
Rakit yang hanyut, sekarang sedang dalam proses pembuatan yang baru, dan masih belum bisa dipakai.
Mau tak mau Anang harus turun mandi dirakit kecil, tempat Anang dan Santi mandi kemarin. Sekarang sudah gelap, dan Anang tidak mau mencuci pakaiannya hari ini dalam kegelapan.
Dari kejauhan Anang masih bisa melihat siluet Santi yang sedang duduk dirakit kecil itu.
Cuma duduk, tanpa ada terlihat gerakkan yang berarti.
Sedang apa?
Melamun?
Ketika Anang naik keatas rakit dan membuat rakit itu sedikit bergoyang, Santi lalu berbalik melihat kearah Anang datang. Tanpa bicara apa-apa, lalu Santi terlihat kembali melihat kesungai.
Anang duduk disebelah Santi yang hanya duduk terdiam.
"Kamu belum mandi? Ada apa?" tanya Anang sambil membongkar peralatan mandinya, dari dalam ember.
"Kamu mau pindah dari sini nggak?" tanya Santi.
"Pindah kemana?" Anang balik bertanya.
"Mau nggak?" tanya Santi seakan memaksa Anang agar menjawab pertanyaannya lebih dulu.
"Tergantung. Kalau harga sewa'annya nggak terlalu mahal, aku mau saja," sahut Anang.
Santi lalu mengguyur tubuhnya dengan air sungai, hanya begitu saja sambil menggosok-gosok shampoo dirambutnya, tanpa menjelaskan atau menanggapi perkataan Anang untuk beberapa waktu.
"Kenapa kamu tanya itu?" tanya Anang yang juga sudah basah dan menggosok badannya dengan sabun.
"Nggak apa-apa," sahut Santi.
Gerak-gerik Santi seharian ini sangat aneh bagi Anang, dan membuatnya semakin penasaran.
"Tolong gosokkan punggungku!" ujar Santi sambil menyodorkan bus penggosok kepada Anang.
Anang kemudian menggosokkan punggung Santi pelan-pelan.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Anang.
"Nggak ada apa-apa," sahut Santi sambil menggerakan lehernya seperti sedang meregangkan ototnya yang tegang.
"Kamu bisa bilang denganku kalau ada apa-apa," celetuk Anang yang penasaran.
"Nggak ada apa-apa," kata Santi lagi, kemudian tiba-tiba berbalik saat Anang masih menggosok punggungnya, dan membuat tangan Anang menyentuh atas dadanya.
"Sudah cukup!" ujar Santi, kemudian mengambil busa penggosok badan dari tangan Anang.
Anang rasanya tidak mau berhenti begitu saja, tapi melihat Santi yang tampak datar, membuat Anang mengurungkan niatnya untuk menyentuh Santi lagi, dan memilih untuk melanjutkan mandinya.
Santi masih saja bersikap datar dengan Anang, sampai mereka sudah tiba diacara undangan yang menjadi tempat Anang bernyanyi malam ini.
__ADS_1
Sambil bernyanyi diatas panggung, Anang sesekali melirik Santi yang terlihat kurang bersemangat.
Meski ada beberapa tamu undangan mengajaknya bicara, Santi hampir tidak bisa tersenyum, seakan memang ada yang dia pikirkan.
Sepanjang acara berlangsung, dan Anang selesai menghibur tamu disitu, kemudian mereka pulang, Santi masih saja tampak murung.
"Aku tidur ditempatmu ya?" tanya Anang, saat dia dan Santi berjalan pulang ketempat tinggal mereka dijalan pemukiman liar.
"Terserah saja," sahut Santi datar.
Ketika mereka sudah dikamar, Santi melepas pakaiannya lalu bertelungkup diatas ranjang, dengan wajahnya menghadap kedinding.
Anang tidak tahan lagi kalau hanya melihat, dan menduga-duga dengan apa yang Santi pikirkan.
"Santi! Bisa kamu lihat aku?" ujar Anang yang berbaring menyamping kearah Santi.
Santi terdiam sebentar, sebelum dia berbalik, dan ikut berbaring menyamping menghadap Anang.
"Aku nggak pernah melihatmu seperti ini. Pasti ada sesuatu 'kan?" tanya Anang pelan, sambil menatap Santi lekat-lekat.
Santi mengalihkan pandangannya, tapi akhirnya kembali melihat Anang.
"Ada apa?" tanya Anang lagi dengan suara pelan, masih menatap Santi sambil menyentuh pipi Santi, dan mengelusnya pelan.
Santi mendekat lalu mencium bibir Anang.
Ada apa ini?
Santi jatuh hati pada Anang?
Anang bisa melihat kalau Santi memejamkan matanya, sambil tetap menautkan bibirnya dibibir Anang.
Anang memeluk Santi erat-erat. Tidak merasa puas, Anang lalu naik keatas Santi, menindihnya dan membalas ciuman Santi.
Tampaknya ada yang salah.
Iya, memang ada yang salah.
Santi membuka matanya, dan mendorong Anang, sampai Anang tidak bisa menciumnya lagi.
Anang melihat Santi tersenyum, tapi senyumannya aneh.
"Jangan bawa-bawa perasaan! Kita berdua hanya friends with benefits!" ujar Santi yang terlihat hampir tertawa.
Mata Anang terbelalak mendengar perkataan Santi.
Oke. Anang terkejut dengan kata-kata 'Jangan bawa perasaan' ditambah dia juga tidak mengerti dengan bahasa Inggris yang dikatakan Santi.
"Kamu ngomong apa?" tanya Anang.
"Hubungan Kita hanya berteman tapi masing-masing dapat keuntungan. Jadi jangan bawa perasaan didalam situ. Nanti situasinya jadi tidak enak," kata Santi menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu menulis lagu tentang aku 'kan?" tanya Santi terlihat percaya diri.
Anang gelagapan.
Kok Santi bisa tahu?
"Jangan berbohong, dan jangan berpura-pura bodoh!" ujar Santi lagi.
Anang mau tidak mau menganggukkan kepalanya.
"Kalau hanya menulis tentang aku, nggak ada masalah. Asal jangan sampai kamu jatuh cinta denganku saja,
Aku tidak mau nanti kalau aku mau bersenang-senang, lalu kita malah bertengkar," kata Santi, sambil mengelus pipi Anang.
Elusan tangan Santi yang lembut dipipinya, membuat Anang merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Tapi, Anang berusaha menepis perasaan aneh dari pikirannya.
Santi hanya mau berteman, tidak lebih, jadi jangan coba-coba berpikir yang aneh-aneh.
"Menyenangkan kalau kita hanya jadi teman seranjang 'kan? Kapan-kapan kita mau, kita bisa melakukannya. Kita berdua, atau dengan orang lain," kata Santi, lalu tersenyum nakal, sambil mengedipkan sebelah matanya.
Santi menarik kepala Anang agar menempel kedadanya.
"Sekarang waktunya kita bersenang-senang," ujar Santi pelan.
Ketika mulut Anang menyentuh dada Santi, Anang langsung lupa ingatan, dia tidak ingat lagi apa yang Santi bilang, selain 'Waktunya bersenang-senang'.
Begitulah...
Anang hanya jadi pemuas Santi, atau Santi jadi pemuas Anang?
Sama saja.
Masih ingat pelajaran biologi tentang simbiosis mutualisme?
Anang dengan Santi sama-sama merasa untung.
Anang jadi lebah, dan Santi jadi bunganya.
Anang bisa menikmati manisnya madu Santi, sedangkan Santi bisa memperluas kesempatannya mendapat, dan memuaskan keinginannya dengan s*x yang menarik diluar sana, dan Anang juga bisa jadi cadangan saat Santi kepepet.
Kurang menarik apa hubungan begitu?!
Tapi, cukup Anang dan Santi saja yang mencobanya.
Apalagi sekarang Anang sudah sama laparnya dengan Santi, atau sama gilanya dengan Santi?
Sampai-sampai kancing kemeja Anang tidak sempat terbuka semua, saking tergesa-gesa untuk sampai ditujuan.
Kalau sudah seharian begitu nggak merasakan pertarungan sengit, tahu saja bagaimana hasilnya.
Kalau kaki ranjangnya tanggung-tanggung kekuatannya, maka tidak akan ada lagi yang namanya kolong ranjang.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang tentang pindah kost. Mau pindah kemana?" tanya Anang yang mulai sembuh dari amnesianya.
"Kita cari kost yang ada kamar mandinya. Kita tinggal bersama disatu kamar saja. Jadi nggak perlu mandi malam-malam atau subuh-subuh disungai. Lama-lama aku bisa sakit," kata Santi yang mulai mengganggu akal sehat Anang dengan tangannya.