Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Dua wanita Hakim


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Dua bulan berlalu


Usia kandungan Dinda saat ini sudah 7 bulan, baru saja Dinda melakukan pengajian 7 bulanan. Dinda memilih acara itu dilaksanakan di panti asuhan, dengan alasan ingin berbagi kebahagiaan dengan para anak - anak panti. Selesai pengajian tujuh bulanan, Dinda dan Satria mengajak mereka semua untuk makan bersama.


" Cahaya kenapa?." Tanya Dinda mendekati Cahaya yang terlihat murung.


" Tidak apa - apa kak." Jawab Cahaya singkat.


Cahaya bersedih, sebab cintanya untuk Indra bertepuk sebelah tangan. Terlebih 3 hari lagi Indra akan menikah dengan amara. Namun biarpun begitu Cahaya tetap ikut senang dengan keputusan Indra, cahaya membungkus kesedihannya dengan sebuah senyuman.


" Soal Indra?." Tanya Dinda lagi dan langsung membuat Cahaya memandang kearah Dinda.


" Kak, apa aku salah mencintai kak Indra?" Seru Cahaya dengan raut wajah yang terlihat sedih.


" Mencintai seseorang itu tidak salah Cahaya. Yang salah itu jika kita ingin mememilik seseoranh itu padahal kita tahu orang itu tidak menginginkan kita. Indra itu pria yang baik, dan kakak yang baik untuk kamu. Dia menyayangi kamu seperti adiknya sendiri, jadi apapun yang terjadi diantara kamu dan Indra kalian tetap harus menjalin hubungam silaturahmi yang baik." Ucap Dinda menasehati Cahaya.


" Insya Allah, aku akan tetap menjalin hubungan baik kak. Emm, kak tolong jangan kasih tahu kak Indra dan kak Satria soap masalah ini ya ? Mereka tidak tahu jika aku mencintai kak Indra, mungkin cinta ku ini hanya cinta sebatas kagum dan nyaman saja. Sebab kak Indra dulu pernah tinggal disini dan bersama - sama dengan kami. Aku saja yang membesar - besarkan rasa ini."Ucap Cahaya mulai bisa menunjukan senyum manisnya.


Dinda memeluk Cahaya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Dinda bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Cahaya. Saat mereka sedang berpelukan tiba-tiba Satria datang menghampiri Dinda dan Cahaya.


" Kenapa ini kok main peluk-pelukan?." Tanya Satria mengagetkan keduanya.


" Tidak ada apa-apa. Ngapain kak Satria ada disini? Aku lagi tidak mood untuk meladenin bencandaan kak Satriam" Jawab Cahaya dengan cemberut dan mulut mengerucut.


Jika ada Satria didekatnya pasti dia hanya ingin meledek Cahaya saja. Jadi Cahaya sudah tahu betul kebiasaan Satria.


" Duhhh ada yang lagi curhat nih." Seru Satria mulai meledek Cahaya.


" Mas, jangan suka ganggui orang gitu dong." Tegur Dinda, tidak mau suaminya meledek Cahaya sebab suasana hati cahaya sedang tidak baik-baik saja.


" Kapok kan dimarah sama kak Dinda. Makanya jangan suka meledek orang. "Seru Cahaya merasa senang sebab Dinda membelanya.


" Iya deh iya, tidak akan meledek kamu lagi. Sayang yuk kita pulang, itu nenek sama yang lainnya juga sudah bersiap-siap untuk pulang." Ucap Satria yang ternyata datang untuk memanggil Dinda pulang.

__ADS_1


Keluarga Dinda semuanyq juga ikut kepanti , termasuk Reno dan Joni juga. Kebetulan juga hari ini hari libur sekolah sehingga Joni bisa ikut. Dinda mengangguk lalu bangkit dan berjalan dengan tangan Satria tetap menggandengnya.


" Sudah siap semua ya?." Seru Dinda menghampiri keluarganya.


" Iya ini tinggal menunggu ibu hamil saja."Ucap Rena sambil tertawa.


"Ya sudah kalau begitu yuk kita pulang."Ucap Dinda dengan ramah.


Mereka semuapun berpamitan, setelah berpamitan mereka semua masuk ke mobil masing - masing. Kali ini Satri membawa mobil 2 yang dikendarai oleh sopir 1 untuk membawa kedua mertuanya dan para iparnya. Reni dan Joni membawa mobil toko, seminggu yang lalu Reno membeli mobil seken untuk keperluan di toko.


**********


Plaakk Plaakkk


Sinta menampar Sarah berulang kali, baru saja Sinta memergoki Sarah ada dikamarnya sedang merayu Hakim. Sinta tidak mau lagi mendengarkan penjelasan Sarah, amarah sudah menguasai Sinta.


Padahal Sarah datang kerumah Sinta lantaran Hakim yang menyuruhnya. Sebab Sinta sedang pergi ke salon, dan jika sudah kesalon Sinta bisa sampai seharian. Dan hal itu dipergunakan Hakim untuk memanggil Sarah dan ingin bersenang-senang dengan Sarah.


" Dasar wanita murahan ! P3l@cur rendahan ! Kamu memang wanita panggilan, akan tetapi bukan suamiku juga yang kamu rayu. Aku menyesal membawa kamu ikut gabung dengan ku, mulai hari ini kemu bukan lagi bagian dari usahaku." Sentak Sinta dengan lantang.


" Haaii dasar wanita tidak tahu diri ! Usaha panti pijat mu ini ramai karena adanya aku, lagi pula disini bukan hanya aku yang salah. Suami mu itu juga salah, dia yang sudah mengundangku kemari untuk memuaskannya karena kamu selalu sibuk dengan dirimu sendiri. "Seru Sarah tidak mau disalahkan sendiri.


Mata Sarah menatap tajam kearah Hakim, Sarah tidak menyangka jika Hakim akan berbohong dan tidak mengakui semua yang sudah tetjadi diantara mereka berdua. Padahal dalam 3 bulan terakhir ini Sarah dan Hakim menjalin hubungan bahkan sudah banyak waktu yang mereka habiskan diranjang.


" Dasar pria kurangajar kamu, Hakim. Kamu yang memintaku datang kesini, dan apa kamu lupa sudah 3 bulan ini kita menjalin hubungan dekat. Dan sudah berapa kali saja kamu tidur denganku, bahkan gratis tanpa membayar." Seru Sarah terpancing emosi oleh Hakim.


Plakk Plaakkk


Dua tamparan berhasil mendarat dipipi Sarah, dan itu tamparan dari tangan Hakim. Sinta tersenyum sinis saat melihat Sarah ditampar oleh Hakim.


" Jaga mulut mu ! Aku tidak mungkin main gila dengan wanita sepertimu, wanita yang lubangnya milik orang banyak. Biarpun aku mempunyai usaha prostitusi tetapi aku juga tetap ingin wanita yang baik-baik yaitu istriku, Sinta." Seru Hakim membela dirinya sendiri.


Hakim takut jika Sinta akan mempercayai ucapan dari Sarah dan Sinta akan membuangnya kejalanan. Sebab semua aset dan usaha yang mereka miliki atas nama Sinta, mobil yang dipakai Hakim saja juga atas nama Sinta. Sehingga jika Sinta membuang Hakim sudah pasti dia akan hidup menggbel di jalanan.


Sinta terdiam, dia ingin mengetahui siapa yang berbohong diantara Hakim dan Sarah. Namun Sinta tahu pasti memang terjadi sesuatu dengan Sarah dan Hakim, tidak mungkin Sarah bicara membabi buta seperti itu jika tidak terjadi sesuatu.


" Mas, apa benar yang dikatakan Sarah?." Tanya Sinta memandang tajam kearah Hakim.


" Emm Sinta sayang, dia yang menggodaku. Tolong maafkan aku." Seru Hakim dengan bersimpuh dihadapan Sarah.


Hakim tidak mau jika Sinta memintai cerai, meskipun mereka hanya menikah secara siri saja. Hakim harus menyakinkan Sinta, agar Sinta tetap mau bersamanya.

__ADS_1


" Sudahlah Hakim, kamu jangan seperti itu. Percuma kamu menyesal, lagipula selama ini juga kamu menikmati hubungan ini. Bukannya pelayananku lebih memuaskan kamu daripada Sinta, goyanganku lebih yahut. Bukannya kamu tidak bisa melupakan goyangan itu." Seru Sarah sambil tertawa kecil.


" Jika kamu mai bersama Sarah silahkan saja kamu pergi dan jangan harap kamu keluar dari sini membawa uang. Sepeserpun kamu tidak akan membawanya, kamu keluar tanpa membawa apa-apa. Semua yang ada ini milikku dan kamu tidak berhak memilikinya!!." Sentak Sinta dengan kesal.


" Tidak sayang, aku tidak mau berpisah dari kamu. Semua ini gara-gara wanita l@cur itu, dia sengaja ingin memisahkan kita. Sebab dia iri dengan kamu, dia iri dengan apa yang kamu punya. Wanita ini berhati iblis, berhati busuk sayang. Lebih baik kita jangan mengenal dia lagi." Seru Hakim memperolok Sarah.


Sarah mengepalkan kedua tangannya, dia terlihat marah dan emosi. Hakim justru menyalahkannya dan menyudutkannya. Padahal semua ini terjadi atas dasar kesadaran kedua belah pihak dan tidak ada paksaan. Hakim sama saja sudah menjebak Sarah, apa yang dikatakan Hakim memang benar, jika dia merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh Sinta.


" Dasar wanita tidak tahu diuntung ! Tidak tahu balas budi, pergi kamu dari sini. Dan mulai hari ini kita tidak punya kerjasama lagi. Dan carilah pelanggan kamu sendiri, jangan pernah menyerobot pelanggan disini. Paham!!" Seru Sinta bicara dengan tegas.


" Dengan senang hati aku akan pergi dari sini, bukannya dari dulu aku ingin pergi tetapi kamu melarangku. Aku akan pergi dan tidak akan sudi lagi menginjakkan kaki dirumah ini, apalagi rumah yang kamu beli dengan uang yang tidak berkah." Seru Sarah mencibir Sinta.


Selesai bicara seperti itu Sarah mengambil tasnya yang ada di atas sofa kamar Sinta lalu pergi keluar dari kamar. Kini tinggallah Hakim dan Sinta yang ada didalam kamar. Hakim menunduk ketakutan, dia takut jika akan hidup menjadi gembel, lagipula usaha apa yang dia bisa jika Hakim tidak lagi bersama Sarah.


" Keluar kamu mas. Aku ingin sendiri dan jangan masuk kamarku tanpa seizinku. Dan satu lagi, sampai kamu mengulangi kesalahan lagi aku tidak segan-segan untuk mengusirmu dan kamu akan hidup menjadi gembel." Seru Sinta dengan kesal


" Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Lagipula memang Sarah yang waktu itu merayuku lebih dahulu. Baiklah aku akan keluar dari kamar, jika ada apa-apa tolong panggil mas ya. Kamu istirahat agar fikiran kamu lebih tenang dan lebih rileks." Seru Hakim mulai bersikap manis dan baik dengan Sinta.


Hakim keluar dari kamar dan dia memilih masuk kekamat sebelah untuk menghubungi Sarah. Hakim secara diam-diam menghubungi Sarah dan akan meminta maaf kepada Sarah.


[ Mau apalagi kamu menghubungi aku. Heehhh... ? Belum puas kamu menamparku dan mempermalukan aku ? Dasar pria tidak berguna, yang bisanya hanya berlindung dibawah ketek wanitanya saja.] Bentak Sarah dengan kesal.


[ Ssttt... Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud untuk seperti itu, aku terpaksa melakukan ini agar Sinta masih tetap bersama ku. Kamu tenang saja, aku juga masih ingin bersama kamu. Kamu tahukan semua yang kami miliki ini atas nama Sinta, jadi aku harus tetap baik-baik sama dia agar aku masih bisa menggunakan fasilitas yang ada. Kamu mau hidup enak kan?.]


[ Tapi bukan dengan menghina dan menamparku seperti tadi.]


[ Maaf sayang, maaf. Kamu sekarang pulang saja, nanti malam aku akan kerumah kamu.]


[ Baiklah, tapi jangan sampai telat. Jam 9 malam kamu harus sudah sampai, aku sangat merindukan kamu. Tahu sendirikan tadi kita belum sempat melakukannya wanita itu sudah datang dan mengacaukan semuanya.]


[ Baiklah sayang, aku pasti akan datang. Kalau begitu teleponnya aku tutup dulu ya? Takut Sinta mengetahui jika aku menghubungi kamu.]


[ Baiklah. By sayang.... Love you ]


[ Love you to sayang.]


Hahahaaaaaa


Hakim tertawa dengan senang, akhirnya Sarah berada dalam genggamannya lagi. Sarah lebih mudah dia taklukkan daripada Sinta, menurutnya Sarah terlalu bodoh. Padahal Hakim juga hanya memanfaatkan tubuh Sarah saja, dimana saat bersama Sarah dia mendapat kepuasan yang sesungguhnya.


*************

__ADS_1


__ADS_2