Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Cinta yang belum selesai


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Sayang, mas lihat anak-anak dulu ya di belakang. Kasihan Joni, harus mengawasi adik-adiknya sendirian. Apalagi Raja sudah pandai jalan sana sini, pasti dia kualahan."Ucap Satria sengaja ingin menghindari Melisa dengan beralasan melihat anak-anak.


Dinda dan semuanya sama sekali tidak menaruh curiga dengan perubahan sikap Satria. Mereka hanya menganggap Satria terlalu khawatir dengan Raja. Namun berbeda dengan yang difikirkan Melisa, dia tahu jika Satria pasti menghindarinya.


Melisa memandangi kepergian Satria dengan hati yang tidak menentu. Rasa cintanya untuk Satria masih tersimpan sampai sekarang. Dia kembali lagi ke Indonesia karena ingin bertemu Satria dan mengejar cintanya, tapi sepertinya semua sudah terlambat.


* Aku tahu kamu sengaja menjauhi ku, Satria. Seandainya kamu tahu jika aku pulang ke Indonesia itu hanya untuk bertemu kamu dan memulai kembali cinta kita yang sempat tertunda. Maafkan aku , Satria.*Gumam Melisa dalam hatinya.


" Mbak Melisa tinggal dimana?." Tanya Dinda mengagetkan Melisa yang sedang melamun.


" Ohh iya.. Emm tinggal di daerah XX. Nanti kapan-kapan main ya, aku senang bisa berkenalan dengan kalian semua."Ucap Melisa sambil mengulas senyum manisnya.


" Wahhh daerah XX tidak jauh dari rumah saya, tinggal jalan 10 menit lagi dah sampai tuh. Mbak Melisa sudah menikah?."Tanya Dinda mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Melisa.


Melisa hanya menggelengkan kepalanya saja, bagaimana dia mau menikah sedangkan sampai saat ini saja dia masih menunggu cinta pertamanya. Sebisa mungkin Melisa menyembunyikan perasaan sedihnya agar tidak menimbulkan pertanyaan.


" Ohh maaf ya mbak."Ucap Dinda merasa tidak enak hati sudah menanyakan hal yang terlalu pribadi bagi Melisa.


" Tidak apa-apa mbak. Saya memang belum menikah, karena awalnya saya pulang ke Indonesia untuk menemui pria yang saya cintai. Saya datang juga ingin meminta maaf selama 12 tahun ini pergi tanpa kabar. Tapi sepertinya saya terlambat, kedatangan saya sia-sia karena ternyata pria itu sudah menikah dan bahagia dengan keluarga kecilnya."Ucap Melisa dengan lamcar.


Tidak ada orang yang tahu jika yang dimaksud Melisa adalah Satria.


Di balik dinding ruang tengah, Satria yang hendak ikut bergabung lagi dengan mereka sambil menggendong Raja pun mendengar semua yang di katakan oleh Melisa. Hati Satria memanas, dia tidak suka Melisa bicara seperti itu. Baginya Melisa adalah masalalu, meskipun kisah cinta mereka belum ada kata pisah.


FLASHBACK ON


" Melisa, kamu beneran mau pindah ke Prancis?."Tanya Satria dengan wajah yang teramat sedih.


Melisa hanya mengangguk saja, sebenarnya dia juga tidak mau pindah dari Indonesia. Namun semua keluarganya juga akan ikut pindah ke Prancis. Mau tidak mau Melisa juga harus ikut, tidak mungkin dia akan tinggal sendirian di Indonesia.


" Iya, Satria. Kamu jangan khawatir, nanti aku pasti akan selalu menghubungi kamu. Kamu kan tahun depan lulus, Nah kamu nanti pindah saja ke Prancis dan berkuliah disana. Kita nanti bisa untuk berkuliah di kampus yang sama."Ucap Melisa mencoba menghibur Satria.


Melisa dan Satria memang tidak satu angkatan, Melisa lulus sekolah lebih dulu. Sehingga dia dan Satria tidak bisa berbarengan berangkat ke luar negerinya, Satria harus menyelesaikan pendidikan SMA nya satu tahun lagi.


" Baiklah, nanti setelah lulus aku akan menyusulmu kesana. Kamu berangkat kapan? Nanti aku akan mengantarkan kamu ke Bandara."Ucap Satria.


" Iya, 3 hari lagi aku berangkat."Jawab Melisa.


Namun ternyata, Melisa berangkat malam itu juga tanpa memberitahu Satria. Bahkan selama di Prancis, Melisa tidak pernah menghubungi Satria sama sekali. Dan hal itu membuat Satria marah, dan menutup hatinya untuk para wanita yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


Satria sudah kembali bergabung dengan yang lainnya, dengan Raja ada di pangkuan nya. Melisa terus melirik ke arah Satris, namun Satria hanya acuh saja.


" Ini anak kamu, Satria?."Tanya Melisa membuka obrolan.


" Hemm mbak Melisa kok tahu nama suamiku, Satria?." Tanya Dinda dengan heran.


Glekkkk


Melisa menelan salivanya sendiri, dia lupa karena saat ini tidak sedang berdua dengan Satria. Ada yang lainnya juga diantara mereka.


" Emm.. Tadikan mbak Cahaya sudah mengenalkan satu persatu. Masa iya aku lupa, heheeee."Jawab Melisa setengah gugup.


" Oh iya juga ya."Ucap Dinda dengan menggaruk kepalanya sendiri.


Melisa merasa tidak nyaman berlama-lama berada di rumah itu. Sehingga dia berpamitan untuk pulang lebih dulu, sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Satria. Tapi keadaan yang tidak memungkinkannya.


Saat menyalami tangan Satria, tiba-tiba tangan Melisa terasa dingin. Bulir-bulir cintanya untuk Satria terpancar jelas dimatanya.


" Assalamualaikum."Seru Melisa berpamitan.


" Waalaikumsalam."Jawab Semuanya.


**********


" Maaf, Satria. Di luar ada Melisa? Apa kamu mau menemuinya?."Tanya Indra yang memang dia tahu betul siapa itu Melisa.


" Mau apa dia datang kesini?."Tanya Satria langsung mengalihkan pandangan nya.


" Aku tidak tahu. Jika kamu tidak mau menemuinya, aku akan memintanya untuk pergi."Seru Indra lagi.


" Sebentar lagi aku harus ke rumah sakit, sore ini jadwal Hakim untuk operasi. Jadi suruh saja dia pergi, lagi pula aku tidak mau bertemu dengan wanita pembohong itu lagi. Ada hati seorang istri yang harus aku jaga."Ucap Satria serius.


" Baiklah, kalau begitu biar aku suruh pergi saja dia."Ucap Indra.


Saat Indra hendak membuka pintu ruangan Satria, tiba-tiba Melisa langsung menyelonong masuk padahal sudah di larang oleh sekertaris Satria.


Melisa tahu jika Satria tidak mau menemuinya, sehingga dia memaksa untuk masuk.


" Satria, aku mohon berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya."Ucap Melisa memohon dengan mengatubkan kedua tangannya.


" Keluarlah Melisa, sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kisah kita sudah berakhir 12 tahun yang lalu, sekarang aku sudah punya keluarga. Pergilah, Melisa."Seru Satria.


Sedikitpun Melisa tidak bergeming dari tempatnya. Dia tetap berdiri didepan meja kerja Satria. Melihat Melisa yang sama sekali tidak mau pergi dan justru dia menangis, membuat Satria tidak tega. Satriapun pun meminta Indra untuk meninggalkan mereka berdua.


Kini di ruangan itu tinggal ada Satria dan Melisa berdua saja. Mereka sama-sama saling diam, hanya isakan tangis Melisa saja yang terdengar.

__ADS_1


" Aku tidak punya waktu banyak."Ucap Satria lebih dulu membuka suara.


" Satria, apa kamu tidak merindukan aku?."Tanya Melisa dengan wajah tanpa dosanya.


" Jangan tanyakan soal rindu, sebab aku tidak mungkin merindukan wanita lain selain istriku. Ada hati seorang wanita yang harus aku jaga, wanita itu yang berhasil menumbuhkan rasa cinta di hatiku setelah hati ini tersakiti selama bertahun-tahun. Dan kamu pasti tahu, siapa wanita itu."Ucap Satria tanpa melihat kearah Melisa.


Satria membelakangi Melisa, dia memilih melihat kearah luar jendela kaca besar yang ada di ruangannya. Menerawang jauh-jauh di luaran sana, isakan tangis Melisa belum juga berhenti dan itu membuat Satria semakin muak. Dulu Melisa yang dengan sengaja pergi tanpa kabar, dan sekarang datang justru seolah - olah dia yang merasa tersakiti.


" Mana janji setiamu kepadaku, Satria. Selama ini aku menolak semua pria yang mendekatiku, itu karena aku mencintaimu dan aku menjaga hatiku untukmu. Aku sengaja datang untuk mencarimu dan menemuimu, tapi kenapa justru kamu sudah menikah. Kamu jahat, Satria ! Kamu jahat !."Teriak Melisa masih dengan isakan tangisnya.


" Kamu bilang aku jahat, Melisa? Kamu fikir aku ini boneka? Hahh.. Yang begitu mudahnya kamu permainkan. Kamu lupa, jika kamu sendiri yang pergi tanpa kabar? Siang itu kamu bilang akan berangkat dalam 3 hari lagi, tapi nyatanya malam itu juga kamu pergi. Bahkan negara tujuanmu bukanlah Prancis? Aku masih mencoba untuk menunggumu, menunggu kabarmu. Tapi sampai bertahun, tahun kamu tidak menghubungiku. Apa itu yang kamu bilang CINTA !! Hahhhhh !!."Ucap Satria dengan lantang.


Terlihat Satria mengepalkan tangannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Susah payah dia melupakan Melisa, namun kini justru Melisa hadir kembali di saat dirinya sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Tidak ada niat sedikitpun untuk kembali atau menjalin hubungan dengan Melisa.


Melisa mendekat dan memandang manik mata Satria, pandangan mata mereka saling beradu. Melisa bisa melihat jika sudah tidak ada cinta untuknya di mata Satria.


" Apa kamu bahagia dengan wanita itu?."Tanya Melisa mendekatkan wajahnya di wajah Satria.


" Aku bahagia dan sangat-sangat bahagia, Melisa."Jawab Satria dengan suara pelan.


Melisa semakin mendekatkan wajahnya, dan semakin mendekat hingga akhirnya Melisa membuat Satria terdiam sesaat.


Cup


Melisa m3ng3cup bibir Satria lebih dulu, Satria tertegun dan terdiam. Dia terhipnotis akan keberanian Melisa, hingga tanpa sadar dia membiarkan Melisa m3ngulum bibirnya. Nafas Melisa semakin memburu, begitupun dengan Satria. Kini Melisa dengan berani mengalungkan tangannya di leher Satria, cium4n itupun terus terjadi dan Satria pun terbawa suasana.


Satria terbawa suasana, dan dia pun membalas cium4n Melisa yang mulai terasa panas. Mereka saling berbagi salivanya, Melisa semakin mengeratkan tubuhnya dan menginginkan hal yang lebih.


" Melisa, ini tidak boleh terjadi. Ini salah, dan tidak boleh terjadi. Cepat keluar dari sini, Melisa." Seru Satria setelah dia tersadar dari kekeliruannya sambil mengusap bibirnya.


" Kenapa Satria? Bukannya kamu tadi menikmatinya, hanya cium4n saja Satria dan tidak akan ada yang tahu selain kita berdua. Satria, aku mau menjadi yang kedua dalam hidupmu. Aku sangat mencintaimu Satria." Ucap Melisa kembali mencoba memeluk Satria namun Satria menjauh dan menepis tangan melisa.


" Aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa. Aku sangat mencintai istriku, dia wanita yang akan menemaniku sampai aku mati. Jika kamu mencintaiku kenapa dulu kamu berbohong?." Ucap Satria dengan kesal.


" Karena papa ku yang tidak setuju dengan hubungan kita, Satria. Dia ternyata membohongiku, dia bilang akan pindah ke Prancis ternyata semua itu bohong. Kami semua pindah ke Kanada."Jawab Melisa jujur dan kembali menangis.


Arrrggghhhhh


Satria mengusap wajahnya dengan kasar, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Melisa adalah masalalulunya dan apapun alasan Melisa tidak akan membuat hati Satria goyah. Saat ini cintanya hanya untuk sang istri tercinta, Dinda.


" Sudahlah, Melisa. Sekarang tolong kamu pergi, aku ada urusan lain yang harus segera aku selesaikan. Tolong jangan bicara apapun dengan istriku, aku tidak mau istriku stress dan salah paham yang justru akan membahayakan kandungannya." Ucap Satria meminta Melisa untuk pergi.


" Baiklah aku akan pergi, tapi suatu saat aku pasti akan datang lagi. Jika kita tidak bisa berhubungan seperti dulu, setidaknya kita bisa berteman. Dan terimakasih yang tadi, itu aku anggap sebagai hadiah ulang tahunku. Kamu pasti lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku." Ucap Melisa tersenyum tipis.


Selesai bicara seperti itu, Melisa keluar dari ruangan Satria. Satria terduduk di kursi kerjanya dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Mata terpejam, memikirkan apa yang tadi baru saja terjadi.


* Kenapa aku tadi bisa terbuai dengan cium4n yang diberikan Melisa. Ya Tuhan, maafkanlah aku. Aku tidak mungkin mrngkhianati istriku, istriku wanita yang akan menemamiku sampai akhir hayatku. Aku sangat mencintai Dind, bukan Melisa. Melisa hanya masalaluku dan harus aku kubur dalam-dalam.* Gumam Satria dalam hati.

__ADS_1


************


__ADS_2