Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Mendekati Cahaya


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Pertemuan Reno dan Cahaya kemarin lusa ternyata bukan pertemuan terakhir mereka. Saat ini mereka kembali dipertemukan di pernikahannya Indra dan Amara. Cinta Cahaya yang sempat bertepuk sebelah tangan kini benar-benar hilang. Indra sudah menikahi wanita yang sudah menjadi pilihan hatinya.


Cahaya membungkus dan membuang jauh-jauh rasa cintanya untuk Indra. Hubungan mereka hanya sebagai kakak dan adik saja. Meskipun ada gurat kesedihan diwajah Cahaya, dia,mencoba untuk menutupinya dan biasa saja.


*Kak Indra mungkin memang bukan jodoh ku. Aku tidak tahu perasaan ini cinta atau kagum. Semoga aku bisa menerima ini semua dan tidak akan membuat hubungan kekeluargaan dengan kak Indra menjauh.*Gumam Cahaya dalam batinnya.


Melihat Cahaya yang terdiam dan menyendiri, membuat Reno mendekatinya. Cahaya belum tahu jika Reno juga ikut hadir menyaksikan pernikahan Indra dan Amara.


" Hai kamu Cahaya kan? Ternyata kamu ada disini juga?." Seru Reno menyapa Cahaya dengan ramah.


" Loh pak Reno? Ada disini juga?."Seru Cahaya terkejut dengan kedatangan Reno yang tiba-tiba.


" Ditanya kok balik tanya sih? Iya aku ada disini karena memang keluarg kami diundang. Kamu lupa ya,kalau Dinda itukan adikku."Seru Reno sembari terkekeh.


Cahaya pun baru ingat jika Reno kakak kandung Dinda, sudah pasti akan diundang juga sama Indra. Sebab Indra sudah seperti anak nenek Murni. Cahaya tersipu malu sembari tersenyum manis kearah Reno.


Degghhhh


Jantung Reno tib-tiba seperti berhenti berdetak. Senyum manis Cahaya tiba-tiba membuat Reno merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Reno seakan ingin melihat senyum itu lagi dan lagi.


*Duhhh ada apa dengan hati dan jantungk? Apa aku jatuh cinta dengan Cahaya, masa iya aku jatuh cinta dengan Cahaya? Kami juga baru dua kali ini bertemu, mana usia kami juga terpaut jauh sekali.*Gumam Reno dalam hatinya.


" Pak Reno kok bengong?."Tanya Cahaya membuat Reno menjadi salah tingkah.


"Oh tidak kok. Emmm kamu masih kuliah atau sudah bekerja?."Tanya Reno ingin mengenal cahaya lebih dalam lagi.


" Aku masih kuliah pak. Usia 24 tahun masih kuliah, seharusnya aku sudah lulus dari tahun kemarin. Cuma aku pernah sakit jadi harus pending kuliah."Seru Cahaya menjawab dengan jujur.

__ADS_1


Reno menganggukkan kepalanya sembari menyimak apa saja yang diucapkan oleh Cahaya. Obrolan mereka terus bersambung dan banyak hal yang sudah mereka bicarakan, seputar pekerjaan Reno, kuliah Cahaya dan kehidupan mereka masing-masing. Obrolan mereka mengalir begitu saja, terlebih Cahaya. Biasanya dia tidak akan mudah dengat dengan orang apalagi seorang pria, namun saat bersama Reno dia seakan sudah mengenal lama.


Baik Reno maupun Cahaya merasa nyaman dan merasa cocok satu sama lain. Tanpa Reno sadari sebenarnya dia sudah mulai tertarik dengan wanita yang bernama Cahaya itu.


*Kenapa terasa nyaman sekali saat bicara dan dekat dengannya. Cahaya ini orangnya asik dan nyambung saat diajak bicara. Padahal usia kami terpaut 11 tahun tetapi dia bisa mengimbangi obrolan dengan ku.*Gumam Reno dalam batinnya.


"Mas Reno, Cahaya. Kalian sudah dekat saja?."Seru Dinda yang tiba-tiba datang mengagetkan Reno dan Cahaya yang sedang asik mengobrol.


" Bikin kaget saja sih Din. Dekat bagaimana maksud kamu? Kami cuma ngobrol tipis-tipis saja. Apa sudah mau pulang ya?."Tanya Reno.


" Belum. Masih lama, itu lagi foto-foto. Cahaya tidak mau foto sama Indra? Tadi pada nyariin kamu loh mau diajak foto, ehh tidak tahunya masih mojok disini. Maaf ya mojoknya jadi terganggu."Seru Dinda sengaja ingin menggoda Reno dan Cahaya.


Reno dan Cahaya saling beradu pandangan, padahal mereka tidak sengaja saja tadi mengobrol. Bukan berarti mereka mojok, Dinda membuat Cahaya dan Reno jadi semakin bingung dan salah tingkah.


" Sudah sih mengaku saja kalau lagi pendekatan Mas."Seru Dinda sengaja menggoda kakaknya.


" Dinda, kamu jangan ngaco deh. Masih siang sudah ngelantur tidak jelas, jangan-jangan baru bangun tidur ya."Seru Reno sedikit gugup dan salah tingkah.


"Iya nih mbak Dinda apaan sih? Masak iya pak Reno yang mapan begini suka sama aku, sigadis yang miskin dan hidup dipanti asuhan ini."Seru Cahaya seolah memberikan sinyal untuk Reno.


*Kenapa Cahaya bicara seperti itu? *Gumam Reno dalam batinnya.


" Sudah jangan bicara seperti itu. Kaya dan miskin tidak ada bedanya, oh iya apa kamu mau menjadi pasangan kakakku yang sudah tua ini. Biar tua tapi dia masih tampan loh."Seru Dinda lagi.


" Kak Dinda apaan sih. Yuk ah foto dulu sama pengantin, Cahaya sama sekali belum foto sama pengantin."Seru Cahaya yang lalu berlari kearah pengantin untuk ikut berfoto.


Reno dan Dinda tertawa melihat kelakuan Dinda, kini tinggal Reno dan Dinda. Dinda melirik kakaknya yang terus senyum-senyum sembari pandangan nya tetap mengarah kearah Cahaya yang saat ini sudah bergabung dengan pengantin untuk berfoto.


" Jangan patah semangat, terus dekati dia sampai dia mas Reno dapatkan."Seru Dinda sembari menepuk pundak kakaknya dengan pelan.


" Apaan sih Din. Aku saja baru dua kali bertemu, masak iya mas sama Cahaya."Seru Reno.


" Ada cinta dimatamu mas. Jangan sampai didahului orang, yang ada mas akan menyesal." Seru Dinda lalu tertawa dan berjalan meninggalkan Reno yang diam mematung.


Reno memikirkan apa yang dikatakan Dinda barusan, hatinya memang ada yang aneh saat berdekatan dengan Cahaya. Berdesir dan ada rasa nyaman, Reno jujur pada dirinya sendiri jika dia mulai menyukai Cahaya.

__ADS_1


*Apa aku pantas untuk Cahaya? Dia masih lugu, sedangkan aku sudah duda beranak satu. Aku mencari pasangan hidup bukan untuk memgurus diriku sendiri, ada anak yang harus aku mintai pendapat. Apalagi anakku sekarang sudah beranjak dewasa.*Gumam Reno dalam batinnya.


Reno berjalan mendekati rombongan keluarganya, Cahaya yang tahu jika Reno sudah duduk bersama keluarganya hanya melirik sekilas kearah Reno. Cahaya sendiri juga merasakan ada yang aneh dengan hatinya.


Acara pesta pernikahan Indra dan Amara masih digelar, namun Dinda sudah kelelahan sehingga dia meminta untuk diantar pulang lebih dulu. Akhirnya semua rombongan keluarga Dinda juga ikut pulang semua, mereka juga sudah kelelahan.


Acara pagi sampai sore memang khusus untuk keluarga, kerabat dan para tetangga. Untuk rekan kerja undangannya malam hari, jadi mau tidak mau Satria nanti malam harus datang lagi. Sebab pasti banyak relasi bisnisnya yang datang, sehingga Dinda juga harus banyak beristirahat.


"Sayang memangnya Cahaya dan mas Reno ada hubungan ya?."Tanya Satria saat dalam perjalanan pulang.


" Kok mas Satria tanya seperti itu?."Tanya Dinda dengan heran.


" Tadi aku lihat mas Reno mengobrol cukup lama sama Cahaya. Makanya aku bertanya apakah mereka ada hubungan? Kalaupun memang ada ya aku tidak masalah. Cahaya itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti harus bisa membahagiakan dia. Sekarang mas Reno sudah berubah, jika mereka memang berjodoh ya aku juga ikut senang."Ucap Reno bicara dengan serius.


"Iya mas. Sepertinya mas Reno suka sama Cahaya, tapi tidak tahu dengan Cahaya."Jawab Dinda.


Nenek yang duduk di kursi belakang sama sekali tidak mendengar apa yang Dinda dan Satria bicarakan. Sebab nenek sudah tidur dengan nyenyaknya. Satria fokus dengan setir mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang.


" Nanti malam kalau kamu capek lebih baik kamu istirahat saja ya sayang."Seru Satria.


"Iya mas. Tapi lihat nanti, kalau keadaan memungkinkan aku bisa ikut. Oh iya mas, apa kamu tidak pernah menjenguk mama dan papa? Aku boleh tidak menjenguk mereka?."Tanya Dinda.


Dinda tahu memang ini saat yang tidak tepat untuk membicarakan soal mertuanya. Apalagi dalam keadaan Satria yang sedang menyetir mobil. Tetapi pertanyaan Dinda tadi keluar begitu saja.


" Iya besok lusa kita jenguk mereka."Jawab Satria sembari mengangguk tanpa memandang kearah Dinda.


" Iya mas."Jawab Dinda merasa tidak enak sudah membuat suasana hati suaminya tidak baik.


Mobil yang dikendarai Satria kini susah sampai didepan pintu gerbang. Pak Satpam dengan segera membukakan pintu gerbang afar mobil Satria bisa segera masuk. Satria memberhentikan mobilnya tepat didepan teras rumah.


"Nenek tidurnya nyenyak banget mas, sepertinya dia sangat lelah. Mas gendong nenek saja ya, kasihan kalau kita bangunkan." Seru Dinda tidak tega membangunkan neneknya.


" Iya sayang."Jawab Satria singkat lalu turun dari mobil dan membuka pintu belakang dimana neneknya tidur.


Nenek sama sekali tidak bangun saat Satria mengangkatnya membawa masuk kerumah. Dibelakang Satria Dinda berjalan sembari membawakan tas nenek. Perut Dinda sudah semakin membesar, sehingga pergerakannya pun sudah semakin lambat. Mulai minggu depan juga Dinda sudah mulai kuliah dirumah, Satria sudah tidak mengizinkan Dinda mengikuti mata kuliah di kampus. Kampus itu milik nenek murni sehingga Satria mudah untuk memanggil dosen untuk datang kerumahnya.

__ADS_1


Selesai menidurkan nenek dikamarnya, Satria dan Dinda keluar dari kamar nenek. Dinda meminta Satria untuk mandi terlebih dahulu, namun Satria justru meminta Dinda yang mandi lebih dulu. Akhirnya merekapun mandi bersama-sama.


*************


__ADS_2