
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Bagaimana kabar ke tiga keluargaku ? Apa sidangnya sudah berjalan?" Tanya Satria kepada Indra.
Sudah lama Satria tidak mengetahui kabar ketiga keluarga yang saat ini mendekam dipenjara. Satria sudah menyerahkan semuanya kepada Indra, dan akan mengetahui kabar dan perkembangannya dari Indra saja. Kasus yang dipermasalahkan juga tidak ada hubungannya langsung dengan Satria. Soal pemalsuan kecelakaan dan usaha perjudian yang memang selama ini sudah menjadi target kepolisian.
" Mereka bertiga sudah mulai menjalani sidang, sepertinya kedua orang tua kamu yang akan terjerat lama. Hakim hanya hitungan bulan saja, sebab tokoh utamanya disini adalah kedua orang tuanya. " Ucap Indra memberitahu.
" Kira - kira berapa lama masa hukuman mereka? Apa kasus pencemaran nama baik itu juga masih dikasuskan?" Tanya Satria yang memang sudah menyerahkan semuanya kepada Indra.
" Iya, aku yang tetap mengkasuskannya. Kata maaf dan klarifikasi saja tidak cukup untuk mereka, apalagi si Hakim yang songong itu. " Seru Indra ikut kesal dengan kelakuan Hakim.
Helaan nafas terdengar cukup berat dari Satria, cobaan demi cobaan. Masalah demi masalah selalu datang bergantian. Masalah Rudi sudah mulai ada hikmahnya, dengan kepergian Rudi hubungannya dengan ibu mertuanya sudah mulai membaik. Tapi masalah Sinta dan Hana yang sampai sekarang menjadi dilema bagi Satria.
" Apa aku tidak keterlaluan mengungkap semua kejahatan mereka?" Tanya Satria.
" Tidak. Ini pantas mereka dapatkan Satria, lagi pula selama ini apa mereka perduli sama kamu?" Tanya Indra tegas.
" Soal Hakim kamu urus, usahakan dia tidak dihukum lama. Ini semua permintaan nenek, nenek tidak mau hakim menghabiskan masa mudanya didalam penjara. Bagaimanapun juga Hakim tetap cucu kandung nenek, semoga saja keputusan nenek ini tidak akan jadi masalah di masa mendatang." Seru Satria lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya.
Obrolan Indra dan Satria pun selesai, Satria memilih segera pulang dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Indra. Masalah Lisa sudah selesai , tinggal memberi peringatan kepada Rena sang kakak iparnya sendiri.
__ADS_1
Baru saja keluar dar lobby perusahaan Satria dihampiri Beni yang akan keluar untuk mencari makan siang.
" Ada apa mas?" Tanya Satria .
" Maafkan istriku ya Sat, aku sudah tahu jika beberapa hari yang lalu Rena dan Lisa datang ke Caffe dan memarahi Dinda. Menurut Rena, Lisa mengira jika Dinda adalah wanita selingkuhanku." Ucap Beni meminta maaf kepada Satria.
" Mas, Beni tidak perlu meminta maaf kepada saya maupun Dinda. Yang seharusnya meminta maaf itu mbak Rena. Nanti malam setelah acara tahlil selesai, jangan pulang dulu. Ajak istri mas Beni untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada Dinda. Bukan aku tega memperlakukan mbak Rena seperti ini, semua ini demi kebaikan kita semua agar mbak Rena tidak semakin seenaknya memperlakukan Dinda." Ucap Satria bicara dengan bijak.
" Baiklah nanti malam saya akan ajak Rena untuk meminta maaf kepada Dinda. Bagaimanapun dia juga ikut salah, karena dia sudah datang ke Cafe dengan maksud yang tidak baik. " Seru Beni setuju dengan permintaan Satria.
Selesai berbincang, Satria dan Beni pun berpisah. Satria pulang ke rumah mertuanya untuk makan siang terlebih dahulu dan mungkin saja dia memang tidak kembali lagi ke perusahaan karena urusan perusahaan sudah diserahkan kepada Indra untuk sementara waktu. Dan Beni sendiri mencari makan siang di salah satu cafe yang ada di seberang kantor tempatnya bekerja.
Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit, mobil Satria sudah sampai di halaman rumah mertuanya. Satria turun dari mobil dan segera masuk mencari keberadaan sang istri. Satria menghawatirkan keadaan Dinda. Apalagi saat dia pergi ke kantor tadi Dinda memang sedang tertidur akibat pusing dan mual yang dia rasakan.
Sementara itu saat ini di rumah Sarah dan Reno sedang ada Sinta. Sinta sengaja datang ke rumah Sarah karena dia ingin berkeluh kesah kepada Sarah dan Reno.
" Iya Reno. Kamu ini tuli atau bagaimana sih ? Dari tadi aku juga sudah bilang jika Hana mau tinggal dengan Satria. Tapi itu hanya sementara saja, saat Hana 17 tahun dia harus ikut aku. Bagaimanapun aku ini ibu kandungnya dan dia harus menurut apa kata ku. Lagipula saat aku tua nanti juga Hana yang harus mengurusku." Ucap Sinta memperjelas semuanya agar Reno tidak terus menerus bertanya.
" Enak banget sih hidup kamu mbak ? Coba saja anakku juga mau tinggal dengan Dinda dan Satri mau tidak mau kami juga akan kecipratan uang mereka. " Ucap Sarah dengan entengnya.
" Kenapa nggak nbak biarkan selamanya saja Hana tinggal sama mereka? Setidaknya mbak juga kan bisa menumpang hidup dengan meminta uang kepada Hana setiap bulannya. Daripada mbak Sinta capek-capek bekerja." Ucap Reno setuju dengan apa yang dikatakan Sarah.
Sinta hanya menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Hana harus tinggal dengan Satria sedangkan saat ini Hana sudah dijadikan jaminannya. Dan tidak semudah itu bisa lepas dari Badar. Reno dan Sarah hanya bisa saling pandang, mereka geran dengan Sinta kenapa dia menolak Hana untuk tinggal selamanya dengan Satria.
Jika Hana tinggal dengan Satria , sudah pasti kehidupannya akan terjamin. Pendidikan dijamin, perkerjaan sudah ada didepan mata. Mana usaha Dinda dan Satria juga banyak.
" Apa alasan mbak tidak mau Hanw tinggal lama sama mereka?" Tanya Reno penasaran dan berharap Sinta mau menyampaikan alasannya.
__ADS_1
" Alasannya cukup singkat karena aku juga ingin hidup dengan anak ku juga Sudah itu saja kalian tidak perlu tahu dan tidak perlu bertanya ini itu lagi. Oh iya Sarah kamu masak apa ? Aku lapar, ini sudah jam makan siang kan?." Seru Sinta dengan pintar mengalihkan pembicaraan.
" Gak ada ! Aku tidak masak, kalau mau makan sana bikin mie rebus saja." Jawab Sarah kesal.
Seenaknya saja datang mau meminta makan, padah bulan lalu juga Sinta sudah menghinanya miskin hanya gara - gara tidak mau meminjamkan uang untuk membebaskan almarhum Rudi. Mendengar jawaban ketus dari Sarah membuat Sinta hanya mengulas senyum liciknya.
" Jangan ketus seperti itu ? Lagipula aku hanya sekali ini saja meminta makan , setelah makan aku juga akan pergi. Atau kamu mau aku laporkan sama ibu jika kalian yang sudah mengambil sembako dirumah ibu?. Padahal sembako itu juga ada hak aku loh, kalian tahukan para tetangga datang kerumah dan bawa sembako itu karena mas Rudi meninggal, jadi ada hakku juga kan?." Seru Sinta sambil terkekeh.
Sebenarnya Sinta saja tidak tahu jika Reno dan Sarah yang mengambil sembako yang ada di rumah mertuanya. Semua itu hanya tebakan Sinta saja, sebab tadi saat di rumah mertuanya dia mendengar Ibu Rahayu marah-marah di saat pagi buta. Dan mengatakan barang-barangnya sudah tidak ada di tempat lagi.
" Apaan sih mbak ? Jangan mengada-ngada deh. Perasaan nbak Sinta kan baru pulang tadi malam? Kenapa bisa tahu kalau kami yang mengambilnya." Tanya Reno dengan bodohnya membuka kedoknya sendiri.
" Hahahaaa Reno, Reno. Kamu jangan bodoh Reno! Dengan kamu bicara seperti tadi saja sudah menjelaskan jika kalian yang mengambil sembako yang ada di rumah Ibu. Pantas saja tadi pagi aku mendengar Ibu marah-marah ternyata memang benar kalian yang mencurinya? Kalian itu tega ya padahal di rumah itu sedang ada musibah." Seru Sinta sambil menggelengkan kepalanya.
" Heleh.. Disana juga ada Satria dan Dinda, semua makanan juga dapat dari mereka beli. Gak ada salahnya dong aku minta sembako itu." Jawab Sarah tidak mau disalahkan.
Sarah bangkit dan menuju dapur mengeluarkan makanan yang tadi sudah dia masak. Ada telor sambal dan sayur tumis sawi campur udang. Akhirnya makanan itu keluar juga dari lemari tempat dia menyimpan makanan. Dia takut jika Sinta akan mengadukan semua nya kepada ibu dan bapak mertuanya. Jika mereka sampai tahu sudah pasti mereka akan susah keluar masuk rumah itu.
" Keluar juga makanan kamu? Tenang saja aku cuma kali ini saja meminta makan sama kalian. Setelah ini aku akan pergi kerumah kontrakanku, lagipula saat ini aku sudah punya uang. " Seru Sinta dengan sombongnya.
" Sudah sana cepat makan. Ingat jangan dihabiskan karena anakku juga belum makan. Setelah makan langsung pergi dari sini. Datang - datang cuma untuk menumpang makan saja." Ucap Sarah mengusir Sinta secara halus.
" Iya , iya bawel banget sih. " Ucap Sinta dengan kesal.
Sintapun duduk dikursi meja makan dan mulai mengisi piringnya dengan nasi , sayur dan lauk yang lainnya. Sinta menikmati makannya dalam diam, sembari memikirkan rencana baru untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi dari Badar dan dari para gadis - gadis di tempat usaha panti pijitnya.
* Sekarang aku bebas, mas Rudi sudah tidak ada. Dan sementara Hana tinggal sama Dinda. * Gumam Sinta dalam batinnya.
__ADS_1
**********