
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hari ini Satria sudah sampai di Indonesia, Dinda dan sopir pribadi sudah ada di bandara untuk menjemput Satria. Hanya menunggu sekitar 30 menit saja Satria sudah terlihat keluar dari pintu keluar Bandara. Dengan segera Dinda menghampiri Satria dan mencium tanagan Satria dengan takzim. Pak sopir pun ikut menghampiri Satria dan membawakan koper serta memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
" Alhamdulillah Mas, akhirnya kamu sudah sampai dengan selamat. Bagaimana perjalananmu tadi mas menyenangkan?."Tanya Dinda sembari merangkul lengan Satria.
" Alhamdulillah berjalannya baik dan cuaca juga bersahabat. Istriku ini semakin cantik saja sih, padahal cuma seminggu loh mas tidak bertemu. Mas kok jadi gemes gini sih, ingin segera memakanmu."Seru Satria menggoda Dinda.
" Ssstt jangan menggodaku, ini di tempat umum. Tidak malu apa kalau kita jadi pusat perhatian orang? Ayo segera kita masuk ke mobil kasihan Pak sopir yang sudah lama menunggu. Dan ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kamu Mas, ini penting sekali."Seru Dinda bicara seperti serius sekali.
Satria mengangguk lalu menggandeng mesra tangan Dinda dan mengajaknya masuk ke mobil. Dengan segera pak sopir pun menjalankan mobil menuju kediaman Satria. Sepanjang perjalanan Dinda meminta Satria untuk menceritakan perkembangan sekolah Hana selama di luar negeri. Satria pun menceritakan apa saja yang dilakukan Hana selama dia di luar negeri, tanpa ada yang terlewatkan.
" Jadi Hana di sana sudah punya teman mas? Dan tenannya itu sama-sama dari Indonesia?."Tanya Dinda sangat antusias membicarakan soal sekolah keponakannya, Hana.
" Iya sayang, Hana sudah dapat tiga teman. Dua orang Indonesia dan satu asli warga sana, namun mereka tetap tinggal di asrama yang disediakan oleh sekolah itu. Oh iya tadi kamu mau bicara apa?."Tanya Satria ingin segera tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Dinda.
" Nanti saja Mas, saat kita sudah di rumah. Tidak baik bicara di mobil seperti ini, apalagi itu bener-bener harus dibicarakan dengan konsentrasi penuh."Jawab Dinda sambil terkekeh.
Satria mengusap puncuk kepala istrinya dengan lembut lalu berpindah keperut sang Istri. Usia kandungan Dinda saat ini sudah masuk bulan ke 4 dan sudah terlihat semakin membuncit. Tidak henti - hentinya Satria mengusap perut Dinda sampai tanpa terasa saat ini mobil sudah sampai didepan gerbaang.
Akan tetapi ada pemandangan yang membuat Dinda dan Satria menghela nafas dengan berat. Didepan pintu gerbang ada Sinta yang saat ini sedang menggedor gerbang sembari berteriak - teriak memanggil nama Dinda dan Satria.
" Dinda, Satria ! Keluar kamu !." Teriak Sinta dengan lantang sampai tidak menyadari jika saat ini ada mobil Satria yang berada dibelakang mibilnya.
Tin Tin Tin
__ADS_1
Pak sopir membunyikan klaksonnya agar Sinta berhenti berteriak dan segera meminggirkan mobilnya. Sinta langsung menghampiri mobil itu, namu dia tidak dapat melihat siapa yang ada di dalam mobil sebab mobil kaca mobil terlihat gelap dari luar dan terang dari dalam.
" Ada apa mbak Sinta marah - marah seperti ini sayang?" Tanya Satria.
" Mbak Sinta sudah tahu jika Hana saat ini sudah berada diluar negeri dari Vivi teman Hana yang tidak sengaja bertemu dengan mbak Sinta di mall. Dua hari yang lalu dia datang dan marah - marah seperti ini dan aku meminta dia datang lagi saat mas pulang. Tapi tidak tahu jika dia akan datang secepat ini." Seru Dinda memberitahu Satria.
" Baiklah kalau begitu mas saja yang turun. Kamu tetap di mobil, kita ajak mbak Sinta masuk ke rumah dan kita bicara baik-baik di dalam rumah "Ucap Satria lalu membuka pintu mobil dan turun menghampiri Sinta.
Melihat ada yang turun dari mobil membuat Sinta melebarkan matanya, ingin tahu siapa orang yang turun. Ternyata orang itu adalah orang yang dari kemarin dia tunggu-tunggu kedatangannya, dengan tidak sabar Sinta langsung menghampiri Satria dan melabrak Satria dengan penuh amarah.
" Haii Satria !!! Apa maksud kamu mengirim Hana ke luar negeri? Kamu itu cuman orang lain, kamu tidak berhak atas Hana. Akulah mama kandung Hana, sehingga aku yang lebih berhak atas Hana. Aku mamanya !!".Serus Sinta berteriak dengan lantang.
" Kita bicara di dalam rumah saja mbak, tidak baik dilihat orang seperti ini. Nanti mbak sendiri juga yang akan malu."Seru Satria mencoba bicara baik-baik.
" Kenapa aku yang harus malu. Yang seharusnya malu itu kamu, karena kamu sudah berani menyembunyikan anakku. Apa mau kamu aku laporkan ke polisi ? Jika aku melapor ke polisi, tentu saja aku yang akan menang. Sebab akulah yang lebih berhak atas Hana."Jawab Sinta dengan berani dengan senyum sinisnya.
Satria menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sinis ke arah Sinta, sehingga membuat Sinta semakin emosi. Dan Sinta pun mengangkat tangannya hendak menampar Satria, namun dengan cepat Satria menangkap tangan Sinta dan mencengkeramnya dengan kuat sehingga Sinta meringis kesakitan.
Nyali Sinta pun menciut, dia mulai takut dengan tatapan mata tajam dari Satria. Akhirnya dia pun menyetujui ajakan Satria untuk bicara di dalam rumah. Satria sendiri meminta Pak satpam untuk membukakan gerbang sehingga mobil Sinta dan mobilnya bisa segera masuk.
" Sekarang cepat apa yang ingin kamu tanyakan dan ingin kamu tahu soal Hana? Aku ini baru pulang dan butuh istirahat, sekarang cepat katakan?." Tanya Satria yang kini sudah duduk di ruang tamu, dan ada Dinda juga yang saat ini duduk di sampingnya.
" Maksud kamu apa membawa Hana ke luar negeri tanpa izin denganku? Bahkan tanpa sepengetahuanku, mungkin saja jika aku tidak bertemu teman Hana, sampai detik ini kalian masih saja membohongiku. Aku bisa melaporkan masalah ini ke polisi dan kalian pasti akan mendekam di penjara, memangnya kalian saja yang berani melaporkan dan memenjarakan."Seru Sinta masih bicara dengan penuh amarahnya.
" Oh silakan saja kalau mbak Sinta mau membawa masalah ini ke polisi aku tidak takut. Justru Kamu sendiri yang harusnya mendekam di penjara bukan kami." Jawab Satria semakin membuat Sinta kebingungan. Dinda lebih memilih diam dan membiarkan suaminya yang menyelesaikan masalah dengan Sinta.
Sinta bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Satria dan Dinda terlihat santai saja dengan ancamannya. Seolah mereka tidak takut dengan polisi, padahal menurut Sinta jika mereka dilaporkan mereka akan masuk ke penjara. Karena terbukti bersalah membawa kabur Hana dari orang tua kandungnya.
" Maksud kalian bicara seperti itu apa? Aku masuk penjara? Jangan mimpi!!."Seru Sinta dengan tertawa.
" Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi saat ini juga dan hari ini juga aku bisa membuat kamu mendekam di penjara."Ancam Satria mulai terbawa emosi.
__ADS_1
" Kalian ini mimpi atau bagaimana ? Kalian yang membawa kabur anakku kenapa aku yang dipenjara?."Tanya Sinta dengan penuh keheranan.
" Aku membawa Hana ke luar negeri itu atas persetujuan dan permintaan Hana sendiri. Aku dan istriku berusaha melindungi keponakan kami yang masih di bawah umur, yang akan diperjualbelikan oleh ibunya. Kamu kira kami semua tidak tahu jika kamu sudah menjaminkan Hana sebagai pembayar hutang. Bahkan kamu akan menikahkan Hana denganmu pria yang sudah memberimu hutang. Jangan kira aku tidak tahu jika kamu itu adalah seorang wanita murahan yang mempunyai usaha pijat dengan layanan Plus ! Apa mau semua itu aku bongkar di depan polisi." Ucap Satria dengan penuh ancaman.
Deg
Sinta langsung gugup dan bahkan jantung sepertinya tidak aman. Dia tidak pernah menyangka jika Satria dan Dinda sudah mengetahui semua kebusukannya dan rencana busuknya. Sinta mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlihat gugup di depan Dinda dan Satria.Namun semua itu tidak akan membuat keduanya terperdaya.
" Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti?." Tanya Sinta pura - pura tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Satria.
" Sudahlah mbak Sinta jangan pura- pura tidak tahu. Hana sendir sudah tahu semua itu dari dulu mbak, bahkan kami saja kaget saat mengetahui semua itu. Mbak Sinta sudah menjaminkan Hana sebagai pelunas hutang. Mbak Sinta bahkan akan menikahkan Hana dengan pria hidung belang. Kami sudah tahu semuanya mbak, jadi berhentilah mengganggu Hana dan kami tetutama keluargaku! Jika kamu tidak mengusik kami aku pastikan usaha kamu juga akan aman. Sekarang kamu pilih mengusik keluargaku tetapi penjara menanti atau diam dan hidupmu aman." Seru Dinda memberi pilihan yang cukup sulit diterima oleh Sinta.
" Pilihannya ada ditangan kamu. Usaha kamu ada dijalan XX kan? Bahkan kamu juga seorang pemakai barang haram." Seru Satria menambahi dan semakin membuat Sinta tidak bisa berkutik lagi.
* Sial ! Kenapa mereka bisa tahu apa yang sudah aku rencanakan. Bahkan mereka juga tahu kalau aku punya usaha panti pijat layanan plus dijalan XX. Baiklah mungkin untuk sementara aku akan memilih diam dulu sembari mencari cara untuk menghancurkan Hana dan Satria. Masalah Hana skip saja dulu, yang penting saat ini aman saja dulu.* Gumam Sinta dalam batinnya.
Satria dan Dinda terus memperhatikan Sinta yang sepertinya sedang kebingungan. Sinta terlihat sesekali melirik kearah Satria dan Dinda secara bergantian.
" Untuk kali ini kalian bisa menang tapi lihat saja pembalasanku nanti. Tunggu sampai aku menemukan cara untuk menghsncurkan kamu." Seru Sinta dengan geram.
" Oh tidak masalah, aku punya bukti - bukti yang akurat. Dengan bukti itu kamu bisa mendekam bertahun - tahun dipenjara." Jawab Satria dengan santainya.
Hhhuuuuffff
Sinta membuang nafas dengan kasar, dia benar - benar terpojok. Satria jika mengancam tidak akan pernah main-main.
" Baiklah aku mengalah. Aku tidak akan mengganggu kalian dan keluarga kalian tapi aku mohon jangan laporkan aku. Kalau begitu aku permisi." Seru Sinta pergi dengan buru - buru tanpa menunggu jawaban dari Satria maupun Dinda.
Satria dan Dinda sudah bisa sedikit bernafas lega sebab urusan Sinta sudah mulai menemukan solusinya. Namun mereka akan tetap waspada dengan Sinta, dia adalah wanita licik, picik dan menghalalkan segala cara untuk mencampai keinginannya.
************
__ADS_1