Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Menemui Rahma dan Kandar


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Dari sekian hari dan sekian bulan baru hari ini Satria dan Dinda menemui Rahma dan Kandar di penjara. Beberapa kali ingin datang menemui mereka selalu gagal, terakhir gagal karena Satria ada meeting dadakan dan tidak bisa diwakilkan.


"Kira-kira mama dan papa akan marah tidak ya mas kita baru bisa menjenguknya?."Tanya Dinda sebelum turun dari mobil.


Kini mobil Satria berada diparkiran Rumah tahanan kota XX, Dinda sendiri merasa ragu untuk bertemu dengan mertuanya. Sebab selama ini hubungan Dinda dan mertuanya tidaklah baik, begitupun dengan hubungan Satria dan orang tuanya.


"Kalau mereka marah dan tidak mau bertemu dengan kita ya kita pulang saja dan tidak usah pedulikan mereka. Sudah syukur kita berbaik hati untuk menjenguknya."Ucap Satria dengan santainya.


"Kok begitu sih mas bicaranya? Jangan begitu, bagaimanapun juga mereka itu orang tua mas, mama orang yang sudah melahirkan mas. Kalau tidak ada mereka juga tidak akan ada mas di dunia ini dan kita tidak akan saling kenal."Ucap Dinda bicara dengan lembut agar hati Satria ikut melunak.


Satria hanya mengangguk pelan dan segera turun dari mobil. Mereka beriringan masuk ke gedung rumah tahanan dan menemui sipir yang menjaga rumah tahanan. Kedatangan Satria dan Dinda disambut dengan baik, mereka berdua diarahkan ketempat khusus yang biasa dipakai untuk menjenguk tahanan.


Kali ini Satria meminta kepada petugas untuk membawa kedua orang tuanya secara bersamaan keluar dari sel. Sehingga tidak akan memakan waktu banyak untuk menemui mereka. Sel keduanya memang berbeda namun Satria meminta mereka langsung dibawa keluar bersama.


"Satria, Dinda? Seru Rahma yang menyadari jika anak dan menantunyalah yang datang menjenguknya. Dia tadi mengira jika Hakim pah yang datang menemui mereka , namun siapa sangka ternyata Satria dan Dinda .


"Mama dan papa apa kabar? Ini Dinda bawakan makanan untuk mama dan papa, maaf jika Dinda dan mas Satria baru bisa menemui kalian."Seru Dinda mencoba bersikap biasa saja dan ramah dengan kedua mertuanya.


Rahma dan Kandar sudah duduk dihadapan Dinda dan Satria, mereka terlihat lebih kurus. Mereka juga tidak terlihat arogan ataupun marah kepada Satria dan Dinda. Kandar dan Rahma sama sekali tidak berani menatap wajah Satria.


Dinda merasa kedua mertuanya sudah berubah, jika memang keduanya sudah berubah Dinda tentunya ikut senang. Namun hukuman mereka berlanjut dan tidak bisa dipangkas.


"Terimakasih, Dinda. Emm kabar kamu dan anak kamu bagaimana? Kenapa tidak kamu ajak kesini?."Tanya Rahma terbata-bata.


"Mama sudah tahu kalau aku sudah melahirkan?."Tanya Dinda antusius.


"Emm tidak tahu, tapi perut kamu kan tidak besar. Berarti kamu sudah melahirkan? Maaf kalau misalnya mama salah bicara. Dinda, Satria terimakasih kalian sudah mau menjunguk kami disini. Maaf..."Seru Rahma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Tanpa diduga, Kandar pun sudah terisak. Satria dan Dinda hanya saling beradu pandang, mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Rahma dan Kandar. Kenapa merek menangis seperti itu, padahal Satria dan Dinda tidak melakukan apa-apa.


Rahma dan Kandar bangkit dan langsung menghampiri Satria, mereka bersimpuh dihadapan Satria dengan terung mengulang-ulang kata maaf.


"Maafkan mama, Satria."Seru Rahma sambil terisak


"Maafkan papa juga, Satria. Papa tahu jika papa banyak salah sama kamu dan nenekmu, serta istri kamu. Papa terlalu bodoh Satria, papa bukanlah kepala rumah tangga yang baik. Maafkan papa dan mama Satria, gara-gara kami kamu hanya hidup berdua dengan nenek kamu saja. Kami benar-benar menyesal Satria, dan kami pantas mendapatkan hukuman ini."Ucap Kandar sambil terisak.


Hati anak mana yang tidak sakit jika kedua orang tuanya enggan mengurusnya dan tidak memperdulikannya. Bahkan ditinggalkan dari kecil, dan justru mereka hidup menjauh. Namun melihat kedua orang tuanya bersimpuh seperti itu, membuat Satria tidak tega. Dalam hatinya masih selalu tersimpan rasa sayang untuk kedua orang tuanya.


Dinda hanya melihat semua yang sedang terjadi dihadapannya. Dia membiarkan suaminya memutuskan sendiri.


"Papa, mama tolong jangan begini. Bangunlah kita bicara baik-baik, Satria tidak mau mama dan papa seperti ini."Seru Satria mengajak kedua orang tuanya berdiri dan kembali duduk ditempatnya semula.


Rahma dan Kandar mengangguk lalu duduk kembali di tempatnya. Mereka sangat menyesali perbuatannya dimasalalu yang sudah jahat dan menyia-nyiakan Satria.


"Jika mama dan papa ingin mendapatkan maaf dari Satria, tolong rubah sikap kalian. Jangan pernah melakukan kejahatan lagi dan jangan memusuhi Dinda lagi. Satria ingin mama dan papa menjadi orang baik dan pribadi yang lebih baik lagi."Seru Satria dengan tegas.


"Mama dan papa janji ingin memperbaiki diri kami Satria, kami benar-benar menyesali semua kesalahan kami."Jawab Rahma dengan air mata yang berlinangan.


Rahma dan Kandar berdiri dan memeluk Satria secara bersamaan. Satria menyambut hangat pelukan dari kedua orang tuanya, pelukan yang pertama kali Satria dapatkan dari orang tuanya. Dinda ikut terharu dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Puas berpelukan mereka duduk kembali dan melanjutkan obrolan mereka.


"Kami memang pantas mendapatkan hukuman ini, yang penting sekarang kami sudah meminta maaf sama kalian. Itu semua sudah membuat hati kami lebih tenang, kami ikhlas menjalani hukuman ini. Satria, tolong kamu bimbing adik kamu kejalan yang benar. Jangan sampai dia kembali keduani nya yang kelam itu, Hakim itu anaknya juga terlalu ambisius. Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya."Seru Rahma bicara dengan serius.


Hhuuuffffttt


Satria terlihat membuang nafasnya dengan kasar. Bicara soal Hakim dia tidak bisa berjanji untuk bisa membimbingnya. Sebab saat ini diantara Hakim ada dua wanita ular yang kapan pun siap meracuni otak dan fikiran Hakim.


"Susah, Ma. Hakim sekarang sudah kembali kedunia kelamnya. Dia sudah menikah dengan mantan kakak ipar Satria, dan mereka mempunyai usaha panti pijat plus, mereka juga menyediakan para wanita penghibur dan mereka mempunyai usaha perjudian yang lumayan besar. Tentunya mama dan papa tahukan usaha Hakim dan Istrinya, pastinya Hakim juga sering datang kesini kan?."Tanya Satria melirik kearah mama dan papanya.


"Kami memang tahu, Satria. Awalnya kami senang Hakim sudah bisa hidup enak meskipun mencari uang dengan cara tidak berkah. Tapi lama-lama kami merasa bersalah jika terus mendukung Hakim, dan pada akhirnya saat dia datang kesini kami menasehatinya agar berhenti dengan bisnisnya itu. Kami takut dia juga terjebak dalam obat-obatan terlarang. Namun saat itu justru dia marah dan sudah hampir dua bulan ini dia tidak menemui kami lagi."Rahma menceritakan semua yang terjadi saat Hakim datang menjenguknya.


"Ma, sekarang Hakim memang sudah menikah dengan perempuan bernama Sinta. Dan Sinta ini dulunya adalah pemakai obat terlarang dan dia mempunyai hubungan dengan gembong kelas kakap. Tapi beruntungnya Gembongnya sudah tertangkap, namun tidak tahu Sinta ini masih memakai atau tidak. Kalau menurut saya sepertinya dia masih memakai."Ucap Dinda memberitahu siapa Sinta istri Hakim yang sebenarnya.


Rahma dan Kandar terkejut dengan penjelasan Dinda, ternyata apa yang ditakutkan mereka terjadi juga. Mereka sangat takut Hakim memakai obat-obat terlarang, tetapi justru istrinya Hakim sendiri pemakai. Dan sudah dapat dipastikan jika Hakim juga memakainya.

__ADS_1


"Hakim itu sudah tidak bisa di nasehati lagi, belum lama ini dia meminta uang kepada Nenek 50 juta. Satria tidak tahu uang itu untuk apa. Padahal jika dia mau merubah sikapnya dan meninggalkan dunia kelamnya itu, Satria dan Nenek sudah menyiapkan modal usaha untuk Hakim. Namun siapa sangka Hakim malah bergabung dan menikah dengan Sinta, bahkan dia juga ada main dengan Sarah. Sinta, Sarah dan Hakim itu satu kelompok yang benar-benar sudah serasi tidak dapat dipisahkan lagi."Ucap Satria.


"Sarah? Siapa lagi itu Sarah?."Tanya Kandar yang memang tidak tahu siaps itu Sarah.


Akhirnya Satria menceritakan siapa itu Sarah kepada kedua orang tuanya tanpa ada yang Satra tutupi tentang Sarah. Rahma dan Kandar terlihat serius mendengarkan cerita dari Satria. Ternyata dunia kehidupan Hakim benar-benar sudah melenceng jauh.


"Jadi Sarah itu wanita panggilan? Dan Hakim juga ada main dengan wanita itu?." Seru Rahma.


"Iya "Jawab Satria jujur.


Tanpa terasa waktu menjenguk sudah habis, Satria dan Dinda diminta untuk segera meninggalkan lapas. Rahma dan Kandar harus kembali ke sel tahanannya masing-masing. Sebenarnya mereka masih ingin berbincang dengan Satria dan Dinda, namun apa daya waktu mereka sudah habis. Akan tetapi Sarah dan Dinda berjanji akan datang kembali untuk menjenguk mereka.


**********


"Sial !! Ini tidak bisa dibiarkan ! Aku harus bisa merebut Reno dari bocah itu. Aku tidak rela Reno dan bocah itu hidup bahagia, Reno itu milikku dan akan selamanya menjadi milikku."Seru Sarah sembari mengepalkan kedua tangannya.


Hakim dan Sinta hanya bisa memandang jengah kearah Sarah yang sedari tadi marah-marah dan menggerutu. Padahal dalam hatinya Sinta dia sangat senang melihat Sarah tidak bisa kembali dengan Reno, dengan begitu Sarah bisa selalu terikat dengannya.


"Sinta, kamu harus membantuku untuk bisa menaklukkan Reno. Aku tidak rela jika Reno bersama wanita lain, enak saja dulu saat dia miskin dia sama aku. Tetapi sekarang saat susah mapan dia sama wanita lain."Seru Sarah dengan kesal.


"Kamu itu bodoh atau bagaimana sih, Sarah? Bukannya kamu sendiri waktu itu yang menendang Reno keluar dari rumah? Dan kamu juga yang menggugat Reno cerai, terus kenapa sekarang kamu merasa tersakiti? Sudahlah lupakan Reno, tanpa Reno kamu juga bisa hidup dengan mewah. Nanti malam ada yang mau memakaimu, dia sudah mentrasfer 50 juta kepadaku. Seperti biasa, bagian kamu hanya 10 juta, soalnya yang 15 juta untuk mencicil hutang kamu. Ingat Sarah 175 juta itu bukan uang yang sedikit."Seru Sinta melirik sinis kearah Sarah.


*Siapa juga yang mau berlama-lama ikut kerja sama kamu, Sinta. Setelah hutang itu lunas aku akan pergi dari kalian, aku muak dengan peraturan yang dibuat Sinta.*Gumam Sarah dalam batinnya.


"Sayang, apakah obat nya sudah ada? Kepala ku sakit dan badan ku pegal-pegal sekali nih, sepertinya memang sudah waktunya aku minum obat itu lagi. Terakhir minum dua hari yang lalu."Seru Hakim sembari memijat pelipisnya.


"Ada, nanti aku kasih. Jangan keseringan minum, sebab kita minum itu juga hanya untuk suplemen saja. Dua atau 3 hari sekali tidak masalah, tapi kalau mau setiap hari aku tidak mau. Itu mahal, jadi aku tidak mau membuang uang banyak-banyak untuk kamu."Jawab Sinta dengan ketus.


Sarah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Sinta kepada Hakim. Sebab dia sendiri memang sudah tahu obat apa yang dimaksud Sinta. Sarah juga memakainya disaat badannya benar-benar lelah, apalagi jika habis melayani 2 sampai 3 pelanggannya dalam sehari.


"Ok Sayang. "Jawab Hakim sembari merangkul punggung Sinta dan tanpa malu mencium Sinta dihadapan Sarah.


Ceeekkkkk


Sarah berdercak kesal dengan kelakuan manusia yang ada dihadapannya itu. Diapun memilih keluar dari rumah Sinta dan menuju mobilnya, dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat agar nanti malam tenaganya biar prima.

__ADS_1


*Hutangku baru terbayar 75 juta. Hemmm 100 juta lagi, enak banget hidup Sinta itu. Tinggal duduk santai uang mengalir begitu saja. Karena aku dan yang lainnya yabg bekerja, Jika jadi Sinta seperti itupun aku mau. Tapi aku ingin hidup normal-normal saja, aku capek hidup seperyi ini. Dan aku juga takut terus-terusan berganti pasangan seperti ini, aku tidak tahu para pria itu sehat atau tidak. *Gumam Sarah dalam batin sembari dia fokus dengan setir mobilnya.


*************


__ADS_2