Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Membohongi Sinta


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sarah dan Hakim saat ini sedang ada dirumah Sarah tanpa diketahui oleh Sinta. Mereka baru saja selesai bergumul dan saat ini masih bergelung di bawah selimut tebal. Tanpa Sinta tahu Hakim dan Sarah ada hubungan di belakang. Sarah sudah menusuk Sinta dari belakang tanpa tahu rasa terimakasih sama sekali.


" Sayang, bagaimana kalau nanti Sinta tahu hubungan kita ini. Pasti dia akan marah dan memakiku." Ucap Sarah dengan manja sembari memeluk Hakim dan merebahkan kepalanya dia atas dada bidang Hakim.


" Kamu jangan takut, Sinta tidak akan tahu jika kita bisa bersikap biasa saja saat ada didepan dia. Kamu tahukan Sinta itu sibuk dengan urusannya sendiri. Dia jarang ada waktu untukku, jadi kalau aku main sama kamu juga tidak ada salahnya." Seru Hakim sembari mengusap kepala Sarah dengan lembut.


" Kalau kita menikah bagaimana? Biarpun siri aku tidak masalah. Lagipula kalian juga selama ini hanya menikah secara siri kan? Aku tidak mau jika cuma kamu jadikan ban serep, jika perlu saja baru dipakai." Seru Sarah cemberut.


Hakim semakin gemas melihat tingkah Sarah yang menurutnya sangat menggemaskan. Dia sangat bangga karena diperebutkan dua wanita cantik yang benar-benar membuatnya puas.


" Bukannya kamu masih bersuami? Kamu selesaikan dulu urusan mu dengan suami kamu, baru nanti kita menikah. Jadi untuk sementara ini kita seperti ini dulu tapi jangan sampai Sinta tahu. Sebab kalau dia tahu bisa hancur semuanya, semua usaha itu masih atas kuasa dia." Seru Hakim lalu kembali membalikkan tubuhnya.


" Mau apa lagi sayang?." Tanya Sarah pura - pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh Hakim.


" Jangan pura-pura dong sayang. Aku masih mau lagi sebab kamu sangat enak sekali, berbeda dengan Sinta." Ucap Hakim sudah tidak sabar lagi.


" Ahhh Sayang.... " Seru Sarah dengan sangat manjanya.


Hakim dan Sarah melakukan apa yang tidak sepatutnya mereka lakukan. Mereka seolah tidak ada rasa puasnya sama sekali. Saat Hakim masih ada diatas, tiba - tiba ponsel Sarah berdering. Ada panggilan masuk dari Sinta, dengan malas-malas Sarah menganggkat telepon dari Sinta.


[ Hallo Sinta, ada apa ? Ahhh... ] Seru Sarah tanpa rasa malu dia mend3s@h saat masih menerima telepon dari Sinta.


[ Haaii lagi ngapain kamu ? Masih sama laki - laki dan masih main kamu, Sarah?.] Seru Sinta tidak habis fikir Sarah saat bermain masih sempat menganggkat teleponnya.


[ Eemmmhhh.. kamu yang menelponku, ganggu saja. Ada apa sih ?.]

__ADS_1


[ Dasar perempuan murahan. Ok tidak masalah kamu cari mangsa diluaran sana,semua uang milik kamu. Tapi kalau aku yang cariin harus bagi dua. Jangan lama - lama mainnya, kamu harus cukup istirahat. Nanti malam ada pengusaha yang mau memakai kamu. Dia berani bayar 50 juta untuk semalam. Jadi kamu harus memberikan servise terbaik kamu.]


Diatas sana Hakim tidak perduli dengan apa yang dilakukan Sarah dalam telepon. Yang penting dia terus bergerak sampai apa yang diinginkannya tuntas.


[ Baiklah, setelah ini aku istirahat.]


Klikk


Secara sepihak Sarah mematikan sambungan teleponnya sebab dia sudah tidak tahan dengan permainan yang diberikan oleh Hakim. Pada akhirnya mereka berdua sama-sama mencampai puncak permainan mereka. Tubuh Hakim ambruk disamping Sarag, dan Sarah kembali mengambil alih permainan.


" Apa kamu tidak lelah sayang?".Tanya Hakim sembari memegang buah dengan kuat.


" Tidak sayang. Siang ini kita main sampai puas, sebab nanti malam aku harus main sama yang lain." Jawab Sarah dengan santainya.


" Baiklah sayang lakukan apa saja yang kamu mau." Ucap Hakim pasrah.


Sebab itu juga yang dimau Hakim, tidak tahu kenapa saat bersama Sarah dia selalu tidak merasa puas. Ingin lagi dan lagi tanpa mengenal rasa lelah.


*********


" Pak kira - kira apa Satria bakal keberatan tidak ya dengan pinjaman ku ? Sebab pinjaman ini sangat banyak loh pak." Seru Reno saat sedang meninjau ruko yang akan dia jadikan tempat usaha.


Sangat kebetulan sekali ruko tidak perlu renovasi sebab masih sangat bagus. Satria mencarikan ruko yang memang bangunan baru sehingga tidak perlu untuk merenovasinya lagi.


" Kamu nanti bicarakan saja sama Satria. Atau kalau tidak begini saja, kamu buat surat perjanjian hutang piutang dengan Satria agar semuanya jelas dan tidak ada salah paham. Sebab usaha ini memakan modal ratusab juta, sewa ruko dua tahun saja sudah 60 juta. Belum isinya nanti, coba bicarakan saja lagi dengan Satria dan Dinda." Ucap pak Karim berpendapat.


" Iya pak. Nanti Reno mau menemui Satria dirumahnya saja. Oh iya pak, soal perceraianku dengan Sarah bagaimana? Sampai hari ini Reno belum mendapat surar dari pengadilan, apa mungkin Sarah belum menggugatku ya pak?." Tanya Reno menanyakan soal perceraiannya dengan Sarah.


" Kalau Sarah belum juga menggugatmu lebih baik kamu saja yang menggugat. Untuk biaya nanti bapak bantu, bapak ada sedikit tabungan dari hasil bagian panen bulan lalu." Ucap Pak Karim dengan serius.


" Iya pak. Nanti coba Reno hubungi Sarah dulu, ya sudah yuk pak kita pulang. Ini sudah lewat jam makan siang, nanti ibu marah kalau bapak telat makan. Untuk ruko kemungkinan dalam minggu ini sudah mulai terisi, ini rak-rak dan persiapan sudah mulai sikerjakan sehari lagi insya Allah selesai." Ucap Reno dengan yakin.


Pak Karim mengangguk setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Reno. Mereka berdua keluar dari Ruko dan mempercayakan urusan ruko dengan pekerja. Saat ini di ruko sedang mempersiapkan rak - rak yang nantinya akan dijadikan untuk tempat barang - barang yang akan dijual.

__ADS_1


Saat menuju perjalanan pulang, mereka melihat Sinta yang baru saja keluar dari salah satu Cafe yang letaknya tidak jauh dari ruko Reno.


" Itu sepertinya mbak Sinta, Pak." Seru Reno dengan tetap fokus dengan motornya.


" Sudah biarkan saja. Dia sudah tidak menganggap kita saudara lagi, sudah jangan berhenti lanjug saja. Lagipula dia juga sudah pakai mobil, mana mau dia kenal sama kita." Ucap pak Karim.


" Iya pak." Jawab Reno mengikuti apa kata bapaknya.


Reno terus mengendarai motornya tanpa menyapa Sinta. Sinta sendiri tahu jika tadi ada Reno dan mantan bapak mertuanya yang baru saja lewat, dia sengaja juga tidak mau menegurnya.


" Darimana dua pria miskin itu? Anak sama bapak sama-sama pengangguran, kalau bapaknya sih masih bagus dapat uang bulanan dari menantu kayanya. Kalau anaknya? Hemm jadi beban keluarga saja dia, yang ada merongrong uang orang tuanya." Ucap Sinta mencibir Reno dan pak Karim.


Sinta sudah tidak ingat semua kebaikan dari Pak Karim, semua itu sudah tertutup dengan kebenciannya. Bahkan Sinta sudah melupakan keberadaan Hana, tak sekalipun dia mencoba menghubungi Hana padahal Hana sudah pernah menghubunginya. Bagaimanapun hubungan antara anak dan ibu tidak bisa diputuskan.


Mobil Sinta sampai di halaman rumahnya, berbarengan dengan mobil Hakim yang juga baru pulang dari rumah Sarah.


" Darimana kamu mas?." Tanya Sinta ingin tahu darimana suaminya pergi sebab tadi dia tidak izin dengan Sinta.


" Dari penjara sayang menjenguk papa dan mama. Oh iya mereka titip salam untuk kamu." Seru Hakim berbohong.


Hakim merangkul pinggang Sinta dan mengajaknya masuk kerumah. Kini Sinta dan Hakim sudah mempunyai rumah pribadi yang letaknya hanya bersebelahan dengan rumah yang dia jadikan tempat usaha. Warga tidak pernah mau tahu urusan para tetangganya, sebab tempat tinggal Sinta memang lingkungan yang tidak sehat.


" Mas, kamu kok bau parfum wanita sih? Jangan macam - macam kamu ya mas. Jika kamu macam-macam pasti akan aku tendang keluar dari rumah ini. Ingat semua ini milikku, kamu hanya menumpang hidup dengan ku." Seru Sarah sambil menatap tajam Hakim.


Hakim langsung menelan salivanya sendiri sebab dia menyadari jika kemejanya saat ini memang bau parfum Sarah.


" Oh ini, tadi itu mau membelikan parfum untuk mama aku mencobanya sedikit tapi ternyata baunya bikin enek jadi aku pilihkan parfum yang wanginya lebih ringan." Jawab Hakim berbohong.


" Oh begitu? Baiklah kalau begitu, aku mau istirahat dulu mas. Yuk kita kekamar." Ajak Sinta sudah tidak menaruh curiga lagi terhadap Hakim


* Dasar bodoh ! Begitu saja sudah percaya, enak banget sih kamu dibohongi Sinta. Hemm aku harus melarang Sarah untuk tidak memakai parfum ini, jika sampai Sinta hafal dengan baunya bakalan sulit urusannya. Sinta pasti akan mencurigai aku dan Sarah.* Gumam Hakim dalam hatinya.


**********

__ADS_1


__ADS_2