Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Positif garis dua


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa aku hamil dengan Bayu yang masih bau kencur itu. Sedangkan selama sebulan ini aku yang sudah membiayai hidupnya. Aku harus bagaiman? Jikapun digugurkan pasti juga aku yang akan merasakan sakit. Benar-benar sialan si Bayu, sudah berapa kali aku bilang jangan didalam tapi dia masih saja ngeyel."Ucap Sarah terus bermonolog sendiri.


Sarah pun langsung keluar kamar dan mencari keberadaan Bayu. Ternyata Bayu masih ada di ruang tengah sembari menonton televisi. Sarah yang kesal langsung mematikan televisi tanpa memberitahu Bayu terlebih dahulu.


"Loh kok dimatiin sih sayang. Aku lagi nonton itu acara gosip loh."Ucap Bayu dengan polosnya.


"Dasar bocah !! Masih saja mikirin nonton gosip ! Seharusnya kamu itu mikir bagaimana dengan kehamilanku ini. Aku hamil, Bayu !."Bentak Sarah dengan lantang.


Jjdddeeeerrrrr


Wajah Bayu langsung memanas dan dia syok. Seperti di sambar petir saat siang bolong, bagaimana bisa Sarah benar-benar hamil ? Sedangkan dia masih kuliah dan jauh untuk lulus. Saat ini yang ada di fikiran Bayu, bagaimana nasib kuliahnya jika dia harus bertanggung jawab atas kehamilan Sarah. Belum lagi urusan dengan orang tuanya di kampung, orang tuanya ingin sekali melihatnya menjadi Sarjana seperti kakaknya yang saat ini sudah menjadi seorang dokter.


"Kamu hamil? Itu anakku?."Tanya Bayu dengan wajah polosnya.


"Iya ! Dasar bodoh ! Kalau bukan anakmu lantas anak siapa? Kamu yang bodoh, sudah berapa kali aku bilang jangan didalam tapi kamu masih saja ngeyel. Kalau sudah seperti ini bagaimana?."Seru Sarah dengan amarahnya.


"Kamu tahu sendirikan enak didalam daripada di luar. Lagi pula kita melakukan itu atas dasar sama-sama mau. Kamu butuh belaian dan aku butuh uang, impaskan? Jadi kalau kamu hamil ya jangan salahkan saya dong, Sarah. Itu sudah menjadi resiko kamu sebagai wanita. Coba kalau dari awal kamu pakai alat kontrasepsi pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku tidak mau kehamilanmu itu menjadi masalah buatku."Ucap Bayu berkata dengan tegas.


Sarah terperangah mendengar kata-kata Bayu. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu, seolah-olah menyalahkan Sarah dalam masalah ini. Sarah tidak mau disalahkan dan tidak mau menanggung semuanya sendiri.


"Enak saja kamu menyalahkan ku. Aku sudah berulang kali mengatakan jangan didalam, Bayu. Kamu memang bodoh. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menikahi ku, secara siri pun tidak masalah asalkan bayi ini lahir ada ayahnya."Seru Sarah.


Sarah juga khawatir jika bayi yang ada dalam kandungannya akan bermasalah atau penyakitan. Mengingat saat ini dia juga sedang mengidap penyakit kelamin, namun Sarah tidak mau memberitahukan semua kebenarannya kepada Bayu. Sarah tidak mau, jika Bayu tahu dia akan meninggalkannya begitu saja.


"Tapi bagaimana kita bisa menikah? Sedangkan aku saja masih kuliah dan aku juga tidak punya pekerjaan. Aku tidak mau orang tua ku tahu jika aku menghamili orang, bisa-bisa orang tuaku syok dan stroke. Pokoknya aku tidak mau menikah, lagi pula kita melakukan itu atas dasar sama-sama mau."Tolak Bayu dengan tegas.


Ppllaakk


Ppllaakk


Sarah geram, sehingga dia melayangkan dua tamparan ke pipi Bayu. Bayu tidak terima atas apa yang dilakukan oleh Sarah. Bayu mencoba membalas menampar Sarah, namun dengan cepat Sarah menangkis tangang Bayu. Dengan cepat Sarah juga menendang aset kehidupan Bayu.


"Aaaooowwwhhhh... Kurangajar kamu Sarah."Seru Bayu merintih kesakitan sembari memegangi asetnya.


"Itu belum seberapa. Jika kamu berani menyakitiku, aku pastikan kamu akan kehilangan aset mu itu."Seru Sarah dengan ketus.


Bayu tertunduk lemas di lantai ruang tengah sembari memegang aset utamanya. Sepertinya dia benar-benar kesakitan, sampai wajahnya memerah menahan rasa sakit. Sarah sama sekali tidak iba dengan Bayu, justru dia tersenyum dengan sinis.


"Bagaimana jika dia tidak bisa bangun lagi, Sarah? Kamu juga yang akan susah."Seru Bayu dengan suara bergetar menahan rasa sakit.


"Aku tidak peduli. Biar saja itu sekalian tidak bisa bangun, biar kamu tahu rasa. Susah kamu sendiri yang merasakannya."Seru Sarah tanpa peduli dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Bayu.

__ADS_1


*Kurangajar kamu, Sarah! Lihat saja kamu bakal susah jika aku tidak menikahimu. Kamu akan punya anak tanpa suami. Hemm untuk cari aman lebih baik aku berpura-pura saja mau bertanggung jawab dan menikah dengannya. Yang penting dia percaya, dan aku bisa keluar dari rumah ini.*Gumam Bayu dalam batinnya.


Biarpun masih 19 tahun, Bayu bisa juga bersikap licik terhadap Sarah. Dia akan berpura-pura mau menikah dengan Sarah, dengan begitu dia juga akan mudah meninggalkan rumah kontrakan Sarah. Dan setelah itu, Bayu akan pergi jauh dari kehidupan Sarah. Bila perlu pindah kuliah sekaligus agar Sarah tidak menemukannya.


"Baiklah aku bersedia bertanggung jawab, beri aku waktu seminggu untuk mengurus semuanya. Kita nanti menikah secara siri saja, kita menikah disini. Dan jangan sampai orang tua ataupun keluargaku tahu."Ucap Bayu pintar sekali dia bersandiwara.


"Ok baiklah. Aku hanya beri waktu 3 hari, karena hanya menikah siri jadi tidak banyak yang di persiapkan. Seminggu itu terlalu lama, Bayu."Seru Sarah menolak waktu seminggu yang diminta oleh Bayu.


Hhhuuuufffff


Bayu terlihat menghela nafas dengan berat, apapun yang diucapkan Sarah akan dia iyakan saja. Agar dia bisa segera keluar dari rumah kontrakan Sarah.


"Baiklah tidak masalah."Ucap Bayu setuju dengan ucapan Sarah.


"Hemmm... Kalau dari tadi begini kan enak. Aku tidak perlu marah dan sampai menendang itumu. Sudahlah aku minta maaf karena tadi sudah membuatmu kesakitan."Seru Sarah merasa tidak enak karena tadi sudah membuat Bayu kesakitan.


"Iya tidak apa-apa. Aku juga yang salah, jika tadi langsung mengiyakan keinginanmu pasti kamu juga tidak akan menendangku."Ucap Bayu.


Sarah hanya mengangguk sekilas lalu dia duduk di sofa serta menghidupkan televisi. Melihat Sarah yang sudah tidak lagi marah, membuat Bayu menyunggingkan senyum sinisnya.


**********


Sementara itu, Cahaya saat ini sedang di toko. Dia membantu di kasir, sedangkan Reno masih di gudang memeriksa stok barang-barang yang sudah tinggal sedikit. Sebab Reno akan belanja sehingga dia memastikan barang mana saja yang habis.


"Totalnya 270 ribu ya mbak."Ucap Cahaya dengan senyum ramahnya.


Cahaya menerima uang 300 ribu dari tangan pembeli, lalu dia menyerahkan kembaliannya 30 ribu beserta struk pembeliannya. Pembeli itupun lalu keluar dari toko dan segera menghampiri motor nya yang terparkir di luar.


"Mbak itu tadi belanja stok pembalut, kenapa aku jadi ingat jika sudah 2 bulan ini aku tidak haid. Apa ada yang salah dengan tubuhku ya?." Ucap Cahaya pada dirinya sendiri.


"Apa jangan-jangan aku hamil? Tapi seperti tidak ada tanda-tanda mual ataupun muntah pada umumnya seperti wanita hamil lainnya. Aku hanya merasa saat ini sering lapar saja, itu mungkin karena efek cuaca yang akhir-akhir ini memang sering hujan.


"Mbak Cahaya kok melamun? Lagi mikirin apa?."Tanya Cika yang sedari tadi memperhatikan Cahaya.


Cahaya hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Cika. Dia sendiri bingung kenapa melamun ?


"Cika, emm ciri-ciri wanita hamil itu bagaimana sih?."Tanya Cahaya disaat kasir memang sedang tidak melayani pembeli.


"Hahh ? Mbak Cahaya sedang hamil?." Bukannya menjawab justru Cika balik bertanya.


Huuufffff


Cahaya membuang nafas dengan berat, ini yang paling dia malas dari Cika. Jika ditanya terkadang justru dia balik tanya dan membuat orang menjadi kesal.


"Kebiasaan deh, ditanya malah balik tanya."Ucap Cahaya dengan malas.


"Heheeee ya maaf mbak. Habis aku penasaran sih dengan mbak Cahaya."Jawab Cika sambil terkekeh.


"Aku sedang tidak hamil, Cika. Tapi memang sudah jalan 2 bulan ini aku belum kedatangan tamu bulanan. Tapi aku tidak merasakan tanda-tanda seperti orang hamil. Mual, muntah atau apa gitu."Ucap Cahaya bicara jujur kepada Cika.

__ADS_1


"Orang hamil tidak selalu dengan tanda-tanda muntah ataupun mual mbak. Tapi kalau dilihat-lihat, mbak Cahaya yang sekarang agak gemukan loh mbak."Seru Cika berkata dengan jujur.


Cahaya memang terlihat lebih gemukan, dia juga merasa badannya agak berat. Dia juga mengakui jika akhir-akhir ini makan dengan porsi banyak dan mudah sekali lapar. Cahaya menceritakan semua yang dia rasakan kepada Cika.


"Seperti mbak Cahaya hamil deh? Tapi coba mbak tes dulu pakai alat tes kehamilan, siapa tahu mbak beneran hamil."Ucap Cika menjelaskan.


"Masa sih aku hamil, Cik? Tapi aku tidak merasakan seperti orang hamil loh."Seru Cahaya.


"Wanita hamil tidak semuanya mual dan muntah mbak, Cahaya. Seperti yang sudah aku jelaskan tadi loh. Biarpun aku belum pernah hamil, aku tahu tentang orang hamil dari kakak iparku yang saat ini sedang hamil 4 bulan. Dulu dia juga tidak menyangka kalau dia hamil, ketahuan saat periksa ternyata sudah hamil 6 minggu. Mbak Cahaya kalau mau lebih jelanya coba tes pakai tespack atau langsung periksa ke dokter."Ucap Cika memberitahu.


Cahaya mendengarkan dengan seksama apa saja yang dikatakan oleh Cika. Cahaya memang minim pengetahuan tentang kehamilan, dia mau bertanya-tanya kepada ibu dan mertuanya tapi dia malu dan merasa tidak enak hati.


"Heemm mungkin tidak ada salahnya aku periksa langsung ke dokter kandungan saja ya, Cik. Biar lebih jelas dan akurat, kalau begitu aku mau kedokter ya Cik. Nanti kalau pak Reno tanya bilang saja kalau aku pulang."Ucap Cahaya yang akhirnya memutuskan untuk periksa langsung kedokter.


"Iya mbak. Semoga hasilnya positif hamil ya mbak."Ucap Cika.


"Aamiin. Terimakasih ya Cik." Seru Cahaya.


Cahaya mengambil tasnya yang ada di ruangan kerja Reno. Sebelumnya Cahaya memesan taksi online terlebih dahulu. Setelah menunggu 10 menit taksi online yang dipesan Cahaya sudah sampai didepan toko, dengan segera Cahaya masuk mobil dan meminta sopir untuk melaju ke rumah sakit terdekat.


"Loh istri saya kemana, Cik?."Tanya Reno yang mencari keberadaan Cahaya.


"Emm itu pak, mbak Cahaya pulang. Katanya ada urusan yang urgent."Jawab Cika berbohong.


"Pulang? Urgent? Memang nya ada apa dengan orang rumah? Kenapa pulang tidak memberitahuku sih, atau jangan-jangan ada masalah dirumah? Kalau begitu aku harus segera pulang, kamu jaga toko dulu ya Cik."Seru Reno terlihat khawatir.


Cika jadi serba salah dan merasa bersalah sudah berkata bohong. Dengan dia mengatakan Cahaya pulang dan ada hal yang urgent membuat Reno menjadi khawatir. Cika tidak bisa membiarkan Reno pulang dengan keadaan panik, yang ada akan membahayakan diri Reno saat berkendara.


"Tunggu pak ! Emm, sebenarnya mbak Cahaya tidak pulang. Tapi dia kerumah sakit, maaf saya tadi berbohong."Ucap Cika akhirnya jujur jika Cahaya kerumah sakit.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu kalau bicara yang benar dulu Cika. Coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."Ucap Reno penuh harap.


"Sebenarnya mbak Cahaya kerumah sakit karena dia ingin periksa dia hamil atau tidak. Soalnya sudah 2 bulan mbak Cahaya tidak datang bulan. Dan mbak Cahaya bilang jangan bilang-bilang sama pak Reno dulu, takut hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pak Reno tidak perlu khawatir, mbak Cahaya tadi naik taksi online kok."Seru Cika akhirnya menceritakan yang sebenarnya.


Hhhuuuufffff


Reno akhirnya bisa bernafas dengan lega, ternyata tidak ada hal yang menghawatirkan. Reno tadi sudah takut terjadi sesuatu dengan keluarganya dirumah.


"Kamu tahu istriku ke rumah sakit mana?."Tanya Reno ingin tahu dan menyusul Cahaya kerumah sakit.


"Rumah sakit XX yang tidak jauh dari sini pak."Jawab Cika dengan cepat.


"Ya sudah kamu jaga toko, Akbar masih ada di gudang. Kalau kasir ramai kamu bisa panggil dia untuk membantumu. Aku mau kerumah sakit menyusul Cahaya."Ucap Reno dengan bijak.


"Baik pak."Jawab Cika sembari menganggukkan kepalanya.


Reno keluar dari toko dan menghampiri mobil nya yang ada di parkiran. Dengan segera dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat sesuai yang di infokan oleh Cika.


**************

__ADS_1


__ADS_2