
Tejo lalu terlihat sibuk mengeluarkan ikan, dan beberapa bahan makanan dari lemari es.
"Aku nggak bisa masak!" celetuk Santi.
"Nggak apa-apa. Mungkin Santi bisa membantu membersihkan sayuran saja," sahut Tejo.
Anang yang duduk didekat meja dapur, hanya bisa melihat gerak-gerik keduanya disitu, sambil ikut membantu membersihkan bumbu dapur.
Santi kelihatannya tertarik dengan kelincahan Tejo mempersiapkan makanan.
Apalagi, ketika Tejo sudah mulai memasak masakannya diatas kompor, Santi terlihat menghampiri Tejo, dan berdiri bersebelahan dengan Tejo, sambil berbincang-bincang dengan Tejo.
Santi dengan Tejo, terlihat seperti suami istri yang saling membantu, saat memasak bersama.
Tangan Tejo yang lincah mengaduk masakannya dipanci, sedangkan Santi yang bolak-balik mengambil bahan-bahan dan memberikannya kepada Tejo.
Anang bingung harus berbuat apa.
Rasanya akan jadi aneh, kalau Anang ikut berdiri didepan kompor bersama Santi dengan Tejo, kalau Anang hanya menonton.
Terpaksa Anang hanya duduk disitu, sambil melihat Santi dengan Tejo, yang sedang memasak.
Sesekali Anang melihat Santi tertawa kecil, saat Tejo berkata sesuatu.
Apa yang lucu?
Meski masakan Tejo, mengeluarkan aroma yang harum, tapi Anang rasanya tidak terlalu tertarik, bahkan tidak mampu memancing rasa lapar diperut Anang.
Anang berkali-kali menghela nafas panjang yang berat dan menghembuskannya pelan, agar dia bisa tetap tenang sambil menunggu, dan menonton adegan didepannya itu.
"Mau makan disini saja, atau mau didepan?" tanya Tejo, yang kelihatannya sudah selesai memasak.
"Disini saja!" sahut Santi yang terdengar bersemangat.
Santi lalu membantu Tejo menata makanan keatas meja dapur, sedangkan Anang yang merasa yakin kalau sekarang dia sedang memasang wajah lesu, hanya melihat Santi dan Tejo yang masih sibuk disitu.
"Kelihatannya enak!" seru Santi sambil tersenyum lebar.
"Silahkan!" sahut Tejo dengan senyum yang tak kalah lebar.
Anang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Santi mengambilkan Anang sepiring nasi, begitu juga untuk Tejo, barulah mengambil nasi untuknya sendiri.
Sesekali Anang melirik Santi yang terlihat lahap memakan makanannya, begitu juga Tejo yang kelihatan senang, sambil melihat Santi yang tampak menyukai hasil masakannya.
Entah kemana perginya selera makan Anang.
__ADS_1
Anang hampir tidak bisa menelan makanannya, dan hanya mengunyahnya lama-lama, ditiap suapannya.
"Kamu pintar memasak!" celetuk Santi disela-sela makan siang itu, sambil tersenyum kepada Tejo.
"Aku lebih banyak tinggal sendiri. Mau nggak mau harus belajar masak, disini tidak banyak yang menjual makanan jadi," sahut Tejo.
"Bukannya Anang juga bisa memasak?" tanya Tejo.
"Hmm... Tempat kami tinggal sementara ini tidak ada dapurnya. Aku dengan Anang lebih sering membeli makanan diluaran," sahut Santi.
Santi dengan Tejo berbincang-bincang, seolah-olah Anang tidak ada disitu.
Apa Anang sekarang tembus pandang?
"Apa teman-teman sekolah kita dulu masih tinggal disini?" tanya Anang mengalihkan pembicaraan.
"Masih! Sebagian... Yang lain banyak yang merantau. Kamu mau bertemu mereka? Aku bisa mengirim SMS agar mereka datang kesini," ujar Tejo.
"Iya," sahut Anang.
Anang menyetujui Tejo, karena Anang berpikir bisa saja kalau saat banyak temannya ada disitu, mungkin perhatian Tejo dan Santi akan sedikit teralihkan.
"Sebentar aku hubungi mereka," kata Tejo yang sudah selesai menghabiskan makan siangnya, lalu berdiri dan berjalan kedepan.
Tak lama Santi juga sudah selesai makan, begitu juga Anang.
Anang lalu membantu Santi membereskan peralatan dapur, yang kotor bekas mereka pakai untuk makan.
Tejo belum juga kembali kedapur, Anang dan Santi lalu mencuci semua barang yang kotor bersama-sama.
"Kalau kita sudah pindah ke rumah yang dibelikan papa, sesekali aku mau kamu memasak untukku, nanti aku membantumu," celetuk Santi setelah mereka selesai mencuci.
"Iya," jawab Anang singkat.
Mendengar jawaban Anang, Santi terlihat senang, dengan senyumnya yang mengembang lebar.
Masih dengan tangan yang agak basah, Santi memegang kedua sisi wajah Anang dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir Anang disitu.
Anang memeluk Santi erat-erat, dan membalas ciumannya dengan lembut.
"Aku jadi nggak sabar pindah ke rumah itu, bersamamu" ujar Santi yang masih memeluk Anang.
Perlakuan Santi kepada Anang, memang sangat menghibur Anang, dari pikiran-pikiran negatif yang sempat membuat korsleting didalam otak Anang.
Anang bisa merasa senang, dan tersenyum lebar.
"Kenapa Tejo nggak balik-balik ya?" tanya Santi tiba-tiba dengan nada heran.
__ADS_1
"Kita tunggu didepan saja," kata Anang, sambil merangkul pinggang Santi dan berjalan keluar dari situ.
Sampai mereka keluar ke teras depan rumah Tejo, teman laki-laki Anang itu juga tetap tidak kelihatan batang hidungnya.
Ketika Anang duduk di salah satu kursi diteras depan rumah Tejo itu, Santi lalu ikut duduk diatas pangkuan Anang, dan membuat tangan Anang agar memeluknya disitu.
"Mungkin kita bisa berlama-lama tinggal dikampung begini. Suasananya enak!" ujar Santi sambil bersandar didada Anang.
"Tenang, nggak berisik seperti dikota, juga masih sejuk," sambung Santi.
Belum sempat Anang berkata apa-apa, Santi lalu beranjak turun dari pangkuan Anang dengan terburu-buru.
Anang lalu melihat Tejo yang sedang berjalan dijalan gang mengarah kembali kerumah itu, sambil membawa sebuah kantong plastik berukuran sedang, yang hampir penuh terisi sesuatu.
"Eh, maaf aku pergi nggak ngomong-ngomong." ujar Tejo ketika dia sudah diteras rumahnya.
"Aku tadi pergi membeli jajanan. Sebentar lagi teman-teman kita kesini. Dimakan ya?! Jangan sungkan-sungkan! Aku pergi mandi dulu, biar segar sambil bersantai. Jarang-jarang kita bisa berkumpul lagi seperti ini," sambung Tejo.
"Iya, terimakasih!" sahut Santi.
"Oh... Oke!" sahut Anang yang berbarengan dengan Santi.
Tejo masih menyempatkan tersenyum kepada Santi, sebelum dia berjalan masuk kedalam rumahnya.
Tapi, kali ini Anang tidak terlalu terganggu dengan senyuman Tejo kepada Santi.
'Kan Anang baru saja dapat hadiah yang manis dari Santi tadi, Anang masih kuat.
Setelah Tejo masuk kedalam rumah, Santi lalu terlihat berjalan-jalan dihalaman rumah Tejo.
Di halaman rumah Tejo masih ada beberapa pohon buah dengan daunnya yang rindang, dan memang membuat suhu disitu terasa sejuk, meski matahari masih cukup tinggi.
Anang kemudian menyusul Santi, dan ikut berjalan-jalan pelan dengannya, sambil merangkul pinggang Santi.
"Penduduk desa kok jarang kelihatan ya?" tanya Santi.
"Kalau jam segini, rata-rata penduduk disini masih disawah. Nanti sore baru kelihatan ramai," sahut Anang.
Santi lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh... Pantas saja!" sahut Santi.
Mereka berdua masih saja berjalan-jalan sampai ke halaman bagian belakang rumah Tejo.
Sambil sesekali Santi meminta Anang mengambilkan buah jambu air matang kemerahan, yang masih bisa digapai tangan Anang.
Ketika Santi sedang memakan buah jambu yang baru saja dipetik Anang, Santi lalu terlihat terpaku pandangannya kesatu arah sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Anang lalu ikut melihat kearah mata Santi memandang.
Tejo sedang mandi, menyiramkan tubuhnya dengan air ber ember-ember, hanya memakai boxer olahraga tipis, sambil berdiri didekat sumur.