SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 187


__ADS_3

"Habis teleponan dengan siapa?" tanya Anang.


"Hmmm... Seseorang yang cukup penting. Memangnya kenapa?" Santi balik bertanya, sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa. Tanya saja..." sahut Anang pelan.


"Kamu sudah kembali ke kampung, ya?" tanya Santi.


"Iya... Tadi pagi... Tahu darimana?" tanya Anang.


"Hmmm... Kelihatannya, dibelakangmu itu dapur dirumah Tejo," sahut Santi.


"Oh... Iya, aku tadi baru saja selesai memasak untuk makan malam," ujar Anang.


"Masak apa? Aku juga mau mencobanya," kata Santi.


"Ada-ada saja..." sahut Anang.


"Sendirian?" tanya Santi, lalu tersenyum nakal.


"Jangan macam-macam! Ada Papamu dengan Tejo didepan," sahut Anang gemas.


Santi tertawa cekikikan.


"Aku hanya bercanda... Tapi, kalau mau lagi, bisa saja..." sahut Santi, sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku mau... Tapi, nanti saja... Jangan sekarang!" sahut Anang pelan, dan malu-malu kucing.


Santi tersenyum lebar, dan seolah-olah sedang menahan diri agar tidak tertawa.


"Untuk apa Papa ikut denganmu kekampung?" tanya Santi.


"Katanya sih, dia mau jalan-jalan saja," sahut Anang, sambil melihat Tejo yang tiba-tiba menyusulnya ke dapur.


"Kenapa?" tanya Santi, setelah Anang kembali melihat kelayar ponselnya.


"Ada Tejo," sahut Anang.


"Ooh..." ujar Santi.


"Siapa?" tanya Tejo.


"Santi!" sahut Anang, sambil melihat Tejo sebentar, lalu kembali melihat ponselnya.


Dari ujung mata Anang, Tejo terlihat ikut duduk didapur, dan Anang jadi merasa agak kurang nyaman untuk berbicara dengan Santi, saat Tejo ada didekatnya seperti itu.


"Nanti, hubungi aku lagi kalau nggak sibuk ya?!" ujar Anang, sambil melihat Santi dilayar ponselnya.


Santi menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oke!" sahut Santi dari seberang, lalu melambaikan tangannya kepada Anang, sebelum dia memutuskan koneksi panggilan videonya.


"Kamu sudah baikkan dengan Santi?" tanya Tejo.


"Kami memang nggak bertengkar. Dia cuma pergi kuliah saja keluar negeri," sahut Anang.


"Kupikir kamu bilang waktu itu, kalian benar-benar berpisah," ujar Tejo.


"Santi meninggalkan ku untuk berkuliah. Tapi rasanya, aku nggak mau melepaskannya begitu saja. Aku akan menunggunya sampai dia kembali kesini," sahut Anang.


Tejo mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Nggak apa-apa. Berarti, kamu berubah pikiran. Waktu itu 'kan kamu bilang kalau kamu mau melupakannya," sahut Tejo.


"Tejo... Memang, aku sempat mencoba melupakan Santi. Tapi, Aku masih menyayanginya..." ujar Anang pelan.


Tanpa berbicara apa-apa lagi, Tejo lalu berdiri dari duduknya, dan berjalan pergi dari dapur.


Kalau Anang tidak salah menilai raut wajah Tejo, tampaknya teman laki-laki Anang itu juga jatuh hati dengan Santi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sudah beberapa kali Anang bicara dengan Santi, wanita itu juga belum membicarakan apa-apa, tentang pembahasannya dengan Tejo.


Begitu juga dengan Tejo.


Kalau Tejo menghindari pembicaraan tentang itu, tidak mungkin Anang yang harus memancingnya untuk bicara, dan belum tentu Anang bisa tahan mendengarkan, kalau sampai Tejo bicara tentang perasaan antara dia dengan Santi.


Situasi sekarang, Santi yang masih menghindar untuk bicara soal hubungan mereka, rasanya sama seperti saat Anang baru mengenal Santi, yang cuma mau 'bersenang-senang', tanpa ada niatan untuk ke jenjang lebih serius.


Kalau Tejo bisa menggoyahkan hati Santi, bisa-bisa, Anang nanti tersingkir.


Entah apa Anang akan sanggup melihat Santi bersama Tejo, kalau sampai begitu kejadiannya.


Anang menghela nafas panjang.


Pasrah saja, Anang memang tetap berusaha, tapi, kalau memang Santi benar-benar meninggalkannya, dan memilih orang lain, apa mau dikata, itu terserah Santi.


Hanya saja, kemungkinan besar kalau sampai Santi memilih Tejo, Anang mungkin akan menghindar agar tidak bisa bertemu mereka berdua.


Anang lalu berjalan ke teras depan, menyusul Tejo dan pak Handoko disana.


Pak Handoko yang tampak santai, sedang berbincang-bincang dengan Tejo diteras depan.


Anang hanya berdiri dipintu, tanpa ikut duduk lagi di teras itu.


"Pak! Jo! Kita makan malam saja dulu!" ajak Anang.

__ADS_1


"Mari makan dulu, Pak!" ajak Tejo, lalu berdiri dan mempersilahkan pak Handoko berjalan masuk terlebih dahulu.


Anang jadi yang paling terakhir menyusul pak Handoko, masuk kedalam rumah, sampai ke dapur.


Tejo dan pak Handoko, terlihat tidak kalah akrab, jika dibandingkan dengan saat Anang bersama orang tua itu.


Baik pak Handoko, maupun Tejo, tampak seolah-olah sudah saling mengenal lama.


Ada bagusnya, tapi cukup mengkhawatirkan bagi Anang.


Bayangan gila Anang, kalau Anang dianggap Anang oleh pak Handoko, tapi Tejo yang jadi anak menantu orang tua itu, membuat perasaan Anang jadi tidak nyaman.


Setelah selesai makan malam, Anang bersama Tejo membersihkan bekas peralatan makan dan memasak tadi.


Pak Handoko berniat ikut membantu, tapi Anang dan Tejo melarangnya.


Jadi, pak Handoko hanya duduk memandangi Anang dan Tejo disitu.


Setelah semua pekerjaan didapur sudah beres, mereka bertiga kemudian menghabiskan waktu diteras rumah Tejo.


Sempat beberapa kali pak Handoko, dan Tejo seakan menahan diri, untuk membicarakan sesuatu didepan Anang.


Gelagat aneh dua orang itu, mirip dengan yang ditangkap Anang siang tadi, waktu mereka dipondok Tejo.


Kelihatannya, Pak Handoko dan Tejo memang sedang menyembunyikan sesuatu dari Anang.


Tapi, karena Anang tidak bisa menduga-duga apa-apa, mau tidak mau, Anang hanya bersikap santai, seolah-olah tidak ada yang Anang curigai.


"Besok saya akan berjalan-jalan dengan Tejo, melihat-lihat dikampung ini, sekalian mencari kalau-kalau ada tanah atau rumah yang dijual," celetuk pak Handoko.


"Nak Anang mau ikut dengan kami?" tanya pak Handoko.


"Hmmm... Iya, bisa saja, Pak! Dikebun juga sekarang masih bersih," sahut Anang.


"Jadi, Bapak memang serius mau tinggal dikampung ini?" tanya Anang.


"Iya! Setelah menghabiskan waktu seharian ini, saya jadi lebih yakin kalau mau tempat istirahat dikampung ini saja," sahut pak Handoko.


"Kalau kata Tejo tadi, kemungkinan ada saja yang mau menjual rumah atau sebidang tanah pekarangan. Hanya saja, orang disini nggak memasang tanda. Jadi, harus bertanya-tanya saja," sambung pak Handoko.


"Setahu saya, biasanya sih begitu, Pak!" sahut Tejo.


"Memang benar begitu, Pak! Belum pernah saya melihat ada yang memasang tanda 'dijual' seperti dikota, meskipun sebenarnya tempat itu hendak dijual," sahut Anang, mengingat kebun yang dia beli, berikut juga yang disebelahnya, tidak ada yang memasang tanda apa-apa.


"Nah! Kalau saya bersama-sama Nak Anang dan Tejo, mungkin saya bisa lebih cepat bisa ketemu tempat yang cocok," ujar pak Handoko.


Mereka bertiga lalu lanjut berbincang-bincang diteras rumah Tejo, sampai malam semakin larut, dan mereka semua sudah mulai merasa mengantuk.


Ketika Anang sudah didalam kamarnya, Anang masih menyempatkan untuk menghubungi Santi sebentar, sebelum akhirnya Anang tertidur, setelah selesai sekedar berbicara dengan Santi.

__ADS_1


__ADS_2