
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Satri dan Dinda datang kerumah pak Karim untuk menemui Reno. Semenjak Reno dan Joni tinggal dirumah pak Karim, Satria dan Dinda belum datang menemui mereka. Baru hari ini mereka datang untuk menemui Reno, Dinda sengaja datang tanpa memberi ibunya kabar.
" Asalamualaikum, Bu. Mas Renonya ada bu?." Tanya Dinda saat ibunya diluar menyambut kedatangannya.
" Waalaikumsalam, Reno belum pulang Din. Tadi bilangnya mau mengantar surat lamaran tapi jam segini belum pulang juga. Sudah yuk masuk dulu, Satria masuk dulu nak. " Seru ibu Rahayu dengan lembut.
Satria dan Dinda mengangguk lalu mengikuti ajakan ibu Rahayu. Kebetulan ibu Rahayu memang sedang memasak untuk makan malam, pak Karim sendiri ada di rumah pak Rt.
" Minum dulu kopinya , Satria." Seru ibu Rahayu menghidangkan segelas kopi untuk sang menantu.
" Terimakasih bu. Oh iya bapak kemana bu?." Tanya Satria menanyakan keberadaan bapak mertuanya.
" Ada dirumah pak Rt dari sejam yang lalu, bapak mau menyampaikan niatan kamu untuk membangun masjid itu, Satria. Bapak mau meminta saran dari pak Rt, msu renovasi atau membangun masjid yang baru. "Seru ibu Rahayu.
" Iya bu. Satria sih ikut apa kata bapak saja. Mau renovasi ya ayuk mau bangun baru ya ayuk. " Jawab Satria sambil terkekeh.
Ibu Rahayu mengangguk lalu dia pamit kedapur untuk melanjutkan memasaknya. Dinda juga ikut membantu ibunya memasak. Saat - saat seperti ini yang sangat dirindukan Dinda, dulu saat dia masih bersekolah hampir setiap hari dia membantu ibunya memasak. Akan tetapi semuanya berubah semenjak Dinda lulus sekolah dan memutuskan menikah dengam Satria.
Akan tetapi sekarang semuanya perlahan kembali seperti dulu. Hubungan baik dengan para saudaranya susah kembali, hubungan baik dengan ibunya juga sudah membaik.
Bruumm Brrumm Bruumm
__ADS_1
Terdengar suara motor Reno memasuki halaman rumah, ternyata Reno bersama pak Karim. Mungkin saja tadi tidak sengaja bertemu dijalan sehingga pak Karim sekalian ikut motor yang dikendarai Reno.
" Assalamualaikum." Seru Pak Karim dan Reno bersamaan.
" Waalaikumsalam." Jawab Satria dari dalam rumah. Dinda dan ibu Rahayu juga menjawab dari arah dapur sana.
Satria bangkit langsung menyalami pak Karim dan Reno secara bergantian. Ada rasa canggung yang Reno rasakan saat Satria menyalaminya, sebab selama ini dia tidak mau menerima uluran tangan Satria saat Satria hendak menyalaminya.
Reno canggung dan malu berhadapan langsung dengan Satria. Pak Karim tahu kecanggungan yang di rasakan oleh Reno, dan pak Karim hanya diam dan tersenyum melihat gelagat Reno.
" Sudah dari tadi, Satria?." Tanya Pak Karim mulai membuka percakapan.
" Belum pak, mungkin baru 10 menit. Ini kopi buatan ibu juga masih panas. Kata ibu, bapak dari tempatnya pak Rt? Bagaimana kelutusannya pak?." Tanya Satria.
" Oh begini Satri, kami sepakat untuk membangun masjid yang baru saja. Kebetulan samping masjid itu memang tanah wakaf untuk masjid, jadi bisa dibangun masjid yang baru. Untuk bangunan lama biarkan saja, untuk ibadah selama bangun masjid baru. Dan nantinya bangunan lama tetap akan digunakan untuk TPA, jadi anak - anak saat mengaji biar leluasa. Menurut kamu bagaimana?." Tanya pak Karim meminta persetujuan Satria.
" Satri setuju - setuju saja Pak. Niatnya Satria yang akan beli lahan untuk masjidnya juga, seperti yang pernah Satria bahas sama bapak. Tapi kalau memang ada tanah wakaf ya tidak apa - apa." Jawab Satria dengan sopan.
Dinda keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi untuk bapaknya dan kakaknya, Reno.
" Minum pak, mas." Seru Dinda.
" Iya, terimakasih." Seru Reno dan pak Karim bersamaan.
" Kata ibu mas Reno dari cari pekerjaan?. Bagaimana mas, sudah dapat?." Tanya Dinda yang kini sudah ikut bergabung duduk di samping Satria.
Reno hanya menggeleng pelan, sebab memang dia belum mendapatkan pekerjaan. Tadi hanya mengantarkan surat lamarannya saja, sembari mencari pekerjaan di tempat lain pun belum ada yang mau menerimanya meskipun sebagai pelayan Cafe.
" Mas maaf sebelumnya jika aku lancang atau aku terlalu ikut campur dengan kehidupan mas Reno. Menurut Satria jika mas Reno belum juga dapat pekerjaan, Insya Allah aku bisa bantu tetapi aku hanya bisa membantu memberikan modal usaha untuk mas Reno. Kebetulan memang di kantor sedang tidak ada lowongan sama sekali, semua sudah terisi. Kira-kira mas Reno mau buka usaha apa? Insya Allah biar Satria yang memberikan modalnya." Ucap Satria dengan sopan dan pelan - pelan agar tidak menyinggung perasaan Reno.
__ADS_1
Reno bingung harus menjawab apa, sebab dia sendiri belum tahu mau usaha apa. Mencari pekerjaan zaman sekarang memang susah, apalagi memang Reno sudah tidak mau lagi bekerja di perusahaan Satria. Dia sudah malu dan tidak mau lagi bekerja di sana, takut hal yang sudah-sudah terulang lagi.
" Kamu mau membantu aku membuka usaha, Satria? Padahal selama ini aku sudah banyak salah sama kamu dan sudah jahat sama kamu. kKenapa kamu masih saja baik kepadaku, Satria?." Tanya Reno dengan heran.
" Karena kita saudara Mas, siapa saja punya masa lalu dan kita lupakan ketegangan kita dulu. Sekarang kita jalani apa yang sudah ada di depan mata kita. Menurut mas Reno, mas Reno mau bekerja atau membuka usaha? Terus terang kalau mau bekerja di perusahaan ku sudah tidak ada lowongan lagi, atau aku bisa bantu mencarikan pekerjaan ke perusahaan lain. Tapi jika mas Rian mau buka usaha, aku akan memberikan modal usaha untuk mas Reno."Ucap Satria lagi membuat Reno semakin terharu dengan kebaikan adik iparnya.
" Kalau untuk bekerja di perusahaanmu lagi, maaf bukan aku tidak mau. Tetapi aku malu dengan para karyawan di sana, Satria. Terutama aku juga malu sama kamu, aku hanya khawatir aku salah arah lagi dan menggunakan kesempatan itu untuk membanggakan diriku sendiri. Mungkin jika memang aku tetap tidak bisa mendapatkan pekerjaan di luar sana, jalan satu-satunya aku ingin membuka usaha saja. Aku ingin membuka toko serba ada, dan modal itu aku tidak akan memintanya secara cuma-cuma tetapi aku meminjamnya dan akan membayar dengan mencicilnya. Bagaimana, apa menurut kamu aku buka usaha saja?." Tanya Reno meminta persetujuan Satria.
Semua orang yang ada di situ mengganggu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Reno .Ibu Rahayu yang baru saja keluar dari dapur juga setuju dengan Reno. Satria juga akan mencarikan tempat yang strategis untuk Reno membuka usaha. Reno sangat berterima kasih kepada Satria sebab Satria sudah tetap baik kepadanya dan mau membantunya.
" Mas Rena harus buktikan kepada diri mas Reno sendiri jika mas Reno bisa bangkit, dan mas Reno bisa menjadi ayah yang baik untuk Joni. Mas Reno juga buktikan kepada mbak Sarah jika mas Reno bisa bangkit tanpa dia. Mas Reno bisa sukses tanpa mbak Sarah, pasti kelak Mbak Sarah sendiri yang akan menyesali segala tindakannya." Ucap Satria memacu semangat Reno.
" Terima kasih Satria, terima kasih. Aku minta maaf jika selama ini aku sudah membuat permusuhan diantara kita. Ternyata kamu benar-benar adik iparku yang baik, kamu tidak ada dendam sedikitpun kepadaku. Bahkan saat aku masih bekerja di perusahaanmu aku berbuat curang pun kamu tidak pernah mau memenjarakan ku. Maafkan aku Satria." Seru Reno mulai terisak.
" Aku sudah memaafkan nas Reno dari dulu, dari mas Reno sebelum meminta maaf pun aku sudah memaafkannya."Ucap Satria dengan ramah.
Untuk pertama kalinya Reno memeluk sang adik iparnya. Reno menangis dalam pelukan Satria, dia tidak pernah menyangka jika Satria akan tetap berbuat baik kepadanya meskipun dia sudah banyak salah terhadap Satria. Reno berjanji pada dirinya sendiri jika dia ingin memperbaiki segala perilakunya dan ingin membuktikan kesuksesannya.
Pak Karim, Ibu Rahayu dan Dinda ikut terharu melihat keakraban antara Reno dan Satria. Dan ini juga untuk pertama kalinya mereka melihat Reno menangis dalam pelukan Satria.
" Terima kasih Satria."Seru Reno sambil melepaskan pelukannya
" Iya Mas sama-sama. Jadi lebih baik sekarang kita mulai cari tempat untuk mas buka usaha saja. Masalah surat lamaran mas yang tadi sudah mas kirimkan, sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Jika memang mas keterima, sudah lepaskan saja. Sekarang lebih baik mas fokus sama usaha yang ingin mas jalankan."Ucap Satria dengan menyakinkan Reno.
" Baiklah kalau begitu aku putuskan membuat usaha saja daripada aku harus bekerja kepada orang lain. Aku akan buktikan kepada Sarah jika aku bisa sukses tanpa campur tangannya, dia akan menyesal sudah meninggalkan kami seperti ini." Ucap Reno penuh semangat.
Semuanya mengangguk setuju, mereka bangga melihat perubahan dan semangat Reno. Reno yang dulu pemalas kini dia bersemangat untuk membuka usaha.
* Disaat aku terjatuh begini tangan Satria lah yang terulur untung menolongku. Ya Allah, betapa bodohnya aku selama ini aku sudah menyia - nyiakan adik iparku, Satria. Lihat saja Sarah, aku dan Joni akan hidup bahagia tanpa dirimu. Berbahagialah kamu dengan mehidupanmu yang baru, jangan pernah cari aku jika kamu sudah terjatuh.* Gumam Reno dalam batinnya.
__ADS_1
**********