
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Jam 10 pagi Sinta baru keluar dari kamar sembari membawa dua koper besar yang berisi pakaiannya serta barang-barang yang lainnya. Saat ini di ruang keluarga hanya ada Pak Karim, Ibu Rahayu dan Hana saja. Sedangkan Satria sudah berangkat ke kantor dan Dinda sedang beristirahat karena dia masih saja merasa mual dan pusing.
Melihat mamanya keluar dari kamar dengan membawa dua koper besar, tidak membuat Hana terkejut sedikitpun. Sepertinya Hana memang sudah siap tidak tinggal dengan ibunya, sebab dari dulu memang Hana tidak dekat dengan Sinta.
" Jadi pergi juga kamu Sinta? Baguslah kalau memang kamu sadar diri mau pergi dari rumah ini. Jadi aku tidak perlu pusing-pusing untuk mengurus kamu dan mengusirmu dari rumahku." Ucap Ibu Rahayu sambil melirik sinis ke arah Sinta yang berdiri di dekat rak televisi.
" Kalau memang kamu mau pergi, pergi saja Sinta. Bapak tidak akan pernah melarang kamu untuk pergi. Tapi ingat setelah kamu pergi dari sini, jika terjadi sesuatu dengan dirimu. Tolong jangan pernah libatkan kami lagi." Ucap pak Karim terlihat bicara dengan serius.
Hana masih diam saja tidak mau menyampaikan sebablah dua kata untuk ibunya dia bahkan sama sekali tidak mengarah ke ibunya Hana seperti memendam sesuatu pada dirinya sehingga dia bersikap cuek kepada mamanya sendiri.
" Tenang saja aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi, toh aku memang sudah tidak ada hubungan dengan kalian berdua dan keluarga kalian yang lainnya. Di sini hanya Hana yang masih ada hubungan denganku. Aku titipkan Hana kepada kalian dan Satria, tapi ingat di saat Hana sudah berusia 17 tahun aku berhak mengambil Hana. Karena bagaimanapun aku ibu kandung Hana, aku yang sudah melahirkan Hana dan membesarkan Hana. Sampai kapanpun Hana itu anakku dan hak ku." Ucap Sinta penuh dengan penekanan.
" Mama tidak perlu repot-repot memikirkan soal Hana. Hana sudah besar ma, Hana tahu mana yang baik dan buruk. Hana juga tahu mana yang tempat aman dan tidak aman, saat Hana umur 17 tahunan nanti Hana sudah berhak menentukan hidup Hana sendiri. Jadi Mama jangan pernah membuat kekacauan dalam hidup Hana Mama boleh menemui Hana kapanpun saja tapi, bukan berarti mama berhak mengatur kehidupan ku."Tutur Hana masih bicara dengan sopan tanpa ada rasa amarah sedikit.
Sinta langsung terdiam setelah mendengar pernyataan dari Hana, dia heran kenapa sampai Hana bisa bicara seperti itu. Apa maksud Hana bicara tempat aman dan tak ada aman? Sinta tidak bisa menerima keputusan Hana begitu saja. Bahkan dia menentang keputusan Hana dia akan tetap meminta Hana untuk ikut dengannya di saat dia berusia 17 tahun nanti.
Sedangkan Pak Karim terperanglah mendengar kata-kata dari cucunya. Kenapa cucunya bisa bicara seperti itu ? Pak Karim khawatir jika Hana sudah mengetahui semuanya.
" Maksud kamu apa bicara seperti itu ? Hana, aku ini Mama kamu orang yang sudah melahirkan kamu. Apa kamu tidak mau berbakti kepada Mama kamu sehingga kamu lebih memilih tinggal dengan mereka daripada dengan mamamu sendiri."Ucap Sinta mencoba memelankan suaranya agar Hana tidak takut dengannya.
" Tidak ada maksud apa-apa ma. Maafkan Hana jika selama ini Hana belum bisa berbakti kepada Mama, suatu saat nanti Hana pasti akan membalas semua pengorbanan mama untuk Hana. Hana akan mencoba menjadi anak yang berbakti kepada mama. Tapi bukan berarti mama berhak mengatur hidup Hana." Jawab Hana dengan penuh keyakinan.
" Sudahlah Hana mama tidak mau lagi ribut sama kamu. Sekarang kalau kamu memang mau tinggal dengan kakek atau nenek kamu ataupun dengan Satria. Mama tidak melarangnya tapi ingat saat kamu 17 tahun nanti Mama pasti akan mendatangi kamu dan memintamu untuk ikut dengan mama. amaaf mama harus pergi."Seru Sinta lalu dia berjalan keluar rumah tanpa mau bersalaman kepada kedua mertuanya ataupun memeluk Hana.
Setelah Sinta keluar dari rumah Pak Karim, air mata Hana pun jatuh berlinangan. Bahkan dia menangis sesungguhkan, Dinda yang sempat mendengar suara ribut-ribut pun akhirnya keluar dari kamar dan dia mendapati Hana yang sedang menangis dalam pelukan Ibu Rahayu.
__ADS_1
Dengan segera Dinda menghampiri Hana dan menanyakan apa yang terjadi sampai Hana menangis seperti itu.
" Apa yang membuat kamu menangis seperti ini Hana? Coba cerita sama tante Dinda." Tanya Dinda dengan lembut sambil mengusap punggung Hana.
Hana melepas pelukannya dari sang nenek lalu dia duduk diantara Dinda dan sang nenek, sambil mengusap air matanya.
" Mama sudah pergi dari rumah tante dan sekarang Hana tidak punya siapa-siapa lagi. Hana hanya punya mama tapi nama tidak peduli dengan Hana, bahkan mama sudah memanfaatkan Hana."Ucap Hana sembari terisak.
Dinda tidak seberapa paham dengan apa yang disampaikan oleh Hana. Maksud dari dimanfaatkan oleh Sinta yang sama sekali tidak Dinda ketahui apa yang sebenarnya terjadi. Dinda melirik ke Pak Karim dan Ibu Rahayu secara bergantian.
" Sinta sudah pergi dari rumah Dinda, dan dia sudah membawa semua barang-barangnya. Mungkin itu yang membuat Hana menjadi sedih karena merasa tidak diperdulikan oleh Sinta." Ucap pak Karim memberi penjelasan kepada Dinda.
* Sepertinya Hana memang sudah tahu semuanya* Gumam pak kirim dalam batinnya.
" Hana jangan bicara seperti itu. Kamu tidak sendirian ada nenek, ada kakek, ada Om Santria dan ada tante Dindam Kami semua sangat menyayangi kamu, kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Jadi jangan pernah beranggapan jika kamu itu sendiri. Pesan tante, biarpun mama kamu seperti itu, seburuk apapun kelakuan mama kamu, kamu harus tetap menghargai dan menyayangi mama kamu." Ucap Dinda mencoba menasehati Hana agar tidak semakin membenci mamanya.
" Apa pantas Hana masih menganggap wanita seperti dia itu Mama Hana? Tante mama itu jahat tante, bahkan Hana saja tidak mau tinggal dengannya tante." Seru Hana dengan air mata berlinangan.
Dinda semakin tidak mengerti masalah apa yang sedang terjadi antara Sinta dan Hana, sampai Hana sebenci itu kepada Sinta. Dinda pun menyuruh Hana untuk masuk kamar saja dan beristirahat agar suasana hatinya sedikit lebih tenang, beruntungnya Hana mengikuti apa yang dikatakan oleh Dinda.
" Sepertinya memang terjadi sesuatu antara Sinta dan Hana Pak. Tapi apa? Hana itu anak yang baik dia tidak akan semarah ataupun sebenci itu kepada orang jika tidak ada masalah yang benar-benar sangat berat." Ucap Ibu Rahayu memang merasakan ada kejanggalan saat tadi Hana bicara dengan Sinta.
" Bapak tidak tahu Bu. Nanti kalau memang Hana sudah tenang dan dia bisa kita ajak bicara, kita tanyakan baik-baik. Tapi dengan syarat jangan sampai menyinggung perasaan Hana. Bapak kasihan sama Hana, baru beberapa hari ditinggal Rudi untuk selamanya, sekarang pergi Sinta juga pergi. Dia seolah memang tidak peduli dengan Hana Bu. Semoga saja kelak Hana bisa menjadi orang sukses, jadi hidupnya bisa bahagia meskipun tanpa kehadiran kedua orang tuanya." Ucap pak Karim penuh harap.
" Aamiin "
Ibu Rahayu dan Dinda mengaminkan harapan dan doa dari pak Karim. Sebentar lagi jam makan siang, ibu Rahayu kedapur untuk memasak untuk makan siang. Dinda membantu memotong sayurannya saja, agar dia tidak mencium bau bawang.
" Dinda untuk acara nanti malam apa kamu masih mau beli makanan jadi? Kamu tidak merasa rugi mengeluarkan uang banyak untuk acara tahlilnya Rudi? Ibu tahu sendiri bagaimana sikapnya Rudi kepada kamu semasa dia hidup." Ucap Ibu Rahayu mengingat begitu buruknya perlakuan Rudi terhadap Dinda dan Satria.
" Iya Bu aku sudah memesan semuanya sampai acara malam ketujuhnya mas Rudi. Tidak ada kata rugi untuk orang yang kemalangan Bu, selama beberapa tahun ini memang mas Rudi berperilaku tidak baik kepada kami. Rapi apa Ibu lupa? dulu mas Rudi itu sangat menyayangi Dinda bahkan saat Dinda berangkat sekolah pun sering diantarkan dia dengan naik sepeda." Ucap Dinda mengenang masa lalunya saat bersama Rudi.
Ibu Rahayu mengingat semua masa-masa kecil anak-anaknya. Dulu mereka memang hidup saling menyayangi dan mengasihi, namun setelah mereka sama-sama beranjak dewasa dan memiliki keluarga masing-masing sifat dan sikap mereka berubah. Bahkan mereka tamak dengan harta dan tidak peduli dengan sesama keluarganya.
__ADS_1
" Oh iya Bu kok dari semalam Dinda tidak melihat Mbak serah dan Mas Reno Ya hanya ada mas Beni dan Mbak Rena saja tanya Dinda sedikit heran dengan kakaknya itu.
" Mana berani Reno sama Sarah muncul, mereka itu memang tidak tahu diri ! kurang ajar. Tahu di rumah sedang tertimpa musibah, justru mereka memanfaatkan keadaan. Kamu tahu tidak sembako yang kemarin banyak ada di kamar gudang itu, semua diangkut oleh Reno dan Sarah dan hanya menyisakan sedikit saja. Makanya tadi pagi Ibu sudah menyuruh Hana untuk membeli tepung terigu, karena semua bawaan para tetangga dibawa pulang oleh Reno dan Sarah." Ucap Ibu Rahayu dengan kesal mengingat kelakuan Sarah dan Reno.
Dinda hanya bisa geleng - geleng mendengar cerita ibunya. Kenapa Reno dan Sarah justru memanfaatkan keadaan.
* Oh iya soal mbak Rena ? Apa kabar wanita yang bernama Lisa itu ya ? Meskipun aku tidak cerita dengan mas Satria, pasti mas Satria sudah tahu jika pingsanku kemarin gara-gara Mbak Rena dan Lisa. Dari kemarin aku melihat mbak Rena seolah ketakutan saat menatap mas Satria.* Gumam Dinda dalam hatinya.
sementara itu saat ini di perusahaan STR Group, Lisa sedang berada di ruangan Satria. Saat ini di ruangan Satria juga ada Indra yang sedang memutar rekaman CCTV dari Cafe milik Dinda.
Tiba-tiba tubuh Lisa terasa panas dingin dan gemetaran, dia takut dipecat bahkan dilaporkan ke polisi oleh Satria. Bagaimanapun Dinda pingsan kemarin juga karena ulahnya yang sudah memaki-maki Dinda.
" Bisa kamu jelaskan isi rekaman CCTV ini Lisa?."Tanya Satria dengan tegas sambil menatap tajam ke arah Lisa.
" Maafkan saya pak. Saya tidak tahu jika Dinda itu istri pak Satria." Jawab Lisa takut-takut.
" Ooh begitu, jadi kalau Dinda ini bukan istriku berarti kamu bisa seenaknya saja menghina dan merendahkan Dinda ataupun orang lain. Masih beruntung kamu tidak saya laporan kepada polisi." Ucap Satria lagi.
Pertanyaan Satria tadi semakin memojokkan Lisa, sehingga bisa tidak bisa menjawabnya lagi. Dia sangat menyesal sudah memaki-maki dan menghina Dinda sebagai wanita pelakor. Ternyata wanita yang dia hina istri dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Apalagu jika sampai Satria benar - benar melaporkannya kepada polisi, bisa malu Lisa.
" Kamu saya PECAT !!".Ucap Satria dengan tegas.
Deg
Lisa langsung terkejut dengan keputusan Satria, dia tidak terima dipecat begitu saja. Padahal dia melakukan itu karena memang dia tidak tahu jika Dinda istri dari pemilik perusahaan.
Lisa mencoba untuk meminta keringanan dari Satria, dia mau gajinya dipotong selama beberapa bulan yang penting dia tidak dipecat. Namun keputusan Satria tidak bisa dirubah lagi. Satria hanya tidak ingin perusahaannya mempekerjakan orang-orang berwatak dangkal seperti Lisa.
" Sekarang kamu boleh keluar dan segera datangi HRD atau pihak keuangan dan minta gaji kamu bulan ini. Jangan takut gaji kamu tetap dibayar full bulan ini."Seru Indra mengusir Lisa.
Setelah pengusiran yang dilakukan oleh Indra, Lisa pun keluar dari ruangan Satria dengan wajah yang kusut. Lisa langsung mendatangi pihak HRD untuk mengambil gaji terakhirnya dan surat pemecatannya. Meskipun tidak terima dengan pemecatannya secara sepihak oleh Satria, Lisa tetap keluar dari perusahaan STR Group.
" Makanya kalau tidak tahu apa-apa itu jangan ikut campur dengan urusan orang lain, sukanya jadi kompor. Jadi sekarang terima saja nasib kamu." Ucap Beni saat tidak sengaja berpapasan dengan Lisa , saat Lisa hendak keluar dari gedung perusahaan.
__ADS_1
**********