
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Untuk sementara Satria menyembunyikan semua isi surar itu dari Dinda. Dia akan memberitahu Dinda setelah 7 hari kepergian Rudi. Tetapi Satria akan memberitahu bapak mertuanya terlebih dahulu. Dan selama 7 hari ke depan di rumah Pak Karim mengadakan tahlilan dan kirim doa bersama untuk almarhum Rudi. Selama seminggu ini juga Dinda dan Satria akan lebih banyak menginap di rumah Pak Karim.
Nalam ini di rumah Pak Karim sedang mengadakan tahlil dan kirim doa bersama untuk Rudi, yang dihadiri oleh para tetangga dan sanak saudara. Namun yang bikin Satria dan pak Karim heran, Reno dan Sarah tidak datang untuk mengikuti acara tahlil hanya ada Rena dan Beni saja.
Sekitar jam 10 malam acara tahlil pun selesai dan yang lainnya sudah pulang. Ada juga yang beristirahat, suasana rumah sudah mulai sepi. Pak Karim memanggil Satria, ada sesuatu hal yang ingin Pak Karim bicarakan dengan Satria menyangkut surat yang diberikan oleh polisi tempo hari.
" Satria Kalau boleh Bapak tahu, apa isi surat yang ditulis Rudi untuk kamu?." Tanya Pak Karim ingin tahu.
" Apa Bapak yakin ingin tahu isi surat itu." Tanya Satria meyakinkan Bapak mertuanya.
" Iya bapak ingin tahu apa isi surat itu. Itu pun jika kamu mengizinkannya, karena surat yang Bapak baca kemarin di sana tertulis jika Rudi menginginkan Hana dalam asuhan dan ke pengawasan mu. Dan di sana Rudi juga menulis jika selama ini dia berumah tangga dengan Sinta terlalu tertekan sehingga dia mengambil jalan pintas seperti yang sudah terjadi." Ucap pak Karim sembari mengingat tiap kata yang tertulis dalam surat yang ditulis oleh Rudi.
Akhirnya Satria pun mengeluarkan surat dari kantong celananya yang memang sengaja dia kantongi. Dia sudah berniat untuk memberitahu Pak Karim lebih dulu masalah ini dan ternyata isi surat Pak Karim juga tidak jauh beda dari yang ditulis Rudi untuk Satria.
Pak Karim pun membaca surat yang diberikan oleh Satria. Pak Karim terkejut dan hampir saja tidak percaya saat membaca surat itu, ternyata di surat itu dituliskan bagaimana kehidupan Sinta selama ini. Bahkan alasan kenapa Rudi lebih memilih Satria untuk menjaga Hana.
" Jadi Sinta itu seorang mucikari ? Bahkan dia sudah menjaminkan Hana untuk membayar hutang kepada seorang saudagar kaya ? Ini tidak bisa dibiarkan Satria, kamu harus melindungi Hana. Bapak tidak mau anak itu salah dalam asuhan Sinta." Ucap pak Karim dengan wajah terlihat khawatir.
" Iya pak aku janji akan menjaga dan melindungi Hana seperti anakku sendiri. Bagaimanapun sekarang Hana sudah menjadi tanggung jawabku, karena akulah yang menyebabkan Mas Rudi seperti ini. Aku ikut merasa bersalah Pak." Seru Satria terlihat menyesali keputusannya memenjarakan Rudi terlalu lama.
__ADS_1
" Tidak, kamu tidak salah Satria . Di surat ini sudah dijelaskan jika Rudi sudah tahu jika kamu memang hanya memberikan efek jerahl kepada dia. Dia sengaja bersikap buruk agar dia lebih lama di penjara sehingga Sinta tidak bisa merongrongnya lagi. Atau jangan-jangan selama ini Rudi banyak hutang juga karena Sinta, untuk membelikan obat terlarang itu?." Ucap pak Karim dengan memandang kosong ke arah lampu yang ada di halaman belakang.
Satria dan Pak Karim sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, memikirkan langkah apa yang akan Satria lakukan agar bisa melindungi Hana. Karena yang jadi lawan Satria saat ini bukan orang lain bagi Hana, tetapi ibu kandung Hana sendiri. Jika pun harus melalui jalur hukum tentu Satria yang akan kalah.
" Apa Dinda sudah tahu masalah ini Satria?." Tanya Pak Karim setelah lama mereka saling terdiam.
" Belum Pak. Dinda belum Satria kasih tahu, baru bapak saja yang tahu masalah ini. Rencana Satria akan memberitahu Dinda saat selesai 7 harian mas Rudi nanti. Oh ya pak sebenarnya ada kabar bahagia untuk bapak dan ibu, tapi dari kemarin Satria dan Dinda sengaja menyembunyikan terlebih dahulu. Karena keluarga sedang berduka." Ucap Satria ingin memberitahu Pak Karim perihal kehamilan Dinda.
Pak Karim langsung memandang ke arah Satria sambil mengernyitkan keningnya, dia bertanya - tanya dalam hatinya. Kabar bahagia apa yang ingin disampaikan Satria sehingga dia harus menunda-nunda nya terlebih dahulu.
" Kabar apa Satria. "Tanya Pak Karim dengan antusias.
" Alhamdulillah Dinda sekarang sedang hamil Pak. Sebentar lagi bapak dan ibu akan memiliki cucu dari Dinda dan Satria. " Ucap Satria.
" Alhamdulillah akhirnya Dinda hamil juga, bapak ikut bahagia Satria. Kamu harus menjaga Dinda, jangan biarkan dia terlalu lelah. " Seru pak Karim dengan binar bahagia.
Kesedihan dengan kepergiannya Rudi secara perlahan sudah mulai menghilang, ditambah lagi mendengar kabar jika Dinda saat ini sedang hamil membuat Pak Karim ikut merasakan kebahagiaan Dinda dan Satria.
" Bagaimana kalau Sinta datang dan meminta Hana untuk ikut dengannya Satria ? Karena Bapak berencana akan mengusir Sint. Bapak tidak mau lagi terlibat apapun soal Sinta. Bapak tidak mau keluarga ini hancur karena ulah Sinta , apalagi dia seorang wanita yang tidak benar . " Ucap pak Karim meminta pendapat dari Satria.
" Itu juga yang saat ini Satria pikirkan Pak. Jika mbak Sinta diusir dari sini sudah pasti dia akan membawa Hana, pak. Jika dia tetap tinggal di sini suatu saat Bapak dan Ibu pasti yang akan direpotkan oleh dia, semua masalah yang dia ciptakan akan datang di rumah ini Pak. Apalagi dia mempunyai banyak hutang dan sekarang mas Rudi sudah tidak ada lagi. " ucap Satria dengan penuh rasa serba salah.
Saat Pak Karim dan Satria sedang serius berbincang, tiba-tiba pintu ruang depan ada yang mengetuk dan seperti ada yang berteriak-teriak memanggil nama Hana. Pak Karim dan Satria mendekat ke arah pintu dan mencoba mengintipnya dari celah jendela kaca.
Pak Karim dan Satria saling melempar pandangnya, ternyata orang dibalik pintu itu adalah Sinta. Sinta pulang ke rumah sekitar jam 11.00 malam dan sudah hampir tengah malam bahkan ini sudah ke 5 harinya Sinta pergi dan baru pulang tengah malam ini.
" Loh ngapain kamu di sini?." Tanya Sinta kaget karena yang membukakan pintu adalah Satria.
__ADS_1
Satria tidak menjawab, Dia lebih memilih langsung duduk di sofa dan tidak memperdulikan kehadiran Sinta. Namun berbeda dengan Pak Karim yang justru langsung menghadang Sinta dan menegur Sinta dengan segala macam pertanyaan.
" Dari mana kamu Sinta ? Pergi 5 hari tidak ada kabar telepon juga tidak bisa. Jika kamu tidak pulang apa kamu tidak bisa mengabarin keluargamu atau anakmu, kamu anggap apa aku di rumah ini. Jika kamu tidak mau mengikuti peraturan di rumah ini lebih baik kamu pergi dari rumahku." Ucap pak Karim sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
" Bapak Ini apaan sih saya pulang bukannya disambut disuruh masuk segera istirahat malah diomelin terus-menerus. Oh ya itu di depan kenapa ada tenda segala ? Kemangnya siapa yang sedang mengadakan hajatan ? Bapak mau naik haji atau ibu habis lahiran?." Tanya Sinta sambil terkekeh dan sama sekali tidak ada hormat serta sopan santunnya dengan mertuanya sendiri.
Pak karim mengepalkan kedua tangannya lalu dia melayangkan tamparannya yang cukup keras di pipi Sinta. Satria yang melihatnya saja terperangah dengan tindakan bapak mertuanya.
Pllaaaakkk
Sinta s6ok dengan tamparan yang diberikan Pak Karim secara tiba-tiba. Mungkin Sinta tidak pernah menyangka jika kepulangannya akan disambut dengan amarah dan sebuah tamparan dari bapak mertuanya sendiri.
" Dasar menantu kurang ajar! menantu tidak tahu diri ! menantu tidak punya sopan santun. Apa begini cara kamu bicara dengan bapak mertua kamu sendiri Sinta ? Kamu tanya untuk apa tenda di depan sana? Itu tenda dibuat dan didirikan di situ karena ada kematian, suami kamu meninggal Sinta ! Suami kamu sudah meninggal, Rudi anak pertamaku sudah meninggal dan semua itu gara-gara kamu." Sentak Pak Karim sambil menunjuk ke arah wajah Shinta.
Terlihat sekali wajah sedih , marah dan emosi pak karim menjadi satu. Orang tua mana yang tidak sedih saat anaknya meninggal justru istri dari anakknya pergi selama berhari - hari tiddk pulang.
Degghh...
Seketika Sinta terdiam dan jantungnya seolah berhenti berdetak, dia sama sekali tidak tahu jika Rudi sudah meninggal. Padahal sebelum dia pergi dia masih sempat bertemu dan adu mulut dengan Rudi, sampai Rudi menamparnya dua kali dan itu tamparan pertama yang dia terima selama berumah tangga dengan Rudi.
" Apa ? Mas Rudi meninggal ? Bapak tidak sedang bercanda kan?. "Tanya Sinta seolah tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Pak Karim.
" Apa kamu melihat wajahku sedang bercanda Sinta? Seharusnya saya yang tanya sama kamu ke mana saja kamu selama 5 hari ini? Sehingga suami kamu meninggal saja kamu tidak tahu? Berapa puluh kali kami mencoba menghubungi kamu bahkan mencari keberadaanmu. Satu orang pun tidak ada yang bisa menemukan keberadaan kamu, kemana kamu selama ini .?" Tanya Pak Karim dengan tatapan tajam penuh amarah ke arah Sinta.
" Mas Rudi tidak mungkin meninggal, dia saat ini masih di penjara dan semua itu karena ulah menantu tersayang bapak itu. Dia yang memenjarakan mas Rudi. Jadi tidak mungkin Mas Rudi secepat itu meninggalkan aku dan Hana." Ucap Sinta masih saja tidak percaya dengan kematian Rudi.
Sinta mendekati Satria dengan pandangan dan tatapan tajam. Teelrlihat sekali tatapan penuh kebencian dari sorot mata Sinta.
__ADS_1
" Jika suamiku benar-benar sudah meninggal berarti kamu pembunuhnya !! Kamu yang menyebabkan suamiku meninggal Satria!." Ucap Sinta dengan lantang sehingga Hana, Ibu Rahayu serta Dinda yang sudah terlelap pun terbangun dan berlari ke arah ruangan depan.
Mereka bertiga kaget melihat Sinta yang sudah ada dirumah. Hana memandang mamanya dengan sorot mata penuh ketidaksukaannya. Hana seperti membenci ibu kandungnya, mungkin saja karena Sinta tidak pulang - pulang saat kematian Ayahnya.