengingatkan Santi tentang rencananya.
"Jangan lupa! Pesan taksinya untuk pergi ke rumahmu," kata Anang.
Santi hanya melihat Anang sebentar, lalu melihat ketikannya, dilayar ponselnya.
"Kamu sudah tahu mau ngomong apa?" tanya Santi.
"Sudah!" sahut Anang seolah-olah dia yakin, meski sebenarnya, Anang masih belum tahu apa yang harus dia katakan nanti.
Anang bisa melihat kalau Santi tampak enggan untuk bertemu orang tuanya, mungkin hanya karena demi Anang, makanya Santi mau saja menuruti permintaan Anang.
Ketika mereka tiba di perumahan yang menjadi tempat tinggal orang tua Santi, Anang makin gugup saat melihat rumah keluarga Santi.
Astaga...
Rumahnya sebesar istana, seperti rumah gadis yang berulang tahun waktu itu.
Anang jadi rendah diri, dan merasa tidak percaya diri sama sekali.
__ADS_1
Apa mungkin ayah Santi akan menerimanya?