
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Alhamdulillah akhirnya kita sampai rumah juga. Bapak mau mandi duluan ya bu, asli gerah dan capek banget." Ucap pak Karim saat mereka semua sudah sampai rumah.
Cuaca beberapa hari ini memang sangat panas terik. Membuat siapapun merasa kepanasan, terlebih keluarga pak Karim memang tadi baru datang ke pernikahan Sinta dan saat pulang panasnya sangat luar biasa meskipun ada di dalam mobil.
" Bapak si tadi di mobil mau di nyalain AC nya tidak boleh jadi kegerahan semua kan kita."Ucap ibu Rahayu dengan cemberut.
" Ya bagaimana bu, kalau AC nya di hidupin bau parfum mobil nya menyengat banget. Meskipun sudah di lepas, baunya tidak hilang-hilang. Besok-besok kalau cari parfum mobil jangan yang itu lagi, Ren. Bapak mau muntah nyium nya."Ucap pak Karim yang tidak menyukai bau parfum mobil Reno.
" Iya pak. Itu juga bukan Reno yang masang, kerjaan Joni yang masang. Itu. Oh iya mana Joni? Dia tadi ikut mobilnya Beni kan ya, Bu? Kok belum sampai rumah?." Tanya Reno yang baru ingat dengan Joni.
" Nanti juga di antar sama Beni, Mas. Ya sudah, aku juga mau kekamar duluan ya. Mau rebahan, enggap bener ini perut ku."Seru Cahaya sambil menunjuk perutnya yang buncit.
Reno pun ikut Cahaya masuk kamar, dia membantu Cahaya untuk naik ke kasur. Dengan perutnya yang semakin buncit membuat Cahaya susah untuk bergerak.
" Mas, mau mandi dulu ya dek."Seru Reno.
" Iya mas. Tapi sabun mandi kamu yang di kamar mandi habis mas, mas ambil dulu di lemari belakang sana. Tadi pagi aku lupa mau mengambil stok di belakang. Masa iya mas mau pakai sabun ku, aroma sabun wanita kan lebih wangi."Ucap Cahaya memberitahu.
" Sudah tidak apa-apalah. Wanginya juga yang nyium istriku sendiri, apa kamu tidak mau mandi sekalian dek? Nanti mas bantu menggosok punggungmu. Segar loh kalau sudah mandi."Ucap Reno mencari kesempatan.
Hahhhh?
Cahaya tahu niat terselubung dari sang suami. Tapi apa yang dikatakan suaminya benar juga, panas-panas begini memang enaknya mandi. Apalagi kalau ada yang bantu membersihkan punggungnya.
" Boleh." Seru Cahaya tersenyum lebar lalu dengan pelan dia turun dari ranjang.
* Asiiiikkk !! Panas-panas mandi bareng istri pasti tambah Hot nih.* Gumam Reno sangat senang.
Reno membantu Cahaya masuk kamar mandi dan melepas pakaiannya juga. Jantung Reno semakin berdegup kencang saat melihat Cahaya sudah tidak memakai baju dan siap untuk mandi. Cahaya memilih masuk ke bathup untuk berendam.
" Mas kok bengong sih? Aku jelek ya?." Tanya Cahaya dengan cemberut.
" Oh tidak sayang, kamu kalau seperti itu s3ksi banget istriku sayang. Emm mas boleh kan berendam bareng?." Tanya Reno lebih dulu. Dia tidak mau asal ikut berendam yang ada Cahaya akan marah. Maklum, wanita hamil mood nya suka berubah-ubah.
" Boleh dong mas. Mas kan tadi janji mau nembantuku menggosok punggung, ya sudah cepatan lepas bajunya." Seru Cahaya semakin membuat jiwa kelakian Rena tertantang.
Tidak menunggu lama, Reno pun menanggalkan satu persatu bajunya lalu ikut masuk ke barhup. Awalnya Reno memang membantu Cahaya untuk menggosok punggungnya namun lama-kelamaan tangan Reno sudah meraba tempat yang paling dia sukai.
" Mas, hemm kok tangannya pindah tempat?." Tanya Cahaya pura-pura tidak tahu apa yang diinginkan suaminya.
" Sayang, mas lagi pengen banget nih. Bentar saja boleh ya?." Tanya Reno dengan suara yang sudah mulai serak.
" Yakin cuma mau sebentar? Apa tidak kurang?." Tanya balik Cahaya justru semakin menantang Reno.
" Jadi kalau lama-lama boleh ya sayang?." Tanya Reno dengan semangat.
" Boleh dong mas, jarang-jarang kan kita main di jam segini apalagi sambil mandi begini. Tapi ini tempatnya kan tidak memungkinkan untuk aku di atas, jadi untuk permainan kali ini mas yang pegang kendali ya?." Ucap Cahaya yang masih tetap mementingkan kenyamanannya.
Dengan cepat Reno mengangguk, dia bersemangat untuk memulai petualangannya. Tanpa menunggu lama dia pun sudah berada di posisinya, sebelumnya air dalam Bathup sudah dia buka penutup pembuangan airnya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Pelan-pelan ya mas." Ucap Cahaya saat Reno mulai memasukan sesuatu benda yang sudah siap tempur.
" Iya sayang." Jawab Reno dengan singkat.
Akhirnya sore itu terjadi pertempuran antara Reno dan Cahaya di kamar mandi. Mereka sudah melupakan penat nya yang seharian ada di acara pernikahan Sinta.
*******
Tiga hari berlalu
Ardi masih ada di rumah Sinta, belum masuk bekerja lagi. Rencananya hari ini Sinta dan Ardi akan mengajak Bagas jalan-jalan, sebagai ganti selama 3 hari ini Bagas tidak ikut menginap dirumah Sinta.
" Jadi nanti Bagas sudah boleh menginap dirumah mama Sinta?." Tanya Bagas antusius.
" Iya sayang. Itu tadikan pakaian kamu sudah disiapkan sama nenek. Maaf ya kemarin-kemarin Bagas tidak boleh ikut menginap di rumah mama Sinta karena memang tidak boleh."Ucap Ardi mencoba untuk menjelaskan.
" Ok papa. Jadi nenek nanti dirumah sama Om Angga saja dong. Bagas tidak suka sama Om Angga, kalau tidak ada papa Om Angga suka jahilin Bagas."Gerutu Bagas dengan cemberut.
" Duhh kasihannya anak mama, nanti biar Om Angga mama marahin ya."Ucap Sinta sambil mengusap kepala Bagas dengan lembut.
Mobil yang dikendarai Ardi sudah memasuki salah satu Mall yang ada di kota itu. Memang letaknya cukup jauh dari rumah Sinta maupun rumah Ardi. Malm itu pilihan Bagas, jadi Ardi dan Sinta hanya mengikuti maunya Bagas saja.
" Bagas mau langsung ke arena bermain pa, ma. Bagas mau main lempar bola basket, nanti Bagas pasti dapat point banyak." Seru Bagas sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bermain lempar bola basket.
" Iya sayang."Jawab Ardi dan Sinta bersamaan.
Mereka bertiga memasuki gedung mall yang megah itu. Mereka langsung ke tempat arena bermain anak, sebelumnya Ardi mengisi terlebih dahulu kartu untuk bermain.
" Sama mama dulu ya sayang, kartu nya sudah sama mama. Papa mau ke toilet sebentar, kebelet pipis nih." Ucap Ardi.
" Siap papa." Jawab Bagas.
Sementara itu, Sinta menemani Bagas bermain. Bagas tertawa dan bersorak gembira saat dia berhasil memasukan bola basket ke dalam ringnya.
" Wahh anak mama luar biasa. Yuk semangat lagi sayang."Ucap Sinta memberi semangat Bagas.
Tidak lupa Sinta juga ikut bermain dan ternyata seru juga.
Brruukkkk
Ardi di tabrak oleh seseorang dan hampir saja orang itu jatuh. Beruntung Ardi segera menangkapnya, jika tidak tidak tahu apa yang akan terjadi apalagi dia sedang hamil.
" Kamu." Seru Ardi yang mengenali siapa wanita yang saat ini ada di tangannya.
Wanita yang tadi menabrak Ardi ternyata Sarah. Sarah memang dengan sengaja menabrakkan dirinya agar bisa mendekati Ardi. Dia tadi melihat Ardi keluar dari toilet sehingga dengan cepat dia mengikuti Ardi dan justru dia berpura-pura menabraknya dari depan.
" Ehhh mas Ardi." Ucap Sarah memasang wajah manis dan senyum ramahnya.
" Maaf." Ucap Ardi langsung melepaskan pegangan tangannya.
" Tidak apa-apa mas. Saya seharusnya yang minta maaf karena tadi sudah menabrak mas, Ardi. Dan terima kasih mas Ardi sudah menolong saya, kalau tadi tangan mas Ardi tidak menahan tubuh saya , mungkin saya sudah jatuh." Ucap Sarah.
" Lain kali hati-hati mbak, Sarah. Emm kalau begitu saya duluan ya mbak, soalnya saya meninggalkan anak dan istri saya di tempat bermain. Mbak Sarah sendiri sama siapa?."Tanya Ardi dengan ramah.
Sarah kesal saat mengetahui Ardi datang sama anak dan istrinya juga. Namun Sarah tetap memasang wajah manis dan ramahnya, justru kesempatan ini akan dia gunakan untuk bisa mengenal istri Ardi. Bahkan Sarah ingin menjalin pertemanan dengan istrinya Ardi.
* Kesempatan ini akan aku gunakan untuk mengenal istrinya. Siapa tahu dia bisa berbagi suami dengan ku.* Gumam Sarah dalam hatinya.
__ADS_1
" Oh saya tadi sama teman saya , tapi karena dia ada keperluan lain jadi dia pulang lebih dulu. Apa saya boleh berkenalan dengan istrinya mas Ardi, siapa tahu bisa jadi teman."Ucap Sarah sok ramah.
Ardi terlihat bingung, niat Sarah untuk berkenalan dan bersilahturahmi dengan istrinya sih baik. Tapi bagaimana dengan Sinta? Ardi khawatir Sinta salah paham, terlebih mereka juga baru menikah 3 hari yang lalu.
" Boleh ya mas. Kasihan saya loh mas, di mall sebesar ini tidak ada teman ngobrol. Kalau bisa kenal istrinya mas kan aku ada teman ngobrol, nanti mas bisa temani anak main. Istri mas biar mengobrol sama saya." Ucap Sarah merayu Ardi.
Berhubung Ardi memang orang nya tidak enakan dan kasihan dengan Sarah, mana perutnya Sarah juga besar. Ardi pun mengiyakan Sarah untuk berkenalan dengan istrinya.
" Baiklah. Mbak Sarah bisa ikuti saya."Ucap Ardi.
Ardi jalan lebih dulu, baru Sarah menyusulnya di belakang. Sarah jalan tergesa-gesa agar bisa sejajar dengan Ardi. Saat sudah hampir sampai di dekat arena bermain, mata Sarah melihat ada Sinta yang duduk sendirian. Dengan langkah cepatnya Sarah bisa berjalan tepat di samping Ardi.
* Huuh kebetulan ketemu Sinta di sini, aku akan buat dia iri dengan kehidupanku. Aku akan berpura-pura menjadi istrinya mas Ardi, dengan begitu Sinta pasti akan iri.*Gumam Sarah dalam hatinya.
" Hahhh itu bukannya Sarah? Mau ngapain dia jalan dekat sama mas Ardi? Wahh ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak akan membiarkan dia mendekati dan merebut mas Ardi seperti saat aku sama Hakim dulu. Sepertinya dia mau main-main dengan ku." Ucap Sinta pelan dengan senyum sinisnya.
Sarah terus melangkah dengan penuh rasa percaya dirinya. Dia yakin kali ini Sinta pasti akan kalah darinya, secara Ardi tampan dan kaya. Sarah dan Ardi semakin dekat dengan tempat duduk Sinta.
" Hai Mbak Sinta? Kamu sama siapa disini?."Tanya Sarah yang saat ini sudah berada tepat di depan Sinta.
Ardi langsung kaget, sebab dia tidak tahu jika ternyata Sarah dan istrinya sudah saling mengenal sehingga Ardi bisa lega. Ardi tidak khawatir jika Sinta akan salah paham dengannya.
" Oh kalian saling kenal ya?."Tanya Ardi.
" Kenal banget dong mas. Mbak Sinta ini kan mantan kakak ipar saya, lebih tepatnya kita sama-sama ipar. Oh iya, kalau mas Ardi mau masuk duluan saja kasihan anaknya sudah menunggu didalam sana."Ucap Sarah dengan gaya bicara sangat lembut.
* Idihh carper. Pasti dia tidak tahu kalau mas Ardi ini suamiku. Duhh sepertinya menarik nih.*Gumam Sinta.
Ardi pun masuk ke arena bermain dan langsung menuju tempat Bagas bermain. Ternyata di sana Bagas sedang bermain dengan temannya, yang di awasi oleh papa temannya. Makanya tadi Sinta memilih menunggunya di kursi saja.
" Bagaimana suamiku? Tampan dan keren kan? Dia juga tajir loh, lihat kan hasil dari pernikahan ku dengan mas Ardi. Perutku sudah besar seperti ini dan mas Ardi sangat senang dengan kehamilanku ini."Ucap Sarah sambil mengusap perutnya yang buncit.
Hahahaaaa
Sinta menertawakan apa yang dikatakan Sarah barusan. Bisa-bisanya dia mengaku jika Ardi itu suaminya? Sepertinya kepala Sarah sudah terbentur tembok mall yang kokoh.
" Kamu yakin mas Ardi itu suami kamu? Tidak bohong?." Tanya Sinta sambil terkekeh.
" Yakinlah. Memangnya kamu yang masih saja menjanda. Jangan-jangan kamu iri karena aku sudah mendapatkan pria yang lebih kaya dari mantamu si Hakim kere itu."Ucap Sarah masih saja berbohong.
" Sorry ya, aku tidak akan iri dengan apa pun yang kamu miliki, Sarah. Tapi untuk kali ini aku bukannya iri tapi aku tidak yakin jika mas Ardi tadi itu suami kamu. Kamu bisa membuktikan ucapan kamu, Sarah?." Tanya Sinta dengan serius.
Wajah Sarah langsung berubah menjadi gugup, dia bingung harus membuktikannya bagaimana? Sedangkan Ardi memang bukanlah suaminya. Namun Sarah tetap berusaha tenang agar Sinta tidak curiga.
" Baik nanti akan aku buktikan."Tantang Sarah dengan berani.
" Mama."
Tiba-tiba Bagas datang dan memanggil Sinta dengan panggilan mama. Dan hal itu membuat Sinta langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bagas. Sinta langsung merubah air mukanya, dengan memasang wajah yang manis.
" Sayang sudah selesai mainnya? Loh papa mana?."Tanya Sinta yang tidak melihat keberadaan suaminya.
" Papa lagi menukarkan point yang tadi Bagas dapat ma. Bagas capek makanya mau duduk sama mama saja."Jawab Bagas dengan jelas.
* Ternyata dia sudah menikah lagi? Sama duda pula, buktinya anaknya sudah sebesar ini. Tapi tunggu dulu, bukannya ini anak yang waktu itu makan sama mas Ardi ya. Dan namanya juga sama, Bagas. Atau jangan-jangan dia memang anaknya mas Ardi. Oh tidak mungki, mana mungkin Sinta dan mas Ardi suami istri.*Gumam Sarah mulai cemas.
Sarah memperhatikan Bagas dari atas sampai bawah,dan benar dia Bagas yang sama dengan yang makan dengan Ardi.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Ardi menuju pintu keluar arena bermain dengan menenteng kantong plastik berwarna putih. Sarah mencoba berfikir positif, siapa tahu Ardi datang untuk menghampirinya dan di kenalkan dengan istrinya.
**********