Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Ke kantor suami


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Keesokan harinya


" Sayang nanti antarkan makan siang ya. Mas ingin makan siang sama sama kamu sayang, tapi mas banyak pekerjaan. Jadi antarkan saja makan siang ke perusahaan, nanti kita makan sama-sama di ruangan Mas. " Seru Satria saat dia hendak berangkat kerja.


Dinda hanya mengangguk sambil mengulas senyum manisnya. Beruntung hari ini dia tidak ada jam kulih sehingga dia bisa memasak untuk makan siang suaminya. Tapi jika harus diantar ke Perusahaan , Dinda merasa malu dan minder sebab dia juga sama sekali belum pernah datang ke Perusahaan Satria, meskipun perusahaan itu milik suaminya sendiri.


" Mas Satria mau dimasakin apa buat makan siang nanti." Tanya Dinda kepada Satria.


" Apa saja yang penting kamu yang masak sudah pasti akan mas makan. Bukan begitu sayang ?" Tanya Satria sambil mengedipkan matanya.


" Sudah sana berangkat ! pamitan begitu saja lama amat lebay ?." Ucap nenek yang tiba-tiba datang dan mengomeli Satria.


" Aah nenek ini, seperti tidak pernah muda saja. Wajar dong kami inikan masih muda, jadi harus yang mesra - mesra. Baiklah kalau begitu aku berangkat bekerja dulu ya sayang , berangkat ya Nek. Assalamualaikum ." Pamit Satria lalu mencium kening sang istri dan mencium tangan nenekya.


" Waalaikumsalam. " Jawab nenek dan Dinda bersamaan.


Setelah Satria berangkat kerja, Dinda dan nenek Murni memilih bersantai duduk di taman belakang sambil memandang bunga mawar koleksi nenek yang bermekaran. Nenek murni memang sangat mencintai yang namanya bunga mawar, segala macam jenis mawar dia tanam dan dirawat dengan sepenuh hati. Bahkan ada tukang kebunnya tersendiri yang mengurus mawar - mawarnya.


" Dinda nanti mau ke Perusahaan Satria ? mau mengantarkan makan siang?." Tanya nenek yang tadi tidak sengaja mendengar obrolan Satria dan Dinda.

__ADS_1


" Iya Nek. Mas Satria minta diantarkan makan siang. Dan nenek tahu sendiri kan, jika Dinda ini memang tidak pernah ke perusahaan Mas Satria. Dinda tidak suka berpenampilan waah di depan orang, kecuali di saat ada pesta atau menemani kunjungan kerja dan makan malam bersama Mas Satria. Dinda itu malu dan minder, Dinda tidak bisa bermake up." Ucap Dinda secara jujur.


" Soal penampilan jangan kamu permasalahkan. Tampilah sesuai keinginan kamu sendiri dan apa adanya. Tidak perlu bergaya yang tidak kamu inginkan, dan jadilah diri kamu sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain, nenek dulu juga berpenampilan apa adanya. Memang di saat ada acara tertentu saja nenek bisa berpenampilan waah. Kamu ini persis mudanya nenek. " Ucap nenek murni sembari mengusap pundak Dinda dengan lembut.


" Baiklah nek terima kasih sudah mengerti Dinda. Dinda bersyukur sekali mempunyai keluarga seperti nenek dan suami seperti Mas Satria yang bisa menerima segala kekurangan Dinda. " Ucap Dinda lalu memeluk nenek murni dengan hangat.


Waktu semakin siang Dinda pun sudah mulai mengeksekusi bahan-bahan makanan di dapur. Siang ini Dinda memasak opor ayam, tumis brokoli daging serta perkedel kentang lengkap dengan sambal kesukaan Satria.


Dinda memasak dibantu oleh salah satu pelayan yang ada di rumah nenek murni. Namun pelayan hanya membantu dinda memotong sayuran dan menyiapkan bahan yang akan diolah. Segalanya bumbu dan memasaknya masih tetap Dinda yang mengerjakannya. Dia tetap ingin Satria merasakan masakan dari tangannya sendiri meskipun di rumah ada beberapa pelayan atau pekerja.


Setelah 1 jam setengah berkutat di dapur, masakan Dinda akhirnya sudah beres semua. Dinda pun sudah menyiapkan makanan yang akan dia bawa ke Perusahaan Satria. Tidak lupa Dinda juga meminta pelayan untuk menghidangkan makanan di meja makan agar nenek bisa segera makan siang.


" Nek maaf ya siang ini Dinda tidak bisa menemani nenek makan siang, karena Dinda mau mengantarkan makan siang Mas Satria dulu. Tapi semua makanan sudah terhidang di meja. Maaf ya Nek ." Ucap Dinda merasa tidak enak membiarkan neneknya makan siang sendirian.


" Iya tidak apa-apa Dinda, sudah tenang saja. Lagi pula di rumah nenek tidak sendirian ada pekerja yang bisa makan bersama nenek. Sekarang kamu berangkat saja antar makan siang untuk suamimu, ini sudah jam makan siang. " Ucap nenek dengan lembut.


Meskipun nenek orang yang kaya raya, dia tetap mau makan satu meja dengan para pekerja atau pelayan di rumahnya. Nenek tidak pernah membeda-bedakan antara majikan dan pelayan, semua nenek anggap sama. Justru para pekerja sendiri yang merasa tidak enak jika diperlakukan sama oleh nenek apalagi makan satu meja


Setelah 45 menit akhirnya Dinda sudah sampai di depan gedung perusahaan milik suaminya. Dulu Dinda hanya bisa melihat gedung megah itu dari jauh, sekarang dia ada didepannya langsung. Bahkan gedung itu milik suaminya. Dinda turun dari mobil, tidak lupa dia menenteng kotak makan susun untuk sang suami.


" Loh ini kan cewek udik dan kampungan yang kemarin bertemu di minimarket ? Kenapa kamu ada di sini ?." Tanya seorang wanita yang memang kemarin bertemu dengan Dinda di minimarket.


* Ini kan cewek yang kemarin ? cewek kepo, cewek sok kecantikan. Apa dia bekerja di perusahaan ini juga ?." Gumam Dinda dalam hatinya.


Dinda tidak memperdulikan wanita kepo itu, dia tetap melangkahkan kakinya menuju lobby perusahaan. Namun secara tiba - tiba wanita kepo itu menghadang Dinda dan tidak memperbolehkan Dinda masuk ke Gedung Perusahaan lantaran penampilan Dinda tidak wah. Bahkan Dinda hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong yang dilapisi dengan jacket jeans berwana denim. Jika wanita Kepo itu tahu soal fashion pasti dia akan tercengang jika tahu harga jacket yang dipakai Dinda.


" Memangnya kenapa mbak ? Apa aku tidak boleh masuk ke Perusahaan ini ? Memangnya kamu siapa melarang aku masuk ? Kamu yang punya perusahaan ini ya ? ." Tanya Dinda secara beruntun membuat wanita yang bernama Lisa itu semakin kesal.

__ADS_1


" Jelas aku akan melarangmu karena kamu saja penampilannya seperti preman pasar. Aku memang bekerja diperusahaan ini sebagai kepala devisi marketing dan aku karyawan tetap disini, jadi aku berhak melarang mu masuk. " Ucap Lisa sambil bersedekap dengan sombongnya.


" Oh... Apa karena aku hanya berpenampilan seperti ini kamu melarangku. Lagipula aku datang kesini ada tujuannya, ini aku mau mengantarkan makan siang. " Ucap Dinda sambil menganggkat kotak makanannya yang sedari tadi dia tenteng.


Haahhaaaa Hhaahaaaa


Lisa tertawa dengan lebar, dia menyangka jika Dinda adalah kurir yang sedang mengantarkan orderan salah satu karyawan. Dengan bangganya Lisa mengusir Dinda dari perusahaan dan tidak perduli dengan makanan yang Dinda bawa.


" Sudah lebih baik kamu pergi saja sana. Tidak perlu makanan itu kamu antarkan lagipula pasti sudah dingin. Dan kamu akan mendapatkan bintang satu dan dengan begitu kamu akan dipecat.Hahahaaaa" Ucap Lisa sombong.


* Jadi wanita ini mengira aku pengantar makanan ? Sudahlah aku tidak mau perduli lagi sama ocehan wanita ini *. Gumam dinda dengan malas.


Saat Lisa tetap melarang Dinda untuk masuk, tiba - tiba Beni keluar dari gedung perusahaan untuk mencari makan siang. Tetapi dia kaget saat melihat Dinda sedang bantahan dengan Lisa.


" Dinda. ada apa ini ? Kenapa tidak masuk, ini sudah jam makan siang loh. Kamu pasti mengantarkan makan siang kan?" Tanya Beni secara beruntun.


" Iya mas, aku mau mengantarkan makan siang tapi dilarang masuk sama wanita ini. Hanya karena penampilanku yang seperti ini. Kata dia seperti preman pasar." Ucap Dinda bicara apa adanya.


* Jadi wanita ini kenal sama Beni ? Atau jangan - jangan dia selingkuhan Beni? Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memberitahu Rena.* Gumam Lisa dalam hatinya.


Beni memandang kearah Lisa, Lisa sendiri nampak biasa saja sama sekali tidak takut dengan Beni meskipun jabatan Beni lebih tinggi dari dirinya.


" Lisa kamu ini apa - apan sih melarang dia untuk masuk ? Jangan sampai kamu kena masalah karena kamu sudah melarang dia masuk, kamu mau tahu siapa dia ?" Seru Beni dengan ketus.


" Mas sudah tidak perlu dijelaskan sama wanita itu. Emm.. Mas tolong antar aku kedalam ya " Ucap Dinda memilih segera masuk karena Satria pasti sudah menunggunya.


Beni mengangguk lalu mengajak Dinda masuk ke perusahaan, sementara itu mulut Lisa melongo melihat Beni yang perduli dengan wanita yang baru saja berdebat dengannya.

__ADS_1


* Aduh aku lupa,siapa tadi nama wanita itu ? Hemm... Dina ! Oh iya namanya Dina?Aku harus memberitahu Rena jika suaminya ada main dengan wanita preman pasar itu. Kasihan rena dan anak-anaknya kalau Beni sampai berselingkuh * Gumam Lisa dalam hatinya.


**********


__ADS_2