Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Kepulangan Dinda dan Satria


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sembilan hari sudah Dinda dan Satria berada di Jerman, dan hari ini dia sudah bersiap untuk bertolak ke tanah air. Hana ternyata juga ikut pulang ke Indonesia, sebab dia sudah selesai semester dan sudah masuk libur sekolah. Mereka seharusnya pulang dari dua hari yang lalu, namun mereka memutuskan untuk menunggu Hana libur terlebih dahulu. Dinda dan Satria sengaja tidak memberitahu keluarga jika Hana, mereka ingin memberikan kejutan untuk keluarganya.


"Sayang, kira-kira mabuk lagi tidak?."Tanya Satria saat sedang menunggu jadwal penerbangannya di Bandara.


"Insya Allah tidak, Mas. Kemarin itukan baru pertama kali jadi bisa dibilang kaget lah."Seru Dinda membela diri.


"Hana juga waktu itu baru pertama kali naik pesawat, Tante. Tetapi Hana tidak mabuk kok, tapi memang setiap orang itu beda-beda sih, Tante. Intinya saat sudah berada di pesawat kita harus rileks, jangan banyak pikiran dan jangan grogi. Kalau kita grogi otomatis kita terus berpikir, jadi mau tidak mau pasti kita akan mabuk juga."Ucap Hana memberitahu Dinda untuk merilekskan dirinya.


"Nah dengerin tuh arahan dari sang calon pramugari."Seru Satria sambil terkekeh.


Dinda dan Hana juga ikut tertawa, Dinda yakin untuk kali ini dia tidak akan mabuk pesawat lagi. Dia sudah tidak takut dan tidak takut, dia berusaha untuk rileks sehingga dirinya juga lebih tenang dan santai.


"Itu sudah ada peringatan, yuk kita masuk dan menuju pesawat kita. Kalau kita ketinggalankan tidak lucu, hahahaa."Seru Dinda mengingatkan lalu tertawa cukup keras.


"Iya tante yuk kita segera masuk. Aku sudah tidak sabar ingin segera betemu dengan keluarga, mereka pasti terkejut melihat aku ikut pulang. Sudah 6 bulan aku di Jerman, rasanya rindu sekali dengan suasana di Indonesia. Pokoknya selama 2 mingggu ini Hana akan pergunakan waktu liburan sebaik-baiknya. Hana juga sudah kangen dengan Vivi, huhh gadis bawel itu pasti sangat merindukanku."Seru Hana sudah tidak sabar ingin bertemu juga dengan sahabar karibnya, Vivi.


Sepanjang cerita Hana, Dinda dan Satria tidak mendengar sekalipun Hana memanggil nama Sinta, mama kandungnya sendiri. Satria dan Dinda tidak mau menanyakan masalah itu, biarlah nanti saat sudah sampai dirumah dia akan menasehati Hana untuk menemui mamanya. Meskipun begitu Satria akan tetap menjaga keamanan Hana saat dia menemui Sinta nanti.

__ADS_1


"Sabar Hana, perjalanan kita itu lama hampir 15 jam loh. Yuk buruan kita masuk, sebentar lagi pesawat yang kita naiki akan segera take off."Seru Satria dengan menyeret kopernya.


Dinda dan Hana mengikuti Satria dengan menyeret kopernya masing-masing. Mereka kini sudah berada didalam pesawat dan sudah duduk dikursinya masing-masing sesuai dengan tiketnya. Setelah 30 menit akhirnya pesawat take off. Dinda dan Satria duduk bersebelahan sedangkan Hana duduk di kursi tepat didepan Satria.


*Bismillah, semoga perjalanan kali ini lancar dan tidak ada kendala. Kami semua selamat sampai tujuan, Aamiin.*Ucap Dinda berdoa dalam hatinya.


*********


Sinta medatangi rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada dirinya terlebih saat ini Hakim masih saja sakit bahkan belum menampakkan perkembangan sama sekali.


" Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dokter?."Tanya Sinta sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil dari pemeriksaan.


" Dari hasil pemeriksaan ini, Ibu Sinta terdapat infeksi seperti virus dalam organ intim ibu Sinta. Akan tetapi belum terlalu fatal dan belum menyebar. Beruntung Ibu Sinta segera memeriksakan kesehatan ibu, setelah ini Ibu Sinta harap berhati-hati saat melakukan hubungan dengan suami. Bisa jadi suami ibu sendiri saat ini sudah terjangkit penyakit kelamin. Ini ada obat beserta vitamin yang harus Ibu konsumsi secara rutin, agar bakteri dan virus bisa segera mati dan tidak lagi menyebar. Kalau boleh tahu kapan terakhir ibu berhubungan dengan suami ibu?." Tanya dokter ingin tahu.


Sinta diam dan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia dan hakim melakukannya. Seingat Sinta terakhir dia melakukannya sekitar 7 atau 9 hari yang lalu dan saat itu Hakim juga belum sakit.


"Baiklah kalau begitu ibu habiskan obat-obatan ini. Dan setelah seminggu ibu datang kesini untuk pemeriksaan lagi. Saya hanya berharap ibu bisa hidup dengan pola sehat, jika tubuh kita sehat dan imun kita kuat insya allah penyakit enggan untuk datang."Seru Dokter memberitahu.


"Jadi saya ini benar tidak terjangkit sakit kelamin kan dokter?."Tanya Sinta ingin lebih memastikan lagi.


" Dikatakan tidak tetapi ada gejalanya, jadi lebih baik saya katakan gejala begitu saja ya bu. Jika ibu mengikuti apa saran saya dan rajin mengkonsumsi obat serta vitaminnya insya Allah semuanya bisa normal. "Seru dokter menjelaskan.


*Apa jangan-jangan mas Hakim memang sudah terkena penyakit ini? Aku harus mencari tahunya terlebih dahulu, tetapi dia sampai sekarang juga masig sakit. Masa iya jika hanya terjepit resleting saja selama 2 hari tidak sembuh-sembuh. Dia terus mengaduh kesakitan, dan aku melihatnya saja tidak boleh. Hemm aku tidak mau kecolongan, aku harus bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya.*Gumam Sinta dalam batinnya.


Setelah urusannya dengan dokter selesai, Sinta pun memilih untuk segera pulang. Sebab dia ingin segera mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Hakim. Jika hanya terkena resleting tidak mungkin Hakim selama 2 hari ini terus mengeluh kesakitan.

__ADS_1


Jka memang Hakim sudah terkena penyakit itu, Sinta sudah tidak mau lagi untuk menampung Hakim. Da akan neminta cerai dari Hakim, apalagi mereka hanya menikah secara siri saja sehingga mudah bagi Sinta untuk meninggalkan Hakim.


Mobil Sinta melaju cukup kencang menuju tempat tinggalnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, kini mobil Sinta sudah berada tepat di depan rumahnya. Sinta turun dari mobil dan segera masuk mencari keberadaan Hakim.


" Apa senjata kamu masih sakit Mas? Jika masih sakit lebih baik kita bawa saja ke dokter, siapa tahu itu infeksi jadi kamu terus mengeluh kesakitan seperti itu."Seru Sinta yang sudah mendapati Hakim duduk di ruang televisi.


"Sakit sedikit kok sayang. Mungkin goresannya resleting kemarin itu terlalu tajam,sehingga senjata ini ada luka nya. Jadi tidak perlu ke dokter, kan sudah minum antibiotik dan dioles salep yang kamu belikan itu. Oh iya kamu darimana? Apa kamu sudah makan siang? Dimeja makan ada makanan, tadi aku pesan makanan online."Ucap Hakim terlihat sekali kegugupannya sehingga dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Sinta melihat gelagat tidak seperti biasanya yang ditunjukan oleh Hakim. Seperti ada seseuatu yang memang di sembunyikan oleh Hakim, Sinta bukanlah orang yang bodoh. Meskipun memang agak bodoh, terbukti uangnya di bohongi oleh Hakim saja tidak tahu sampai sekarang.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau ke dokter, aku pun tidak memaksa kamu. Akan tetapi jika nanti terjadi sesuatu dengan senjatamu itu, kamu jangan menyalahkan aku. Jangan bilang aku tidak peduli dengan keadaanmu. Oh iya, apa kamu mau minum teh atau kopi ? Biar aku buatkan untuk kamu."Seru Sinta sembari tersenyum manis. Senyum Sinta kali ini senyum penuh makna, ada sesuatu yang memang Sinta rencanakan.


"Boleh. Buatkan aku teh saja, ya sayang."Ucap Hakim dengan memasang wajah sok manisnya.


"Ok."Jawab Sinta dengan singkat.


Sinta langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan teh khusus untuk Hakim. Di dalam teh itu, Sinta akan memasukkan obat tidur agar Hakim bisa tertidur dengan pulas tanpa merasa terganggu. Sinta ingin melihat senjata Hakim, Sinta benar-benar sangat penasaran dengan milik Hakim yang sama sekali tidak boleh dilihatnya dalam beberapa hari ini.


"Silahkan diminum mas, aku kekamar dulu ya. Mau ganti baju, gerah banget ini. Kamu kalau butuh apa-apa panggil saja aku."Seru Sinta.


"Iya sayang terimakasih. Kamu jangan lupa makan siang dulu ya, aku tidak mau kamu sakit."Seru Hakim bicara dengan sok perhatiannya.


"Iya nanti aku makan kok."Jawab Sinta dengan mencoba mengulas senyum manisnya.


*Minumlah teh itu, dan segera tidur dengan nyenyak agar aku bisa melancarkan aksiku. Aku juga harus memeriksa ponsel Hakim, aku curiga dia menyembunyikan seseuatu di ponselnya. Atau jangan-jangan dia itu tahu keberadaan Sarah, tapi pura-pura tidak tahu. Hemmm aku tahu jika kemarin-kemarin dia itu masih ada hubungan dengan Sarah, bodohnya aku kenapa tidak aku cari bukti-buktinya.*Gumam Sinta dalam batinnya.

__ADS_1


***********


Bab Sarah nanti Author Up ya. 🙏🙏🙏


__ADS_2